
...🍃 READING BOOK 🍃...
Disebuah RS.Cahaya indah, kini tiga orang yang sangat khawatir menggiring Berlin saat berada di brankas. Mereka bertiga terus mengikuti sampai brankas itu pun akhirnya sampai di ruangan UGD.
"Maaf, kalian dilarang masuk dan diharap tunggu diluar!" Ucap suster yang langsung menutup pintu ruangan itu meninggalkan tiga orang yang khawatir.
"Tapi Berlin...hiks...hiks...!" Tangis Tami pecah, ia hanyalah memiliki seorang anak dan sekarang dirinya lah yang telah mencelakai nya.
"Maafkan Celsi tan, Celsi sungguh tak tau kalo bisa begitu berbahaya!" Celsi menunduk dengan air mata yang sudah menetes.
Ia takut sahabatnya itu terjadi apa-apa dan dirinya pasti akan merasa bersalah seumur hidup nya.
Celsi tersenyum kecut, "Tidak apa, itu bukanlah keinginan kita!" Ucap Tami yang menyentuh bahu Celsi.
"Kamu besok saja pulang ya nak, sekarang sudah malam tidak baik untukmu pulang jam segini!" Ujar Yudha pada Celsi dan gadis itu hanya mengangguk lemah.
"Aku izin sebentar tan om, mau ketoilet!" Ucap Celsi yang langsung pergi tanpa menunggu persetujuan Yudha dan Tami.
Celsi berjalan menjauh dari ruangan UGD menuju depan, ia akan melakukan registrasi untuk membayar kesalahannya atau bahkan ia berani untuk memasukkan Berlin ke ruangan VIP.
Matanya sembab menahan air mata, perasaan nya sangat kacau balau untuk saat ini.
"Bayar biaya rumah sakit untuk pasien yang baru masuk ruang UGD!" Celsi memberikan kartu ATM nya yang merupakan tabungannya.
"Maaf nona tapi pasien tadi belum terdaftar, apa anda keluarganya!" Ucap represionis.
"Ya saya keluarganya, beri pada saya pendaftarannya dan sekalian membayar biaya rumah sakitnya selama seminggu!" Ucap Celsi yang langsung memberikan kartunya pada represionis itu.
"Baik nona!"
Represionis itu memberikan selembar kertas dengan bolpoin kepada Celsi dan dengan segera Celsi mengambilnya lalu mengisi identitas Berlin yang merupakan seorang pasien.
"Sudah!" Celsi memberikan kertas itu kembali dan secara bersamaan represionis itu juga memberikan kartunya.
"Terima kasih nona dan ini kertas pelunasan biaya rumah sakit dan dimohon untuk seminggu lagi jika pasien masih berada disini!" Represionis itu tersenyum ramah memberikan kertas pelunasan itu.
Celsi hanya mengangguk, ia langsung mengambil kertas itu dan pergi menuju tempat Berlin berada.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di sebuah kamar yang luas, dimana kini seorang ibu yang sedang mengkhawatirkan anaknya. Ia takut anaknya terjadi apa-apa, apalagi sekarang sudah jam 12 malam.
__ADS_1
"Apa kamu marah sama ibu nak!" Batin nya dengan air mata yang sudah siap terjatuh.
"Belum tidur!" Ucap Weldan yang menyentuh bahu sang istri yang begitu bergetar.
Sebenarnya Weldan baru menyelesaikan pekerjaannya diruang kerja. Saat ia masuk kedalam kamarnya, ia berjalan menuju kamar mandi dan saat ia sudah membaringkan tubuhnya dan ingin memeluk tubuh istrinya, ternyata istrinya itu belum tertidur.
Galdis tetap diam, Weldan pun membalikkan tubuh istrinya itu dan menjadikan tangannya sebagai bantalan sang istri.
"Karena Celsi!" Weldan mengecup kening Galdis dengan sayang.
"Eehm!" Galdis berdehem sebagai pertanda mengiyakan.
"Kita tunggu sampai besok oke dan kamu tidur sekarang!" Ucap lembut Weldan dengan tersenyum manis.
"Aku tidak bisa tidur!" Lirihnya.
"Baiklah, kamu usahakan dan jika kamu belum juga tidur aku pastikan kamu tidak bisa berjalan besok!" Ucap Weldan dengan senyum miringnya.
Galdis merinding, ia pun langsung menutup matanya dengan menenggelamkan wajahnya di dada bidang sang suami. Ia begitu menyukai posisi seperti ini.
Weldan tersenyum tipis, ia begitu khawatir dengan Celsi. Selain anak gadisnya itu pendiam, ia juga selalu menghindar saat berkumpul atau tidak mengikuti pembicaraan.
"Apa yang membuatmu berubah!" Batin Weldan.
...****************...
Dipagi harinya, dimana kini disebuah ruangan makan terdapat tiga orang yang duduk dalam satu meja makan. Disini hanya terdengar suara dentingan sendok yang beradu dengan garpu dan piring.
Namun mata mereka beralih saat seseorang berjalan begitu saja tanpa sapaan sedikit pun.
"Berhenti disana!" Teriak Weldan pada Celsi yang saat ini akan menaiki anak tangga.
Celsi pun berhenti, namun ia tidak membalikkan tubuhnya.
"Apa begini sikapmu menghargai orang tua, kemana saja kamu hah...!" Weldan langsung membentak Celsi sehingga ruangan tertutup itu mampu menggema seisi ruangan.
Celsi tetap diam, ia tetap tak ingin memutar tubuhnya menatap kearah orang tuanya. Ia begitu malas untuk berdebat saat ini.
"Aku lelah, bisa beri aku istirahat!" Ucap Celsi yang langsung menaiki anak tangga tanpa mempedulikan ucapan papanya.
"Anak itu!" Geram Weldan.
__ADS_1
"Papa tenang ya, jangan emosian!" Ucap Cinta lembut dengan senyum manisnya.
Galdis tetap diam, ia begitu sedih melihat sikap anaknya yang sangat begitu tertutup terhadap keluarga.
"Sayang, jangan sedih lagi oke!" Ucap cemas Weldan pada Galdis.
Galdis hanya tersenyum tipis, ia kembali menyuapkan makanannya didalam mulutnya.
Sedangkan didalam kamar, Celsi langsung mengguyur tubuhnya dengan air panas. Saat ini tubuhnya yang lelah begitu membutuhkan penenangan dalam pikirannya.
Setelah ia selesai melakukan ritual mandi, ia segera memakai baju tidur dan langsung membaringkan tubuhnya di ranjangnya yang nyaman itu.
Tak membutuhkan waktu yang lama, Celsi langsung tertidur dan terlelap dalam mimpinya itu.
Celsi yang dipaksa pulang oleh Yudha dan Tami, membuat dirinya terpaksa pulang meski ia juga merindukan kasurnya yang tak ia tepati semalaman.
saat ia pulang, Berlin sudah dipindahkan keruang rawat, dimana saat itu Berlin sudah sadarkan diri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sedangkan dirumah Kaisar, ia sudah siap dengan baju yang rapi, dimana ia terpaksa harus pergi bersama Cinta untuk masa pendekatan selama tiga bulan dan pada masa itu kaisar wajib pergi disetiap hari minggu.
"Morning all!" Ucap Kaisar yang sudah berada di tangga terakhir.
"Morning!" Jawab mereka semua.
"Anak ku sekarang sudah tampan, bagaimana nak sudah siap!" Ucap Desi tersenyum manis.
"Ma! Kaisar masih ada urusan loh, sekali ini aja napa..." Memohon Kaisar dengan wajah memelas nya.
"Oh no, Come on baby, there's no denying this!" Ucap Desi yang menolak mentah-mentah permintaan Kaisar.
Kaisar hanya dapat menghela nafas berat, ia sungguh merasa tak bersemangat untuk memulai kegiatan paginya. Bahkan bubur yang wangi pun enggan untuk ia sentuh.
"Kakak jangan terus ngeluh, padahal kak Cinta itu cantik loh dari Celsi!" Ucap Angel yang menyuapkan satu suap bubur kedalam mulutnya.
"Ck..." Kaisar hanya berdecih kesal dan dengan terpaksa ia menyuapkan bubur itu kedalam mulutnya.
"Huh...huh...panas!" Kaisar merasakan panas pada lidahnya yang terbakar, padahal ia tau bahwa bubur itu sedang sangat panasnya tapi karena kesal ia memasuki saja dalam mulut.
"Kamu ini, udah besar seperti anak kecil!" Tegur Desi yang memberikan tisu pada anaknya itu.
__ADS_1
Kaisar menerimanya dan langsung mengelap mulutnya dan segera menelan bubur panas itu kedalam perutnya.
Terlihat Aldebaran hanya dapat menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah keluarganya itu saat ini.