Berbagi Cinta: Suamiku Menikahi Adik Ku Sendiri

Berbagi Cinta: Suamiku Menikahi Adik Ku Sendiri
NABILA MENENGOK IBU SANIA


__ADS_3

"Kamu yang kemarin ada direstoran kan?". Tanya Nabila yang masih mengingkat orang yang dia temui di restoran.


"Ternyata masih ingat sama saya, maklum sih saya tidak mudah dilupakan". Ucap orang itu, sedangkan Nabila yang mendengar ucapan orang itu langsung memutar bola mata malas.


"Pede sekali anda". Ucap Nabila sambil berjalan, orang itu pun langsung menyusul Nabila.


"Loh mau kemana?". Tanya orang itu.


"Yah lihat orang sakit lah masa beli ikan asin". Ketus Nabila yang terus berjalan. Sedangkan orang itu hanya senyum dengan keketusan Nabila.


"SANIA!!!". Panggil Nabila kepada Sania yang sedang duduk di kursi tunggu. Sania yang dipanggil pun langsung menoleh.


"NABILA". Pekik Sania langsung menghampiri Nabila dan memeluknya.


"Lebasin woy anak gue nanti ke gencet". Ucap Nabila karena Sania memeluk sangat erat, Sania pun langsung melepaskan pelukannya dan mengaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Gimana keadaan ibu loh?". Tanya Nabila.


"Nanti siang ibu gue di operasi". Jawab Sania sambil membawa Nabila duduk di kursi. Sedangkan Nabila hanya mengangguk.


"Eh iya nih gue bawa buah buat ibu loh". Lanjut Nabila lagi sambil memberikan buah yang tadi dia beli.


"Aduh makasih banyak, harusnya loh bawa lebih banyak buahnya". Canda Sania sambil menerima buah dari Nabila.


"Nanti kalau gue udah jadi petani buah". Ucap Nabila meladeni candaan Sania. Mereka pun berbincang bincang tanpa memerdulikan orang yang tadi ngajak ngobrol Nabila.


"Ekhmm". Dehem orang itu karena dirinya merasa dikacangin. Nabila dan Sania pun menoleh.


"Eh kenapa kamu masih ada disini?, saya kirain kamu sudah pergi". Ucap Nabila saat tahu siapa yang berdehem. Tapi sebelum orang itu menjawab, Sania lebih dulu bertanya.


"Pak dokter ngapain disini?, mau periksa ibu?, dan apa kalian kenal?". Tanya Sania berturut turut. Nabila yang mendengar bahwa orang itu dokter langsung kaget, karena pakaiannya tidak seperti dokter, melainkan seperti berandalan.


"Dokter?". Tanya Nabila memastikan.


"Iya dia itu dokter ibu gue, dan nanti juga yang bakalan operasi ibu gue dia". Jawab Sania.


"Oh gitu, tapi kok bukan kayak dokter, loh yakin dia dokter?". Bisik Nabila masih tidak yakin.


"Waktu gue ketemu pertama kali gue juga kira dia bukan dokter, eh pas suster ngejelasin gue langsung percaya". Bisik Sania karena dia tidak mau orang itu atau dokter itu mendengar ucapan dirinya.


"Kalian ngomongin gue yah?". Tanya orang itu. Nabila dan Sania pun menoleh dan langsung mengeleng.


"Oh iya kalian kenal?". Tanya Sania mengalihkan pembicaraan.


"Kemarin kita ketemu di restoran yang kita datangin itu loh". Jawab Nabila mengingatkan Sania.


"Oh gitu, kenapa kalian bisa saling ketemu?". Tanya Sania lagi penasaran.

__ADS_1


"Dia yang datangin gue karena semua meja di restoran itu penuh". Jelas Nabila, tidak membicarakan soal Alfaro yang datang dan menariknya. Sania pun menganggukan kepalanya mengerti.


"Siapa nama loh?, gue lupa". Ucap Nabila memang lupa dengan nama orang itu.


"Willi". Jawab orang itu yang ternyata bernama Willi.


"Ah iya itu Willi". Ucap Nabila.


"Ngapain masih disini?". Tanya Nabila kepada Wiili. Sedangkan Willi kikuk karena bingung mau jawab apa.


"Hmm...gue mau meriksa ibunya pasien ini". Jawab Willi sambil menunjuk Sania dan berjalan menuju ruangan ibu Sania.


"Alfaro udah dikasih tahu belum kalau loh hamil?". Tanya Sania penasaran.


"Udah dan dia senang banget". Bohong Nabila tidak mau menbuat Sania khawatir. Sedangkan Sania tidak percaya begitu saja.


"Benerankan?, loh nggak bohongin guekan?". Tanya Sania penuh selidik.


"Beneran Sania Marwah". Jawab Nabila. Sania pun mengangguk mengerti.


"Loh disini sendirian?". Tanya Nabila mengalihkan pembicaraan.


"Nggak gue sama kakak gue, dia lagi pulang dulu biasalah ngurusin suami dan anaknya dulu". Jawab Sania. Memang Sania memiliki satu orang kakak perempuan, dan kakaknya pun sudah menikah.


"Oh, gue mau cari sarapan dulu, gue belum makan tadi dari rumah". Ucap Nabila merasa lapar.


"Astagfirulah Sania loh makan sabu, sejak kapan hah?". Marah Nabila.


"Eh eh maksud gue sabu atau sarapan bubur". Ucap Sania langsung menjelaskan karena Nabila salah paham. Nabila pun bernafas lega.


"Huh syukur gue kira loh makan sabu". Ucap Nabila.


"Kalau gitu kita sarapan didepan rumah sakit aja, tadi gue liat banyak yang jual bubur". Lanjut Nabila lagi sambip berdiri dari duduknya.


"Tunggu dulu gue mau naruh buah dulu diruangan ibu". Ucap Sania berjalan menuju ruangan ibunya, tapi sebelum Sania membuka pintu, pintunya sudah terbuka karena Willi keluar dari ruangan itu.


"Eh dokter, gimana keadaan ibu saya?". Tanya Sania.


"Keadaan ibu kamu seperti kemarin belum stabil, oh iya ingat jangan kasih makanan apa pun kepada ibu kamu sebelum operasi dimulai". Jelas Willi. Sania pun mengangguk.


"Kalau gitu saya masuk dulu dok, dokter udah sarapan belum?". Tanya Sania sebelum masuk kedalam ruangan ibunya. Willi pun mengeleng karena dirinya terlalu sibuk sampai lupa sarapan.


"Gimana kalau kita sarapan bareng dok, nggak cuman sama saya kok, kita sarapan bareng teman saya tadi Nabila". Ucap Sania. Willi pun tampak berpikir terlebih dahulu.


"Kalau gitu ayo". Ucap Willi setelah berpikir.


"Kalau gitu sebentar saya naruh buah dulu dok". Ucap Sania berjalan masuk kedalam ruangan ibunya untuk menaruh buah.

__ADS_1


"Ayo dok". Ucap Sania setelah selesai menaruh buahnya. Willi pun mengikuti Sania.


"Loh ngapain bawa dia?". Tanya Nabila saat Willi ikut dengan Sania.


"Mau sarapan, katanya dokter juga belum sarapan, jadi gue ajak aja sekalian". Jawab Sania santai sambil berjalan duluan dan disusul oleh Nabila dan Willi. Mereka pun berjalan menuju depan rumah sakit untuk mencari tukang bubur.


***


Saat sudah menemukan tukang bubur mereka bertiga langsung duduk dikursi tulang bubur itu.


"Gue pesan bubur kayak biasanya jangan pakai kacang dan tambahin sambel yang banyak". Ucap Nabila kepada Sania.


"Jangan banyak banyak nanti anak loh jadi cabe gimana?". Tanya Sania tidak mau terjadi apa apa sama Nabila.


"Ya kali anak gue jadi cabe, nggak akan lah". Ucap Nabila yang sedang memainkan ponselnya.


"Kalau dokter mau pesan bubur kayak gimana?". Tanya Sania kepada Willi.


"Saya buburnya jangan pakai seledri". Jawab Willi karena dirinya tidak menyukai seledri. Sania pun mengangguk dan mulai memesan kepada tukang buburnya.


"Kamu lagi hamil?". Tanya Willi karena dirinya penasaran.


"Loh nanya sama gue?". Tanya Nabila sambil menunjuk dirinya. Willi pun mengangguk.


"Iya gue lagi hamil, baru dua minggu". Ucap Nabila yang sedang asik memainkan ponselnya. Willi pun mengangguk dan tersirat kekecewaan diwajahnya.


"Dan yang kemarin narik kamu itu suami kamu?". Tanya Willi lagi.


"Iya dia suami gue". Jawab Nabila. Saat mereka berbincang bubur pun datang.


"Nih buburnya". Ucap Sania sambil memberikan bubur pesanan Nabila dan Willi. Mereka pun mulai memakan sarapan buburnya. Saat Willi baru memakan satu sendok buburnya tiba tiba ponselnya berbunyi.


Kring


Kring


..."Halo". Ucap Willi....


..."....". Ucap orang dibalik telepon....


..."Oke saya kesana sekarang". Ucap Willi sambil mengakhiri teleponnya....


"Saya harus pergi untuk mengurus orang yang baru saja kecelakaan". Pamit Willi sambil pergi begitu saja dan masuk kedalam rumah sakit.


"Jadi dokter sibuk banget yah, lagi makan aja ke ganggu". Ucap Sania saat kepergian Willi. Sedangkan Nabila tidak menimpali ucapan Sania karena dirinya sedang asik makan.


MOHON KERITIK DAN SARANNYA YAH KAKAK-KAKAK, TAPI INGAT KERITIK DAN SARANNYA JANGAN MELUKAI HATI AUTHOR ATAU ORANG LAIN YAH MAKASIH😊❤

__ADS_1


__ADS_2