
...🍃 READING BOOK 🍃...
Kini jam pelajaran dimulai, semua orang yang berada disana fokus dengan penjelasan sang guru, dimana sebentar lagi mereka akan melaksanakan ujian.
Hingga sampai jam istirahat yang ditunggu, akhirnya mereka menghela nafas lega dan memutuskan untuk kekantin mengisi perut kecuali Berlin dan Celsi.
Mereka tetap diam di bangku yang sibuk dengan kegiatan masing-masing.
"Cel! Kamu masuk rumah sakit kenapa?" Tanya Berlin menatap dengan penuh harap penjelasan.
"Cuman pengen aja, yaudah masuk rumah sakit!" Ucap Celsi yang terkekeh kecil.
"Apaan sih!" Kesal Berlin yang sedikit menepuk bahu Celsi.
Dan hal itu membuat Celsi meringis, namun dengan segera ia menetralkan kembali ekspresi nya agar tak terlihat bahwa ia masih menahan sakit.
"Eh maaf cel, sakit ya kok bisa terjadi?" Ujar Berlin yang langsung mengelus bahu Celsi dengan lembut.
"Eh enggak kok, ini cuman ekting dong!" Ucap Celsi yang menutupi rasa sakitnya.
"Bohong ah, pasti kamu rumah sakit karena ini coba jelaskan kenapa?" Ucap Berlin yang masih kepo dengan keadaan sahabat nya itu.
"Jatuh dari motor doang, biasa ah itu kan pengalaman!" Acuh santai Celsi, namun hal itu malah membuat Berlin melototkan matanya.
"Biasa! Kamu bilang biasa, gila! terus biasanya kamu sering terjatuh gitu..."Kesal Berlin yang tak percaya.
"Nggak ada cuman sekali itu doang, kan itu bisa jadi pengalaman untuk terus diulangi... Hehehe!" Ucap Celsi dengan cengengesan nya.
Plak
"Awww...Berlinnn!!" Teriak Celsi pada Berlin yang tiba-tiba langsung memukul lengannya yang masih terasa sakit.
Seketika semua orang yang berada disana menatap kearah Berlin dan Celsi, mereka berdua menjadi pusat perhatian antar keduanya karena beberapa orang baru saja datang.
"Eh maaf!" Cengir Celsi saat mengetahui sebuah tatapan aneh menatap padanya.
Celsi menatap kearah Berlin, ia sedikit meringis karena merasa cukup ngilu bekas pukulan Berlin meski tak terlalu kuat.
"Eh maaf, yaudah sini aku pijet! Ucap Berlin yang akan langsung memijit bahu Celsi, namun gadis itu malah menahannya dan langsung menjauhkan tangan Berlin darinya.
__ADS_1
"Nggak usah deh, dipastikan nih tangan nggak bisa gerak!" Ejek Celsi dengan kekehannya.
Berlin hanya dapat berdengus kesal, ia pun memilih untuk kembali membaca buku yang dipinjamnya dan Celsi yang fokus dengan ponselnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kini pulang sekolah, Berlin dan Celsi berpisah. Disini Celsi masih belum tau bahwa Berlin kini menjadi guru pengajar untuk Kaisar, selama masa waktu budaknya selesai dengan bayaran yang cukup besar.
Berlin sempat ingin menolak, tapi karena perjanjian terikat sudah lebih dulu terbuat dan membuat ia terpaksa harus menyetujuinya.
Kini Berlin duduk di tengah-tengah ruang perpustakaan, masih cukup banyak orang karena beberapa orang ada yang memutuskan untuk singgah di perpustakaan.
"Hay!" Sapa Kaisar.
Kaisar menghampiri Berlin dengan senyum manisnya, ntah mengapa saat bersama dengan Berlin ia selalu ingin tersenyum dan ingin selalu dekat.
"Hay kak, udah siap untuk belajar kembali?" Ucap Berlin membalas sapaan Kaisar.
"Udah, tapi...dirumah aku aja belajarnya!" Ucap Kaisar dengan nada memerintah bukan meminta pendapat.
Berlin hanya dapat menghela nafas, ia sudah biasa dengan sikap Kaisar yang lebih dominan. Lelaki itu tidak akan mendengar apa pun meski ia menolaknya.
"Emangnya nggak papa kak, soalnya kan disana ibu ku seorang pembantu!" Cicit Berlin yang takut nyonya besar marah pada anaknya karena berteman pada anak seorang pembantu.
"Nggak apa!" Ujar Kaisar yang langsung menarik Berlin begitu saja.
Berlin pun langsung dengan cepat mengambil tas dan buku yang hampir tertinggal, dan untungnya ia sigap dalam mengambilnya.
Kini Berlin sedikit berlari mengikuti kaisar dari belakang, ia terus menunduk karena tak berani menatap semua orang yang terus menatap dirinya dengan kesal dan benci.
Duk...
"Aw..." Ringis Berlin yang tak sengaja menabrak benda keras dihadapannya.
Ia pun mengangkat kepalanya dan sedikit terkejut karena yang ia tabrak adalah Kaisar.
"Lihat kedepan!" Ketus Kaisar yang kembali berjalan.
Berlin hanya dapat mengutuk Kaisar dari dalam hati, disini ia tak salah yang sala itu Kaisar yang berhenti secara tiba-tiba tanpa sedikit pun peringatan.
__ADS_1
"Naik!" Ucap Kaisar yang sudah siap dengan motornya yang sudah hidup.
Berlin tanpa berucap langsung naik, ia mengambil helm yang di berikan Kaisar padanya setelah ia naik.
"Pakek ini nya gimana ya!" Gumam Berlin yang kesusahan dalam memasang klap helm.
Huh...
Terdengar helaan nafas dari kaisar yang cukup panjang, lelaki itu berpikir kenapa ia bisa sampai harus bertemu dengan orang begitu bodoh, bahkan memasang klap helm saja tak bisa.
Kaisar sedikit memutar badannya menghadap kebelakang meski tak turun dari motornya.
"Sini lebih dekat!" Perintah Kaisar yang langsung Berlin lakukan.
Berlin mendekat dan mendongakkan kepalanya agar kaisar lebih mudah untuk memasangkan klap helm.
Kalian tau bagaimana jantung Berlin saat ini, bagai disambar petir, mati sesaat, melayang diangkasa dan tidak dapat merasakan.
Berlin menutup matanya berusaha menenangkan detak jantung dan nafasnya.
"Sudah!" Ucap Kaisar yang langsung memutar tubuhnya menghadap kedepan.
Berlin pun bernafas lega, ia pun sedikit mundur dan memegang di jok belakang motor.
Perlahan Kaisar menjalankan motornya, ia melajukan keluar gerbang perlahan namun setelah itu malah menggunakan kecepatan tinggi yang mengharuskan Berlin memeluk perut Kaisar.
Namun tak disadari oleh Kaisar dan Berlin, Cinta dari kejauhan menatap dengan kekesal dan kebencian. Ia sengaja tak pulang cepat hanya untuk melihat kegiatan Kaisar yang sering pulang telat dan itu ia dengar dari mama Desi.
...----------------...
Didalam perjalanan, sesekali terjadi macet karena dimana memang sudah waktunya jam macet sebuah jalan raya. Meski pun begitu Kaisar cukup lihai untuk menyelip agar lebih cepat sampai dirumah karena ia cukup lelah juga.
Berlin tetap diam, saat kaisar menyelip ia memutuskan untuk memegang ujung jaket Kaisar karena ia tak ingin di cap sebagai seorang cewek modus.
Tak berselang lama di perjalanan, akhirnya mereka sampai didepan rumah mewah Kaisar. Hanya tinggal menghidupkan klason dengan segera gerbang dibuka oleh satpam penjaga.
Saat motor perlahan masuk, Berlin menatap sekitar dengan kagum terlebih dengan rumah megah Kaisar yang mewah.
Motor berhenti tepat di pelantaran depan rumah lebih tepatnya didepan samping tetapi tetap didepan. Kaisar lebih dulu turun dan membuka helmnya. Ia menatap Berlin heran karena gadis itu tak kunjung turun dari motornya.
__ADS_1
"Mau tetap disini?" Tanya kaisar dengan satu alis yang naik keatas.
"Ah itu, aku nggak bisa turun!" Ucap Berlin.