
...16. Mencari Kelemahan...
Agista Prawestari, gadis yang baru duduk di kelas 11 sebuah SMA Swasta ternama di Ibu kota itu nampak sedang termenung mendengar semua pembicaraan mama dan kakak angkatnya itu. Gista enggan keluar dari kamar mandi meskipun beberapa menit lalu dia selesai menyelesaikan ritual mandinya.
Hingga ketukan pintu kamar mandi membuyarkan lamunannya. Gista pun segera membuka pintu kamar mandi setelah berhasil menguasai perasaannya yang teramat gusar.
“Lama banget sih mandinya dek,, kakak juga mau mandi dan ke kantor. Pak Sukri sudah mengantarkan seragam sekolah kamu itu, katanya Tia yang menyiapkan semuanya.” Kata Elmeera kemudian memasuki kamar mandi begitu saja.
“Iya kak.” Jawab Gista dengan nada lirih.
Wajah Gista yang cantik namun sedikit murung pagi ini pun ditangkap oleh mama Sarah. Wanita paruh baya itu menyimpan pertanyaan besar dalam benaknya tentang hubungan Argha dengan Gista. Karena sejujurnya mama Sarah sangat takut jika sebenarnya Gista menaruh hati sama Argha mengingat betapa dekatnya mereka berdua. Ah, mama Sarah rasanya ingin merutuki dirinya sendiri kenapa tidak mencari tahu lebih dulu tentang hubungan Argha dan Gista karena meskipun Gista hanyalah anak angkat, mama Sarah sangat menyayangi gadis itu.
“Gista sayang…” Panggil mama Sarah setelah Gista selesai mengenakan seragam sekolahnya dibalik tirai yang tertutup rapat.
“Iya ma…” Gadis cantik dengan lekukan di tengah bibir bagian bawah itu pun mendekat ke arah ranjang mama Sarah sambil tersenyum.
“Sini nak,, lebih dekat sama mama.” Pinta Mama Sarah dengan lembut. Sangat berbeda saat berbicara dengan Elmeera tadi. Maklum Elmeera sangat keras kepala jadi terkadang batu harus dihantam pada batu pula biar pecah sekalian, kalau menunggu tetes demi tetes air hujan yang jatuh akan terlalu lama.
“Mama kenapa? Ada yang sakit ma?” Tanya Gista dengan menggenggam tangan mama Sarah.
Mama Sarah pun menggeleng. Kemudian wanita itu tersenyum sambil melirik pintu kamar mandi yang terdengar suara gemericik airnya dari dalam sana...
“Nak, jawab dengan jujur.. apa kamu setuju jika kak Elmeera menikah dengan kak Argha?” Tanya Mama Sarah dengan hati-hati dan lirih agar Elmeera yang berada di kamar tidak mendengar apa yang sedang dia bicarakan dengan Gista. Dalam hatinya, mama Sarah berharap supaya antara Argha dan Gista tidak ada yang saling menaruh hati sehingga rencananya untuk Elmeera dan Argha berjalan mulus.
“Kenapa mama bertanya seperti itu sama aku?” Tanya Gista.
“Karena mama tahu kalau kamu dekat dengan kak Argha. Maafkan mama yang kurang memperhatikan kamu hingga tadi mama langsung saja meminta kak Elmeera untuk menikah dengan kak Argha.
__ADS_1
Maafkan mama sayang, mama bingung harus bagaimana lagi menghadapi kakak kamu… harusnya mama bertanya dulu sama kamu, tadi yang ada di benak mama adalah kamu setuju saja jika mereka menikah karena semalam kan kamu yang bilang jika mereka sepasang kekasih.. tapi melihat wajah murung kamu pagi ini saat keluar dari kamar mandi membuat mama ikutan sedih.” Jelas Mama Sarah dengan perasaan bersalah dan Gista dapat merasakan ketulusan wanita itu.
“Ma.. aku sama kak Argha tidak memiliki hubungan apapun selain sebatas kakak dan dik. Gak mungkin aku suka sama kak Argha sebagai perempuan dan lelaki ma, begitu pula sebaliknya.” Jawab Gista yang paham jika Mama Sarah mengira dirinya mencintai Argha.
“Sebatas kakak adik? Gak mungkin suka?” Tanya mama Sarah yang mengulangi kalimat Gista. Mama Sarah nampak bingung mencerna ucapan Gista.
“Ehm.. maksud aku.. ehmm, aku sama kak Argha itu seperti kakak dan adik, Dia menganggap aku adiknya sendiri ma, karena kak Argha dulu punya adik perempuan tapi adiknya itu tiada saat kecelakaan bersama dengan orang tua kak Argha. Jadi mama jangan berpikir macam-macam dengan hubunganku sama kak Argha.” Jelas Gista membuat Mama Sarah tersenyum.
“Lalu kenapa kamu mendadak cemberut sayang?” Gista nampak menghela nafasnya dengan kasar.
“Aku hanya takut jika Kak Elmeera dan kak Argha nanti ujungnya akan saling menyakiti ma… Aku sayang sama mereka berdua, aku bahagia jika mereka bersama. Tapi…”
“Tapi kenapa nak?” Mama Sarah pun penasaran.
“Hati kak Argha masih tertuju pada mantan kekasihnya yang ada di luar negeri ma… sedangkan kak Elmeera, selain keras kepala dia juga sangat takut dengan sebuah pengkhianatan. Bagaimana nanti kalau kak Argha menyakiti kak Elmeera dengan tidak bisa move on nya itu? Bagaimana juga jika kak Elmeera tetap pada pendiriannya dan suatu saat ingin berpisah.”
“Gista,,,”
“Iya ma?”
“Maafkan mama, memang ini terdengar sangat egois. Tapi mama hanya ingin kakak kamu itu menikah. Dan mama sudah meminta pada sahabat mama untuk mencari tahu bagaimana Argha. Dia adalah lelaki yang baik dan menurut mama sangat cocok dengan kakak kamu. Mama berharap dengan hubungan Argha dan Elmeera keduanya bisa saling melengkapi. Elmeera bisa membuat Argha move on, sedangkan Argha bisa membuat kakak kamu membuka matanya bahwa kehidupan pernikahan tidak seburuk yang dia pikirkan.”
“Tapi ma…”
“Kita tidak akan pernah tahu bagaimana akhirnya jika kita tidak pernah mencobanya. Please demi mama… bantu mama membuat mereka menikah setelah itu, kita akan membantu mereka biar bisa saling menerima.” Gista terdiam.
“Agista.. Mama mohon..” Akhirnya Gista menyetujui permintaan sang mama. Karena manusia tidak pernah tahu siapa jodoh mereka.
__ADS_1
...***...
Kantor KirAn.com
“Kenapa elu selalu memusingkan hal-hal yang simpel sih El?” Tanya Ziraya setelah Elmeera curhat mengenai permintaan mama Sarah dan ancaman Mama Sarah yang memintanya menikah minggu depan.
“Lalu apa solusinya?”
“Kamu tinggal bilang aja sama si Argha, Gha, yuk nikah… please nikahin gue.” Ujar Ziraya sambil menahan tawa melihat ekspresi atasan sekaligus sahabatnya yang melotot.
“Gila aja,,, mana ada perempuan melamar lelaki lebih dulu?” Ungkap Elmeera tidak terima. Maklum Elmeera selalu menjunjung tinggi harga dirinya, mengajak Argha menikah yang jelas-jelas sudah menolaknya adalah merupakan tindakan bodoh dan aib.
“Gapapa kali El, sekarang jamannya emansipasi wanita. Gak melulu wanita harus menunggu cowok melamar.”
“OGAH!” Jawab Elmeera dengan setengah emosi.
“Astaga kepala gue mau pecah rasanya… belum lagi ini investor pada ribut semua… bisa-bisa gue masuk Rumah sakit jiwa kalau begini terus.” Gerutu Elmeera membuat Ziraya merasa sangat kasihan dengan tekanan demi tekanan yang diterima sahabatnya itu, namun semua itu terjadi juga karena sikap keras kepala Elmeera sendiri.
“Ehmm begini, bagaimana kalau elu minta tolong sama Gista untuk mencari tahu kelemahan Argha. Setelah itu, Elu bisa menekan Argha dengan kelemahan itu supaya Argha mau mengikuti permintaan elu. Dan untuk membuat Gista mau bekerja sama dengan elu, bilang aja semua demi tante Sarah.” Elmeera nampak berpikir.
“Bagaimana?” Tanya Ziraya melihat sahabatnya yang masih terdiam.
Hingga sebuah senyum terbit dari bibir Elmeera.
“Gak rugi gue punya sahabat kayak elu dan gaji elu tinggi. Jadi harga diri gak nyungsep-nyungsep amat karena dia akan menikahi gue dengan kesepakatan yang saling menguntungkan.” Senyum Elmeera yang penuh semangat itu pun membuat Ziraya ikut tersenyum.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1