Benci Menjadi Cinta

Benci Menjadi Cinta
Bab 41


__ADS_3

...🍃 READING BOOK 🍃...


Motor berhenti tepat di pelantaran depan rumah lebih tepatnya didepan samping tetapi tetap didepan. Kaisar lebih dulu turun dan membuka helmnya. Ia menatap Berlin heran karena gadis itu tak kunjung turun dari motornya.


"Mau tetap disini?" Tanya kaisar dengan satu alis yang naik keatas.


"Ah itu, aku nggak bisa turun!" Ucap Berlin.


Berlin menatap kebawah dan diikuti juga oleh mata Kaisar, lelaki itu melihat kaki Berlin yang sudah menggantung tetapi tidak bisa mencapai tanah sekitaran 30 cm dari tanah.


"Loncat!" Acuh Kaisar yang berjalan lebih dulu, tapi ia kembali berbalik karena menatap iba pada Berlin.


Terlihat Kaisar menghela nafas dan berjalan menghampiri Berlin. Ia mengangkat Berlin seperti mengangkat anak kecil lalu dengan segera menurunkan nya.


"Sudah kan!" Ucap Kaisar yang berjalan lebih dulu dan diikuti oleh Berlin dibelakang.


Berlin berdecak kagum dengan semua kemewahan dan hiasan rumah Kaisar, bagaimana pun ia tidak pernah pergi kerumah orang kaya sebab meski ia bersahabat dengan Celsi tapi Celsi tak pernah mengajak dirinya kerumahnya dan hanya selalu singgah dirumah Berlin.


"Duduk dulu disini!" Ucap Kaisar yang melanjutkan jalannya menuju lantai dua menggunakan tangga.


Berlin tetap diam, ia pun berjalan menuju sofa namun satu hal yang ia pikirkan adalah bahwa jika ia mengotori sofa orang kaya maka ia tak akan sanggup mengganti rugi dan ia pun memilih duduk di lantai, menunggu kaisar datang.


Tak lama ia menunggu, Kaisar pun turun tapi bukan menuju padanya dan malah pergi kebelakang, dan ia pun kembali menunggu beberapa saat dan akhirnya lelaki itu datang dengan membawa sepiring cemilan dan dua gelas jus.


"Makanlah!" Ucap Kaisar yang menyodorkan cemilan kearah Berlin.


Berlin pun langsung mengambil cemilan yang mirip dengan roti goreng kecil-kecil itu dan mengarahkan pada mulutnya, namun apa yang terjadi cemilan itu tak ada masuk kedalam mulutnya dan hanya berhenti terhalang oleh benda.


"Ini kok nggak masuk-masuk ya!" Gumam Berlin yang masih terdengar oleh Kaisar.


Kaisar hanya dapat terkekeh melihat tingkah Berlin yang sangat lucu dan menggemaskan.


"Dasar bodoh!" Ucap Kaisar yang akhirnya membantu membuka helm Berlin.


"Hah... Lepas juga!" Ucapnya yang tak lupa memasukkan roti goreng itu kedalam mulutnya.


Kaisar hanya dapat geleng-geleng kepala melihat tingkah Berlin dan tersenyum tipis.


"Oke kita mulai yok kak, soalnya bentar lagi ayah aku pulang!" Ucap Berlin dengan mengambil buku yang ia bawa tadi.


Kaisar hanya menatap setiap pergerakan Berlin yang menurutnya sangat lucu dan gemas, apakah gadis ini memang polos atau hanya pura-pura saja, tapi ia bodoh amat yang penting ia cukup terhibur.


"Kakak kan sudah mahir bahasa Inggris, jadi kita nggak usah belajar bahasa Inggris oke!" Ucap Berlin meminta persetujuan dan Kaisar hanya mengangguk paham saja.

__ADS_1


"Apa kita melanjutkan kembali belajar matematika?" Tanya Berlin yang menunggu jawaban Kaisar dengan mata bulatnya.


"Serah!" Acuh Kaisar yang menarik buku dari tangan Berlin.


Berlin pun mulai mengambil satu buku tulis dan mulai membuat soal-soal untuk menjelaskan, meski Berlin cukup kurang paham tapi dengan bantuan buku ia bisa memahami itu.


"Ini 2x²+3yz-k\=, Untuk soal ini penjelasannya menggunakan rumus ini" Ucap Berlin yang mulai menjelaskan.


Kaisar pun mendengarkan nya dan sesekali ia menatap wajah Berlin yang jika dilihat dari dekat cukup cantik juga, namun pikiran itu ia tepis dengan menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya dengan pikirannya itu.


"Eh kenapa kak?" Tanya bingung Berlin.


"Nggak ada, lanjut saja!" Ucap Kaisar datar, ia berusaha menutup rasa malu nya agar tak terlihat oleh gadis itu.


Berlin hanya mengangguk, ia pun melanjutkan penjelasannya akan soalnya itu meski ia tak peduli Kaisar mengerti atau tidak dengan penjelasannya.


"Itu doang kak, gimana paham nggak?" Tanya Berlin yang meminta penjelasan dari Kaisar.


"Hmm...!" Dehem nya.


Ia pun menarik buku tulis yang menuliskan sebuah penjelasan jalan menyelesaikan satu soal matematika.


Kaisar hanya dapat berdecak kesal, pasalnya hanya satu soal yang begitu pendek dapat menghasilkan satu lembar jawaban berisi angka semua.


Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore, dimana Berlin terus menjelaskan setiap jalan yang tak dimengerti oleh Kaisar.


Berlin pun bahkan bertemu dengan sang ibu yang saat itu akan melewati ruang tamu untuk membersihkan debu diruangan itu.


Namun karena memang Tami harus tetap profesional, ia hanya tersenyum dan menyapa anaknya lalu dengan segera membersihkan benda-benda yang berdebu.


Kaisar sempat menawarkan Berlin untuk makan siang bersama, eh tapi lebih tepatnya sore. Namun gadis itu menolak dengan alasan ia masih tak lapar.


Kini Berlin berada di atas motor Kaisar, dimana Kaisar akan mengantar dirinya sampai kerumahnya.


Didalam perjalanan, Berlin tetap diam. Ia menatap kesamping dengan melihat setiap jalan yang ia lewati.


Namun yang bikin Berlin bertanya-tanya adalah, kaisar berhenti di tempat pedagang kaki lima yang menjual pecel bebek, ayam, dan lele.


"Suka pecel?" Tanya Kaisar.


"Suka"


"Bebek!"

__ADS_1


"Suka!"


"Ayam!"


"Suka!"


"Lele!"


"hmmm...Tidak!" Ucapan terakhir Berlin yang membuat Kaisar mengerutkan keningnya bingung, pasalnya saat ia mengatakan lele wajah Berlin terlihat pucat seakan takut dengan lele itu.


"Takut lele?" Tanya Kaisar, tapi Berlin menggelengkan kepalanya lemah.


"Oh baiklah, tetaplah disini aku membeli sesuatu dulu!" Ucap Kaisar yang di angguki oleh Berlin.


Perlahan Kaisar berjalan menuju lapak penjual pecel itu, terlihat Berlin terus memperhatikan Kaisar yang sepertinya sedang memesan sesuatu.


Berlin tetap sabar menunggu, sampai akhirnya kaisar datang dengan beberapa plastik putih yang berisi makanan yang dipesan Kaisar tadi.


Berlin sempat tertegun, pasalnya seorang Kaisar yang kaya raya membeli makanan di amperan jalan.


Motor kembali melaju melewati setiap kendaraan untuk mencapai tujuan yaitu rumah Berlin.


Tak membutuhkan waktu lama, akhirnya mereka berdua pun sampai di rumah Berlin dan motor kaisar perlahan berhenti.


Kaisar turun dari motornya yang sudah dicagak kaki satu. ia mengangkat Berlin untuk turun dari motornya.


"Sini aku buka!" Ucap Kaisar saat melihat Berlin yang kewalahan dalam membuka klep helm.


"Makasih kak!" Ucap Berlin yang membuka helm, karena saat ini klep helm Kaisar sudah terbuka.


"Ini untuk mu!" Ucap Kaisar yang memberikan beberapa plastik makanan kearah Berlin.


"Eh tapi kak...!" Ucap Berlin yang terpotong.


"Udah terima aja!" Ucap Kaisar yang langsung begitu saja meletakkan beberapa plastik makanan itu ditangan Berlin.


Berlin menatap kearah plastik berisi makanan yang sebagian berada di gantungan motornya dan beberapa lagi sudah berada ditangannya.


"Makasih kak!" Ucap Berlin yang sedikit menunduk.


Ia menatap plastik makanan pemberian Kaisar dengan senyum tipisnya.


"Yaudah, pergi dulu!" Ucap Kaisar yang langsung pergi meninggalkan Berlin yang masih tetap berada di depan rumahnya.

__ADS_1


__ADS_2