Benih Bayaran

Benih Bayaran
Part 66


__ADS_3

...66. Meeting...


Tidak lebih dari sepuluh orang tengah duduk di kursinya masing-masing dalam diam di salah satu ruang meeting yang berada di Gedung RMJ Group.


Mereka tidak lain adalah para petinggi perusahaan yang selama ini bekerja dengan baik untuk RMJ Group. Namun ada satu orang yang ada ditengah-tengah mereka yang merupakan staf biasa bagian finance, yang tidak lain adalah Argha.


Semua orang tentu bertanya-tanya mengapa seorang staf bisa duduk di satu meja dengan mereka. Namun tidak ada berani yang menanyakan hal itu pada Argha sebab, Tuan Aris sudah menginfokan sebelumnya bahwa staf bernama Argha tersebut diundang khusus oleh Tuan Ramon sendiri.


Ada apa gerangan? Semua orang sibuk dengan pikirannya masing-masing hingga sebuah pintu dibuka dan muncullah sosok pendiri Perusahaan besar RMJ Group yang tidak lain adalah Ramon Mahatama Jaya.


Mendapati orang nomor satu di RMJ Group membuat seluruh orang yang berada di ruang meeting tersebut berdiri untuk memberi hormat termasuk Argha.


"Selamat sore.. maaf mengganggu waktu kalian semua karena saya harus mengumpulkan kalian semua di jam pulang kantor seperti ini." Ucap Ramon membalas hormat para orang-orang yang sudah setia bekerja untuknya.


"Tidak masalah tuan... suatu kehormatan sendiri bagi kami bisa anda undang seperti ini setelah cukup lama anda tidak kembali ke tanah air." Kata salah satu petinggi perusahaan.


"Benar Tuan Ramon, dan kami berharap anda selalu diberikan kesehatan oleh Tuhan agar bisa kembali memimpin perusahaan ini seperti sebelumnya." Sambung yang lainnya.


"Terima kasih atas kebaikan kalian semua... Ayo silahkan duduk.. ada hal penting yang ingin saya sampaikan pada kalian semua, orang-orang kepercayaan saya di perusahaan ini." Kata Ramon. Dan semua orang pun menuruti ucapan lelaki tua yang selalu nampak berwibawa di depan umum itu, berbeda jika berhadapan langsung dengan cucunya sendiri.


Aris, sebagai satu-satunya orang yang dipercaya Tuan Ramon itu pun membuka meeting sore itu dengan sangat baik.


Dan saat Aris menyampaikan tujuan dari Tuan Ramon mengumpulkan mereka semua disini, tentu membuat semuanya terkejut.


"Apa maksud anda tuan Aris? Cucu tuan Ramon masih hidup?"


"Iya benar, cucu tuan Ramon selamat dari kecelakaan belasan tahun lalu yang menewaskan Tuan Firman juga istrinya."


"Bukankah saat itu sudah ditemukan jenazah putra tuan Firman? Bukan tidak percaya, hanya saja saya ingin memastikan bahwa tidak ada pihak yang akan memanfaatkan hal ini untuk mendapatkan kekuasaan."


Aris pun menceritakan kronologi kejadian yang sebenarnya mengenai kecelakaan belasan tahun lalu yang menimpa keluarga Mahatama. Hal itu Aris lakukan, karena orang-orang yang berada di ruangan meeting tersebut sudah teruji kesetiannya pada RMJ Group.


"Syukurlah jika pewaris RMJ Group masih ada..." Gumam salah seorang dengan senyum yang mengembang sambil menatap Argha yang hanya diam saja. Lelaki paruh baya itu mendadak penasaran dengan sosok Argha yang sedari tadi diam disana? apakah itu adalah pewaris RMJ Group?

__ADS_1


"Lalu siapa pewaris RMJ Group tuan Aris? bolehkah kami mengenalnya?"


"Tentu saja." Jawab kakek Ramon dengan senyum penuh kebanggaan.


"Perkenalkan, Argha Tahta Mahatama adalah cucu kandung saya yang dulu bernama Arshaka!" Ucap Kakek Ramon membuat semua mata tertuju pada Argha dengan senyum yang mengembang.


Siapa yang tidak mengenal sosok Argha, lelaki yang duduk di kursi staf itu memiliki ide ide brilian dan memiliki keberanian untuk melawan orang-orang yang salah. Dan nama Argha sering di perbincangkan oleh para petinggi perusahaan.


"Saya tidak menyangka jika Argha adalah satu-satunya pewaris RMJ."


"Saya bukan satu-satunya pewaris RMJ, karena adik perempuan saya, adik kandung saya... masih hidup." Ucap Argha dengan sopan.


Kenyataan itu tentu membuat semuanya bersorak bahagia. Mereka yang saat ini menjabat sebagai petinggi perusahaan, dulunya adalah orang-orang terpuruk yang ditolong oleh keluarga Mahatama. Jadi kesetiaan mereka pun tidak perlu diragukan lagi.


Acara perkenalan Argha sebagai pewaris RMJ yang berisi bincang-bincang santai itu pun usai begitu saja saat Kakek Ramon mempertanyakan tentang kondisi perusahaan saat ini.


Amir adalah satu nama yang menjadi dalang mafia di perusahaan besar itu dengan dibantu beberapa orang yang cukup berpengaruh di perusahaan.


"Tuan Ramon, saya sudah menyelediki perkara Amir dari jauh-jauh hari sebelum Argha dijebak oleh Amir dengan hilangnya dana 1 Milyar beberapa waktu lalu. Karena kami sudah curiga dengan Amir." Kata Deni, salah satu petinggi perusahaan dan diangguki oleh yang lainnya.


"Amir mengambil uang perusahaan dengan menumbalkan orang-orang berkompeten di perusahaan ini dan menggantinya dengan orang-orang nya sendiri sehingga semakin hari langkahnya semakin mudah dan mulus untuk mengeruk uang perusahaan." Jelas Deni.


"Bagaimana Aris?" Kakek Ramon menatap pada orang kepercayaannya dengan penuh tanya karena Aris tidak pernah membicarakan perihal Amir sedikitpun. Bagiamana bisa Aris ketinggalan informasi seperti ini?


"Biar tuan muda yang menjelaskan pada anda Tuan Ramon." Jawab Aris memberikan waktu pada Argha menjelaskan tentang penyelidikanya selama ini dengan Arsen dan tentu dengan bantuan Aris.


Argha pun menceritakan tentang Amir yang menjebak dan mengancamnya beberapa waktu lalu. Argha tidak hanya sekedar omong kosong, Argha memberikan bukti untuk setiap kalimat yang keluar dari mulutnya.


Kakek Ramon tersenyum penuh kebanggaan melihat cucunya menjalankan tugas dengan sangat baik dan rapi.


"Beni Agustino adalah satu-satunya orang yang berada dibalik Amir dan melindungi Amir." Ucap Argha menatap sang kakek dengan intens.


"Beni Agustino? siapa itu?" Tanya Kakek Ramon mengernyit. Nama itu seakan tidak asing ditelinga kakek tua tersebut.

__ADS_1


"Beni Agustino adalah anak dari wanita bernama Tanti Sulistyowati." Jawab Argha dengan tenang.


"Tan... Tanti?" Gumam kakek Ramon dengan wajah sangat terkejut mendengar nama tersebut.


Namun secepat kilat, kakek Ramon berusaha menetralkan dirinya mengingat disana masih banyak para petinggi perusahaan.


"Apa kakek mengenal Beni atau wanita bernama Tanti tersebut?" Tanya Argha penuh selidik pada sang kakek.


"Tidak!" Jawab kakek Ramon singkat.


Aris yang paham jika tuannya sudah mulai tidak nyaman dengan topik pembahasan mengenai Beni maupun Tanti itu pun mengalihkan pembicaraan mengenai Amir.


Strategi demi strategi pun di susun untuk membuat Amir dalam posisi terjebak dan tidak bisa mengelak lagi hingga Amir nantinya akan menyebutkan nama Beni dalam persidangan.


Lebih dari 3 jam meeting berlangsung hingga jam makan malam pun sudah lewat. Argha yang sedari tadi fokus pada pembahasan meeting tidak menyadari ponsel dalam saku celananya terus menyala karena dalam mode silent.


"Baiklah, pertemuan malam ini kita akhiri disini. Saya harap kalian semua yang ada disini dapat menjaga rahasia ini dengan baik. Rahasia tentang segala rencana kita maupun tentang keberadaan cucu kandung saya." Ucap kakek Ramon.


Setelah saling berjabat tangan, semua undangan meeting itu pun pamit undur diri. termasuk Argha yang ingin segera pulang ke apartemen bertemu dengan sang istri.


"Argha! kakek mau bicara sama kamu." kata Ramon mencegah langkah Argha.


"Aku harus segera kembali ke apartemen kek." jawab Argha. Meski Argha sangat ingin bertanya mengenai siapa Beni dan Tanti, nyatanya Argha memilih menahan pertanyaan itu karena rindunya pada Elmeera jauh lebih besar.


"Kembali ke kediaman utama! Tinggalkan apartemen kumuh itu"


"Jika memang aku harus kembali ke kediaman utama, maka aku juga akan kembali bersama istriku, Elmeera."


Mendengar nama Elmeera membuat tatapan kakek Ramon kian tajam. Argha tahu itu, tapi Argha bersikap bodoh amat.


"Sampai kapan kamu akan bersamanya Argha?"


"Sampai maut memisahkan!" Jawab Argha yang kemudian berlalu begitu saja.

__ADS_1


"Kurang aja wanita itu!" Umpat kakek Ramon setelah Argha menutup pintu meeting dengan rapat.


...BERSAMBUNG ...


__ADS_2