
...🍃 READING BOOK 🍃...
Didalam kamar yang sangat mewah, dimana Kaisar baru menyelesaikan rutinitas nya dikamar mandi sebelum naik keatas ranjangnya.
"Apa perlu minta nomor tu cewek nggak ya!" Kaisar berpikir dengan keras. Gengsinya yang begitu besar membuatnya harus berpikir berulang kali untuk meminta nomor Berlin.
Ya dia memikirkan Berlin, ia begitu gengsi untuk meminta nomor seorang cewek culun, padahal semua cewek menyimpan nomornya sendiri tanpa ia minta.
Kaisar berpikir keras, bagaimana agar dirinya tidak merasa malu saat meminta nomor ponsel Berlin.
"Ah...mungkin aku suruh orang aja yang cari atau minta langsung ya!" Gumamnya yang masih memikirkan cara terbaik agar ia tidak malu.
Semalaman Kaisar memikirkannya hingga sampai keesokan harinya, ia tetap berada di ranjangnya yang nyaman tanpa berniat bangun.
Tok....tok...
Pintu beberapa kali diketuk, namun sang empunya tak menjawab ataupun membuka pintu itu. Kembali lagi pintu diketuk lagi dan tetap saja tak ada jawaban.
"Tuan muda, nyonya menyuruh saya membangunkan anda!" Imbuh seorang pelayang yang dari tadi terus mengetuk pintu kamar Kaisar.
Namun tak ada sedikit pun suara dan dengan terpaksa pelayan itu memberanikan diri untuk memutar kenop pintu.
"Kaisar belum bangun?"Tanya Desi yang tiba-tiba datang ntah sejak kapan.
"Ah nyonya, be-belum nya!" Ucap pelayan itu yang terkejut dengan kedatangan nyonya nya saat dirinya akan membuka pintu kamar tuan muda nya itu.
"Baiklah, pergilah selesaikan saja tugasmu itu!" Ucap Desi dan pelayan itu pun membungkuk dan langsung pergi.
Desi perlahan membuka pintu kamar anaknya yang tumben tak dikunci atau memang akses sandi pintu tak dipergunakan.
Desi tersenyum melihat tingkah anaknya saat tidur, dimana saat ini tidurnya ditepi ranjang dengan kaki dan tangan sebelah berada dibawah dan kepala tanpa bantal.
"Kaisar!" Panggil Desi dengan menggoyangkan tubuh Kaisar.
Perlahan Kaisar merasa terusik, ia mengerjap menatap orang yang mengganggu tidurnya.
"Hmmm...ada apa ma!" Ucap Kaisar dengan suara serak khas bangun tidur.
"Bangun sayang, apa kamu tak mau sekolah hari ini!" Ucap Desi tersenyum manis.
"Jam?" Tanya kaisar yang perlahan matanya mengarah pada jam dinding.
Kaisar terkejut, karena saat ini sudah menunjukkan pukul 7:20 wib.
__ADS_1
"Hmm... bagaimana sayang, Masih tak mau beranjak!" Ucap Desi dengan senyum yang sulit diartikan.
"Momyyyy!" Teriak Kaisar yang langsung bangun dan berlari menuju kamar mandi.
"Haish..." Desi hanya dapat menghela nafas pasrah melihat tingkah Kaisar pagi ini.
Desi pun keluar dari kamar kaisar, ia akan menyiapkan sarapan untuk anaknya yaitu sandwich. Suami dan anak gadisnya sudah pergi lebih dahulu dan kini tinggallah anaknya yang satu ini.
20 menit pun telah berlalu, kaisar pun keluar dengan sepatu dan dasi ditangannya.
"Kenapa buru-buru banget sih sayang!" Ucap Desi yang mengambil dasi dari tangan Kaisar.
"Aku ada ulangan hari ini ma!" Teriak Kaisar dengan kedua sudut bibir yang tertarik kebawah.
"Benarkah, kan bisa ulangan susulan sayang nanti!" Perlahan Desi memakaikan dasi kegerah baju sekolahnya.
"No mom, sekarang guru yang mengajar ku adalah sahabat papa sendiri dan itu sangatlah tegas!" Ucap Kaisar yang mulai memasukkan sandwich kedalam mulutnya.
Sandwich itu dimakan dengan dibenam-benamkan kedalam mulutnya agar cepat selesai.
"Kamu ini, lihatlah wajah tampan mu terkena saos!" Desi mengambil tisu di meja dan mengusap sudut bibir Kaisar yang terkena saos.
"Thanks mom, aku pergi dulu ya...!" Kaisar mengecup pipi Desi dan langsung berlari keluar meninggalkan ruang makan.
"Iya!"
Desi pun memutuskan untuk membersihkan meja makan, ia meletakkannya di wastafel dan membiarkan piring itu agar diselesaikan oleh para pelayan nya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kini Kaisar sudah berada di rumah sekolah, lebih tepatnya di pagar sekolah. Meski ia memiliki kekuasaan akses masuk, tapi karena saat ini karena ada sahabat ayahnya membuat ia tidak dapat masuk meski dengan status ayahnya.
"Ayolah pak, izinkan saya masuk bukankah kita seorang teman!" Bujuk Kaisar yang memang dekat dengan satpam sekolah.
"Maaf den Kaisar dari seminggu yang lalu aja sudah nggak boleh karena jika sudah lewat lima menit telat siapa pun nggak boleh masuk, kecuali sudah mendapat izin OSIS dan hukuman!" Jelas satpam itu yang merasa bersalah.
"Yaudah, panggil dong si Raihan itu pak, masa sih tega aku kepanasan diluar!" Ucap Kaisar dengan wajah yang sudah memerah karena sinar matahari yang cukup terik.
"Bentar ya den bapak telpon dulu aden Raihan nya!" Dengan segera satpam itu masuk dalam tempat jaga nya.
Kaisar melipat tangan nya didada, ia melihat keselilingnya dan menatap seseorang yang lewat sendiri dengan beberapa buku ditangannya.
"Eh cupu sini kau!" Teriak Kaisar saat melihat Berlin berjalan santai.
__ADS_1
Berlin tersentak, ia pun berbalik menatap orang yang memanggil nya.
"I-iya!" Berlin perlahan berjalan mendekati kaisar, ia terus menunduk tak berani menatap orang yang dihadapannya.
"Beliin air sama makanan, perutku lapar!" Kaisar langsung memberikan uang 50 Rb ke tangan Berlin.
"Ta-tapi!"
"Cepet ah, aku tak memiliki kesabaran menunggu!" Ucap Kaisar yang mendorong Berlin sedikit.
Dengan terpaksa Berlin pun berjalan meninggalkan Kaisar membeli makanan yang diminta Kaisar.
Tak lama kaisar menunggu ditempat, seorang pemuda yang bernama Raihan atau bisa dibilang sebagai ketua OSIS menghampiri kantor pos satpam.
"Ada apa pak?" Tanya Raihan menghampiri satpam.
"Aden Kaisar ingin masuk dan bapak bingung harus berbuat apa!" Ucap satpam itu dengan menggaruk tekuk nya.
Raihan menatap kearah Kaisar, ia melihat dengan tatapan yang menurut Kaisar tatapan meremehkan.
"Cepet, aku tak ada waktu disini!" Ketus Kaisar saat melihat Raihan terus menatapnya.
"Oke!" Raihan menghampiri Kaisar, ia membuka gerbang dibantu dengan satpam yang membuka sebelahnya.
Kaisar segera berjalan menuju mobilnya, memasuki mobil kedalam per-karangan sekolah dan diparkirkan di parkiran mobil.
Perlahan Kaisar keluar menghampiri Raihan.
"Hukuman!"
Raihan tetap diam dengan tatapan bingung, antara Kaisar yang tumben atau Kaisar yang berhati baik.
"Cepat, kau membuang waktuku dengan bengongan tak berfaedah mu itu!" Ketus Kaisar, ia cukup kesal dengan orang yang didepannya yang telat datang selama 10 menit.
Hello Kaisar, ia hanya punya kaki bukan pesawat jadi Raihan itu butuh waktu berjalan goblok.
"Kamu demam ya kai!" Bingung nya.
"Sebaiknya kau berhentilah jadi ketua OSIS jika terus bertanya padaku, baiklah aku akan pergi jadi jangan salahkan aku kalo kau tidak tau soal ini!" Ucap Kaisar yang berjalan santai meninggalkan Raihan.
"Sebentar, lari 5 keliling lapangan maka hukuman mu selesai!" Teriak Raihan.
Dan Kaisar langsung melempar tasnya kearah Raihan dan mulailah berlari dilapangan basket itu.
__ADS_1