Benih Bayaran

Benih Bayaran
Part 61


__ADS_3

...61. Tidak ingin Kenapa-kenapa...


Dan tepat di depan ruang meeting, Argha mengetuk pintu dahulu sebelum membukanya.


Ceklek.


Deg!


Argha langsung bertemu dengan sepasang mata tajam yang terasa sangat mematikan.


"Tutup pintunya Gha!" Perintah om Aris dan Argha menurutinya.


"Siapa yang mengizinkanmu menikah dengan wanita itu Argha Tahta Mahatama?" Teriak lelaki tua dengan tatapan tajam pada Argha.


Lelaki tua itu seakan ingin menelan Argha hidup-hidup. Sedangkan Om Aris hanya diam menatap sepasang kakek dan cucunya itu.


"Maafkan om yang tidak bisa menutupi hubungan kamu dengan Elmeera Gha." Batin Om Aris.


Argha menghirup udara sebanyak-banyaknya agar paru-paru memiliki pasokan oksigen dan membuatnya lebih tenang.


"Kakek..." Sapa Argha dengan berusaha untuk tetap senyum meskipun otaknya mendadak blank.


Argha tahu ini akan terjadi mengingat cukup banyak anak buah kakek Ramon, tapi Argha tidak menyangka kakek kandungnya yang sudah mendidik dia dengan sangat keras itu kembali ke tanah air secepat ini disaat dirinya belum mempersiapkan diri sama sekali untuk menghadapi kemarahan sang kakek.


"Tenang Gha, jangan perlihatkan kerisauan diri kamu didepan lelaki tua itu." Batin Argha.


"Kakek apa kabar? kapan sampai Indo? kenapa tidak mengabari Argha?" Tanya yang berjalan mendekat ke arah kakek Ramon seolah lupa dengan pertanyaan yang dilontarkan kakek Roman barusan.


"Tidak usah basa basi, siapa yang mengizinkanmu untuk menikahi wanita itu Argha!" Bentak kakek Ramon hingga otot-otot lehernya terlihat mengeras karena menahan emosi.


Sorot amarah terpancar jelas dari mata yang dikelilingi oleh keriput itu.


Argha menghentikan langkahnya yang sudah berjarak cukup dekat dengan kakek Ramon. Argha terdiam membalas tatapan sang kakek dengan teduh.


"Aku sudah dewasa kek, dan aku menyukainya." Jawab Argha dengan tenang.


"Omong kosong macam apa ini Argha!" Lelaki tua itu sama sekali tidak bisa menurunkan intonasi bicaranya membuat Argha takut jika tiba-tiba nanti kakeknya terkena stroke.


"Aku serius kek, aku menyukainya." Argha berkata jujur, memang belum ada cinta untuk Elmeera, tapi Argha sudah mulai menyukai istrinya itu oleh sebab itu Argha bersikukuh untuk bertahan.


Apalagi kalau soal ranjang, sungguh Argha sangat menyukai suara Elmeera ketika menuju kenikmatan dunia.

__ADS_1


Kakek Ramon menatap Argha dengan remeh. Lalu tersenyum sini,


"Kakek tidak mau tahu, ceraikan dia! karena setelah kamu menduduki posisi kamu, kakek akan menjodohkan kamu dengan wanita pilihan kakek!" Tegas kakek Ramon.


"Tidak bisa!" Tolak Argha dengan tegas. Bahkan Argha menaikkan volume bicaranya. Hal itu tentu membuat kakek Ramon semakin murka.


"Apa yang kamu harapkan dari wanita itu Argha! Dia sama sekali tidak pantas mendampingi kamu. Wanita murahan yang selalu berpenampilan minim. Jika kamu tidak menuruti perintah kakek, kakek akan membuat kamu menyesal." Ucap kakek Ramon sama seperti lelaki itu meminta Argha meninggalkan Nila, mantan kekasihnya.


Tangan Argha mengepal mendengar ucapan kakek Roman yang menghina istrinya namun Argha tetap berusaha tenang.


"Aku akan menuruti semua perintah kakek, apapun itu. Karena itu menjadi bakti ku sebagai cucu pada kakek."


Ramon tersenyum mendengar ucapan Argha. Ternyata Argha masih sama, menurut padanya dan tidak sulit membuat Argha mengikuti apapun permintaannya.


"Tapi, aku tidak akan meninggalkan istri ku, apapun yang terjadi karena aku menyukainya dan aku akan berjuang untuk mempertahankan rumah tangga ku sama dia!" Lanjut Argha tanpa ada keraguan sedikitpun.


Rahang kakek Ramon kembali mengeras.


"Kurang ajar!" Umpat kakek Ramon yang langsung berdiri dan memukul Argha dengan tongkatnya hingga berkali-kali.


...**...


Belum lagi perihal ancaman kakek Ramon yang tidak akan tinggal diam mengenai hubungan Argha dan Elmeera.


Dan juga teman-teman divisinya yang heboh dan kepo karena Argha kembali kemeja dengan muka lebam. Teman teman Argha mengira bahwa yang memukul Argha adalah Om Aris dan tentu Argha tidak berani melawan mengingat Aris adalah orang penting di RMJ Group. Argha hanya mengiyakan ucapan teman-temannya itu.


Ceklek


Argha membuka pintu apartemennya, namun kening Argha langsung mengkerut kala indera penciumannya menghirup sesuatu.


Mata Argha langsung terbelalak melihat kepulan asap yang cukup banyak dari arah dapur.


"Astaga.. El..." Pekik Argha yang kemudian berlari ke area dapur dan segera mematikan kompor.


Nafas Argha terengah-engah menatap wajan yang sudah hangus dengan ikan berukuran cukup besar yang hitam tidak berdaya di atasnya. Ditambah cipratan minyak yang kemana-mana bahkan mampu melelehkan sedikit bagian magic com yang tidak jauh dari kompor.


Argha kemudian beralih menatap Elmeera berdiri di sudut dapur dengan wajah ditutup dengan kedua telapak tangannya. Elmeera seperti anak kecil yang sedang ketakutan.


"El... " Panggil Argha. Mendengar suara suaminya, perlahan Elmeera membuka telapak tangannya yang menutup wajah cantiknya.


"Gha.. aku takut.. aku takut sama ikan." cicit Elmeera yang menunduk.

__ADS_1


"Kenapa bisa jadi begini?" Tanya Argha menatap sekeliling dapur yang berantakan seperti kapal pecah.


"Ma... maaf .." Cicit Elmeera yang menunduk sambil meremass remass jemari tangannya sendiri. Elmeera tidak berani menatap wajah suaminya karena Elmeera yakin, Argha akan marah.


"Kamu sedang apa? kenapa sampai kondisi dapur seperti ini? bagaimana kalau apartemen ini terbakar?" Tanya Argha dengan nada tegas.


Elmeera menelan salivanya.


"Ma.. maaf... a.. aku hanya berniat untuk belajar masak biar bisa masakin kamu. A.. aku gak berniat menghancurkan apartemen kamu, a.. aku janji akan ganti rugi." Elmeera pikir Argha marah karena apartemennya berantakan juga wajannya gosong.


"A.. aku tadi udah liat tutorial goreng ikan gurame, tapi nggak tau kenapa saat aku masukin ke minyak panas, langsung meledak-ledak dan aku gak berani mendekat kompor hingga akhirnya gosong. Maafkan aku Gha.. "


Argha pun mendekati Elmeera kemudian menyentuh kedua pundak Elmeera namun Elmeera belum memiliki keberanian menatap wajah tampan Argha.


"Aku gak peduli dengan apartemen ini El, aku hanya khawatir sama kamu..."


Deg! Ucapan Argha yang begitu lembut nyatanya mampu menebar ribuan bunga-bunga di hati Elmeera.


"Aku gak mau kamu sampai kenapa-kenapa El." Lanjut Argha sembari mengusap wajah cantik Elmeera.


"Aku gak akan menuntut kamu untuk bisa masak dan sebagainya... jangan membahayakan diri kamu sendiri. Kalau aku gak segera datang, apa yang akan terjadi? ha?"


Elmeera memberanikan dirinya untuk menatap Argha.


Eh...


"Wajah kamu kenapa Gha? kamu berkelahi? siapa yang berani pukulin kamu sampai begini?" Tanya Elmeera dengan cemas saat baru menyadari bahwa terdapat beberapa luka lebam di wajah tampan Argha.


"Aku gak apa-apa. Kamu tadi sebenarnya mau masak apa? Kenapa sampai gosong seperti itu?" Tanya Argha yang memang mengalihkan pembicaraan. Argha belum ingin Elmeera tahu tentang jati dirinya juga tentang lelaki tua yang selalu mengatur hidupnya itu.


Elmeera sadar, mungkin saat ini Argha belum siap bercerita mengenai hal yang menimpa Argha hingga Argha babak belur. Elmeera tidak masalah, dan memaklumi hal tersebut.


"Kamu kenapa? aku gak suka ya kamu mengalihkan pembicaraan seperti ini..." Omel Elmeera yang langsung menarik Argha untuk pergi dari area dapur.


"Mau kemana El?"


"Aku obati luka kamu, memangnya kamu doang yang gak pengen aku kenapa-kenapa, aku juga sama Gha! Aku gak mau kamu kenapa-kenapa!" Tegas Elmeera. Argha pun tersenyum sambil menatap tangannya yang digenggam oleh Elmeera sembari terus berjalan mengikuti kemana sang istri melangkah.


"Nggak salah aku mempertahankan kamu El.." batin Argha.


...BERSAMBUNG ...

__ADS_1


__ADS_2