Benih Bayaran

Benih Bayaran
Part 7


__ADS_3

...7. Seperti tidak Rela...


Happy Reading


“Singkirkan tangan anda dari dada saya!” Ucap Elmeera pelan namun penuh dengan penekanan. Elmeera tidak gila dengan langsung berteriak karena dibawah banyak orang sedang nongkrong. Bisa-bisa dia akan memancing perhatian orang banyak.


Argha yang tidak tuli itu pun melotot mendengar ucapan wanita yang ada di dekapannya tersebut. Otak Argha mendadak blank ketika tangannya mendarat sempurna di lembah Teletubis yang terasa sangat padat itu.


“Kurang ajar!” Geram Elmeera karena Argha justru bengong dan tidak segera menyingkirkan tangannya yang menangkup sebelah dada Elmeera dengan sempurna.


“Kak Argha… Kak Elmeera..” Suara Gista yang memanggil mereka cukup kencang lantas membuat keduanya terperanjat dan Argha segera menyingkirkan tangannya dari lembah teletubis yang tertutup bra dan tang top tipis itu.


“Alhamdulillah dapat rejeki nomplok yang benar-benar luar biasa. Ternyata kenyal juga…” Batin Argha dengan wajah memerah sendiri. Argha pun menyadari wajah Elmeera saat ini yang juga memerah karena mereka hanya berjarak beberapa senti.


“Milik elu sangat istimewa.” Ucap Argha secara spontan dengan pikiran dewasa yang sudah melayang layang entah kemana.


Terkadang pujian dan pelecehan verbal itu berbeda tipis, dan mendengar kata ‘istimewa’ dari penyanyi café tersebut, lantas membuat Elmeera naik pitam karena menganggap itu adalah sebuah pelecehan.


Dan menyadari tatapan Elmeera yang seperti busur panah terhadapnya, Argha segera tersadar dan menutup mulutnya sendiri.


“Mamvus, salah ngomong gue.” Batin Argha lagi.


“Andaaaa..” Elmeera pun mengeraskan rahangnya dengan tangan mengepal.


“Sorry.. sorry gue gak sengaja.. bener-bener gak sengaja! Tadi refleks dan malah nyentuh juga sedikit itu…. Em.. itu… ” Jelas Argha yang mendadak gugup karena tatapan Elmeera sangat mengintimidasi.


Elmeera yang tidak terima dengan apa yang Argha lakukan barusan tersebut ingin memberikan pelajaran pada lelaki yang sudah berani bertindak kurang ajar terhadapnya. Tidak sengaja sih tidak sengaja, tapi bukan berarti langsung mengambil kesempatan dan menikmatinya selama beberapa detik dong… apalagi tadi Elmeera merasakan Argha sedikit meremass bukit teletubis miliknya.


Baru juga Elmeera mengangkat tangannya hendak melayangkan tamparan pada Argha, suara Gista yang cempreng kembali terdengar cukup nyaring di telinga sang kakak.


“Kalian sedang apa? Kak El lama banget datangnya… cepetan naik, kita harus berbicara.” Tanya Gista membuat Elmeera mengurungkan niatnya untuk menampar lelaki dihadapannya itu.


“Urusan kita belum selesai!” Ucap Elmeera yang memilih langsung berlalu begitu saja dari Argha dan menuju ke adiknya. Argha pun hanya berdiri mematung dengan senyum tipis tersungging sambil menatap telapak kanannya yang tadi berhasil mendarat di bukit teletubis.

__ADS_1


Jika bisa marah, Elmeera ingin sekali marah. Tapi Elmeera masih cukup waras untuk tidak mempermalukan dirinya sendiri di tempat umum seperti ini karena beberapa pengunjung café sudah menatap ke arah tangga. Terlebih Elmeera juga sadar, bahwa ini adalah kesalahannya karena menaiki tangga dengan mata yang fokus ke layar ponsel. Masih untung dirinya tidak jatuh dari atas tadi.


...**...


Argha beberapa kali menggelengkan kepalanya saat berjalan menuju meja yang berada di samping panggung. Sebuah meja dengan dua sofa panjang dan satu sofa single merupakan tempat khusus untuk para penyanyi Café yang akan menghibur para pengunjung Café.


“Gha, ada masalah apa elu sama si Cagal. Kok kelihatannya tadi dia menatap elu tajam banget? Kek mau menelan elu hidup-hidup tau.” Arsen nampak penasaran.


Lelaki yang katanya sahabat Argha dari kecil tersebut  ternyata memperhatikan kejadian di tangga beberapa detik lalu setelah mendengar suara cempreng Gista yang memanggil Argha dan Elmeera bersamaan.


Argha sudah mendudukkan tubuhnya di sofa single lalu menghela nafasnya dengan kasar. Lelaki yang usianya setahun lebih muda dari Elmeera itu mencoba menetralkan degup jantungnya juga mencoba menghilangkan imajinasinya tentang bukit teletubis.


“Woii Gha, ada masalah apa elu sama si Cagal tadi?” Arsen menepuk pundak sahabatnya membuat Argha yang sedang berkonsentrasi menghapus imajinasinya menjadi mendengus kesal.


“Cagal? Apaan Cagal?” Tanya Vira mengernyit. Vira adalah satu-satunya penyanyi wanita di Planet Café.


“Cagal itu canntik-cantik galak. Itu si embaakk Elmeera, kakaknya Gista.” Sahut Dio. Vira pun mengangguk mengerti namun tidak ingin kepo lebih lanjut karena wanita itu sibuk memoles wajahnya.


Elmeera memang hampir setiap hari mengunjungi Café milik adiknya tersebut, dan semua orang tahu bahwa Elmeera adalah kakak dari Gista, gadis ramah dan ceria itu. Tapi setiap kali Elmeera datang ke Café, tidak pernah sekalipun wanita itu menampilkan sedikit senyumnya dan bersikap ramah pada karyawan Café atau penyanyi Café. Selalu saja dingin.


“Huh! Habis dapat rejeki nomplok gue.” Jawab Argha yang menyandarkan kepalanya ke headboard sofa.


“Kalau dapat rejeki nomplok, kenapa muka elu asem gitu?” Tanya Dio lagi..


“Tangan gue udah gak perjaka lagi gara-gara tadi gak sengaja nyentuh gunung semeru.” Ucap Argha dengan santainya membuat ketiga temannya saling tatap.


“Gunung Semeru? Maksud elu apaan Gha?” Arsen terlihat mengedipkan matanya seolah apa yang dia pikirkan sama dengan apa yang Argha maksud. Karena Arsen dan Dio sering menggunakan istilah ‘gunung semeru’ untuk membicarakan area sensitive wanita itu.


Huh, obrolan para laki single… ternyata gak jauh-jauh dari sono ya!


“Ya gunung semeru yang sering elu tonton dan bicarakan sama Dio.” Arsen dan Dio semakin saling tatap untuk mencoba menyeragamkan pemikiran mereka.


“Maksud elu, elu habis nyentuh payudara wanita?” Vira satu-satunya gadis yang berada di meja tersebut justru langsung frontal namun untungnya tidak berteriak. Vira sangat paham tentang istilah ‘gunung semeru’ sehingga langsung saja nyambung meskipun gak ada kabel yang terhubung.

__ADS_1


“Bukan cuma nyentuh sih Vir, lebih tepatnya gak sengaja begini…” Argha dengan polosnya memperagakan tangannya yang seperti menangkup sebuah benda tak kasat mata di udara kemudian memerassnya dengan perlahan. Vira yang melihat itu pun langsung menelan salivanya.


“Anjjiiirr!” Umpat Vira.


“Punya siapa Gha?” Dio semakin kepo.


Belum juga Argha menjawab, tapi suara Arsen sudah mencemari udara.


“ Jangan bilang punya si Elmeera yang elu remees Gha?” Dan dengan wajah polosnya Argha pun mengangguk begitu saja membuat dua sahabatnya itu langsung berteriak heboh. Sedangkan Vira yang menjadi wanita satu-satunya disana hanya mampu memutar bola matanya malas.


Selalu omongan mereka tidak jauh-jauh dari hal mesum.


“Menang banyak elu Gha… ah kenapa gak gue aja sih yang di posisi Elu Gha?” Ucap Arsen yang sepertinya menerawang bagaimana memegang bukit teletubis milik Elmeera yang banyak dikagumi kaum Adam.


Mereka pun seolah melupakan sejenak rumor tentang Elmeera yang katanya suka sesama jenis. Padahal beberapa hari lalu mereka terus membicarakan hal tersebut.


“Gilaa.. enak banget sih elu Gha bisa pegang sugeng.” Ucap Dio yang merasa iri dengan rejeki nomplok yang Argha dapatkan.


“Sugeng? Apaan lagi itu Sugeng?” Vira yang enggan ikut membahas tentang rejeki nomplok Argha akhirnya ikutan kepo juga.


“Sugeng itu susu ageng. Ageng dalam bahasa jawa artinya gede. Kan bodynya si embaak galak Elmeera itu aduhay dengan dada yang membusung sempurna. Apalagi pakaiannya cukup ketat-ketat dan mini hingga si Sugeng tercetak sempurna dan memberikan kesegaran untuk mata kita para lelaki.” Dio menjelaskan dengan mata yang menerawang jauh seolah berimajinasi.


Entah kenapa hati Argha mendadak gusar. Lelaki yang sebelumnya tidak pernah bertegur sapa dengan Elmeera itu merasa tidak ikhlas saat sahabat-sahabatnya menjadikan Elmeera sebagai bahan imajinasi seksual mereka. Namun memang begitulah lelaki, apalagi pada wanita yang selalu berpenampilan seksi.


“Apa yang sedang kalian bicarakan?” Tanya seorang wanita yang tiba-tiba saja berdiri di samping Dio dengan mata berkaca-kaca menatap Argha dengan penuh kekecewaan.


Deg.


Jantung Argha rasanya ingin berhenti berdetak.


...BERSAMBUNG ...


Bagaimana perasaan kalian jadi Elmeera ketika di omongin hal sensitif seperti itu oleh para lelaki dan mendengarkannya secara langsung...

__ADS_1


Like dong...


Komentar dong...


__ADS_2