Benci Menjadi Cinta

Benci Menjadi Cinta
Bab 15


__ADS_3

...🍃 READING BOOK 🍃...


Berlin langsung berlari meninggalkan Celsi, ia tidak peduli dengan Celsi yang terus memanggil nya. Dia terus berlari dengan terus mengusap air matanya.


Dia berjalan kearah belakang sekolah, tepatnya loteng sekolah. Ia duduk menutup wajahnya dengan kedua kakinya yang ia lipat.


Nangisnya tersedu-sedu. Selalu begini, hinaan dari kecil tak pernah terelakkan darinya, apa sebegitu buruknya dirinya atau memang sebuah kasta sebagai pemenang dari segalanya.


"Hiks...hiks...aku benci dunia!" Teriaknya yang tertahan oleh tangisannya.


"Untukmu!" Ucap seorang pria, sehingga membuat Berlin langsung mengangkat kepalanya.


Air mata tetap mengalir dan hidung yang memerah, matanya menatap kearah permen lollipop yang diberikan pria itu kepadanya.


"Pergi!" Usir Berlin dengan datar.


pria itu adalah Hendra, ia langsung duduk disamping Berlin dengan tetap menjulurkan permen dihadapan Berlin.


"Aku pernah mendengar, makanan manis bisa menghilangkan kesedihan seseorang, bagaimana kalo kamu mencobanya!" Ujar Hendra kembali menjulurkan permen lollipop itu.


Berlin mengambil dengan perlahan, tatapannya tertuju pada lollipop itu, namun ia kembali memberikannya dan bangun dari duduknya.


"Gak perlu, kamu dan dan kaisar semua sama bahkan semua orang sama!" Teriaknya yang langsung mundur tiga langkah.


"Hati-hati, nanti kau jatuh Berlin" Teriak Hendra yang khawatir karena satu langkah lagi Berlin pasti jatuh kebawah.


Celsi yang baru datang, langsung syok melihat keadaan sahabat nya itu, apa segitu kacau hidup sahabat nya itu bahkan hinaan itu tidak seberapa hinaan dari sebelumnya, apa sahabatnya itu sudah bosan hidup.


Begitu banyak pertanyaan yang tertera di otak Celsi, namun ia langsung berlari kearah Berlin, lalu menariknya dan memeluk dengan erat.


"Berhentilah melakukan hal bodoh itu!" Ujar Celsi yang memeluk tubuh Celsi.

__ADS_1


Berlin hanya diam, sebenarnya ia tidak ada niat untuk bunuh diri hanya ingin mengusir Hendra agar tak mengganggu nya seperti yang dilakukan orang tadi padanya.


"Apa ada yang lecet, jangan lakukan itu berlin!" Lirih Celsi yang sibuk memeriksa bagian tubuh Berlin yang mungkin saja ada luka.


"Nggak ada kok Celsi, kamu kenapa?" Tanya Berlin yang menurut Celsi itu adalah pertanyaan bodoh yang dilontarkan Berlin padanya.


"Syukurlah kamu tak melakukan itu berlin!" Khawatir Hendra yang langsung menghampiri Berlin dan Celsi.


"Sebaiknya kau pergi menjauh dari Berlin dan ku berharap agar teman mu itu tak membuat masalah untuk Berlin!" Ketus Celsi yang langsung membawa Berlin menjauh dari sana.


"Aku hanya mengembalikan ini!" Ucap Hendra yang memberikan sebuah kotak kacamata.


"Terima kasih!" Ucap Celsi yang langsung merebut kotak kacamata itu dari tangan Hendra, terus memegang tangan Berlin meninggalkan loteng sekolah dan terus memegang tangan Berlin seakan Berlin akan menjauh darinya.


Celsi terus menarik Berlin menuruni tangga dan Berlin hanya diam menurut saja.


"Jangan pernah lakuin itu!" Ucap khawatir Celsi yang berhadapan langsung ke Stevani.


"Jangan pura-pura bodoh deh, sekali aja kamu berpikir untuk bunuh diri, maka jangan anggap aku sebagai sahabat!" Kesal Celsi yang kembali melangkahkan kakinya.


"Aku gak ada berpikir begitu Celsi, kamu aja terlalu jauh berpikir!" Ucap Berlin yang berusaha menjelaskan, namun Celsi tak mendengarkan dan malah terus melanjutkan jalannya dengan menarik Berlin.


Celsi terus menarik tangan Berlin dan akhirnya pun sampai didepan kelas yang tertutup, sepertinya sudah ada guru yang mengajar.


Perlahan pintu dibuka oleh Celsi dan seperti biasa semua orang menatap mereka namun pada akhirnya hanya tatapan remeh dari semua orang.


"Terlambat 45 menit, sama dengan satu jam pelajaran saya, sekarang kalian dihukum lari lapangan 5 kali!" Ucap guru itu yang tak basa basi sedikit pun.


"Baik buk!" Ucap Celsi namun ia menatap ke arah Berlin dengan khawatir.


Bagaimana tidak khawatir, sahabat nya ini belum makan tadi dikantin, bukankah itu akan membuat Berlin mengalami pusing atau lebih parah lagi pingsan.

__ADS_1


"Aku gak papa!" Ucap Berlin seakan tau arti dari tatapan Celsi padanya.


Celsi pun mengangguk dan mereka pun secara bersamaan berjalan menuju lapangan sekolah. Panjang yang sangat lebar membuat Celsi langsung lemas apalagi Berlin yang tak makan tadi.


"Kamu yakin Berlin, kalo gak bisa aku bisa meminta agar dihukum yang lain!" Ucap Celsi yang ingin meyakinkan.


"It's okay!" Ujar Berlin dan mulailah berlari.


Celsi terus menatap Berlin dan akhirnya ia ikut juga berlari dari belakang Berlin. Mereka berdua melakukan hukuman sesuai diperintahkan oleh guru.


Tak beda ekspektasi Celsi bahwa Berlin pasti akan pusing atau pingsan, baru saja 3 putaran Berlin sudah tak sadarkan diri, dengan segera Celsi menangkap tubuh Berlin yang sudah rebah ke belakang.


"Berlin! Berlin! Sadarlah..." Cemas Celsi dengan menepuk pipi Berlin, namun hal itu tak berguna untuk membangunkan Berlin.


"Ada apa itu?" Tanya kaisar yang memang kebetulan lewat sana.


Celsi menatap dengan benci kearah kaisar, namun bagaimana lagi sahabat nya ini sudah pingsan dan dengan terpaksa ia meminta pertolongan pada Kaisar.


"Tolong! Berlin pingsan kai!" Ujar Celsi dengan wajah memohon nya.


"Huh... biarkanlah, kenapa kau begitu sibuk dengan gadis culun itu!" Acuh Kaisar yang kembali berjalan.


"Aku mohon Kaisar, akan ku turuti keinginan mu satu kali!" Mohon nya kembali dengan mata yang memohon.


Kaisar pun menghela nafas panjang, ia pun berjalan kembali mendekat ke Celsi dan mengangkat tubuh Berlin.


"Begitu ringan, padahal terlihat memiliki tubuh yang besar" Batin Kaisar saat mengangkat tubuh Berlin.


Mereka pun berjalan menuju UKS, Kaisar menggendong bridal style menuju UKS, setelah sampai kaisar langsung membaringkannya di kasur UKS dan langsung pergi meninggalkan ruangan itu.


Celsi tak menghiraukan Kaisar ia langsung memanggil petugas UKS dan membiarkan sahabat nya itu ditangani oleh petugas UKS.

__ADS_1


__ADS_2