Benci Menjadi Cinta

Benci Menjadi Cinta
Bab 55


__ADS_3

...🍃 READING BOOK 🍃...


Kini Berlin baru saja turun dari angkutan umum, seperti biasa ia tidak akan menjadi pusat perhatian karena dirinya hanya lah orang biasa.


Namun suara motor yang saling beradu menjadikan mereka pusat perhatian, Lima motor berhenti di parkiran yang sudah berbaris dengan rapi.


Bak slomow motion mereka membuka helm, beberapa siswi sempat menjerit dan memanggil nama mereka satu persatu.


Berlin yang awalnya akan berjalan memasuki bangunan sekolah harus termenung berdiam ditempat nya karena melihat Kaisar yang sepertinya melirik dirinya.


Tertegun dengan senyum yang dilontarkan darinya, perlahan ia merasa Kaisar mendekat padanya dengan senyum yang sangat manis.


Taakk


Satu jentikan kepala membuyarkan lamunannya, ia melihat Kaisar yang tersenyum kepada nya dengan sangat manis. Yaa Allah apa ini ujian, batinnya yang terus menerus bergumam.


Sedangkan semua orang bahkan teman dekat Kaisar mengerutkan kening bingung dengan perlakuan manis Kaisar pada gadis culun itu.


*Yaampun... Kaisar manis banget ya


Itu culun nggak tau diri banget deketin Kaisar


Aku mau sih tapi kita beda iman dan insyaallah seamin!


Kapan ya digituin


Kayaknya nih ada berita terbaru*


Begitu lah beberapa celotehan orang yang menonton keromantisan mereka dan bahkan orang semakin banyak melihat kejadian itu.


"Eh itu beneran Kaisar kan, sepertinya ada roman-roman Kunti dah!" Ujar Hendra yang mengibas-ngibaskan tangannya.


"Anjir apa hubungannya ama mbak Kunti, didatengin tanggal adik mu!" Ujar jengkel Farrel.


"Kan kalo Kunti lewatkan wangi, terus wangi nya itu lah yang merupakan bunga mawar yang akan kembang, nah itu kan bunga mawar menandakan Cinta, menurut kalian Kaisar beneran cinta kagak ya!" Ucapnya yang menjelaskan, namun mereka yang mendengarnya hanya dapat berdecak kesal, apa hubungannya ama Kunti dan yang lain.

__ADS_1


"Serah dah serah, seenak mu saja lah!" Jengah Farrel yang sudah malas untuk berdebat dengan Hendra.


"Btw sejak kapan Kaisar deket ama tu cewek, udah berubah seleranya apa!" Tanya Ridwan yang ikut nimbrung dengan percakapan Hendra dan Farrel.


"Yaiyalah kan kau sering bolos dan bahkan sebulan ini pulang baru datang empat kali itu pun masih bolos dijam terakhir!" Ujar Hendra.


"Hehehe...sibuk soalnya!" Ucapnya dengan cengengesan.


Sedangkan kini Berlin langsung mematung ditempat, otaknya tidak bisa sesuai dengan yang dia inginkan. Bahkan ia tidak mampu untuk bergerak saat ditatap Kaisar begitu lekat.


"Selamat pagi!" Dua kata yang diucapkan Kaisar dan hal itu membuat jantung Berlin langsung mau copot.


"Pa-pagi!" Berlin begitu gugup.


"Hmm...makasih ya semalem mau nemenin ku tidur!" Ucapnya yang tersenyum manis.


"Ah iya nggak apa!" Berlin pun meneguk salivan nya susah payah dan langsung menunduk menatap dirinya yang sudah bergetar cukup hebat.


Oh tidak kenapa dirinya sekarang begitu gugup, padahal setiap hari selalu berhadapan dengan lelaki yang dihadapannya ini, apa karena dirinya tadi malam menemani Kaisar sampai pagi hari atau apakah dirinya sudah mengalami jatuh cinta.


Pikiran Berlin berputar-putar kesana kemari, ia begitu bingung harus berhadapan dengan kaisar saat ini apalagi Kaisar tersenyum padanya dan berada ditengah kerumunan semua orang.


Intesitas semua orang pun berubah menatap arah seseorang yang baru saja datang. Bahkan Berlin yang awalnya sangat gugup kini menatap kearah si pengendara itu.


Sedangkan si pengendara menatap bingung sekitarnya, ia pun segera melepas helm nya dan seketika semua orang langsung berwajah syok.


"Ah itu beneran Celsi kan!" Teriak Hendra yang tak percaya dengan apa yang dia liat saat ini.


Gadis yang biasanya tidak menunjukan kendaraan dia pulang atau dijemput oleh sopir kini malah membawa motor besar yang bahkan jika terjatuh gadis itu tidak bisa mengeluarkan tubuhnya dari timpaan motornya itu.


Celsi menatap sekitar, matanya berhenti pada dua orang yang kini berhadapan namun menatap kearah dirinya. Ia berjalan menuju Berlin yang sepertinya sedikit terkejut melihat Celsi yang sungguh sangat berbeda dari biasanya.


"Kelas yok!" Ajaknya.


Namun Berlin tetap diam menatap dirinya dengan tatapan aneh. "Ck...yok kelas!" Ajaknya lagi namun tetap sama Berlin tetap tak bergerak.

__ADS_1


Celsi yang merasa kesal pun langsung menarik Berlin dengan paksa dan anehnya Berlin hanya mengikut saja tanpa berucap sedikit pun.


Kaisar, pemuda itu hanya menatap kepergian Berlin bersama Celsi, ia cukup merasa kesal karena ia belum puas untuk melihat wajah Berlin yang lagi gugup itu.


"Kai, seriusan kau ingin deketin tu cewek cupu?" Tanya Hendra yang langsung berlari kearah Kaisar.


"Iya!" Jawab singkat Kaisar dan mampu membuat semua siswi yang mendengarnya patah hati.


"Seriusan kau kai, kapan rubah tu seleramu dari gadis yang modis imut dan seksi menjadi gadis culun yang pemalu!" Ujar Ridwan yang tak percaya dengan ucapan Kaisar.


"Dia juga imut!" Ujar Kaisar yang langsung berjalan lebih dulu meninggalkan mereka semua.


"Kai! Kaisar jelasin dong dari mana datang tu cewek imut dah!!!!" Teriak Farrel yang tak habis pikir dengan ucapan sahabatnya itu.


Emang sih Berlin itu sedikit imut, tapi ayolah itu bukan lah tipe yang cocok untuk Kaisar yang begitu tampan dan gagah bahkan lebih cocok dengan Cinta atau Jessica.


"Woi tunggu!" Teriak Hendra saat melihat Kaisar yang sudah cukup jauh meninggalkan mereka.


Hendra, Farrel dan Ridwan pun langsung berlari mengejar Kaisar sedangkan Rayhan termenung menatap kepergian keempat temannya yang tak mengajaknya ikut berlari.


"Lah ditinggal!" Ucapnya yang sedikit termenung.


Rayhan pun ikut berlari mengejar temannya itu, ia tak ingin menjadi sasar para siswi yang ingin mendekatinya, jika ada temanya ia kan bisa dibantu untuk menolak semua siswi namun jika dirinya sendiri maka ia akan susah menghadapinya apalagi fans-fans nya begitu gila, bisa habis nih bajunya.


...****************...


Kini Berlin dan Celsi berada di perpustakaan, Celsi menatap intens kearah Berlin yang dari tadi sedikit kikuk.


"Ah anu cel, itu kok mata mu natap aku kayak itu banget!" Ujar Berlin yang sedikit salah tingkah karena terus ditatap tajam oleh Celsi.


"Jelasin semuanya, kok bisa kau dekat Ama Kaisar ber padahal tu cowok kan sering bully kamu!" Ucap Celsi yang menompang dagunya di kedua tangannya yang sudah disatukan.


"Ah itu aku tak tau!" Ucap Berlin yang memang begitu tidak tau sejak kapan mereka bisa sedekat itu.


"Ayolah jangan bohong, lihatlah bahkan kamu itu tidak bisa bohong disaat seperti ini!" Ucap Celsi yang begitu mengenal gerak gerik sahabatnya itu.

__ADS_1


Iya sih saat ini Berlin tengah berbohong, namun ia sungguh sejak kapan dekat dengan Kaisar tapi ia tidak pungkiri memang ia sekarang cukup dekat terlebih mereka melakukan Vidiocall dari malam hingga pagi hari.


"Haish...aku tak tau pasti cel, tapi kemaren kak Kaisar ngajak aku Vidiocall sampek pagi untuk nemenin dia tidur, tapi anehnya padahal aku sudah tidur lebih dulu tapi pagi nya sambungan telepon itu tak mati sama sekali!" Ujar Berlin menjelaskan dengan wajah yang sudah merah seperti kepiting rebus.


__ADS_2