
...58. Cuek...
"Kamu ingin segera hamil kan El?" Elmeera mengangguk tanpa ragu.
"Oke, kalau kamu memang ingin segera hamil. Maka aku mau perjanjiannya kita ubah!"
"Ubah gimana sih Gha!"
"Kasih aku kesempatan buat membuktikan bahwa tidak semua lelaki itu seperti orang di masa lalu kamu. Aku, Argha Tahta Mahatama berbanding terbalik dengan Papa kamu."
"Gha..."
"Jika kamu tidak setuju, tidak masalah... aku tidak akan menyentuh kamu... dan aku akan membuang benih kualitas Premium ku ke dalam closet saja!"
"Argha!"
Argha tidak bergeming meskipun Elmeera menatapnya dengan tajam.
Sedangkan Elmeera masih tidak percaya mendengar ancaman yang baru saja keluar dari mulut Argha.
Bagaimana bisa benih yang Elmeera beli dengan harga 1 Milyar dari uang tabungannya itu ingin Argha buang begitu saja di toilet?
Toilet loh... toilet...
Elmeera merasa harga dirinya seakan diinjak-injak oleh Argha. Karena lebih mendingan toilet dari pada rahimnya. Ah padahal Elmeera sudah membayangkan anak yang lucu hasil bercocok tanamnya dengan Argha.
"Kamu gak mau menyentuh aku jika aku tetap ingin berpisah nantinya?" Argha mengangguk dengan yakin.
"Oke., kita lihat nanti siapa yang akan menyerah duluan..." Ucap Elmeera dengan entengnya.
"Maksud kamu?" Tanya Argha menatap Elmeera penuh tanya.
"Kita lihat saja nanti, kamu yang meminta aku duluan apa aku yang meminta duluan sama kamu. Kalau kamu meminta untuk berhubungan duluan sama aku, berarti perjanjian kita tetap seperti sebelumnya." Ujar Elmeera mencoba bersikap santai dengan senyum tipis di bibirnya. Sepertinya sebuah rencana sudah tersusun dibenak wanita keras kepala itu.
"Jadi kamu tetap dengan keputusan kamu yang menginginkan perpisahan setelah anak kita lahir?" Tanya Argha.
Di dalam hatinya, Argha sangat berharap bahwa Elmeera menjawab 'tidak' namun Argha sadar bahwa memang tidak mudah mengubah keputusan sang istri.
"Iya. Aku tetap ingin kita berpisah." Jawab Elmeera sambil memalingkan wajahnya enggan menatap sang suami. Entah mengapa mendadak ada rasa tidak nyaman menghampiri hati Elmeera.
Mendengar jawaban yang tidak sesuai dengan keinginannya, membuat Argha kecewa. Tanpa sepatah kata pun, Argha langsung beranjak dari ranjang kemudian meninggalkan kamarnya dengan membanting pintu.
Suara pintu yang cukup keras itu membuat Elmeera terperanjat. Elmeera pikir Argha akan mengajaknya kembali berdebat karena mempertahankan ego masing-masing, tapi ternyata Elmeera salah.
__ADS_1
...**...
Pagi telah datang.
Elmeera mulai mengerjap-ngerjapkan matanya sambil menggeliat. Elmeera mencoba mengedarkan pandangannya guna mencari tahu keberadaan sang suami. Namun nihil.
Helaan nafas Elmeera pun terdengar mengingat semalam Argha tidak kembali ke kamarnya. Semalam Elmeera sebenarnya ingin menyusul Argha yang nonton TV di luar kamar, namun gengsi menahan Elmeera hingga Elmeera yang menunggu Argha kelelahan sendiri dan ketiduran.
"Dia sepertinya benar-benar marah." Gumam Elmeera pelan dengan perasaan yang tidak menentu.
Namun sebisa mungkin Elmeera segera menetralkan hatinya agar moodnya tetap terjaga dengan baik sepanjang hari ini. Karena jika pagi-pagi sudah badmood maka sepanjang hari bawaannya ingin terbawa emosi terus menerus.
Elmeera segera beranjak dari ranjangnya untuk membersihkan diri. Setelah membersihkan dirinya, Elmeera mencari Argha dan hendak mengajak Argha berbicara empat mata dengan kepala dingin mengenai perdebatannya semalam.
Namun sayang, Argha tidak nampak batang hidungnya pagi ini. Akhirnya Elmeera benar-benar kesal karena Argha pergi terlalu pagi sebelum dirinya bangun dan nomor ponsel Argha tidak bisa dihubungi.
...**...
Tepat pukul 5 sore, Elmeera sudah kembali ke apartemen dengan wajah yang lelah. Seharian ini konsentrasinya sudah sangat terganggu karena ponsel Argha yang tidak bisa dihubungi sama sekali.
Dan saat memasuki kamar di apartemennya, batang hidung Argha juga belum nampak juga.
"Apa gue sudah keterlaluan sama dia sehingga dia benar-benar marah sama gue?" Gumam Elmeera pelan dan merasa bersalah atas sikap keras kepalanya.
"Argha..." Benar saja.. saat Elmeera keluar dari kamar mandi, Argha sudah duduk di sofa panjang sambil menonton TV dengan kemeja kerja dan celana bahan yang masih lengkap.
"Pesanan makanan kamu sudah datang." Kata Argha dengan nada dingin.
"Kita makan bareng yuk." Ajak Elmeera sembari tersenyum.
"Aku udah makan." Jawab Argha beranjak dari duduknya kemudian memasuki kamarnya dengan Elmeera.
"Gha..." Panggil Elmeera lirih menatap punggung Argha yang menghilang dibalik pintu untuk gantian membersihkan diri.
...***...
Sudah genap sepekan Argha begitu dingin dengan Elmeera. Argha sepertinya serius dengan ancamannya yang tidak akan menyentuh istrinya jika istrinya masih bersikeras akan berpisah.
Terbukti, jangan kan menyentuh.. berciuman ataupun memberi kecupan saja tidak pernah selama sepekan ini. Argha dan Elmeera bagaikan orang asing yang tinggal di atap yang sama.
Parahnya lagi, selama sepekan ini Argha selalu pulang larut malam dan tidur di sofa ruang televisi sekaligus ruang tamu tersebut. Dan Argha akan pergi dari apartemen sepagi mungkin.
Menghadapi hal seperti ini, tentu Elmeera dibuat kelimpungan. Impiannya untuk segera hamil tidak akan terwujud jika Argha terus seperti ini. Padahal Mama Sarah hampir setiap hari sudah menanyakan apakah putrinya itu sudah hamil atau belum. Jika belum, mama Sarah ingin mengajak Elmeera ke dokter untuk program dan konsultasi.
__ADS_1
"Argha masih dingin sama elu?" Tanya Ziraya.
"Hmm.. kok elu tahu?" Tanya Elmeera sambil menatap berkas berkas dihadapannya.
"Kelihatan dari muka elu..." Kata Ziraya yang berhasil membuat Elmeera mengernyit.
"Kurang belaian." Lanjut Ziraya.
"Sialan elu!" Umpat Elmeera.
"El, gue punya ide buat membuat suami elu kembali bersikap hangat lagi..."
"Gimana?" Tanya Elmeera yang mendadak menjadi antusias.
"Sini gue bisikin."
...**...
Sementara di tempat lain, Argha menceritakan masalah rumah tangganya pada sang sahabat, Arsen.
Sebelum subuh, Argha memang sudah meninggalkan apartemennya untuk menuju kontrakan lamanya yang masih di huni oleh Arsen dan Dio. Setelah pulang kantor, Argha pun istirahat dulu di kontrakan sebelum kembali ke apartemen.
Dan sudah sepekan ini Argha memutuskan untuk off dulu meramaikan panggung di Planet Cafe sebab Argha lebih memilih fokus dulu pada masalah keuangan perusahaan RMJ Group demi mencari barang bukti para mafia perusahaan.
Sedangkan jika Argha kembali ke apartemen dalam keadaan lelah dan penat lalu melihat Elmeera yang masih saja keras kepala dan mengajaknya bicara yang berujung perdebatan, membuat kesabaran Argha teruji. Argha tidak ingin ikut terbawa emosi dan akhirnya berujung saling menyakiti.
"Gue bingung harus menghadapi Elmeera dengan cara apalagi... gue bersikap manis sama dia, nyatanya tidak membuat dia luluh, gue ancam dia... dia gak ada takut-takutnya." Ujar Argha dengan wajah kusutnya.
"Kenapa elu ingin mempertahankan pernikahan elu sama Elmeera? elu udah cinta sama dia?" Tanya Arsen menatap sahabatnya dengan penuh curiga.
"Gue belum cinta sama Elmeera, elu tahu kan perasaan gue buat siapa Sen? Hanya saja, gue terbanyang-bayang sama mimpi gue tentang papa dan mama. Padahal awalnya gue gak ada niat sama sekali serius sama Elmeera, elu juga tahu kan Sen... gue nikahin Elmeera karena Gista dan demi Gista." Ujar Argha.
"Emang bisa hubungan bertahan lama tanpa cinta?" Arsen seakan mendekte sahabatnya karena ingin tahu bagaimana perasaan sahabatnya sebenarnya.
"Bukankah cinta akan datang dengan sendirinya? Kalau peribahasa Jawa, witing tresno jalaran soko kulino."
"Berarti intinya elu harus sabar aja... Terus masalahnya dimana lagi?"
"Cuma kesabaran gue bener-bener teruji sama Elmeera Sen, dia tetap kekeh ingin cerai setelah melahirkan loh."
"Apa gue mending pisah aja sama dia sekarang ya sebelum gue punya anak dari dia?" Ucap Argha.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1
maaf ya lama gak update, selain mudik dan fokus sama keluar saat lebaran,