
...72. Siapa Beni?...
Elmeera sudah berani mengusik tidur nyenyak nya disaat tubuhnya benar-benar ingin diistirahatkan. Hal itu tentu membuat Argha berniat untuk mengerjai balik istrinya dengan tidak akan melepaskan istrinya begitu saja dibawah kendalinya sampai Elmeera sendiri memohon ampun dari kegiatan penuh peluh tapi menyenangkan tersebut.
Rasa kantuk dan lelah Argha seketika menghilang melihat bagaimana agresifnya sang istri yang menari indah diatas tubuhnya.
Beberapa kali Argha memejamkan matanya menikmati sentuhan demi sentuhan hangat sang istri yang diiringi dengan suara lembut nan menggugah gairah.
Elmeera benar-benar menggunakan naluri dan instingnya sebagai seorang perempuan untuk memuaskan lelaki yang memang sudah halal baginya. Dan Argha tentu sangat senang dan bahagia dengan kegiatan yang membuatnya candu ini.
Namun, siapa sangka...
Niat Argha untuk membuat Elmeera merintih memohon ampun nyatanya tidak terjadi sebab Elmeera seperti tidak ada kata lelah untuk terus menari di atas tubuh Argha.
Argha tentu sangat heran dengan apa yang terjadi pada sang istri. Selain agresif, tenaga Elmeera seperti tidak ada habisnya untuk memuaskan dirinya bahkan sampai Argha sendiri sudah merasa sangat kelelahan.
"Arghhhhh..." Erangan panjang dari keduanya pun keluar menandakan bahwa mereka sama-sama mencapai puncak kenikmatan dunia.
Argha menarik Elmeera dalam pelukannya agar bisa kembali terlelap bersama dalam hangatnya sebuah rengkuhan.
"Sayang .. sekali lagi..." Pinta Elmeera sambil menggigit bibir bagian bawahnya secara sensual.
"Ha?"
"Sekali lagi ya... tapi gantian kamu yang diatas."
"Aku capek El..." Jawab Argha merapikan anak rambut Elmeera.
Mendapat penolakan dari Argha, Elmeera langsung memasang wajah cemberut dan sorot mata sendu. Sungguh, jika Elmeera sudah begini.. rasanya Argha tidak tega menolak permintaan sang istri. Namun bagaimana lagi, Argha benar-benar sudah lelah dan mengantuk.
"Besok pagi lagi ya... kita istirahat dulu..."
"Tapi..."
__ADS_1
"Gimana nanti dedeknya mau jadi kalau aku gempur terus?" Tanya Argha yang mendadak mendapatkan ide cemerlang untuk menunda perang ranjang dengan Elmeera.
Sejujurnya Argha juga ingin lagi, tapi fisiknya benar-benar sudah kelelahan karena akhir-akhir ini dia terforsir oleh pekerjaan kantor.
"Kalau kamu gak mau lagi... yaudah! puasa seminggu!" Ancam Elmeera yang langsung membalikkan badannya membelakangi Argha.
Elmeera berharap Argha akan merayunya dan mengajaknya untuk terbang menuju nirwana lagi. Namun Elmeera salah, sebab Argha justru memilih memeluknya dari belakang dan memejamkan matanya.
"Selamat tidur istriku sayang..." Gumam Argha mengecup kepala Elmeera.
Elmeera yang sebenarnya juga kelelahan akhirnya ikut terlelap juga dengan perasaan sedikit kesal.
...**...
Argha tersenyum kala matanya terbuka untuk pertama kali dan yang dilihat adalah wajah polos Elmeera yang tanpa make up.
Cantik... Elmeera benar-benar cantik. Bahkan wajahnya yang sedang terlelap seperti ini tidak nampak sedikitpun keangkuhan dan kejudesan yang biasa Elmeera tampilkan di muka umum.
Dalam hatinya, Argha merasa bersyukur sekali bisa menikahi Elmeera. Wanita yang bukan hanya cantik tapi hati Elmeera sebenarnya sangat lembut dan sangat tulus. Hanya saja karena kisah kelam masa kecilnya hingga dewasa, Elmeera menjadikan dirinya sebagai wanita angkuh dan sombong serta keras kepala seperti ini.
"Sepertinya aku sudah mulai jatuh cinta sama kamu El." Gumam Argha lirih kemudian mengecup bibir Elmeera sekilas.
Argha masih ragu akan perasaannya, dia tidak ingin mengungkapkan perasaannya pada Elmeera sebelum dia sendiri benar-benar yakin sudah melupakan sang mantan kekasih.
...***...
Sementara di tempat lain, kakek Ramon mengepalkan tangannya dengan rahang mengeras. Nafas lelaki tua itu naik turun setelah mendapatkan informasi dari orang kepercayaannya yang tidak lain adalah Aris.
"Bagaimana bisa info seperti ini baru bisa kamu dapatkan? Ha?" Bentak kakek Ramon pada lelaki paruh baya itu.
"Maaf kan saya tuan." Ucap Aris dengan menunduk hormat.
"cih! ternyata kamu tidak bisa memaksimalkan kekuasaan dan kekayaan saya dengan baik untuk mencari informasi ini." Lelaki tua itupun tersenyum meremehkan.
__ADS_1
"Dia pikir ini di dunia novel. Mentang-mentang jadi CEO punya kekayaan dan kekuasaan apapun bisa dilakukan bahkan sampai meretas keamanan pemerintah dan melawan peraturan negara seenak jidatnya? di pikir orang lain gak memiliki Hak asasi manusia apa? Lah kita bukan dukun juga atau cenayang sehingga bisa tahu niat hati seseorang..toh si Beni bermain sangat rapi selama belasan tahun ini." batin Aris.
Memang begitulah Ramon, jika tidak mengingat bagaimana Firman dan nasib Argha juga Gista.. sudah dari dulu Aris memilih meninggalkan lelaki tua dihadapannya ini. Jika bisa memilih, Aris akan memilih Ramon saja yang meninggal dalam kecelakaan tersebut.
"Maafkan saya dan anak buah saya tuan, selama ini Beni bermain sangat rapi sekali dengan menggunakan Amir dan 2 orang lagi yang menempati posisi penting di RMJ Group. Jika bukan Argha yang kemarin Amir jebak dengan kasus penyalahgunaan uang 1 Milyar itu, tentu semua tidak akan ada yang curiga atau mengira bahwa Amir adalah kaki tangan dari dalang yang sesungguhnya." Jelas Aris.
"Apa kamu sudah mendapatkan semua bukti kebusukan Amir dan antek-anteknya?" Tanya Ramon.
"Sudah tuan...hanya saja, saya belum mendapatkan bukti kuat untuk menjerat Beni dalam kasus mafia perusahaan." Jawab Aris sopan.
"Lalu bagaimana kecelakaan yang dialami anak dan menantuku hingga cucu cucu ku menjadi korban?" Tanya Ramon dengan nada dingin namun sorot mata lelaki tua itu penuh dengan duka yang mendalam. Sebuah duka yang tidak pernah dia ungkapkan sedikitpun.
"Belum tuan.. mohon berikan saya waktu lagi. Saya Janji tidak akan mengecewakan anda karena kecelakaan itu sudah merenggut sahabat saya juga kebahagiaan keluarganya hingga anak-anak sahabat saya menderita." Jawab Aris bersungguh-sungguh mengingat bagaimana baiknya Firman yang tidak lain adalah Papa dari Gista dan Argha.
"Baiklah... aku hanya ingin kamu menghancurkan lelaki bernama Beni sampai ke akar-akarnya!" Perintah Ramon membuat Aris terkejut.
"Ma.. maksud anda tuan?"
"Hancurkan Beni sampai anak-anaknya jika perlu cucu cucunya sekalian jika sudah ada!" Ucap Ramon tegas.
"Ma.. maaf tuan, bukankah Beni adalah anak anda?" Tanya Aris hati-hati.
"Hahahahahah.... itulah kebodohan ku Aris." tawa Ramon terdengar cukup keras namun penuh dengan luka dan kecewa.
"Aku tidak pernah meniduri wanita manapun kecuali istri sah ku Aris.. Puluhan tahun lalu, aku dijebak oleh wanita sialan sehingga aku terpaksa menikahi wanita itu karena desakan warga dan izin dari istri sah ku. Semua hanya demi menjaga nama baik keluarga. Dan asal kamu tahu, pernikahan itu hanya berjalan sepekan setelah wanita itu ketahuan hamil sebelum aku menyentuhnya. Aku meninggalkan wanita itu tanpa hormat dan kembali ke keluargaku." Jelas Ramon dengan pemikiran menerawang ke masa lalu.
Jika benar Beni adalah dalang kecelakaan yang menewaskan anak dan menantunya, maka penyesalan terbesar Ramon adalah mengapa dulu dia tidak menghabisi wanita sialan beserta anaknya itu. Ramon membiarkan wanita itu pergi begitu saja dan menghilang bak ditelan bumi setelah istri sah Ramon memberikan sejumlah uang pada wanita itu karena kasihan.
...BERSAMBUNG...
maaf kemarin gak update, author lagi kecapean gak enak body gara-gara kerja lembur bagai kudu mulu~
makasih ya yang sabar dan setia menunggu...
__ADS_1
makasih yang selalu support 💙
...***...