Benih Bayaran

Benih Bayaran
Part 64


__ADS_3

...64. Merasa selalu Rindu...


Kakek tua bernama Ramon itu ternyata masih menganggap bahwa mama Sarah dan Elmeera lah yang sudah memisahkan dirinya dengan Gista karena Mama Sarah mengadopsi Gista dari panti asuhan.


Argha sudah mencoba menjelaskan pada kakek Ramon bahwa seharusnya sang kakek berterima kasih pada Mama Sarah karena sudah merawat Gista dengan baik dan penuh kasih sayang juga Gista dilimpahi cinta dari seorang ibu.


Namun, bukan Ramon namanya jika dia mau mengubah sudut pandangnya begitu saja. Karena tetap saja, Ramon berpikir jika wanita bernama Sarah tidak mengadopsi Gista, Gista akan tetap tinggal di panti asuhan dengan baik dan tidak kekurangan apapun karena Ramon masih bisa memantau cucunya.


Dan alasan pertama Ramon tidak menyukai Elmeera karena itu. Ditambah lagi ayah kandung Elmeera memiliki catatan sangat buruk dan berita yang tersebar, Elmeera adalah penyuka sesama jenis. Belum lagi laporan dari anak buah Kakek Ramon yang mengatakan Elmeera adalah wanita angkuh, keras kepala, sombong, suka berpakaian seksii dan tidak bisa melakukan pekerjaan rumah apapun.


Pokoknya, di mata kakek Ramon... Elmeera tidak ada baik-baiknya.


Merasa segala ucapannya percuma, Argha tidak ingin lagi mengambil pusing tentang tanggapan sang kakek yang belum juga ingin bertemu dengan Gista secara langsung. Kakek Ramon hanya melihat Gista dari kejauhan saja.


Bagi Argha, kakek Ramon tidak mengusik Elmeera dan Gista bahagia itu sudah lebih dari cukup.


Toh selama dua Minggu ini, kakek Ramon terlihat tenang dan tidak melakukan apapun terhadap Elmeera. Argha berharap sang kakek dapat menepati janjinya dengan baik. Dan Argha akan melakukan tugasnya dengan baik untuk RMJ Group.


"Gha.. elu ngelamunin apa?" Tanya Arsen tiba-tiba mengangetkan Argha yang tengah termenung di meja kerjanya.


"Nggak ada." Jawab Argha.


"Tumben elu kemari? ada apa?" Tanya Argha pada Arsen. Arsen memang bekerja di divisi yang berbeda dengan Argha karena mereka sengaja dipisah oleh Om Aris untuk mencari bukti sebanyak-banyaknya.


"Gue udah dapat." Jawab Arsen dengan tatapan yang langsung dapat dimengerti oleh Argha dengan sangat cepat.


Senyum Argha mengembang meski Argha belum tahu pasti tentang info yang mana yang di dapat oleh Arsen. Mafia perusahaan atau dalang kecelakaan keluarganya.


"Apa?" Tanya Argha. Arsen mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan orang lain diantara mereka. Tapi ternyata tidak ada karena saat ini beberapa rekan Argha ada yang dinas keluar juga meeting bersama direktur keuangan, Amir si lelaki perut buncit.


Arsen memberikan kode pada Argha agar Argha mendekatkan telinganya untuk Arsen membisikkan sesuatu pada sahabatnya itu. Argha pun menurut tanpa protes.

__ADS_1


"Bener dugaan elu tentang si Amir. Setelah elu minta gue selidiki Amir, Amir setiap sepekan sekali bertemu dengan seseorang bernama Beni Agustino di ruang VIP restoran anggrek. Beni Agustino sendiri merupakan direktur di Bank. Bank itu adalah bank yang sama yang mengirimkan uang 1 M ke rekening elu." Ucap Arsen berbisik.


"Jadi Amir meminta bantuan lelaki bernama Beni itu?" Tanya Argha dengan suara sangat lirih karena takut terdengar oleh orang lain meskipun disana tidak ada siapa-siapa.


"No!" Jawab Arsen.


"Sebab,... uang perusahaan yang di sikat sama si Amir beberapa tahun belakangan ini, ternyata diberikan pada Beni Agustino seluruhnya. Orang papa gue udah dapat rekening korannya. Dan Papa gue sedang menyelidiki siapa Beni Agustino itu." Lanjut Arsen.


"Beni Agustino?" Gumam Argha nampak berpikir. Siapa Beni Agustino itu? Argha seperti pernah mendengar nama itu waktu dia kecil... tapi siapa?


Argha tidak ingin overthinking lebih dulu.


"Thank ya Sen, elu bener-bener bantuin gue." Ucap Argha.


"Sudah tugas gue, gak mungkin elu yang melakukan ini semua Gha, bisa-bisa orang curiga sama elu dan itu membahayakan diri elu!" Jawab Arsen.


"Thank ya..."


"Thanks lagi? Gak capek elu bilang makasih sama gue? udah ayo cuss!" Ajak Arsen.


"Ketemu papa gue! elu lupa perusahaan ini punya siapa? ha? Udah ayo cuss!" Argha pun tertawa mendengar ucapan sahabatnya itu.


Satu hal yang selalu Argha syukuri dalam hidupnya adalah dipertemukan dengan orang sebaik om Aris yang memiliki anak seperti Arsen. Ayah dan anak yang sama-sama tulus membantunya selama ini meskipun dari kecil terus ditekan oleh sang Kakek.


Tuhan memang selalu baik, bahkan disaat kondisi manusia terpuruk sekalipun... masih ada saja hal yang bisa disyukuri~


...**...


Sementara di Kantor KirAn.com,


Elmeera duduk manis di kursi kebesarannya sebagai CEO sambil memijit keningnya yang terasa nyut-nyutan.

__ADS_1


Wajah cantik Elmeera yang menggunakan make up tipis itu pun nampak sedikit pucat dan nafsu makan Elmeera berkurang drastis.


Hal itu ternyata berdampak pada Elmeera yang sama sekali tidak dapat fokus dengan pekerjaannya.


Semenjak kesepakatannya dengan Argha untuk saling membuka hati terjalin, Elmeera pun mulai mengubah penampilannya dengan baju baju kerja yang lebih sopan di tambah make up make up tipis namun tetap mampu menarik perhatian banyak orang sesuai dengan permintaan Argha.


Elmeera yang keras kepala awalnya tidak setuju jika style pakaiannya yang membuatnya merasa lebih percaya diri itu di ubah-ubah oleh suaminya. Namun saat Argha berkata bahwa istri harus menurut pada suaminya, maka Elmeera tidak memiliki pasal apapun untuk tidak mengikuti perintah sang suami.


Dari pada Argha mendiamkannya dan menghindarinya lagi kan? Terlebih Argha bilang tidak ikhlas jika kemolekan tubuh istrinya itu dinikmati oleh orang lain meskipun hanya dari pandangan mata. Karena Argha tahu, itu akan menjadi objek imajinasi para pria minum akhlak.


"Gue kenapa ya... dari kemarin bawaannya kok lemes terus si? dan hari ini makin parah, udah lemes.. pusing.. agak mual lagi." Gumam Elmeera pelan kemudian memejamkan matanya sejenak dengan menyandarkan kepalanya di kursi kebesarannya.


Beberapa menit mencoba memejamkan matanya sejenak, tapi kenyataannya Elmeera tidak bisa tidur sebentar karena kepalanya justru terasa semakin berputar-putar dan membuatnya kian mual saja.


Beruntung Elmeera sudah sedia dengan menyimak kayu putih yang sedikit membantu untuk meredakan mualnya.


Merasa tidak nyaman memejamkan matanya dengan posisi duduk di kursi kebesarannya, Elmeera memilih berpindah ke sofa panjang yang ada disudut ruangannya.


Bodoh amat lah dengan segala pekerjaan, Elmeera hanya ingin memejamkan matanya sejenak saja agar tubuhnya bisa kembali segar dan menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Sebab disaat seperti ini, mau dipaksa untuk kerja pun Elmeera gak bisa fokus.


Lebih dari 30 menit Elmeera terpejam di sofa ruangannya dengan sangat nyenyak, berbeda dengan di kursi sebelumnya.


Hingga seseorang memasuki ruang kerja Elmeera tidak membuat sang empu terusik.


"Tumben si workaholic tidur di sofa? capek banget ya?" Gumam orang itu sambil tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya menyadari rok pendek yang digunakan Elmeera tertarik ke atas.


"Untung aku yang masuk kesini, kalau laki-laki lain gimana? dasar ceroboh!" Ucap orang itu lagi yang berjalan mendekati Elmeera.


Orang itu tidak lain adalah Argha. Argha sengaja mampir ke kantor istrinya hanya untuk melihat sang istri setelah pulang dari sebuah kafe untuk menemui Om Aris bersama dengan Arsen.


Argha pun merasa agak bingung sendiri, entah kenapa akhir-akhir ini dia selalu ingin dekat dengan istrinya. Tidak melihat wajah Elmeera lebih 2 jam saja menciptakan rindu yang luar biasa hingga akhirnya Argha sering video call dengan Elmeera. Dan hal itu membuat Elmeera kesal sebab Argha menganggu jam kerjanya.

__ADS_1


"Sayang... bangun... kamu belum makan kan?" Argha berjongkok tepat di depan wajah istrinya kemudian mengecup bibir Elmeera dengan lembut. Argha ingat sewaktu di depan tadi Ziraya bilang bahwa Elmeera belum makan siang padahal jam istirahat makan siang sudah lewat satu jam lalu.


...BERSAMBUNG...


__ADS_2