
...đ READING BOOK đ...
Seminggu lagi adalah waktu ujian untuk anak kelas 12, tak terasa Berlin mengenal seorang Kaisar 3 bulan lamanya dengan begitu banyak drama yang membosankan.
Bahkan kini sikap Kaisar semakin sulit dipahami, pemuda itu sering kali mengatur Berlin untuk tidak dekat dengan orang lain.
"Apa kau tidak mendengar ucapan ku Berlin!" Geram Kaisar dengan mencengkeram kuat dagu Berlin.
Entah kenapa ada rasa takut didalam diri Berlin semakin lama semakin begitu protektif bahkan posesif. Lihatlah bahkan ia sudah berada dikukungan kaisar diantara dinding berdebu ini.
Kini mereka berada di gudang lama, dimana Berlin yang baru menyelesaikan urusan penting di toilet. Kaisar dengan paksa menarik nya hingga kini berada diposisi begitu dekat.
"Berlin!" Panggil Kaisar yang semakin mencekram dagu Berlin.
"Ta-tapi kak...!" Berlin ingin memprotes, namun kali ini berbeda Kaisar malah membungkamnya dengan bibir kenyal nya.
Mata Berlin membulat, tubuhnya menegang dan bahkan menahan nafas saat ini. Pikirannya tak bisa berkontribusi secara baik dengan tubuhnya.
"Kau milikku Berlin!" Bisiknya tepat ditelinga Berlin setelah melepas tempelan bibir itu.
Berlin semakin gelagapan, ia bingung dengan ucapan Kaisar saat itu, tak mengerti dengan apa yang diucapkan pemuda yang ada dihadapannya saat ini.
"Jadilah pacar ku, aku akan berbuat apa pun untuk mu!" Ucap Kaisar yang kini dengan wajah putus asa.
"Ta-tapi kak!" Berlin sekali ini ingin membantah tapi ia kelut untuk melanjutkan ucapannya.
"Aku tau, aku bahkan rela pindah agama!" Ucap Kaisar yang begitu lekat menatap Berlin.
Perlahan Berlin mendorong tubuh Kaisar, ia bingung harus berbuat apa dan mengatakan apa, sesungguhnya didalam hati terdalam terdapat perasaan pada pemuda itu, namun jurang pemisah begitu dalam membuat ia harus mengubur perasaannya saat ini.
__ADS_1
"Aku tidak bisa, maaf kak mungkin kau dapat mengucapkan itu dengan mudah, tapi tidak dengan ku karena aku tak ingin seseorang pindah agama karena paksaan cinta, ayolah berpikir realistis, kau memiliki seorang tunangan cantik. Dia Cinta, bukan kah gadis itu cantik dan dia adalah teman masa kecil mu, dia adalah kakak Celsi dan aku tak ingin membuat seseorang sakit hati pada ku apalagi sahabat ku!" Ucap Berlin panjang lebar.
"Aku tak peduli Berlin, aku tak mencintai dia!" Ucap Kaisar yang kini menggenggam tangan Berlin.
Berlin melepaskan tangan itu, "Kau yang tidak peduli kak, tapi aku sesama perempuan yang seharusnya dapat merasakan apa yang dirasakan oleh perempuan lain, jurang untuk kita bersama sangat dalam kak, kakak jangan membuat mama kakak kecewa besar, ingat dia adalah ibu yang melahirkan mu, sekarang ku mohon menjauhlah dari ku, kita tidak akan pernah bersama, meski kita pacaran namun aku tak ingin berakhir kau menentang keluarga mu, ayo lupakan semua yang kita jalani selama ini!" Lanjut Berlin dengan tersenyum manis pada kaisar namun terdapat raut kesedihan.
Kaisar langsung saja memeluk Berlin, ia sungguh mencintai gadis cupu yang dihadapannya, selama tiga bulan sering bertatapan dan mengerti tentang gadis itu membuat ia semakin menyukainya dan begitu ingin mengetahui lebih dalam tentang nya.
Tapi ini sekarang percuma, gadis itu menolaknya dengan cara halus, meskipun begitu tapi hati nya sakit dan tak ingin mendengar lagi apa yang diucapkannya.
"Fokuslah dengan ujian mu, kau tidak mungkin menyia-nyiakan semua yang kau pelajarin!" Ucap Berlin dengan mengelus punggung Kaisar dengan lembut.
"Aku mencintaimu!" Lirihnya yang semakin mengeratkan pelukannya.
Berlin hanya diam, ia tak bisa menjawab apa-apa saat ini, ia hanya menenangkan seorang Kaisar karena ia tau Kaisar adalah orang yang memiliki tempramen yang begitu buruk.
Ditempat lain~
"Aku akan menunggu nya!" Ucapnya dengan seringai liciknya.
Panggilan pun ia matikan dan langsung berjalan meninggalkan taman itu.
...****************...
Kini dikediaman Weldan, dimana Galdis duduk termenung di balkon rumahnya, ia menikmati angin sepoi-sepoi di siang hari dengan duduk di ayunan gantung.
Pikirannya terus berkeliaran tentang putri bungsunya, hatinya semakin kosong dan merasa bersalah setelah kepergian gadis kecilnya itu.
"Apa kamu merindukan papa sayang!" Gumamnya sambil menyeruput coklat panas di cangkirnya.
__ADS_1
"Apa kau makan dengan teratur sayang, meski disini kau juga tak makan dengan teratur, tapi apakah kau makan sehat!"
"Bagaimana keadaan mu, apakah kau semakin kurus!"
"Kenapa kau pergi, bukankah kau menyayangi mama kenapa sekarang begitu dengan mudahnya kamu pergi.
Gumaman kecil dari Galdis, wajahnya semakin tirus dan kelopak mata yang sedikit menghitam dan bibir yang sedikit pucat.
Saat ini Galdis memang sedang melakukan perawatan, meski berada dirumah ia tetap dirawat oleh dokter kepercayaan suaminya, bahkan infus ditangannya saja belum lepas.
Cup
Sebuah kecupan mendarat di pipi Galdis, wanita itu langsung menatap pelaku yang lakukan hal itu padanya, Weldan tersenyum hangat pada nya, namun dihatinya tetap masih merasa kesal karena sang suami dengan mudah mengusir Celsi dari rumah.
"Apa yang kau pikirkan, ayo ke dalam kau belum makan siang hari ini!" Ucap lembut Weldan dengan meraih tangan istrinya.
Galdis hanya diam, ia pun menjawab tangan Weldan dan berjalan masuk dengan infus yang sudah ditangan Weldan bersama pengaet infus.
Kini Galdis sudah berada di kasurnya dengan Weldan yang duduk disamping Galdis dengan kursi hias. Tangan Weldan pun mulai mengambil makanan yang dimangkok itu, ia menyuapi Galdis dengan telaten.
"Aku sudah kenyang!" Tolak Galdis dengan mendorong pelan mangkok dari gangan Weldan.
"Kau baru makan tiga suap, ayo makan lagi!" Weldan kembali menyuapkan Galdis, tapi Galdis hanya menggeleng pelan.
"Baiklah, minum obatnya ya!" Ucap Weldan lembut dan diangguki oleh Galdis.
Pria itu sungguh sangat khawatir dengan keadaan istrinya, tiba-tiba keadaan sang istri drop dua Minggu yang lalu dan bahkan ia harus meninggalkan proyeknya yang dibali demi menjaga sang istri sakit.
Sebenarnya Weldan cukup merasa bersalah karena membiarkan Celsi keluar dari rumahnya, namun karena terbawa emosi ia begitu susah mengendalikan nya.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang ia juga mengusir Celsi yang berakhir dengan keadaan seperti ini.