
...🍃 READING BOOK 🍃...
Jam 2:30 Wib, kini kaisar sedang berada di sebuah mall dengan wajah yang kusut. Disini ia hanya duduk menunggu Cinta selesai memilih make up yang ia sukai.
"Menurut kamu gi..."
"Serah!" Kaisar langsung memotong ucapan Cinta, ia cukup bosan dengan kata 'menurut kamu gimana'.
Dari pakaian sampai alat make up membuat ia begitu bosan, Cinta begitu suka berbelanja tanpa memikirkan Kaisar yang bosan karenanya.
"Kamu kok gitu sih, kamu marah sama aku!" Mata Cinta malah sedikit berkaca-kaca dan hal itu membuat Kaisar langsung gelagapan.
"Enggak, bukan gitu...eh yang ini bagus untuk kulit mu!" Kaisar langsung mengambil alat make up dari tangan pelayan yang menunjukkan alat makeup pada Cinta.
"Benarkah!" Celsi langsung bahagia mendengar pilihan kaisar.
"Ya!" Kaisar langsung mengeluarkan black car dari sakunya dengan wajah malasnya.
"Sudah kan, ayo pulang!" Kaisar menarik tangan Cinta untuk segera pulang.
"Baiklah!" Mereka berjalan menuju kasir untuk menunggu alat makeup nya dibungkus.
"Datang kembali ya tuan dan nona!" Ramah tukang kasir dengan memberikan kartu dan paper bag pada kaisar.
Sekarang kaisar sudah memegang 15 paper bag dan kini ia seakan sebagai pembantu gadis disampingnya itu.
"Pegang ini, tangan ku pegal!" Kaisar langsung memberikan semua paper bag itu pada Cinta, sehingga gadis itu langsung kewalahan.
"Berat kai, kamu kok tega banget sih!" Ngeluh Cinta mengangkat berat pada barang yang ia beli.
"Itu deritamu bukan deritaku!" Ucap Kaisar santai dan berjalan lebih dulu dari Cinta.
Kaisar pergi meninggalkan Cinta begitu saja, ia malas terus berada disamping gadis itu.
Ia pun pergi berjalan memasuki cafe yang ada di mall, ia membutuhkan sesuatu yang dingin untuk mendinginkan kepalanya.
Saat ini ia tidak peduli dengan urusan perjodohan kali ini, yang penting ia tidak lagi bersama gadis itu.
"Ice cappucino!" Ucap Kaisar pada pelayan yang lewat mejanya.
"Silakan menunggu kak!" Ucap pelayan itu dengan membungkuk dan langsung pergi meninggalkan Kaisar.
__ADS_1
Beberapa saat Kaisar pun menunggu, ia bermain handphone nya dengan santai. Beberapa kali Cinta menelponnya namun ia bodoh amat untuk mempedulikan gadis itu.
Selang beberapa saat seorang pelayan pun datang dengan membawa satu ice cappucino dinampannya.
"Ini ice cappucino nya kak!" Pelayan itu pun meletakkan minuman itu pada meja.
"Hmmm..." Kaisar hanya berdehem dan pelayan itu hanya mengangguk lalu pergi.
Ia mulai menikmati minumannya, beberapa saat pun ia merasakan lapar pada perutnya.
"Eh bang!" Panggil Kaisar pada pelayan cafe itu yang sedang membersihkan meja.
"Iya, mau pesan apa!" Tanya pelayan itu yang mengeluarkan menu makanan yang berada disaku depannya.
"Tak perlu, tolong mie goreng dan juga es krim straw vanila coklat nya, oh iya jangan kasih bawang putih ya karena saya tidak suka!" Ucap Kaisar dan pelayan itu pun mengangguk.
"Mohon ditunggu!" Pelayan itu pun pergi meninggalkan meja Kaisar.
Kaisar kembali menunggu makanannya dengan menikmati ice cappucino nya itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Disebuah rumah sakit, dimana kini Berlin melakukan rawat inap. Celsi yang sudah sampai didepan rumah sakit dengan membawa pastel buah ditangannya.
Saat berada diambang pintu ruang kamar Berlin, ia merasa bingung karena saat ini Berlin dan orang tuanya siap-siap membersihkan tempat tidurnya.
"Eh mau kemana!" Tanya Celsi yang langsung masuk begitu saja.
Mereka yang berada disana, menatap Celsi dengan senyum yang mengembang.
"Aku pulang aja deh, nggak nyaman disini soalnya!" Ucap Berlin sambil melipat kain tempat ia tidur.
"Kok cepat banget sih, lihat itu totol diwajahnya aja belum sembuh!" Ujar Celsi menunjuk pada bintik-bintik merah yang ada pada wajah Berlin.
"Perih tau habis pakek salep!" Ringis Berlin saat tangan Celsi menyentuh bintik-bintik merah diwajahnya itu.
"Udah tau perih, kenapa coba pulang!" Ucap Celsi dengan berdecak pinggang.
"Cuman beginian kok cel, udah ah biaya rumah sakit pun juga mahal!" Ucapnya yang tak ingin mengambil pusing.
"Kamu disini aja selama seminggu, biar sembuh itu alerginya...apalagi kan biaya rumah sakit nggak perlu dipikirkan!" Ucap Celsi yang tak rela sahabatnya itu pulang lebih cepat.
__ADS_1
"Udah-udah, apakah udah siap sayang!" Ujar Tami yang mengambil tas dari tangan Berlin.
"Berlin aja bu!" Ia pun menarik tas yang diambil mamanya.
"Aku aja, masih sakit pun ngangkat beban!" Celsi pun malah mengangkat tas dari tangan Berlin lalu berjalan lebih dulu.
Mereka semua pun mengikuti langkah Celsi, untung kalo Celsi datang jika gadis itu tidak datang mungkin mereka harus menunggu beberapa waktu untuk datangnya taxi.
"Apa kamu yang bayar biaya rumah sakit?" Tanya Berlin yang berada disamping Celsi.
"Kamu nanyak!" Goda Celsi dengan bercanda.
"Aku seriusan loh cel!" Dengus Berlin.
"Kamu bertanya-tanya! Sini ya aku kasih tau!" Ujar Celsi dengan bibir yang sengaja dibuat-buat.
Terlihat Berlin kesal dengan ucapan Celsi padanya, Berlin menekuk wajahnya dengan tangan yang dilipat didada.
"Ululululu...Anak tante ngambek tu tan, perlu di kasih mainan tuh!" Ejek Celsi dengan tawanya.
"Celsi!!" Pekik Berlin yang merasa sangat kesal.
Mereka semua pun tertawa sangat lepas melihat ekspresi Berlin yang begitu lucu.
...----------------...
Kini kita kembali di cafe tempat beradanya Kaisar, lelaki itu sedang memainkan game online nya di ponselnya. Namun beberapa panggilan mengusik ketenangannya.
Saat ia melihat orang yang melakukan panggilan itu, ia langsung terkejut dan mengangkatnya.
"Ha-halo ma!" Kaisar mengangkat panggilan itu dengan gemetaran.
"Sekarang pulang, mama nggak mau tau dalam waktu 20 menit kamu nggak datang, maka mama coret kamu dari kartu keluarga!" Suara sang mama begitu keras dan hal itu membuat Kaisar tersentak.
Kaisar segera memanggil pelayan cafe, ia tidak ingin jika harus tercoret dari kartu keluarga hanya karena masalah yang tak ia ketahui.
"Mbak!" Kaisar memanggil pelayan yang sedang membersihkan meja.
"Iya kak, ada yang bisa saya bantu!" Ucap ramah pelayan itu.
"Ini untuk semua makanan!" Kaisar mengeluarkan duit dua ratus dan langsung pergi meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
Dengan tergesa-gesa ia langsung pergi meninggalkan cafe itu, berlari dengan tergesa-gesa, menerobos ramainya pengunjung mall.