Benci Menjadi Cinta

Benci Menjadi Cinta
Bab 39


__ADS_3

...🍃 READING BOOK 🍃...


Kini di pagi yang cerah, Berlin duduk dengan lamunannya. Pikirannya menerawang jauh entah kemana, tatapan kosong menatap lurus kedepan.


Satu pergerakan yang membuat lamunannya buyar, kini Celsi meletakkan tasnya di dekat kursi samping Berlin. Gadis itu menyibukkan diri dengan bermain handphone, meski ia tau bahwa saat ini Berlin sedang menatapnya.


"Maaf!" Satu kata terucap oleh Berlin, namun Celsi tetap diam dan masih sibuk dengan ponselnya.


"Celsi maafkan aku!" Lirih Berlin.


Matanya sudah mulai berkaca-kaca, sudah seminggu lamanya ia terus meminta maaf melalui pesan atau pun real, tapi Celsi tak mau mendengar apa yang ia ucapkan.


"Apa aku harus bersujud!" Ucap Berlin yang bangkit dari duduknya, ia menatap Celsi dan perlahan menjatuhkan tubuhnya ke lantai.


Celsi tersentak, ia tak percaya dengan ucapan Berlin yang benar akan ia lakukan.


Celsi menatap sekitar, yang beberapa orang perlahan memasuki kelas. Dengan cepat Celsi langsung membimbing Berlin untuk berdiri agar gadis itu bangkit.


"Aku memaafkan mu!" Ucap Celsi dengan nada dinginnya.


"Aku tak percaya, kau begitu dingin dan tak berani menatapku!" Ucap Berlin yang langsung begitu saja memeluk Celsi.


Celsi terkejut dengan reaksi Berlin, apa Berlin begitu menyayanginya dan bahkan tak ingin kehilangan nya? Celsi sangat senang dan ia pun menerima pelukan Berlin dan membalasnya.


"Aku memaafkan mu!" Ucap Celsi dengan nada lembut dan hangatnya.


"Serius!" Tanya Berlin memastikan, wajahnya menatap tak percaya dengan ucapan Celsi.


"Ya, Berlin ku sayang!" Ucap gemas Celsi yang mencubit pipi Berlin.


Berlin berdengus kesal, namun ia sangat bahagia kini sahabat yang ia sayangi telah kembali lagi.


Mereka berdua pun kembali duduk di bangku masing-masing, Meski saat ini masih ada kecanggungan tapi tetap saja Berlin tersenyum manis pada Celsi.


"Apa kamu masuk rumah sakit?" Tanya Berlin dengan wajah seriusnya.


Celsi menatap kearah Berlin, alisnya perlahan terangkat keatas.


"Hmm...ya!" Jawab Celsi.

__ADS_1


"Maafkan aku!" Ucap Berlin tertunduk, ia begitu merasa bersalah karena disaat sahabat nya berada dirumah sakit dirinya tak menemani atau menjenguknya sekali pun.


"Tak apa, aku udah sehat!" Ucap Celsi yang tersenyum kecut.


Meski pun ia cukup kecewa akan hal itu, tapi ia memakluminya saja mungkin sahabat nya itu takut untuk kerumah sakit jika ia menolaknya datang, terlebih saat itu hubungan mereka sempat renggang.


"Aku ingin pergi tapi kak Cinta tak ingin memberitahukan nya!" Lirih Berlin. "Tapi sumpah, aku waktu itu terus bertanya pada beberapa orang tapi mereka juga nggak tau!" Ucap Berlin yang menjelaskan karena tak ingin Celsi kembali salah paham.


"Sudah ah...itu doang di ribetin, kekantin bentar yok ngisi perut!" Ucap Celsi yang menarik Berlin begitu saja.


Berlin hanya mengikuti kemauan Celsi, toh ia juga merasa lapar karena dari kemaren pulang sekolah ia tak makan bahkan sampai pagi pun.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dirumah megah Aldebaran, Kaisar sekeluarga sedang sarapan pagi bersamaan dengan Cinta yang datang begitu pagi kerumah Kaisar.


Suasana dalam ruangan makan itu tampak hening dan hanya dentingan sendok yang berbunyi karena saling berbenturan.


Cinta sesekali melirik Kaisar, yang terus berwajah datar dan dingin. Ia sedikit tersenyum karena ia dapat melihat wajah pujaan hatinya pagi-pagi saat ini.


"Fokus pada makananmu!" Ucap datar Kaisar.


Desi dan Aldebaran hanya tersenyum tipis, mereka cukup terkekeh melihat wajah malu Cinta saat itu.


Sarapan pagi pun selesai, kini Kaisar kembali naik ke kamarnya karena meninggalkan sesuatu yang harus ia bawa kesekolah.


Setelah selesai akan urusannya, kaisar pun meminta izin pergi kesekolah pada sang mama dan juga papanya yang meski juga akan pergi berkerja.


"Aku pergi kesekolah ma pa!" Ucap Kaisar yang mencium pipi sang mama.


"Iya sayang!" Ucap Galdis yang tersenyum manis.


"Cinta juga mau pergi tan om!" Ucap Cinta yang sedikit membungkukkan badannya.


"Iya sayang!" Galdis tersenyum manis pada Cinta dan sedikit mengelus lembut kepala Cinta.


Kaisar dan Cinta pun langsung pergi meninggalkan ruangan itu dengan diikuti oleh Angel.


Setelah kepergian para remaja, Weldan pun yang kini akan berpamitan pada sang istri. Ia mengambil tasnya dan mendekat kearah Galdis.

__ADS_1


"Aku juga pergi ma, jangan terlalu capek ingat!" Ucap Weldan yang mengecup kening istrinya itu.


"Iya pah...Ih aku bukan anak kecil!" Kesal Galdis yang melipat tangan nya didada.


"Iya deh iya, yaudah aku mau kerja nih ntar nggak jadi!" Ucap manja Weldan.


"Lah kenapa mas?" Bingung Galdis yang mengerut keningnya.


"Lucu, ntar nggk kerja karena takut istri imut aku diambil orang!" Goda Weldan dan hal itu membuat dirinya mendapatkan pukulan kecil dari sang istri.


"Apaan sih, sana pergi ntar telat!" Kesal Galdis yang saat ini wajahnya sudah begitu merah.


"Ihh...ngusir, tega banget sama suaminya!" Ucap Weldan yang dramatis.


"Kerja yang semangat sayang, ntar telat kalo kamu nggak pergi sekarang!" Ucap Galdis yang berusaha berucap lembut.


"Iya deh, yaudah pergi dulu...Cup " Satu kecupan dibibir Galdis yang membuat wanita paruh baya itu berteriak pada suaminya saat ini cukup sangat jahil.


Namun setelah kepergian suaminya itu, Galdis malah tersenyum bahagia. Dalam mulut merasa kesal tetapi didalam hati begitu berbunga-bunga.


...----------------...


Kini Kaisar sudah sampai disekolah, lelaki itu langsung keluar tanpa menunggu Cinta dan Angel keluar dari dalam mobilnya.


Berjalan dengan langkah kaki yang panjang, saat sudah memastikan kedua gadis itu keluar Kaisar langsung menekan tombol kunci keamanan dari jarak jauh pada mobilnya.


Kaisar kembali melangkahkan kakinya cepat, disini Cinta langsung berlari mengikuti Kaisar tanpa mempedulikan tatapan tak suka pada Cinta yang saat itu datang bersama Kaisar.


Kaisar berjalan menuju kantin, ia ingin memainkan gamenya karena menurutnya dikantin lebih menyenangkan dari pada di kelas, apalagi masih ada waktu 15 menit untuk ia bermain game.


"Kai! Kaisar!" Panggil Cinta yang berlari menghampiri kaisar.


"Jangan ngikuti, aku mau pergi ngegame!" Ucap datar Kaisar yang langsung melangkah lebih cepat meninggalkan Cinta.


Cinta hanya dapat mendengus kesal akibat Kaisar, ia masih punya harga diri dan akhirnya pergi memutar arah menuju kelasnya yang tak jauh dari kantin.


Disepanjang koridor tak sedikit banyak orang bergosip tentang dirinya dan Kaisar, namun satu hal yang bikin me.janggal dalam hatinya bahwa ia dicap sebagai perebut pacar orang dan dimana Berlin adalah pacarnya Kaisar.


Ia sangat geram dan kesal, namun ia tetap harus menahan image nya yang merupakan seorang murid penyabar dan baik hati.

__ADS_1


__ADS_2