
...51. Mengganjal di Hati...
"Bagaimana hasil penyelidikan om Aries Sen?" tanya Argha pada Arsen. Saat ini Argha dan Arsen sedang berada di Planet Cafe setelah pulang kantor.
"Saat kecelakaan itu terjadi, si botak Amir itu sedang liburan ke luar negeri bersama keluarganya jadi tidak ada yang mencurigai dirinya selama ini." Jawab Arsen mengingat apa yang disampaikan papanya semalam.
"Lalu Pak Indra?"
"Dulu, banyak yang mencurigai Pak Indra, tapi jika dilihat dari latar belakang Pak Indra beserta keluarganya yang taat beragama dan sangat dekat dengan almarhum papa kamu, rasanya sangat mustahil. Tidak ada pergerakan yang mencurigakan selama ini." Jelas Arsen.
"Kita tidak bisa mempercayai siapa-siapa Sen meskipun itu teman dekat sendiri." Ucap Argha sambil memutar-mutar bolpoinnya sambil berpikir.
"Termasuk gue? elu gak percaya sama gue karena gue temen deket elu?"
"Lah kok jadi elu dah?" Argha nampak bingung menatap wajah sahabatnya.
"Kata elu tadi kan gak bisa percaya siapa-siapa meskipun itu teman dekat sekalipun."
"Gak begitu juga konsepnya Bambang!" Kesal Argha dan dijawab tawa oleh Arsen.
"Gue pengen ini semua segera terungkap. Gila aja tiap tahunnya duit perusahaan ilang milyaran begitu saja setelah papa meninggal dan kakek sakit-sakitan." Kata Argha.
"Kalau gak RMJ Group, itu perusahaan udah bangkrut! Pokoknya kemungkinan besar tersangka utama dibalik semua ini adalah diantara dua orang itu, Amir dan Indra. Karena mereka adalah dua kandidat terkuat yang dipercaya dewan direksi untuk memimpin RMJ Group setelah diketahui bahwa tidak ada penerus RMJ Group."
"Entah kenapa, feeling gue kenapa begitu kuat pada Amir setelah dia berusaha menekan gue untuk menjatuhkan Indra. Sedangkan Indra, dia terlihat begitu tenang tanpa ada ambisi untuk menguasai perusahaan." Kata Argha lagi.
"Elu rekam semua ucapan Amir saat mengancam elu dan mengajak elu kerja sama kan?" Tanya Arsen dan diangguki oleh Argha.
"Sepertinya ini tidak akan lama lagi terungkap. Kalau ini terungkap, apa yang akan elu lakuin, dan bagaimana bini elu saat dia tahu elu dan Gista sebenarnya pewaris RMJ Group? Bukan staf biasa yang dia bayar ****** elu seharga cuma 1 M?" Arsen tertawa membayangkan apa yang akan Elmeera lakukan saat hari itu tiba.
"Gue juga gak sabar hari itu tiba, kira-kira dia bakalan marah, ngambek, ngomel, apa seneng punya suami tajir melintir?" Gumam Argha.
"Yang jelas, dengan kekuasaan elu itu... elu bisa menahan dia buat terus jadi istri elu." Saran Arsen.
"Gue gak mau melakukan itu, gue mau dia bertahan sama gue karena gue yang sekarang, bukan yang nanti. Makanya gue sebenernya sedikit bingung dengan langkah yang gue ambil, apa semuanya itu tepat? Sedangkan Elmeera, egonya masih sangat gede..."
"Di satu sisi elu pengen dia bertahan karena status elu saat ini, disisi lain.. elu pengen dia nggak hamil dulu dengan berbagai alasan. Gimana sih?"
"Jujur, setelah masalah itu selesai... gue pengen segera mengumumkan pernikahan gue sama Elmeera. Gue gak ingin ada fitnah jika nanti Elmeera tiba-tiba hamil. Pasti orang mengira dia hamil di luar nikah."
"Gimana mau hamil jika bini elu, elu kasih pil KB mulu..." Ucap Arsen sambil mencebikkan bibirnya.
__ADS_1
"Gue melakukan itu karena banyak pertimbangan Sen, gue juga sebenarnya merasa bersalah dan berdosa sama Elmeera, gue mau ambil pil itu lagi aja setelah semuanya jelas nanti... kemarin dia menstruasi gak jadi hamil aja nangis kejer. Gue bener-bener gak tega lihat dia nangis dan sedih, Tapi mau bagaimana lagi? situasi dan kondisi belum memungkinkan untuk dia hamil dalam waktu dekat terlebih nanti kalau kakek tahu, bagaimana?." Cerita Argha pada sahabatnya.
"Jangan bilang elu udah jatuh cinta sama Elmeera?" Arsen tersenyum untuk menggoda sahabatnya.
"Kagak. Gue belum merasakan getaran cinta pada Elmeera. Semua yang gue lakukan hanyalah asas peduli dan tanggung jawab seorang suami pada istrinya. Tidak lebih. Gue sedang berusaha menyayangi Elmeera buat Gista."
"Yakin elu belum tertarik gitu sama Elmeera?" Arsen sepertinya masih sangat penasaran.
"Sedikit...., mungkin. Dan itu cuma karena rasa nyaman doang! gak lebih!"
"Cih! kagak mau ngaku!"
...***...
Sementara di KirAn.com,
Elmeera nampak uring-uringan dan badmood, semenjak selesai makan siang tadi kerjaan Elmeera hanya marah, marah dan marah terus hingga membuat semua karyawannya heran.
Elmeera memang terkenal tegas dan irit bicara, namun Elmeera tidak akan marah jika karyawannya tidak membuat kesalahan fatal. Tapi hari ini terasa sedikit berbeda.
"Elu kenapa sih?" Tanya Ziraya saat memasuki ruang kerja atasannya.
"Elu kenapa marah-marah terus, kenapa kesalahan sepele si Nita tadi jadi elu gede-gedein. Elu marahin Nita di depan staf karyawan lain lagi. Gue tahu elu lagi datang bulan, tapi biasanya gak gini?" Ujar Ziraya sambil geleng-geleng kepala.
"Entahlah, pusing kepala gue!" Jawab Elmeera menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kerjanya kemudian memejamkan matanya.
"Kenapa? cerita?"
"Gue bingung sama sikap Argha Zi..." Keluh Elmeera.
"Bingung kenapa sih? dia galak sama elu?" Elmeera menggeleng.
"Dia semena-mena?" Elmeera menggeleng lagi.
"Lah terus?"
"Dari semalam dia itu bersikap manis banget, tidur aja peluk gue terus... pagi-pagi apalagi, dia buatin sarapan terus panggil gue sayang.."
"Lalu masalahnya dimana?" Tanya Ziraya dengan hati yang bahagia mendengar bagaimana sikap Argha pada Elmeera. Ziraya yakin tidak lama lagi Elmeera akan luluh dan jatuh cinta pada Argha.
"Sikapnya manis, tapi seharian penuh dia gak kirim pesan ke gue sama sekali! Sekedar tanyain gue makan apa... atau basa basi lainnya aja kagak! Apa sesibuk itu dia?" Tanya Elmeera dengan sorot mata sendu.
__ADS_1
Ziraya mengernyit, sejak kapan sahabatnya itu butuh perhatian dari orang lain? ingin rasanya Ziraya meledek sahabatnya namun sebisa mungkin Ziraya menahan bibirnya agar tidak nerocos sembarangan kemudian menertawakan sahabatnya.
"Dia sedang sibuk kali El... jangan berpikiran negatif... " Ziraya memilih untuk menenangkan sahabatnya saja.
"Tapi masak hanya sekedar kirim pesan doang gak bisa." Ucap Elmeera.
"Bukannya selama ini kalian kirim pesan cuma karena ada hal penting doang? selebihnya gak pernah. Coba deh elu yang mulai buat memberikan perhatian pada...."
"Ogah! entar dia keGRan kalau gue tanya-tanya dia duluan.." Potong Elmeera pada ucapan Ziraya.
"Ini nih... ini... Ego dan gengsi yang membuat rumah tangga gampang retak. Bukan pelakor doang! tapi sikap kalian nih... Turunin gengsi elu El, bukannya di rumah Argha sangat perhatian dan pengertian sama elu? apa salahnya elu membalasnya dengan mengirimkan pesan lebih dulu berupa perhatian-perhatian kecil. Kalau elu gini terus, gue yakin... belum elu hamil... elu udah jadi jendesss." Omel Ziraya.
"Eh elu kok ngomongnya gitu sih! Gue bakal jadi jendes kalau gue udah punya anak!"
"Sekarang terserah elu deh El, capek gue nasehatin elu... yang penting satu... kalau ada cewek yang perhatian sama si Argha. Elu gak boleh cemburu ataupun nangis kejer!" Ziraya memperingatkan sahabatnya yang keras kepala itu.
"Cih! kagak bakal gue cemburu.. orang gue gak cinta... cuma gue merasa jika suami itu harus bertanggungjawab aja sama istrinya, termasuk memberikan perhatian."
"Serah deh! ayo cabut... jam pulang kantor udah kelar dari tadi." Ajak Ziraya.
"Eh Zi... bentar."
"Apaan?"
"Sebenarnya selama ini ada yang ganjel mengganjal di hati gue deh."
"Apa?"
"Hubungan Argha dan Gista."
...BERSAMBUNG...
.
.
.
.
TERIMA KASIH DUKUNGAN KALIAN SEMUA....
__ADS_1