Benih Bayaran

Benih Bayaran
Part 49


__ADS_3

...49. Ekspektasi yang Terlalu Tinggi...


Hari sudah berganti.


Sejak beberapa hari lalu, Elmeera dan Argha sudah menetap di apartemen sederhana yang Argha beli dari hasil kerja kerasnya sendiri dan atas nama istrinya.


Elmeera awalnya agak keberatan mengingat apartemen itu ukurannya cukup sempit bagi Elmeera yang terbiasa tidur di kamar mewah dan luas. Ditambah lagi di dalam kamar mandi tidak ada bath up untuk dirinya berendam demi menghilangkan penat setelah seharian berkutat dengan pekerjaan.


Namun Elmeera mencoba menerima dengan baik apapun yang suaminya berikan. Elmeera hanya ingin menghargai usaha Argha selama menjadi suaminya.


Dan Argha pun harus dibuat sabar dengan segala tingkah Elmeera yang sama sekali tidak tahu pekerjaan rumah. Baju, masuk laundry. Bersih-bersih apartemen, diam-diam Elmeera memanggil bik Ira. Kalau untuk makan, Elmeera sudah lebih dulu memesan makanan saat baru pertama kali membuka mata kala pagi, juga sebelum dia pulang apartemen sudah membeli makanan lebih dulu agar tidak berdebat dengan Argha tentang memasak atau beli.


Argha? lelaki tampan itu memilih mengalah karena ingin membuat Elmeera nyaman dulu. Karena untuk berdebat dan saling adu emosi dengan istrinya, rasanya Argha sudah sangat bosan.


Mungkin memang benar, jika lelaki memilih menikahi wanita karier yang pintar cari duit, maka jangan terlalu berharap akan pekerjaan rumah. Berbeda jika menikahi wanita yang siap menjadi ibu rumah tangga.


Baik Elmeera maupun Argha, semua sudah kembali ke rutinitas dan kesibukan pekerjaan masing-masing.


Dan pukul enam sore, Argha baru pulang dari kantornya dengan mengendarai sepeda motor Vespa kesayangannya.


Sebenarnya Argha ingin langsung ke Planet cafe karena ada jadwal manggung disana bersama sahabat-sahabatnya.


Namun satu jam lalu, Elmeera mengirim pesan untuk Argha bahwa istrinya itu sudah menyajikan makanan spesial untuk Argha. Tidak biasanya istrinya semanis ini...


Entah angin apa yang masuk dalam diri Argha, yang jelas sepanjang perjalanan Argha terus menyunggingkan senyumnya membayangkan memiliki istri yang rela berkutat di dapur untuk menyajikan makanan spesial buat sang suami yang pulang kerja.


Mengingat Elmeera yang juga bekerja seharian, tapi wanita yang mengaku tidak bisa masak itu sempat-sempatnya menyajikan makanan untuknya. Argha tidak bisa membayangkan betapa merepotkannya belajar memasak sambil melihat tutorial masak.


Argha berjanji akan sangat mengapresiasi masakan Elmeera untuk pertama kalinya ini entah bagaimanapun rasanya. Hal itu Argha lakukan karena Argha ingin ibu dari anaknya adalah wanita yang bisa menjamin asupan gizi anaknya nanti. Seperti mamanya saat dirinya kecil dulu yang selalu memanjakan papa dan dirinya dengan makanan diatas meja.


Menuju lantai 7 tempat apartemennya berada, Argha rasanya sudah tidak sabar mencicipi masakan istrinya yang sebenarnya sudah Argha yakini bahwa rasanya akan sedikit aneh.


Ceklek.


Pintu apartemen terbuka setelah Argha memencet kode akses yang merupakan tanggal pernikahan mereka.


Apartemen yang berukuran kecil itu tentu langsung menampakkan seluruh sudut ruangan ketika pintu di buka sempurna.


Lagi dan lagi Argha tersenyum melihat Elmeera sedang sibuk menata makanan di mini bar yang digunakan sebagai meja makan.


"Rajin bener, istri siapa sih?" Tanya Argha mendekat ke arah Elmeera kemudian memeluk istrinya dari belakang dan memberikan kecupan di pipi.


"Gha, cepet banget pulangnya? Perasaan baru beberapa menit lalu kamu membalas pesan ku?" Tanya Elmeera membiarkan suaminya untuk memeluk dirinya.


"Kan aku naik motor... jadi gak begitu macet." Jawab Argha menghirup aroma tubuh Elmeera yang sangat menenangkan pikirannya setelah berkutat dengan pekerjaan seharian penuh.


"Tapi kamu bau asap kendaraan! Kamu kenapa sih gak mau pake mobil aja? Padahal mama udah beliin kamu mobil baru loh... agar menantu kesayangannya tidak kepanasan dan kehujanan juga bau asap."


"Aku malu lah, masak suami bergantung sama keluarga istri... Nggak lah!"

__ADS_1


"Kenapa kamu mikirnya begitu sih Gha? Mama itu sayang banget sama kamu, makanya beliin kamu mobil. Mama sedih loh kamu gak mau pake mobil pemberiannya." Ucap Elmeera yang semakin kesini semakin paham bagaimana suaminya menjunjung harga dirinya.


"Sampaikan maafku sama mama, minat di doain sama mama aja, biar aku segera kasih uang bulanan kamu ratusan hingga milyaran rupiah. Udah ah, aku mau mandi dulu... gak sabar buat makan sama kamu." Ujar Argha.


Elmeera tersenyum..


"Argha... Argha .. gaji kamu mentok-mentoknya 10jutaan, gimana caranya mau kasih aku uang bulanan sebanyak itu?" Gumam Elmeera dengan gelengan kepala.


...***...


"Hari ini gak usah ke cafe ya Gha." Kata Elmeera tiba-tiba setelah melihat suaminya keluar dari kamar dan nampak segar dengan kaos berwarna putih juga celana pendek.


"Aku udah janji sama Arsen dan Dio El, aku bilang sama mereka nanti menyusul saja." Jawab Argha kemudian duduk hadapan Elmeera yang ada di mini bar.


"Ya sudah deh! aku ikut." Ucap Elmeera.


"Tumben?"


"Kamu gak keberatan kan kalau aku ikut?"


"Nggak lah, emang kenapa harus keberatan. Aku malah seneng, kerja di temani sama istri."


"cih! udah ayo makan... aku udah ambilkan nasi tuh buat kamu. Mau aku ambilkan lauk dan kuahnya sekalian?" Tanya Elmeera yang sudah bisa berperan dengan baik sebagai seorang istri.


"Boleh." Dengan telaten Elmeera mengambilkan makanan untuk sang suami, dan hati Argha terasa sangat bahagia melihat pemandangan itu.


"Makan aja, habisin kalau perlu biar gak mubazir." Elmeera tersenyum melihat Argha seantusias itu.


"Waooww ini enak banget El." Ucap Argha saat pertama kali memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya.


"Pastinya dong!" Jawab Elmeera dengan senyum merekah.


"Aku gak nyangka kamu ternyata pinter banget masak El. Padahal ini masakan pertama kamu." Ucap Argha dengan semangat lalu membuat Elmeera mengernyit.


"Pinter masak?"


"Iya, ini masakan kamu kan?" Secepat kilat Elmeera menggeleng.


"Ha?"


"Ini masakan mama Gha, bukan masakan aku! Tadi mama minta aku mampir ke rumah buat ambil makanan." Kata Elmeera membuat Argha langsung terbatuk-batuk mengingat harapannya terlalu ketinggian pada sang istri.


"Lah bukannya tadi kamu bilang menyajikan makanan buat aku?" Tanya Argha setelah meminum air putihnya hingga tandas.


"Kan aku bilang cuma menyajikan, bukan memasaknya Gha. Lagian bagaimana aku mau memasak, nyalakan kompor aja aku belum berani." Kata Elmeera dengan polosnya tanpa mengetahui perubahan wajah sang suami yang terhempas kan akibat ekspektasi yang terlalu tinggi.


"Kamu gak bisa menyalakan kompor?" Tanya Argha.


"Nggak bisa.... serem, takut meledak. Makanya kamu gak pernah kan lihat aku menyalakan kompor.

__ADS_1


"Hemmm baiklah... ayo kita makan." Ujar Argha. Makanan yang tadinya terasa sangat lezat mendadak terasa hampar karena bukan masakan sang istri.


...***...


Mood Argha mendadak memburuk setelah makan bersama sang istri. Argha memilih untuk tidak ke planet cafe dengan alasan kelelahan.


Hal itu tentu disambut bahagia oleh Elmeera dong, karena dia ingin menonton dengan sang suami di dalam kamar berdua.


Elmeera memasuki kamar setelah mengumpulkan piring kotor pada tempat cuci piring yang besok pagi akan di bersihkan oleh Bik Ira.


"Gha nonton yuk!" Ucap Elmeera pada Argha yang sedang fokus pada layar laptopnya dan duduk diatas ranjang dengan bersandar pada headboard.


"nonton apa?"


"Apa aja!" Jawab Elmeera.


"Lagi gak mood El." Ucap Argha tanpa menatap sang istri sehingga membuat Elmeera kesal sendiri.


"ya sudah deh." Kata Elmeera kemudian masuk pada walk in closet untuk mengambil baju tidur kemudian gosok gigi dan cuci muka.


Selang beberapa menit kemudian, Elmeera keluar dari kamar mandi dengan wajah yang sangat cemberut. Bahkan mata wanita itu nampak sembab.


Tanpa berkata apapun, Elmeera langsung merebahkan tubuhnya di samping Argha kemudian berbaring dan membelakangi Argha tanpa sepatah kata pun.


Melihat gelagat aneh istrinya, Argha langsung meletakkan laptopnya pada nakas begitu saja.


"Kamu kenapa El?" Tanya Argha lembut.


"Gak apa-apa." Jawaban singkat dari wanita yang memakai baju tidur tipis dan terbuka itu.


Perasaan Argha kian tidak enak saat melihat punggung istrinya mulai bergetar, Argha yakin istrinya itu sedang menangis tapi kenapa?


"El kamu kenapa?" Argha membalik tubuh Elmeera yang sedang membelakangi dirinya dengan lembut.


Benar, pipi Elmeera basah karena air mata.


"Kenapa?"


"A... aku...."


...BERSAMBUNG...


Sepertinya di novel ini aku gak mau pake pelakor dalam konfliknya ya... jadi konflik sebagai bumbu-bumbu rumah tangga Argha dan Elmeera adalah konflik sederhana karena keegoisan, gengsi dan keras kepala masing-masing hingga keduanya sadar akan perasaan masing-masing.


Melihat latar belakang Elmeera, tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk membuat Elmeera jatuh cinta pada Argha. Bentar bentar marahan tapi tidak lama baikan, kan memang seperti itu dalam rumah tangga yang belum ada cinta...


jadi kalau kalian mau cari pelakor disini,


yang sampai nekat gak Nemu deh... palingan ada juga yang suka sama toko utama tapi tidak sampai berniat merebut dengan cara kotor. oke?

__ADS_1


__ADS_2