
...đ READING BOOK đ...
Kriiiinggggg... kriiiinggggg
Bel berbunyi, waktunya pulang sekolah. Semua murid bergegas dengan semangat memasukkan buku kedalam tasnya, namun tidak dengan Berlin.
Gadis itu saat ini terus diam dan termenung, Celsi hanya dapat menatap bingung pada sahabatnya itu.
"Ber! Berlin, kamu kenapa?" Tanya Celsi dengan menggoyangkan tubuh Berlin.
Berlin pun tersentak, ia menatap ke arah Celsi. "Udah pulang ya?" Tanya nya dengan nada bicara yang lesu.
"Kamu kenapa sih ber, ntar kesurupan aku gak mau tanggung jawab!" Ucap Celsi yang bergidik ngeri.
"Udah ah, aku gak papa! Yok pulang..." Ucap Berlin dengan segera membereskan barang-barangnya dan langsung menggandeng Celsi.
"Kamu pulang sama aku,!" Ucap Celsi.
"Tapi ak..."
"Jangan melawan dan menolak!" Celsi langsung memotong ucapan Berlin, selalu saja sahabat nya itu menolak kebaikan nya.
"Tapi kan..." Lagi dan lagi Berlin ingin menolak, namun tatapan tajam Celsi mampu membungkam mulut nya. " Yaudah deh" Pasrahnya.
Celsi hanya tersenyum tipis, sungguh sulit membuat Berlin menerima kebaikannya. Selalu saja sahabat nya itu menolak meski sudah dipaksa beberapa kali.
"Kamu sama aku!" Ucap seseorang yang langsung memegang tangan Berlin.
Kedua gadis itu menatap laki-laki itu dengan sedikit terkejut. Berlin hanya mampu diam dan menunduk menghindari tatapan dari Kaisar.
"Gak boleh, Berlin akan pulang dengan ku!" Celsi langsung membantah dan menolak permintaan Kaisar.Sepertinya bukan sebuah permintaan, tetapi lebih tepatnya sebuah perintah.
"Bukan urusanmu, disini Berlin yang menentukan!" Ucap Kaisar datar.
"Kakak!!!!" Teriak seseorang dan itu adalah Angel.
Angel berlari menghampiri Kaisar, ia menatap tajam dengan kedua gadis dihadapannya itu.
"Jadi kamu kesini untuk nyari ini culun, heh...sampah kok dicari!" Sindiran pedas Angel dengan sangat angkuhnya.
"Maaf...anda sebaiknya jaga bicara anda, di negara ini punya hukum!" Tegur Berlin dengan nada mengancam.
"Kamu pikir saya takut!" Lawannya dengan wajah yang di majukan kedepan.
Berlin hanya menghela nafas panjang, ia pun berjalan melewati Kaisar dan Angel dengan menggandeng tangan Celsi.
__ADS_1
"Hey, kamu mau kemana! Aku masih ada urusan dengan mu!" Ucap Kaisar dengan nada tinggi.
"Sebaiknya kamu urus adek kecil mu itu, jika ada sesuatu tinggal hubungi ku!" Ucap Berlin yang langsung pergi begitu saja.
Kaisar dan Angel hanya menatap dengan kesal kearah Berlin, dimana kaisar merasa bahwa Berlin sudah berani melawan dirinya sedangkan Angel ia sudah memang tak suka dengan Berlin yang memiliki latar belakang rendah.
Berlin menggandeng Celsi, berjalan dengan sedikit pincang menuju samping sekolah.
"Maaf cel! Aku pulang sendiri, gak apa kan?" Tanya Berlin dengan wajah memelas.
"Kaki kamu seperti itu loh ber, aku gak sanggup lihat kamu menunggu di halte sendirian!" Ucap Celsi dengan wajah yang merasa bersalah.
Berlin tetap diam, seakan memikirkan ucapan dari sahabat nya itu. Namun ia tak ingin merepotkan sahabatnya itu lagi, selain perbedaan arah rumah, jarak antara rumah Celsi dan rumahnya sangat jauh kalo berputar balik.
"Tapi kan..."
"Kamu tenang saja, yaudah yok!" Ucap Celsi yang masih kekeh dengan keputusannya, Berlin pun pasrah ia berjalan masuk mobil bersama dengan Celsi.
Mobil pun berjalan meninggalkan sekolah menuju arah rumah Berlin. Tak berselang lama mobil pun akhirnya sampai didepan rumah Berlin yang masih sepi.
"Daaa...."
Berlin pun melambaikan tangan nya saat kepergian Celsi, ia menunggu sampai mobil Celsi pergi meninggalkan per-karangan rumahnya.
Perlahan dengan jalan tertatih menuju pintu rumah dan membukanya.
Berlin membuka sepatu sekolahnya, ia berlalu masuk dan mengunci pintu depan.
Setelah menukar baju sekolah, Berlin langsung membereskan rumahnya meski sedikit sulit namun semua itu bisa ia usahakan.
"Akhirnya selesai juga..." Ucapnya yang merasa lega.
Tok...tok...tok
Pintu diketuk oleh seseorang, dengan segera Berlin berjalan menuju depan rumah untuk membuka pintu.
Ceklek
Pintu terbuka, memperlihatkan seorang pria paruh baya berumur 50 tahun itu.
"Sudah pulang yah, yaudah sini biar Berlin yang bawakan!" Ucap basa basi Berlin dengan mengambil topi pelindung dari tangan sang ayah.
"Makasih sayang!" Ucapnya dengan tersenyum lembut.
Berlin membalas senyuman lembut sang ayah, ia pun berjalan meninggalkan Yudha menuju belakang.
__ADS_1
"Itu kenapa jalan nya begitu? Apa yang terjadi nak?" Tanya Yudha dengan khawatir.
"Ini gak sengaja terjatuh tadi di sekolah, ada genangan air soalnya!" Jawab bohong Berlin yang tak ingin sang ayah khawatir.
"Udah diobatin?" Tanya Yudha yang masih tetap khawatir.
"Sudah nih yah, yaudah Berlin letakkan ini dulu!" Ucap Berlin dengan sedikit mengangkat topi pelindung ayahnya.
Yaudah hanya menatap kasihan dengan putrinya itu, kaki anaknya lecet karena hanya jatuh disekolah tadi.
Tak berselang lama Berlin keluar lagi dengan senyum yang terus melekat diwajahnya.
"Ayah mandi dulu gih, Berlin tunggu!" Ucap Berlin saat ayahnya yang masih sibuk melakukan kegiatannya.
"Iya sayang!" Dengan segera Yudha berjalan menuju kamar mandi.
Dimalam harinya....
Dimana setelah makan malam, Berlin duduk dikasurnya untuk memulai belajar, dirinya yang tak mampu menambah perabotan rumah seperti meja belajar, membuat ia harus belajar di kasur.
Drrrttt...drrrttt
Panggilan seseorang mengalihkan pandangannya, ia menatap nomor yang tertera di ponselnya. Nomor tak dikenal? Berlin bingung sejak kapan nomornya ia berikan pada orang lain, ia pun memutuskan untuk mengangkat panggilan telepon itu.
"Hallo!" Ucap Berlin yang memulai percakapan.
"Datang ke cafe Flores dijalan kenangan, aku gak mau tau dalam waktu 10 menit tak datang maka kau akan mendapatkan hukuman!" Ucap seseorang dan suara itu Berlin kenal sebagai suara Kaisar.
Dengan kesal Berlin bangkit dari kasur, ia memasang wajah yang sangat kesal karena mengharuskan dirinya berjalan ke depan jalan raya untuk menuju cafe itu.
Cafe Flores berada di dekat rumah Berlin, hanya melewati satu gang dan berjalan menyebrang jalan raya. Namun saat ini Berlin yang cukup malas membuat berjalan kesana sangatlah jauh.
Dengan langkah malas dan kaki yang pincang, ia meminta izin dengan ayah dan ibunya yang sedang menonton film serial kesukaannya di ruang tengah.
"Buk pak, Berlin izin pergi ke depan ya!" Ucap Berlin meminta izin.
Yudha dan Tami pun menatap kearah putri nya, menatap dengan kening berkerut, seakan mengatakan untuk apa putrinya malam-malam begini ke depan.
"Mau ngapain nak?" Tanya Tami yang mengutarakan kebingungan nya
"Ada urusan nih buk, boleh kan!" Ucap Berlin dengan muka memelas.
"baiklah, jangan pulang larut malam oke!" Ucap Tami dan menjulurkan tangan agar anaknya itu menyalami tangannya.
"Hati-hati, ingat jangan terlalu bandel!" Ucap Yudha mengingatkan sang anak.
__ADS_1
Berlin pun hanya mengangguk, ia pun menyalami tangan Yudha dan berjalan meninggalkan rumah.
Berlin hanya memakai baju tidur berlengan panjang, ia memakai kaca matanya yang jarak dekat meski ia belum mampu membeli kacamata jarak jauh lagi.