
...đ READING BOOK đ...
Kriiinggg..... kriiinggg
Jam istirahat pun sudah berbunyi, kini semua siswa memilih menuju kantin untuk mengisi perut mereka yang sudah lapar.
Cinta yang dari tadi hanya memperhatikan Kaisar, ia pun berjalan mendekati lelaki itu.
"Kai bareng yok!" Ajak Cinta dengan merangkul lengan Kaisar.
Kaisar langsung melepaskan rangkulan Cinta, ia tidak ingin menjadi bahan gosipan oleh semua orang.
"Pergi sendiri, jangan ganggu aku jika kamu tak ingin berurusan dengan ku!" Ujar Kaisar yang langsung berjalan lebih dulu dan diikuti oleh teman-temannya.
Tampak terlihat Cinta merasa kesal dengan perlakuan Kaisar, ia pun memutuskan untuk pergi kekantin sendiri.
"Eh Cinta, sama kita aja yok kekantin!" Ajak salah satu teman kelasnya yang mengajak Cinta.
"Nggak deh, sepertinya aku masih ada urusan!" Ucap Cinta menolak dan langsung pergi berjalan meninggalkan kelasnya.
...----------------...
Celsi yang malas untuk keluar kelas, memutuskan untuk berdiam diri di kelas termasuk Berlin. Namun kali ini Berlin mendadak bingung dengan sikap Celsi yang terus diam tak bersuara.
"Cel kamu marah sama aku atau aku ada buat salah, kok kamu diem aja!" Lirih Berlin yang merasa bersalah.
"Nggak kok, cuman lagi nggak mood aja!" Jawab Celsi dengan senyum manisnya.
"Kenapa, karna kak Kaisar atau apa?" Tanya lagi yang merasa bingung, karena bagaimana pun sikap Celsi sangat tidak nyaman jika terus begini.
"Bukan, ke perpus yok!" Ajak Celsi yang mengalihkan pembicaraan.
"Nggak makan?" Tanya Berlin.
"Nggak deh!"
Celsi dan Berlin pun berjalan menuju perpus, mereka sesekali berbincang-bincang dan bercanda meski Berlin selalu membatasi tawanya.
BRAKK
Tubuh Berlin tak sengaja menabrak seseorang, Berlin yang tak seimbang harus jatuh dengan pinggul mendarat sangat cepat..
"are you okay?" lelaki itu langsung menjulurkan ingin membantu Berlin.
__ADS_1
Celsi malah langsung membantu Berlin, sehingga membuat tangan lelaki kembali tertarik karena merasa diacuhkan.
"Apa ada yang sakit ber?" Tanya Celsi yang merasa khawatir.
Celsi memutar-mutarkan tubuh Berlin, sampai akhirnya ia cukup merasakan aman pada keselamatan Berlin.
"Pusing cel!" Protes Berlin.
"how are you girl? Sorry I didn't see you earlier!(Bagaimana keadaan mu gadis, maaf aku tak melihatmu!) " Tanya nya lagi.
"she's fine, you better use your eyes so you don't bump into people!( dia baik, kamu lebih baik menggunakan mata kamu sehingga Anda tidak menabrak orang!)" Ucap jengkel Celsi yang menggunakan bahasa Inggris.
"oh ok, but can I know where the principal's room is!(Oh baiklah, tapi bisakah aku tahu di mana ruang kepala sekolah!" Ucapnya yang sedikit membungkuk.
"go straight, then look for the door that says the principal's room! (Lurus saja,lalu cari pintu yang bertuliskan ruang kepala sekolah!) Ucap Celsi menunjukkan jalan.
Lelaki itu hanya mengangguk, lalu ia berjalan namun berhenti sejenak dan menatap kebelakang.
"Thanks, but I hope you don't be so mean miss!(Terima kasih, tapi aku harap kau jangan terlalu galak nona!)" Ucap lelaki dan kembali berjalan menuju tujuannya saat ini.
Celsi hanya menatap kesal pada lelaki itu, padahal ia disini hanya bersikap apa adanya kenapa lelaki itu merasa bahwa ia begitu pemarah.
"Yok ah!" Celsi dan Berlin pun kembali melanjutkan perjalanan mereka.
"Katakanlah!" Ucap Berlin menatap nanar Celsi.
"Apa! Aku cuman males aja ngomong!" Ucap Celsi dengan nada jengkel.
"Ya katakanlah semua permasalahan yang membuat kamu jadi orang...pokoknya seperti ini!" Ucap Berlin yang tak bisa .lm.
"Hais...baiklah, duduk dulu disini!" Celsi menarik Berlin untuk duduk.
Berlin hanya menurut saja, ia duduk disamping Celsi dan menatap gadis itu dengan lekat menunggu Celsi mengeluarkan suaranya.
"Kakak ku pindah sekolah!" Lirihnya.
"Kamu punya kakak cel?" Tanya Berlin bingung, karena selama ini Celsi tak mengatakan bahwa dia memiliki seorang kakak.
Berlin semakin mendekati wajahnya, ia menatap dengan sangat lekat menunggu penjelasan yang lebih pasti dari Celsi.
"Ya...Tapi aku tak menyukai sikapnya, sehingga aku nggak mood saat mendengar ia sudah pindah kesini!" Jelas Celsi dengan wajah lemasnya.
"Yang penting kan dia nggak ganggu kamu!" Ucap Berlin menenangkan.
__ADS_1
"Tapi tetap saja, kamu tak tau sifat aslinya jadi tidak dapat merasakannya!" Ucap Celsi yang merasa sangat kacau.
"Bagaimana pun dia kakak kamu loh cel, mungkin aku tak merasakannya tapi aku berharap kau tetap bersikap biasa saja!" Ucap Berlin yang bijak, agar Celsi tak terlalu membuat banyak pikiran dalam kepalanya.
"Udah ah, yok kekantin beli cemilan yang enak dimakan!" Ucap Celsi bangun dari duduknya.
Ia menarik Berlin untuk pergi bersama nya dan tak lupa mengembalikan buku yang ia bawa tadi.
Celsi terus memegang tangan Berlin, ia seakan menganggap Berlin seorang anak kecil yang akan tersesat.
"Berhenti deh kalian!" Teriak seseorang dari samping.
Berlin dan Celsi menoleh, melihat asal suara. Terlihat 4 orang gadis berdiri dengan angkuhnya mendekati mereka.
"Hmm... sepertinya aku harus mengajarkan mu caranya patuh bukan!" Ucap Jessica yang menekan dagu Berlin.
"Ssttt...!"
"Lepasin tu tangan!" Peringat Celsi, ia menatap tajam pada Jessica.
"Kau pikir aku takut, jangan sok hebat deh!" Sinisnya dengan mata yang berdelik kesal.
"Kau pikir kau hebat, hanya modal seorang ayah kepala sekolah aja bangga, emangnya mampu nyaingin ku!" Ucap Celsi dengan angkuhnya.
"Ck... emangnya kenapa, terserah dia lah mau berbuat apa, kan nggak ada urusannya sama mu!" Sinis Fanya dengan menatap jijik.
"Heh...ku peringatkan untuk jauhi Kaisar tapi kau tetap mendekatinya, apa aku perlu memlubangkan telinga yang besar diotakmu!" Ucap Jessica yang tersenyum srmik.
"Jadi orang jangan sok berkuasa deh, gimana kalo kamu lawan aku!" Tantang Celsi yang langsung menepis tangan Jessica dan membuat gadis itu mundur beberapa langkah.
"Wihhh...ada yang mau jadi jagoan!" Sinis Diana.
"Sudah cel, nggak usah dilawan!" Berlin berusaha menenangkan Celsi, ia sungguh tak ingin mendapatkan masalah.
"Minggir ah ber! Ini nggak dibiarin klo kamu terus diganggu am nih para cabe!" Tunjuk Celsi dengan menarik Berlin dibelakangnya.
"Oh benarkah, Jadi bagaimana kamu mau kasih kita pelajaran!"Ucap Jessica yang memperbaiki tegaknya, ia mendorong Celsi kebelakang, namun gadis itu berkesiap menjaga keseimbangan.
"Iya, kenapa mau main otot atau main apa!"Tantang Celsi yang membalas dorongan Jessica.
Jessica merasa kesal, ia langsung menarik rambut Celsi dengan sangat keras, Celsi tak tinggal diam ia juga membalas perbuatan Jessica.
Pertengkaran itu menarik perhatian semua orang dan membuat banyak kerumunan yang sangat ramai.
__ADS_1