Benci Menjadi Cinta

Benci Menjadi Cinta
Bab 73


__ADS_3

...🍃 READING BOOK 🍃...


Satu Minggu lamanya, Tami sudah dirawat jalan dan Kaisar menjalankan ujiannya. Kini Kaisar dan Berlin berada didalam satu motor dengan pelukan pinggang yang sangat kuat, itu bukan keinginan berlin ya tetapi ini Kaisar.


Berlin yang awalnya enggk mau pergi akhirnya harus pergi karena paksaan dari mama nya yang mengatakan untuk membalas kebaikan Kaisar yang selama ini membantu mereka.


Berlin tetap diam meski saat ini tangan Kaisar menggenggam nya sangat erat. Pengen baper tapi enggak bisa, haruskah dirinya berharap saat ini sedangkan kemungkinan untuk bersatu sangat lah terjal.


"Mau makan apa!" Teriak Kaisar agar terdengar oleh Berlin dari belakang.


"Apa aja!" Jawab Berlin yang saat ini menahan gugup.


Kaisar melihat ekspresi wajah Berlin dari spion motornya, sangat menggemaskan menurutnya. Pengen sekali mencubit pipinya tapi harus tetap tahan sampai ia bisa menahan saja.


"Makan bakso yok!" Ajak Kaisar dengan tersenyum manis


"Ayok!" Ucap Berlin dengan mata yang berbinar-binar.


Motor pun berbelok ke pedagang bakso yang berada ditepi jalan, cukup ramai dengan banyak pengunjung dan diyakinkan bahwa rasa bakso nya enak.


"Bakso apa urat, biasa atau yang beranaknya?" Tanya Kaisar dengan menatap penuh cinta pada Berlin.


"Hmm...boleh bakso beranak?" Tanya Berlin dengan wajah polosnya dan mata yang mengerjap-ngerjap.


"Boleh dong, asalkan habis aja!" Ucap Kaisar yang kini langsung melambaikan tangan memanggil seorang wanita yang diyakinkan pekerja di tempat bakso yang cukup ramai itu.


"Mbak bakso beranak dan bakso urat, minumnya es teh dua ya!" Ucap Kaisar memesan dan segera diangguki oleh mbak itu.


Kini Kaisar menatap Berlin dengan bingung, pasalnya tadi Berlin tampak biasa saja tetapi sekarang sedikit murung.


"Kamu kenapa hmm...?" Tanya Kaisar membelai rambut Berlin.


sontak Berlin langsung menatap manik mata Kaisar, ia tertegun saat ini melihat sikap Kaisar. "Boleh nanya lagi enggak?" Tanya dengan wajah polosnya.


"Hmm!" dehem Kaisar yang tangan nya menjangkau kerupuk bulat yang disediakan.


"Bakso beranak itu keluar anaknya atau gimana?" Pertanyaan Berlin yang sungguh sangat membagongkan.

__ADS_1


"Hukkk...hukk...apa?" Kaisar terbatuk-batuk mendengar pertanyaan dari Berlin, apa gadis ini tidak pernah makan bakso beranak sampai mempertanyakan hal itu.


"Iya, apa salah?" Sekali lagi Berlin kembali bertanya dengan wajah polos nan lugu nya.


Ini polos atau gimana, kok bisa sampai Berlin mempertanyakan hal itu tanpa sedikitpun ekspresi wajah yang merasa bersalah.


"Hmm...enggak salah kok, bakso beranak itu cuman diisi beberapa bakso kecil dan telor didalamnya, emangnya kau belum pernah makan apa?" Jelas Kaisar dengan mata yang menatap lekat kearah wajah Berlin yang tampak berpikir keras.


Berlin menggelengkan kepalanya, ia memang belum pernah makan bakso beranak, yaudah jadi nya ia membeli itu untuk melunasi kekepoan terhadap makanan itu.


Bukan ia tak mampu beli, hanya saja ia belum berani membelinya dan sekarang ada Kaisar sehingga ia berani membeli itu.


"Bukan kah namanya bakso beranak, seharusnya kan keluar anak bukan bakso!" Ucap Berlin yang terus bertanya seperti seorang anak kecil.


"Enggak gitu konsepnya loh, ku karungin juga nih!" Kesal beserta gemas Kaisar rasakan. "Itu mah cuman istilah karena bakso itu diisi beberapa bakso kecil dan berbentuk seperti orang yang lagi hamil, yaudah jadinya di beri nama bakso beranak!" Jelas Kaisar dengan sangat lembut agar Berlin paham.


"Ohh jadi pengen deh, lama banget yak!" Berlin menatap kanan kirinya mencari mbak yang akan memberikan pesanan nya.


"Udah diam aja, ini makan enak loh!" Ucap Kaisar mengelus lembut puncak kepala Berlin.


Berlin tersipu malu, namun ia tetap mengambil pemberian Kaisar yaitu kerupuk bulat kecil yang cukup enak. Hingga kerupuk itu habis dan pesanan mereka pun datang.


"Makasih mbak!" Ucap Berlin yang langsung dengan semangat mulai mengaduk baksonya dengan bumbu meski sedikit kesusahan karena ukuran bakso itu.


"Mau dibantu belahnya!" Tawar kaisar saat melihat Berlin tampak begitu susah membelahnya.


"Enggak usah deh, bisa kok sendiri!" Tolak halus Berlin.


"Yaudah makan, nanti habis ini pergi lagi" Ucap Kaisar dan diangguki oleh Berlin.


Selesai makan, kini Kaisar membayar makanan mereka. Mereka berdua pun kembali menelusuri jalan rasa hingga motor Kaisar berhenti disebuah taman.


"Ngapain kesini?" Tanya Berlin bingung.


"Yok!" Kaisar langsung menarik begitu saja lengan Berlin.


Berlin mengikut saja, ia tetap diam dan terus berjalan hingga berhenti di sebuah duduk ditengah taman.

__ADS_1


"Aku mau mengatakan sesuatu!" Kini raut wajah Kaisar berubah menjadi serius.


"I-iya!"


"I love you!"


Tiga kata itu membuat suasana yang begitu dingin menjadi lebih dingin lagi, detak jantung keduanya begitu berdetak sangat kencang seakan saling berpacu.


"Bukan kah aku...!"


"Ussstt...aku sudah tau, aku tau bahwa kita tak satu tuhan tapi aku memiliki harapan untuk cinta kita agar berkembang, ku mohon terima cinta ku dan ajarkan aku bagaimana menjadi seorang umat Islam meski aku belum berpindah agama!" Ucap Kaisar dengan mata sayu yang penuh harap itu.


"Kau jangan melakukan ini demi cinta!" Tungkas Berlin.


"Tidak, aku juga sudah lama ingin mengenal ajaran Islam itu, tapi semenjak ada kamu semakin membuat ku terdorong untuk semakin ingin tau tentang islam!" Bantahnya dengan suara serak seperti menahan tangis.


"Tapi bagaimana dengan keluarga mu kak!" Lirih Berlin dan kini air mata nya sudah mengalir tak mengenal arah.


"Aku akan berjuang bagaimana pun cara nya, ku mohon Berlin beri aku kesempatan untuk mengenal mu!" Ucap Kaisar yang menggenggam kedua tangan Berlin penuh harap.


"Apa kakak sudah yakin dengan keputusan mu?" Pertanyaan Berlin yang begitu membuat Berlin langsung terdiam.


Ia sungguh sangat yakin tapi ada suatu ganjalan yang terus menusuk hati nya, mungkin ia akan menjadi anak yang tak tau diuntung oleh ibu nya jika mengambil keputusan ini.


"Hmm...aku sudah tau kakak belum yakin, sebaiknya jangan dipaksakan!" Ucap Berlin yang bangkit dari duduknya.


Berlin berjalan meninggalkan Kaisar yang terus diam, "Aku mencintaimu Berlin, entah sejak kapan ku mohon beri aku kesempatan untuk mengenal mu!!!" Teriak Kaisar yang langsung membuat Berlin berhenti dan membalikkan tubuhnya.


"Baiklah!" Jawab singkat Berlin namun dengan air mata yang mengalir.


Hanya mengenal lebih dalam bukan, oh baiklah ia akan memberikan kesempatan untuk Kaisar dan mungkin dengan ini Kaisar perlahan mengobati rasa keingintahuan nya tentang dirinya dan akhirnya pergi meninggalkan nya.


"Benarkah?" Terlihat mata Kaisar yang begitu berbinar-binar dengan menggenggam tangan nya erat.


"Iya, aku akan memberikan mu kesempatan untuk mengenal ku kak, tapi jika ke kepoan mu telah terobati maka kau bisa pergi!" Lirih Berlin yang tetap dengan air mata yang mengalir.


Kaisar langsung memeluk Berlin, kini ia akan buktikan bahwa itu bukanlah rasa keingintahuan tetapi rasa cinta yang hadir entah sejak kapan. Ia akan berusaha tetap bersama Berlin dan Berlin lah gadis yang pertama kali bisa menempatkan hatinya dari sekian banyak gadis.

__ADS_1


Dengan ini, aku akan membuktikan pada mu, Gumam dalam hati.


__ADS_2