Benih Bayaran

Benih Bayaran
Part 74


__ADS_3

...74. Si Tua Menyebalkan...


Sebelumnya saat masih menyantap sarapannya dengan Elmeera, Argha mendapatkan pesan dari Arsen yang meminta Argha agar segera ke kantor karena di kantor ada kejadian yang menghebohkan semua orang.


Argha yang sebenarnya masih menikmati waktu paginya dengan Elmeera sambil berbincang, terpaksa harus segera ke kantor karena Arsen tidak menjelaskan tentang kejadian apa yang terjadi disana.


Saat ini waktu masih cukup pagi karena jam kerja di mulia pukul 8. Namun tidak sedikit karyawan RMJ Group,yang datang lebih awal untuk menyelesaikan pekerjaannya. Selain karena deadline mereka juga mendapatkan uang tambahan yang masuk dalam hitungan lembur.


Argha pun mengendarai motornya dengan tenang meskipun rasa penasaran benar-benar menghantui dirinya tentang apa yang sebenarnya terjadi di kantor. Saat Argha berhenti sejenak untuk mengisi bahan bakar motornya, dilihatnya ponsel yang ada di saku celananya. Ponsel yang Argha pasang mode senyap itu ternyata tertera banyak sekali panggilan tidak terjawab dari Arsen maupun teman-teman satu divisi-nya.


Bahkan chat group kantor pagi-pagi sudah hampir 1000 chat tertera. Argha yang ingin membuka chat dalam ponselnya itu harus mengurungkan niatnya karena sudah masuk gilirannya mengisi bahan bakar motor Vespa putih kesayangannya. Selanjutnya, Argha kembali melajukan kendaraannya menuju RMJ Group.


Pertama memasuki area gedung pencakar langit yang di dirikan oleh sang Kakek dan dibesarkan oleh almarhum Papanya, Argha sudah merasakan firasat aneh. Sebab, semua orang nampak menatapnya dengan canggung dan kemudian menunduk.


"Ada apa dengan mereka? nggak biasanya seperti ini?" Gumam Argha.


Nama Argha Tama jelas dikenal oleh semua orang yang ada di RMJ Group. Selain Argha di gadang-gadang menjadi karyawan tertampan disana, Argha juga orang yang ramah dan mudah bergaul. Bahkan Argha selalu nampak akrab ngobrol dengan scurity maupun office boy.


Argha berusaha biasa aja dan tidak menanggapi tahapan para karyawan RMJ Group lainnya. Namun Argha nampak heran, kenapa belum juga jam 07.30, RMJ sudah se-ramai ini. Kenapa karyawan disini mendadak semuanya menjadi rajin?


"Selamat pagi tuan Argha." Sapa seorang OB bernama Rizal dengan ramah.


"Sejak kapan kamu memanggil aku Tuan Zal?"


OB itu hanya tersenyum dengan ragu kemudian pamit dengan sopan untuk melakukan pekerjaannya. Padahal biasanya OB bernama Rizal itu saat ngobrol sudah seperti temannya sendiri dengan Argha.


"Kenapa semua orang jadi aneh semua?" Argha masih berdiri ditempatnya saat ini.


"Akhirnya elu datang juga." Ucap seseorang yang tiba-tiba menepuk pundak Argha dari belakang membuat Argha membuyarkan lamunannya.


"Ada apa sih?" Tanya Argha.


"Kakek elu, tadi habis subuh menyuruh Papa gue buat mengabari seluruh karyawan jika hari ini masuk kantor jam 06.30 dan yang datang tepat waktu akan mendapatkan bonus 1juta/orang." Kata Arsen.


(1 juta per banyak karyawan jatuhnya banyak ya gaes... kalau aku bilang 100juta/karyawan rasanya gak masuk akal meskipun disini kakek Ramon tajir melintir. Tapi se tajir-tajirnya orang bisnis, tetap gak mau rugi dong.)


"Ha? buat apa?" Tanya Argha.

__ADS_1


"Kakek Ramon tadi mengumumkan penerus RMJ Group yang merupakan cucu lelakinya, Argha Tahta Mahatama yang tidak lain adalah elu."


"Apa?" Pekik Argha. Pantas saja semua orang nampak canggung padanya.


"Kenapa bisa?" Tanya Argha.


"Nggak tahu, elu ditunggu kakek di ruangannya." Jawab Arsen.


Tanpa mempedulikan Arsen dan orang-orang lainnya yang ada disana, Argha langsung berlari menuju lift yang bisa membawanya di ruangan sang kakek saat ini. Lantai 23.


Banyak pertanyaan di benak Argha saat ini, mengapa sang kakek tiba-tiba mengumumkan statusnya sebagai pewaris keluarga Mahatama disaat orang-orang yang ingin menghancurkan dan menghabisi keluarganya masih berkeliaran bebas? Bukan kah ini terlalu terburu-buru?


Brak!


Pintu ruangan Kakek Ramon pun Argha buka dengan kasar tanpa adanya ketukan pintu lebih dulu. Disana, kakek Ramon nampak duduk dengan tenang di sofa ditemani dengan Om Aris, juga Om Agung yang merupakan asisten kakek untuk urusan kantor.


"Apa maksud kakek?" Tanya Argha sebelum sang kakek mengeluarkan suaranya.


"Tidak punya sopan santun! apa begitu hasil didikan kamu Aris?" Tanya Kakek Ramon menatap orang kepercayaannya karena Aris lah orang yang mendidik Argha bersamaan dengan Arsen setelah kecelakaan naas itu terjadi.


"Maafkan saya tuan." Hanya kalimat itu yang mampu keluar dari bibir om Aris.


"Apa maksud kamu?" Kakek Ramon mulai meninggikan suaranya. Dia tidak terima Argha beranggapan seperti itu.


"Harusnya aku yang bertanya sama kakek? apa maksud kakek mengumumkan semua ini sekarang? Ha?" Tanya Argha dengan tangan yang mengepal.


"Tuan muda, anda silahkan duduk dulu." saran Om Agung dengan sopan. Namun Argha tidak peduli. Lelaki muda itu masih setia berdiri di samping sang kakek.


"Memangnya kenapa?" kakek Ramon menatap sinis pada cucunya.


"Apa kakek sudah gila? ha? bagaimana bisa kakek mengumumkan keberadaan aku disaat Amir dan antek-anteknya saja masih berkeliaran. Belum lagi si Beni itu ha? Bagaimana kalau ada yang nekat mau mencelakai Gista Kek?" Tanya Argha.


Pagi tadi saat baru bangun tidur, Argha sudah membaca laporan dari Om Aris mengenai perkembangan penyelidikan yang dilakukan lelaki paruh baya itu berserta anak buahnya. Om Aris juga memberitahu pada Argha tentang latarbelakang Beni.


Awalnya Argha tidak percaya jika dulu kakeknya pernah menikahi wanita lain selain neneknya mengingat betapa sang kakek sangat mencintai neneknya. Namun karena alasan sebuah jebakan dari seorang wanita bernama Tanti, maka semuanya masuk akal menurut Argha.


Argh berpikir, mungkin si Beni mengira bahwa dia adalah darah daging dari kakek Ramon, sehingga dia ingin merebut harta kakek Ramon atau balas dendam karena kakek Ramon dianggap sudah menelantarkan dirinya dan ibunya yang bernama Tanti tersebut.

__ADS_1


"Kamu tenang saja Argha, kita nikmati saja permainan ini... kakek yakin pasti pagi ini Amir dibuat kalang kabut karena mengetahui siapa kamu sebenarnya. Argha Tama, karyawan yang pernah dia jebak." Jelas kakek Ramon sambil tertawa membayangkan bagaimana ekspresi Amir pagi ini dan bagaiman Beni setelan mengetahui anak dari Firman masih hidup.


"Apa kakek tidak berpikir bagaimana keselamatan Gista? aku gak mau kejadian naas belasan tahun lalu terulang kembali kek!" Ucap Argha mengingat hasil penyelidikan om Aris, besar kemungkinan kecelakaan yang menewaskan kedua orang tua Argha adalah disengaja dengan Beni sebagai dalangnya.. Namun bukti yang dikumpulkan oleh om Aris belum begitu kuat untuk menjerat Beni.


"Kamu tenang saja Argha, sampai detik ini kakek tidak pernah menyebut sedikitpun nama adik perempuan kamu. Apalagi menyinggung dia karena kakek tidak ingin terjadi apa-apa sama cucu perempuan kakek itu." Ucap kakek Ramon.


"Kakek juga tidak ingin kecolongan lagi. Kakek sudah menaruh beberapa orang untuk selalu menjaga Gista juga menjaga kamu dari jauh..." Lanjut kakek Ramon.


Argha terdiam nampak mencerna ucapan sang kakek dengan segala kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi.


"Palingan yang diincar si Beni adalah wanita angkuh itu... kan pagi ini media udah gempar dengan sosok penerus RMJ Group juga foto pernikahan kamu dengan wanita angkuh itu." Ucap kakek Ramon dengan santai.


"Apa?" Pekik Argha.


"Kalau dia sampai macam-macam dengan wanita angkuh itu, justru sangat bagus karena kita bisa langsung menangkap si Beni tanpa repot-repot mencari bukti lagi."


"Kakek benar-benar keterlaluan, jika sampai terjadi apa-apa sama istri aku... aku bersumpah... aku tidak akan memaafkan kakek!" Kata Argha dengan penuh emosi kemudian berlari keluar meninggalkan ruangan sang kakek begitu saja.


Tidak lupa Argha juga membanting pintu tersebut. Untung pintu itu adalah pintu mahal dengan kualitas terjamin, kalau tidak sudah copot dari tempatnya sejak tadi gara-gara ulah Argha.


Pikiran Argha benar-benar sangat kalut saat ini memikirkan keselamatan Elmeera karena berdasarkan informasi Om Aris, Beni adalah termasuk orang yang nekad dan berbahaya. Beni pasti merasa dipermainkan selama ini karena menanggap cucu kakek Ramon sudah tiada sehingga tidak ada lagi penerus RMJ Group.


Dan Kakek Ramon sudah benar-benar keterlaluan karena berniat menjadikan Elmeera sebagai tumbal untuk menangkap Beni. Argha tidak peduli dengan berita yang beredar di media saat ini, karena keselamatan Elmeera adalah paling utama untuknya.


Setelah keluar dari ruangan sang kakek, Argha pun langsung merogoh ponselnya untuk menghubungi Elmeera. Namun baru juga Argha hendak memencet icon telfon, sebuah panggilan masuk dari sang istri,


"Hallo sayang, kamu dimana?" Tanya Argha dengan deru nafas naik turun.


"Hallo.. apa ini benar dengan suami pemilik ponsel ini?" Tanya seseorang di seberang sana yang Argha yakini bukan Elmeera. Karena suara perempuan itu terdengar begitu lirih.


"Iya. Dimana istri saya?" Perasaan Argha kian tidak enak saja setelah tahu ponsel Elmeera di tangan orang lain.


"Istri anda sedang di dalam perjalanan ke rumah sakit Bramantya. Mohon anda segera menyusul." Ucap wanita asing itu membuat Argha mematung seketika.


"Elmeera..."


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


beberapa hari ke depan, sepertinya aku akan sibuk dengan pekerjaan di dunia nyata. InshaAllah akan aku sempat sempatin buat update..


mohon bersabar ya.. makasih 💙


__ADS_2