
...🍃 READING BOOK 🍃...
Kini mobil Kaisar sudah berhenti tepat di depan rumah Berlin, Berlin sempat bingung dari mana Kaisar rumahnya dimana.
"Makasih!" Berlin langsung mengambil buku yang diberikan kaisar padanya dan perlahan membuka pintu
"Bawa tu salep, aku tak mau uang ku sia-sia karena salep tak digunakan!" Ucap Kaisar saat Berlin berada diambang pintu mobil.
"Ta-tapi!!"
"Cepat!"
Berlin pun dengan segera mengambil salep itu dan keluar dari mobil Kaisar. Kaisar pun langsung melajukan mobilnya meninggalkan Berlin yang menunggu diluar.
"Haish...Hanya dua bulan kok ber, kamu harus sabar!" Gumamnya menenangkan diri.
Perlahan ia pun berjalan menuju pintu rumah dan seperti biasa rumahnya dikunci dengan gembok dan ia harus mengambil kunci di bawah pot bunga.
Setelah mendapatkan kunci gembok itu, ia langsung membuka pintu rumahnya dan segera masuk karena ia masih memiliki pekerjaan yang harus diselesaikan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kini berada dirumah kediaman Weldan, dimana Celsi di bawa untuk bicara serius dengan sang ayah dan mama.
Ayahnya yang saat ini memang cuti satu hari membawa sang mama kerumah sakit untuk cek out kesehatan, membuat dengan Celsi langsung harus dihadapkan oleh dua pasang mata sekaligus, eh maksudnya 3 pasang mata.
"Alasan apa lagi yang akan kamu buat Celsi, apa kamu sering melakukan pertengkaran seperti itu?" Ucap Weldan dengan tatapan yang sangat tajam.
Celsi tetap diam, ia tidak ingin menjawab sedikit pun karena malas akan hal itu.
__ADS_1
"Padahal aku sudah berusaha membantunya yah, tapi Celsi malah membentak ku!" Adu Cinta dengan air mata buayanya.
Sama seperti tadi, Celsi tetap diam dan tanpa suara. Ia tidak peduli dengan ucapan dan aduan sang kakak yang saat ini tak ia anggap sebagai seorang kakak.
Tatapan tajam semakin menghunus pada Celsi dan hal itu membuat gadis itu menghela nafas berat.
"Mereka yang mencari masalah, untuk soal tadi maaf aku tak sengaja kak!" Ucap Celsi yang menghela nafas berat dan langsung bangkit dari duduknya.
"Apakah begitu sikap mu saat berbicara dengan orang tua Celsi!" Weldan menaikkan nada bicaranya.
Ia semakin menatap tajam pada anak sulungnya itu yang selalu sulit untuk diajak berbicara.
"Baiklah akan aku dengarkan!" Celsi menghela nafas kembali pelan dan kembali duduk ditempatnya tadi.
"Aku bukan menyuruhmu mendengar ucapan ku, apa kau masih memiliki sopan santun terhadap orang yang lebih tua, bahkan sikap mu seperti seorang berandalan!" Geram Weldan saat mendengar penuturan sang anak yang sepertinya sedang melawan, menurutnya.
"Sudahlah mas, mungkin itu pertengkaran sosial antara teman-temannya, jangan bersikap berlebihan!" Bela Galdis yang tak ingin membuat anaknya semakin memiliki sikap yang begitu dingin terhadap keluarganya.
"Dia masih remaja, masa pubertas masih ada dan seharusnya kita jangan terlalu mengekangnya!" Ucap Galdis yang meminta pengertian pada sang suami.
"Apa kau juga tak menghargai ku sebagai kepala keluarga disini Galdis, selama ini aku biarkan dia bersikap seperti itu hanya karena tak ingin membuat penyakitmu kambuh tapi kau malah membuat aku merasa direndahkan!" Tegas Weldan dengan mata tajam menatap istrinya.
Ya, begitulah sikap Weldan. Ia paling benci dengan orang yang tak menghargainya terlebih sang anak yang selalu bersikap demikian terhadapnya.
Ia akan bersikap manis jika orang itu memang menghargai dan memperlakukannya layaknya seorang yang memiliki martabat, namun dalam hal ini ia akan sangat tegas dan bahkan tak akan mendengar ucapan semua orang termasuk sang istri Galdis.
"Berhentilah bertengkar, maaf jika aku selama ini membuat papa begitu marah dan kesal dengan sikapku, mungkin kehadiran ku membuat kalian menjadi sangat kacau dan jika papa mengusirku maka aku akan pergi!" Ucap Celsi yang menatap pasti pada sang ayah.
Ia tak ingin sang ibu tertekan dan membuat penyakit panik dan jantung berdetak cepat kambuh karena masalah sepele.
__ADS_1
"Apa kau melawan hah, apa kau sudah hebat sampai memintaku untuk mengusir mu!" Bentak Weldan yang sudah sangat marah.
Cinta dan Galdis terhenyak mendengar nada bicara Weldan yang sudah tak biasa, namun terlihat Celsi tetap diam menatap sang papa yang sudah sangat marah besar.
"Pah...Rendam lah emosimu, kau akan mengalami sakit kepala jika terlalu tinggi akan emosimu!" Cemas Cinta yang langsung menghampiri sang ayah.
Celsi tetap diam, ia melihat interaksi sang ayah dan kakaknya begitu dekat dari pada dirinya. Ia hanya diam dan sebuah goresan melukai hatinya yang begitu rapuh, kini ia benar-benar membenci kakaknya.
"Pergi kurung dirimu dikamar, kau tak boleh keluar selama dua minggu dan fasilitas akan papa cabut!" Ucap Weldan pada Celsi dengan tangan memijit pelipisnya.
Celsi tetap diam, ia pun perlahan berjalan menuju tangga dan naik kelantai dua letak kamarnya berada.
Terlihat tatapan sedih dari Galdis, anak gadisnya yang sulung itu begitu kasihan seperti kekurangan kasih sayang dari keluarganya.
"Apa kau juga akan terus membela anak mu itu!" Ucap Weldan saat melihat arah tatapan sang istri.
"Apa kasih sayang mu terhadap Celsi berkurang, bersikaplah adil dan tanyakan lah lebih dahulu masalah, kenapa kau langsung begitu saja menghakiminya!" Ucap Galdis yang langsung berlalu meninggalkan ruangan keluarga itu.
Terlihat Weldan berpikir keras, apakah dirinya begitu keras pada sang anak atau kah ia yang memang sudah tidak begitu menyayangi anaknya? Dia seorang ayah, seharusnya mengerti dan memahami anaknya itu. Tapi ia malah memojokkan anaknya.
"Jangan terlalu dipikirkan pah, mungkin saja menghukum Celsi adalah cara terbaik untuk membuat nya lebih baik!" Ucap Cinta dengan senyum manisnya.
Ya begitulah Cinta, dia orangnya akan memanfaatkan keadaan untuk membuat adeknya menjadi buruk. Dulu ia yang begitu mengharapkan menjadi anak semata wayang, harus mempunyai seorang adek yang tak ia inginkan.
Dari kecil sampai dewasa ia begitu iri dengan kasih sayang orang tuanya yang sudah terbagi dua, terlebih waktu ia mengetahui bahwa Celsi akan dijodohkan dengan Kaisar, membuat kebencian nya semakin dalam, meski akhirnya Kaisar kini berstatus sebagai tunangannya.
"Mungkin papa terlalu keras pada adik mu, benar kata mama mungkin papa tak adil, sehingga membuat adek mu bersikap seperti itu!" Lirihnya yang sangat merasa bersalah.
"Sudahlah pah, itu semua bukan kesalahan sepenuhnya pada papa!" Cinta menenangkan Weldan, namun dalam hati ia begitu riang gembira.
__ADS_1
"Kamu cukup pengertian sayang, yaudah papa pergi dulu ya keruang kerja mungkin masih ada pekerjaan papa yang belum selesai!" Ucap Weldan yang langsung bangkit dari duduknya dan perlahan pergi meninggalkan Cinta.
Setelah ditinggalkan oleh sang papa, cinta tertawa senang dan sangat bahagia karena adeknya benar-benar telah dibenci oleh sang ayah dan mungkin ia hanya tinggal berusaha sedikit lagi agar sang adek diusir keluar.