
...🍃 READING BOOK 🍃...
Setelah yang terjadinya Mabar dengan Z.x Queen, membuat mereka berempat semakin penasaran. Padahal mereka biasanya tak terlalu penasaran meski pun orang itu memiliki pangkat yang tinggi.
"masih ingat kagak kalian ama tu orang yang mabar Ama kita kemaren!" Ucap Hendra yang memulai percakapan.
"Ehem...itu orang kayak misterius gitu nggak sih, biasanya kalo orang lain kita ajak on mic mau, lah ini nolak mentah-mentah lagi!" Timpal Farrel yang cukup kesal.
"Biarkan aja!" Ucap Rayhan yang ikut bergabung.
"Eh ini Rayhan kan, serius ikut ngomong biasanya kan nih bocah diem baek kayak kagak ada mulut!" Ejek Farrel.
"Serah deh, serba salah aja!" Kesal Rayhan yang langsung mengambil ponselnya dan kembali fokus dengan benda pipih itu.
"Yaaa ngambek hhhh....!" Ucap Hendra yang ikut mengejek Rayhan, kali ini kedua tawa cowok random itu pun terdengar memenuhi ruangan, sedangkan Rayhan hanya bersungut kesal.
Kaisar tetap diam, ia menatap keluar jendela sampai pada akhirnya ia melihat Berlin berbicara dengan Raihan ketua OSIS SMAN dua samudra ini.
Raut wajah Kaisar berubah seketika, ia merasakan hatinya sedikit gelisah dan tak suka melihat Berlin berbicara begitu dekat dengan kakak kelasnya, tapi ia bukan siapa-siapa gadis itu.
"Eh kai lihat apaan tuh!" Tanya Hendra dengan cekikikan, ia melihat Kaisar yang terus menatap ke jendela kosong itu dengan raut wajah menahan marah.
Kaisar tetap diam, ia kembali pada mode datarnya tak ingin membuat teman-teman nya terus menanyakan hal yang membuatnya pusing.
"Pergi ke toilet dulu!" Pamit Kaisar yang langsung pergi begitu saja tanpa menunggu perkataan selanjutnya darj teman-temannya.
Kaisar berjalan meninggalkan kelas, ia berjalan santai dengan satu tangan berada disaku. ia memasang wajah datar saat berada diluar salah satunya di sekolah ini.
Kaisar tak tau tujuan ia kemana, namun dengan arahan hatinya membuat ia begitu saja berjalan menuju ruangan guru.
Kaisar berdelik kesal, disaat Berlin dan Raihan baru saja keluar dari ruang guru. Mereka berua berseda gurau sambil berjalan.
Terlihat Berlin begitu nyaman saat berbicara dengan Raihan seakan tak ada beban sedikit pun.
"Eh kak kaisar mau keruang guru juga!" Sapa Berlin dengan tersenyum.
__ADS_1
Kaisar tetap diam, ia menatap datar kearah Berlin. Ia melihat tangan Raihan yang masih memegang kepangan rambut Berlin saat itu.
"Lepas tu tangan!" Sentak Kaisar menatap tajam pada tangan Raihan.
Seketika Raihan langsung limbung, namun ia cukup kesal dengan kaisar yang mengganggu dirinya untuk mendekati adek kelasnya yang pintar ini.
"Serah aku lah, kok kamu yang sewot sedangkan orang yang punya tetep diam aja tuh!" Kesal Raihan yang menantang Kaisar.
Kaisar tetap diam, ia menarik tangan Berlin begitu saja tanpa membiarkan Berlin untuk berniat melepaskan diri dari cengkeraman tangannya itu.
"Eh jangan kasar-kasar dong sama cewek, kasar banget jadi orang!" Ketus Raihan yang langsung menarik Berlin menjauh dari kaisar.
"Apaan sih kak, kenapa sih narik-narik!" Kesal Berlin yang memegang lengannya yang sedikit sakit akibat bekas tangan Kaisar.
"Aku pengen berbicara!" Ucap Kaisar yang masih berwajah datar.
"Tapi kak, aku masih ada urusan sama kak Raihan!" Tolak Berlin dengan sedikit hati-hati.
"Aku tidak meminta komentar mu itu!" Sinis Kaisar yang kembali menarik Berlin.
Kaisar menarik Berlin dengan cukup kasar, saat ini ia cukup kesal dengan sikap Berlin yang menolak dirinya dan terlebih ia tadi melihat keakraban Berlin pada Raihan meski dalam masa wajar.
...----------------...
Saat ini Kaisar terus menarik Berlin hingga sampai kegudang tua, Kaisar langsung menghempaskan Berlin begitu saja di dekat dinding gudang.
"Aww...k-kak kaisar!" Lirih Berlin yang berusaha menahan sakit dipunggung nya.
"Kenapa deket-deket sama Raihan!" Ucap Kaisar yang to the point.
"Hah...kenapa...ah itu cuman kebetulan ketemu yaudah bareng pergi ke ruang guru!" Ucap Berlin yang berusaha menjelaskan meski dengan rasa gugup.
Saat ini kaisar mengurung tubuhnya didinding, jarak diantara mereka sangat dekat dan hanya tangan Berlin yang berusaha mengasih jarak agar tak terlalu dekat.
"Jangan deket-deket tu orang!" Datar Kaisar.
__ADS_1
Mata tajamnya menatap Berlin dengan cukup kagum, gaids polos nan lugu begitu manis jika disaat begini.
"Ta-tapi kak, kit-kita nggak...." Ucap Berlin berusaha ingin menjelaskan, tapi Kaisar langsung memotongnya.
"Denger nggak!" Hardik Kaisar yang membuat Berlin sedikit tersentak dan akhirnya mengangguk lemas.
Setelah Kaisar mendapat jawaban dari anggukan Berlin, lelaki itu langsung pergi begitu saja meninggalkan Berlin yang hanya terpaku dengan pikirannya sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kini Celsi sedang mencari Berlin, gadis itu tak terlihat setelah katanya ada urusan ke ruang guru. Celsi semakin cemas terlepas dari kejadian seminggu yang lalu, membuat dirinya terus waspada dan cemas akan kondisi Berlin saat ini.
Celsi berjalan dengan tergesa-gesa, ia ingin mencari Berlin saat ini juga. Ia menatap kanan kiri mencari seseorang yang mana tauan terselip.
"Cari siapa?" Tanya seorang lelaki yang membuat Celsi langsung berputar melihat orang yang berbicara padanya.
"Cari curut!" Ketus Celsi yang tau orang bertanya padanya.
"Yaudah aku bantu!" Ucap lelaki itu yang ikut mencari juga.
Celsi berdecak kesal, cowok bule itu entah polos atau memang disengaja sampai ucapan Celsi di percaya.
"Curut itu kayak mana bentuknya?" Tanya nya sambil mencari-cari dibawah lantai.
"Akhhh...bentuk punya mu!" Kesal Celsi yang sedikit menarik rambut nya dan berlalu pergi meninggalkan lelaki bule itu dengan kesal.
"Hay apa kau tak membutuhkan bantuanku, maksudmu apa yang bentuknya seperti punya ku?" Tanya lelaki bule itu dengan sedikit berteriak.
"Buka celana mu dan itu lah yang ku maksud!" Ucap Celsi yang frustasi meski sudah sedikit jauh.
Beberapa orang yang ada disana seketika tertawa mendengar pertengkaran kedua orang itu, disini mereka begitu menggemaskan saat menggoda.
Sedangkan lelaki bule itu tampak bingung dengan ucapan Berlin yang menyuruhnya membuka celana, ia berpikir panjang dan akhirnya ia mengerti apa yang dimaksud gadis itu.
"Kamu menantang seorang William, baiklah aku akan membuat mu bertekuk lutut padaku!" Ucap William dengan tersenyum miring.
__ADS_1
Sedangkan Celsi masih merasa kesal akibat cowok bule yang tak ia ketahui itu, ia bersumpah akan membenci pria itu dan akan men cap cowok bule itu sebagai bule sesat.
Celsi tetap berjalan dengan cepat mencari Berlin, sungguh tak terbayangkan jika terjadi lagi kejadian yang seminggu yang lalu.