Benci Menjadi Cinta

Benci Menjadi Cinta
Bab 38


__ADS_3

...🍃 READING BOOK 🍃...


Kini sudah seminggu lamanya, Berlin dan Celsi tak saling sapa, bahkan Celsi berpindah tempat ketempat yang kosong dan selalu bolos.


Berlin semakin membaik, namun ia harus membantu Kaisar dalam belajar karena sesuai perjanjian waktu itu yang harus diundur selama seminggu.


Berlin duduk di perpustakaan dengan satu buku ditangannya bersama Kaisar yang juga dihadapannya, ia membantu Kaisar memahami lebih mengerti tentang berbagai pelajaran pada kelas 10 dan 11.


"Menggunakan kalimat ilmiah, jadi untuk teks eksposisi agar lebih menarik atau bisa dibilang agar semua orang tau bahwa itu memiliki nilai dari ilmu pengetahuan, maka nya teks eksposisi memerlukan kaidah kebahasaan seperti itu, salah satunya reboisasi!" Jelas Berlin yang menjelaskan.


Saat ini Kaisar menyelesaikan beberapa contoh soal yang didapat, sekalian mendengar setiap penjelasan dari Berlin.


"Oke, sekarang aku udah siap, coba kau lihat apakah ini betul!"Ucap kaisar memperlihatkan buku tulisnya kearah Berlin.


Berlin mengambil bukunya, ia membaca dan melihat isi yang dijawab oleh Kaisar. Perlahan senyum nya sedikit terlihat, ia cukup bahagia dengan lelaki dihadapannya karena tak terlalu susah dalam diajar.


"Ini semuanya betul, bagaimana kita lanjut ke soal matematika!" Ucap Berlin memberikan buku tulis itu kepada Kaisar.


Namun Kaisar malah berdecih kesal, karena pasalnya ia cukup membenci matematika yang begitu banyak rumus, terlebih fisika yang begitu merepotkan.


"Ah...bisakah yang lain, sepertinya aku lebih suka yang IPA tentang perkembangan itu!" Ngeluh Kaisar yang meletakkan kepalanya di meja.


Berlin tersenyum tipis, ia merasa sangat lucu saat Kaisar selalu mengeluh pada saat akan mempelajari matematika.


"Ayolah kak, itu hanya rumus bukankah anda begitu hebat!" Ucap Berlin dengan kekehannya.


"Jangan mengejekku dengan tawa jelek mu itu, ayolah kenapa didunia ini harus ada matematikan!" Gerutu Kaisar yang sungguh tak ingin belajar matematika.


"Karena itu penting untuk kehidupan sehari-hari!" Jawab Berlin.


"Ya ya, selalu seperti itu!" Ucap Kaisar yang langsung berdiri hendak pergi.


"Eh mau kemana!" Ucap Berlin yang menunjuk arah Kaisar berjalan.


"Cari angin!" Ucap Kaisar yang langsung pergi meninggalkan Berlin diruangan perpustakaan itu.


Berlin hanya dapat menghela nafas pasrah, ia memutuskan untuk kembali ke kelasnya mengambil tas sekolah. Ia berjalan dengan membawa beberapa buku Kaisar ditangannya.

__ADS_1


"Sepertinya kau begitu senang berdekatan dengan Kaisar!" Ucap Cinta yang menatap tajam pada Berlin.


"A-aku..."


"Ck.. Celsi begitu bodoh memiliki teman sepertimu, bahkan kau tak tau bahwa Celsi sekarang berada di rumah sakit!" Ucap Cinta menatap sinis kearah Berlin.


Berlin menatap lekat kearah Cinta, cukup terkejut mendengar kabar tentang Celsi.


"Ba-bagaimana Celsi bisa masuk rumah sakit!" Lirih Berlin dengan tubuh yang sudah bergetar.


"Kau tak perlu tau, heh...teman munafik sepertimu sebaiknya menjauh dari Celsi dan Kaisar, kau orang miskin seharusnya sadar diri!" Sindir Cinta yang langsung berlalu meninggalkan Berlin yang terperosok jatuh kebawah.


"Benar aku munafik, seharusnya aku membela sahabat ku, tetapi apa yang aku lakukan. Aku berpikir semuanya pasti akan baik berjalan dengan waktu dan terus mencoba meminta maaf!" Batin Berlin dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya.


"Hey...apa kau baik-baik saja?" Tanya seseorang yang menjulurkan tangan.


Berlin langsung mengusap air mata diwajahnya, ia menatap orang yang berbicara padanya, seorang lelaki yang berpostur tinggi dan tegap.


"Ya, aku baik-baik saja!" Jawab Berlin yang melangkah meninggalkan lelaki itu.


Ia pun kembali berjalan kembali menuju tujuannya,yaitu perpustakaan. Sebelum ia pulang, ia memutuskan untuk mencari buku pelajaran yang diperlukan untuk besok.


...****************...


Di rumah sakit, cahaya silaunya lampu menyilaukan mata seorang gadis yang baru siuman, matanya perlahan terbuka dengan sesekali mengerjap menetralkan cahaya yang masuk ke mata nya.


Matanya kini telah terbuka sempurna, ia menatap ruangan serba putih itu dengan kening berkerut. Ia mengangkat tangannya yang memakai selang infus, ia menatap kekanan dan kekiri terlihat sang mama tertidur di sofa dengan wajah lelahnya.


"Ssttt...." Ringis Celsi yang berusaha untuk bangun dari tidurnya.


Galdis yang memang baru saja ingin tertidur, mendengar suara desiran membuat ia langsung terbangun dan menatap kearah Celsi.


Dengan segera Galdis langsung menghampiri Celsi yang menatapnya dengan senyum manisnya itu.


"Ah sayang, kamu sudah sadar mama merindukanmu!" Ucap Galdis yang langsung memeluk tubuh sang anak.


Celsi menerima pelukan itu, ia sangat merindukan pelukan hangat dari sang mama. Setitik air mata terjatuh dan dengan segera Celsi langsung mengusapnya tak ingin terlihat oleh sang mama.

__ADS_1


Ceklek


Pintu terbuka, membuat pelukan hangat itu terlepas dan kedua wanita beda generasi itu pun menatap siapa pelakunya.


"Kamu sudah sadar nak!" Ucap Weldan yang saat itu sedang membawa sebuah plastik berisi makanan.


Weldan meletakkan plastik itu diatas nakas, ia segera memeluk anaknya dan menatap dengan lekat Celsi.


"Apa ada yang sakit?" Tanya Weldan yang cemas.


"Tak ada kok yah!" Jawabnya.


"Jangan berbohong, kamu terbanting begitu keras dan membuat kamu tak sadarkan diri!" Ucap Weldan yang menatap tajam pada Celsi.


Celsi hanya dapat meringis mendapat tatapan tajam sang ayah.


"Anak mu baru sadar, jangan menatapnya seperti itu!" Ucap Galdis dengan sedikit mencubit pinggang Weldan.


Celsi tetap diam, ia menatap ke arah pintu seakan masih berharap seseorang menjenguknya, meski pun tidak membawa sesuatu, ia tetap berharap orang itu datang.


"Kenapa sayang? Kamu makan dulu ya, kan dari kemaren kamu belum makan karena koma!" Ucap Galdis dengan mengambil mangkuk bubur yang dibawa oleh suster tadi.


Galdis mengambil sesendok kecil bubur, perlahan sendok itu mengarah pada Celsi untuk sesegera mungkin memasuki mulut gadis itu.


"Aku bisa sendiri ma!" Tahan Celsi saat sendok itu sudah hampir masuk kedalam mulutnya.


Galdis sedikit tersentak, ia seketika murung karena penolakan sang anak. Padahal ia merasa bahagia karena anaknya berbicara dengan cukup akrab padanya tadi, tapi sekarang mendapatkan tolakan.


"Aku takut belepotan, aku lebih suka makan sendiri ma!" Ucap Celsi memberikan pengertian.


Ia tau saat ini pasti mamanya sedih dan kecewa terhadap penolakannya, tapi ia sungguh tak terbiasa dengan perlakuan itu dan ia lebih suka mandiri dari pada manja.


"Ah yaudah sayang, makanlah mama akan buka kan buah!" Ucap Galdis yang langsung merubah raut wajahnya dengan tersenyum dan Celsi tau itu adalah senyum terpaksa.


"Makasih ma!" Ucap Celsi tersenyum manis.


Weldan tetap diam, ia tidak ingin mengganggu interaksi antara kedua anak dan ibu, meski itu terlihat bahwa istrinya akhirnya merasa sedih dan kecewa atas penolakan Celsi.

__ADS_1


__ADS_2