Benci Menjadi Cinta

Benci Menjadi Cinta
Bab 58


__ADS_3

...🍃 READING BOOK 🍃...


Kini tatapan mematikan saling melayang antara mereka, kedua belah pihak tidak ingin saling mengalah dan begitu saling menantang dengan tatapannya.


Berlin, gadis itu bingung harus berbuat apa. Disini ia yang membuat ini terjadi dan ia sendiri yang bingung harus berbuat apa.


"Woy cepat masuk, kalian jangan berantem pulak!" Teriak seseorang yang merupakan salah satu anggota OSIS.


Tampak Jessica dkk berdecak kesal karena mereka belum membalas kekesalan mereka pada dua gadis yang berani menantang mereka.


Dengan kesal mereka pun akhirnya pergi, Celsi pun berteriak menyoraki "Huuuuuu!" dan Celsi sesekali ia mengancungkan jempolnya kebawah.


"Kamu itu kayak anak kecil aja dah!" Ujar Berlin yang tak habis pikir dengan sikap sahabatnya itu.


"Tu orang kayak nek lampir, kamu lihat sendiri kan!" Ucap Celsi yang mendengus kesal.


"Udah ah, yok kita masuk sekarang ntar terlambat lagi!" Ujar Berlin dengan menarik tangan Celsi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Terlihat semua murid berlarian dengan tas yang menyandang di bahu mereka masing-masing, ini menandakan bahwa jam pelajaran sekolah sudah sepenuhnya selesai dan meninggalkan area sekolah.


Empat gadis yang bersidekap dengan gaya angkuhnya sedang menunggu seseorang keluar dari bangunan sekolah, mereka berdiri ditengah-tengah kerumunan orang-orang yang entah sejak kapan sudah berkumpul.


Banyak bisik-bisik diantara mereka yang mengatakan ada kejadian yang harus mereka lihat lebih dulu. Kumpulnya beberapa orang mengundang banyak orang juga ikut berkumpul dan kini jadilah keempat orang gadis itu berada ditengah-tengah kerumunan.


Celsi dan Berlin baru saja keluar, mereka sesekali berbincang-bincang dan tertawa yang entah tentang apa. Mereka menatap bingung pada banyak nya orang yang berkerumun.


Namun saat Berlin dan Celsi akan mendekat kerumunan itu membela memperlihatkan empat wajah angkuh seorang gadis yang memakai kaca mata hitam.


"Eh mau ngapain kalian, mau atraksi!" Ledek Celsi dengan tawa kecilnya saat melihat gaya keempatnya.


"Kami mau buat perhitungan sama kalian berdua, bagaimana bukankah sudah pulang sekolah dan tak akan ada yang akan melerai bukan!" Ucap Jessica dengan kaya angkuhnya mendekati Celsi dan Berlin.


"Terus kau pikir aku peduli gitu!" Ucap Celsi yang penuh penekanan dengan menunjuk bahu Jessica.


Terlihat Celsi yang kembali dengan mode macannya, bahkan Jessica harus mundur beberapa langkah karena takut melihat wajah Celsi yang begitu menyeramkan.

__ADS_1


"Way...you think i'm scared!" Lanjut Celsi dengan senyum devil nya.


Ayolah siapa yang tak takut dengan wajah Celsi yang seperti itu, mereka juga merasakan bagaimana tulang-tulang yang bergeser bukan dan sekarang kembali membuat ulah.


"Etss... bagaimana kalo kita lakukan cara lain, teruntuk kamu aku begitu tak ingin berakhir dirumah sakit seperti ini, bagaimana kalo kita lakukan seperti adu dance bagaimana!" Ujar Jessica yang kembali berlagak sombong.


"Bagaimana kalo aku enggak mau!" Ujar Celsi.


"Kau harus mau, kalau tidak maka biarkan kami mengurus Berlin sendiri tanpa mu!" Ucap Angel yang membalasnya.


"Itu tidak ada hubungannya dengan masalah hubungan persahabatan ku dengan Celsi, kalian berurusan dengan ku saja!" Ujar Berlin yang kini membuka suara.


Sudah cukup sekali ia merasakan dijauhkan oleh sahabatnya itu dan untuk yang ini tidak akan, ia rela mati atau keluar dari sekolah ini lalu pindah disekolah lain ia mau demi hubungan nya masih tetap baik.


"Oke, kapan!" Kini Celsi menerimanya wajahnya memasang wajah begitu dingin.


"Seminggu yang akan datang bukankah disana akan ada perlombaan untuk merayakan ulang tahun sekolah!" Jawab Diana.


"Dan kalian berdua harus ikut, terserah mau kalian ambil siapa untuk gabung, oh iya ingat jika kalian kalah maka kalian akan jadi budak kita sampai sekolah selesai!" Sambung Fanya.


"Hmm...itu tidak mungkin!" Jawab percaya diri Diana.


"Heh... sesuatu yang tidak mungkin akan mungkin untuk ku!" Ucap Celsi dengan tatapan ambisius nya.


"Eggg...itu...apa yang kau mau?" Tanya ragu Jessica.


"Aku hanya menyuruhmu untuk mencium kaki Berlin dan jangan lupa pukul pipi kalian sampai Berlin meminta maaf, bagaimana kalian bersedia!" Ujar Celsi dengan tersenyum penuh arti.


Seketika semua orang yang ada disana merinding dengan tatapan dan senyuman Celsi yang seperti itu, bahkan Berlin sahabatnya saja tidak merasakan Celsi seperti sahabatnya yang biasanya nya.


"Oke!" Tantangan pun diterima oleh Angel, dan kalian tau bagaimana kecemasan di hati Jessica dkk jika sampai mereka menang. Padahal mereka yang menantang dan malah mereka yang menjadi ditantang oleh Celsi.


Jika mereka kalah sampai tamat sekolah pun dipastikan merupakan hal sang sangat memalukan dan mereka pasti tidak akan mampu menampakkan diri diluar selain operasi wajah.


"Baiklah, aku mau pulang dengan sahabatku kalian minggir lah mengganggu jalan banget!" Ketus Celsi merangkul Berlin.


Tak jauh jarak dari sana Kaisar dkk menyaksikan semua drama yang berlangsung, bagaimana keren nya Celsi membela Berlin segitu nya dan bahkan menerima tantangan yang mungkin saja ia akan kalah.

__ADS_1


"Keren juga tu cewek!" Ujar Ridwan.


"Yoi, segitu banget yak belain sahabatnya bahkan melakukan hal bodoh itu!" Ujar Farrel.


"Sepertinya ini ada sangkut pautnya sama kau deh kai, soalnya tadi denger rumor kalo setelah kita pergi Jessica cs tu ngelabrak mereka berdua!" Ujar Hendra.


Kaisar terdiam, ia memikirkan nasib jika Berlin dan Celsi kalah bahkan ia tidak peduli dengan adeknya itu, tapi bagaimana jika adeknya kalah maka hancur sudah reputasi keluarga Aldebaran yang terhormat bukan.


Apa wanita begitu ganasnya jika sudah tentang cinta, ini seperti drama saja jika terus berlangsung. Harus dipikirkan bagaimana caranya agar perlombaan itu tak berlangsung.


"Kai...kai!" Panggil Hendra dengan melambaikan tangannya didepan wajah Kaisar.


"Woi Kaisar!" Teriak Farrel yang tak habis pikir melihat Kaisar yang termenung di saat mereka berdua membahas tentang tantangan konyol itu.


"Kita hancurkan rencana!" Ujar Kaisar yang langsung berjalan lebih dulu dan melambaikan tangan untuk mengajak para sahabatnya itu.


Mereka bertiga langsung berlari mengejar Kaisar, "Seperti biasa selalu ditinggal!" Gumam Rayhan dengan wajah malas.


...----------------...


Didalam mobil, Berlin terus terdiam menatap arah jendela, kuku nya yang sedikit panjang harus habis digigiti oleh dirinya. Semua pikirannya melayang-layang seakan bingung untuk menanggapi tentang tantangan itu, bahkan dirinya saja tidak pernah sekali pun belajar dance.


"Jangan dipikirin, kita akan latihan!" Ujar Celsi yang tersenyum manis pada sahabatnya itu.


"Ta-tapi bagaimana jika kita kalah!" Ucap ragu Berlin dengan mata yang sembam menahan tangisnya.


"Kita akan menang, kita harus membuat mereka merasa jerah! " Ucap ambisius Celsi yang begitu percaya diri.


"Aku tak pandai nge dance cel, terus bagaimana aku ikut!" Seketika mata Berlin sudah berkaca-kaca dan lihatlah ia langsung menangis didalam pelukan Celsi.


"Aku punya teman yang pandai nge dance, bagaimana aku pintar bukan!" Ujar Celsi yang berusaha menenangkan Berlin dengan mengelus rambut kepang nya.


"Tapi..."


"Usssttt....diem, kita pasti menang kok!" Ujar Celsi dengan tersenyum lembut.


Berlin hanya diam, ia menangis sesegukan dalam pelukan sahabatnya itu. ia begitu takut dengan hal itu, ia tidak memiliki kekuasaan dan mereka berempat yang menantang dirinya mungkin saja melakukan kecurangan dengan mengandalkan kekuasaan dan mungkin kehidupan mereka akan semakin hancur.

__ADS_1


__ADS_2