
...đ READING BOOK đ...
Kini dirumah sakit terdekat, Berlin sudah berbaring di kasur rumah sakit. Ia belum juga sadar padahal sudah 30 menit lamanya tak sadarkan diri.
Uggghhh
Suara lenguhan dari arah Berlin, perlahan matanya terbuka dan menatap sekitarnya. Yang pertama kali ia lihat adalah tak ada seorang pun yang berada didalam ruangan saat ini.
"Aku dimana ya sekarang!" Gumamnya menatap sekitar.
Berlin perlahan berusaha untuk duduk dengan bantal yang sengaja menyangga tubuhnya agar lebih mudah untuk bangun.
"Rumah sakit!" Gumamnya.
Berlin merasakan sakit di kepala nya dan tubuhnya yang masih lemas, namun kali ini ia harus segera pulang karena tak ingin membuat kedua orang tuanya khawatir.
"Eh mau kemana nona!" Ucap seorang suster yang saat itu akan mengecek keadaan Berlin.
"Ah itu, aku ingin pulang bisakah kak suster membantuku!" Ucap Berlin yang memang saat ini kesusahan dalam berjalan.
"Tapi nona baru sadar, istirahat lah hingga besok dan aku sudah menelpon orang tuamu 5 menit yang lalu!" Ucap suster itu yang membimbing Berlin kembali ke kasurnya.
"Ta-tapi ini..."
"Tenang aja, ada seseorang yang sudah membayarnya dan kamu hanya tinggal dirawat sampai semalam saja kok!" Ucap suster itu yang tersenyum manis.
"Siapa dia kak suster, apa kau bisa memberitahu ku siapa yang membayarkan biaya rumah sakit ku?" Tanya Berlin dengan mata polosnya.
"Ini...tapi orang itu tak ingin kau tau nona!" Ucap suster itu yang sedikit ragu.
"Ayolah kak suster, aku akan membayar kebaikannya jika aku tau!" Ucap Berlin dengan wajah memohon.
"Maaf tapi aku nggk tau dia siapa!" Ucap suster itu yang berjalan mengarah pada infus Berlin.
Ceklek
Pintu terbuka, memperlihatkan seseorang dengan wajah datarnya, ia datang dengan membawa satu plastik putih yang isinya tidak diketahui.
"Sudah sadar?" Tanyanya.
"Kak kaisar ngapain disini, apa kakak yang bawa aku kesini?" Tanya Berlin yang sedikit terkejut dengan kedatangan Kaisar.
__ADS_1
"Bukan!" Acuhnya yang meletakkan plastik itu diatas nakas.
"Lalu siapa?" Tanya nya bingung.
"Istirahatlah yang banyak, aku akan pergi dan ini buah untuk mu!"Ucap Kaisar yang tak ingin menjawab pertanyaan Berlin padanya.
"Kak bentar!" Panggil Berlin yang langsung bangkit dari duduknya, namun ia malah terjatuh akibat kakinya yang tak sengaja tersangkut selimut.
Brak
"Kamu nggk papa?" Tanya kaisar yang langsung menghampiri Berlin.
"Eng-enggak papa!" Gugup Berlin.
*Ceklek
"Assalamualaikum*"
Pintu ruangan pun terbuka, terlihat kedua orang tua Berlin menatap kaisar yang saat itu membantu Berlin untuk naik kekasur.
"Wa'alaikumsalam!" Jawab Berlin yang melihat arah asal suara.
Kaisar dengan segera meletakkan Berlin diatas kasur, ia menatap kedua orang tua yang berada dihadapannya menatap bingung kepada mereka berdua dan ia cukup terkejut karena saat ini yang berada dihadapannya adalah pembantunya sendiri..
"Bik Tami!" Ucap Kaisar yang syok.
"Eh tuan muda, kok bisa disini bersama Berlin?" Tanya Tami yang sedikit syok.
Berlin menatap secara bergantian, kedua orang ini seperti saling kenal dan bahkan ibu nya sendiri memanggil kaisar sebagai tuan muda.
"Jangan bilang, mama kerja di rumahnya kak Kaisar... astaghfirullah gimana nih!" Batinnya yang terus bergumam.
"Aku hanya mengunjungi Berlin!" Ucap datar Kaisar.
Ia tidak ingin gengsi nya turun karena mengatakan ingin menjaga Berlin sampai sadar. Ia kan seorang tuan muda dan memiliki kekuasaan.
"Makasih tuan muda telah berbaik hati, apa tuan muda tak pulang sepertinya nyonya mencari anda dari tadi!" Ucap Tami yang sedikit membungkuk.
Yudha dan Berlin hanya mampu menyimak setiap obrolan keduanya, mereka berdua bingung harus melakukan apa dan hanya dapat memperhatikan interaksi keduanya yang cukup akrab.
"Baiklah, aku pergi dulu!" Ucap Kaisar yang sedikit menganggukkan kepala sebagai pertanda ia izin untuk pergi.
__ADS_1
Setelah kepergian Kaisar, Berlin malah menjadi sasaran tatapan tajam kedua orang tuanya dan ia yakin bahwa mereka bertanya tentang hubungannya dengan Kaisar.
"Ah baiklah, dia hanya kakak kelas ku saja kok bu!" Jelas Berlin yang saat itu seakan tau dengan tatapan ibunya itu.
"Terus kenapa kok bisa ada disini, dia itu tuan muda tempat ibumu kerja!" Ucap Yudha yang cukup penasaran.
"Aku tidak tau yah, aku ingin pulang saja sekarang!" Ucap Berlin yang merasa cukup pusing.
"Baiklah" Yudha membantu Berlin untuk bangkit.
Perlahan mereka pun pergi keluar dari ruangan yang ditempati Berlin dan mereka akan meminta surat izin pulang.
Kini mereka berada ditempat represionis rumah sakit, berencana ingin membayar biaya rumah sakit dan mengambil surat izin pulang.
"Berapa semuanya atas nama Berlin!" Tanya Tami yang memeriksa dompet yang ia bawa.
"Sudah lunas bu!" Ucap represionis itu saat setelah memeriksa.
"Terus apakah ada yang bisa kami bayar lagi?" Tanya Tami yang tak ingin ada sedikit pun yang terlewatkan.
"Tak ada dan apakah kalian ingin segera pulang?" Tanya represionis itu yang menatap Berlin yang masih di bantu berdiri oleh Yudha.
"Ya, apakah anak ku bisa pulang sekarang karena kita tak bisa membayar biaya rumah sakit jika terlalu lama!" Ucap Tami.
"Tak apa buk!" Jawabnya.
"Baiklah, makasih!" Ucap Tami dan mereka pun langsung pergi berjalan keluar dari rumah sakit.
Mereka menunggu angkot yang lewat yang biasanya lewat dijam segini.
"Ini terlalu lama buk, jika Berlin terlalu lama merasakan hawa dingin, pasti anak kita akan kembali sakit!" Ucap Yudha yang tak tega melihat Berlin yang sepertinya sudah begitu menggigil.
"Aku nggak apa kok yah, kita tunggu sebentar lagi!" Ucap Berlin yang tersenyum manis.
"Kamu yakin nak, bagaimana kalo kita pesan aja taksi online karena begitu lama!" Ucap Tami yang juga ikut khawatir dengan keadaan sang anak.
"Nggak papa, kalo seandainya nggk ada kita baru menggunakan taksi online!" Ucap Berlin yang tersenyum manis.
Namun Tami dan Yudha tetap khawatir, bagaimana pun Berlin baru saja keluar dari rumah sakit dan tubuhnya masih cukup lemah saat ini.
Tami hanya mengangguk, mereka pun menunggu datangnya angkutan umum berhenti dihalte sampai diwaktu dimana cukup lama.
__ADS_1