
"San apa gue pembawa sial?". Tanya Nabila tanpa menoleh sedikit pun kepada Sania, sedangkan Sania yang mendengar pertanyaan Nabila langsung menghembuskan nafas nya kasar, karena Nabila selalu saja menanyakan hal itu.
"Stop ngomong kayak gitu, loh itu bukan pembawa sial sekarang loh makan nanti loh bisa sakit". Ucap Sania sambil berjalan keluar dari kamar Nabila karena merasa kesal dengan Nabila.
Sedangkan Nabila dia bukannya memakan makanan dari Sania, dia malah berjalan kekamar mandi mungkin untuk menenangkan diri dengan cara mandi.
Nabila mandi sambil menangis dibawah guyuran air shower dan sesekali dia menonjok dinding tembok. "Baru aja gue mau menemukan orang tua kandung gue dan tiba tiba Nisa meninggal, kenapa cobaan gue begitu berat". Ucap Nabila sambil meremas rambutnya dengan kuat.
***
"Kok bentar banget kasih makan Nabila nya?". Tanya Ridwan saat melihat Sania keluar dari kamar Nabila.
Sania tidak menjawab pertanyaan Ridwan dia malah duduk disamping Ridwan dan menatap lurus kedepan tanpa menoleh kearah Ridwan.
"Loh kenapa?". Tanya Ridwan saat melihat Sania begitu kusut seperti baju yang belum disetrika.
"Gue aneh deh sama Nabila kenapa dia selalu menyalahkan dirinya sendiri saat keluarga nya terkena masalah". Ucap Sania sambil menatap Ridwan.
Ridwan bingung harus menjawab apa karena dia juga tidak tahu, karena saat dulu hidup Nabila sangat baik baik saja, tapi sekarang sepertinya hidup nya kacau karena seseorang.
"Gue nggak tahu harus jawab apa, yang pasti kita sebagai sahabat hanya bisa mendo'akan yang terbaik buat dia". Ucap Ridwan sambil menepuk nepuk bahu Sania dan membawa Sania dalam pelukan nya.
Sania tidak menanggapi ucapan Ridwan, dia juga tidak melepaskan pelukkan Ridwan, entah karena capek atau apa Sania langsung tertidur dalam pelukkan Ridwan.
Ridwan yang merasakan hembusan nafas Sania yang teratur menyadari bahwa Sania tidur dalam pelukkan nya. "Nih anak main tidur aja, tapi gue salut sama loh karena selalu ada saat Nabila bahagia atau pun sedih". Ucap Ridwan mengelus rambut Sania dengan lembut agar tidak terbangun dari tidur nya.
***
Sedangkan ditempat lain tepat nya dibandara Soekarno baru saja lending seorang pria yang baru saja pulang dari kerjanya. "Maaf bos ada berita bahwa istri bos sudah meninggal siang". Ucap asisten si pria itu.
__ADS_1
Pria itu yang mendengar istri nya meninggal biasa saja dan tidak sedih sama sekali. "Biarkan saja, sekarang kamu pulang saja, saya akan pulang sendiri dan mampir kesuatu tempat". Ucap pria itu kepada sekertaris nya.
"Baik bos Alfaro". Ucap asisten pria itu yang tak lain adalah Alfaro.
"Akhirnya dia meninggal juga tapi kenapa dia bisa meninggal?, gue harus cari tahu hal ini, pasti kematiannya bukan hanya penyakitnya saja". Batin Alfaro yang memang sudah mengetahui penyakit Nisa dari sekertaris nya.
"Sekarang pasti Nabila ada diapartemen nya karena dia pasti datang kepemakaman Nisa kan?, gue harus kesana dan jelaskan semua nya sama dia sebelum terlambat". Batin Alfaro sambil menaiki mobil nya dan melaju dengan kecepatan sedang menuju apartemen Nabila.
Tapi dipertengahan jalan Alfaro berhenti karena menerima telepon dari Citra, Alfaro langsung mengangkat nya.
..."Halo mah ada apa?". Tanya Alfaro kepada Citra....
..."Kamu sudah sampai bandara?, kalau sudah cepetan pulang mamah mau ngomong serius sama kamu". Ucap Citra....
..."Ngomong apa sih?, disini aja ditelepon, Alfaro lagi buru buru nih". Ucap Alfaro karena dia harus cepat cepat ke apartemen Nabila....
..."Iya iya Alfaro pulang sekarang". Ucap Alfaro sambil mematikan sambungan teleponnya sepihak....
"Gue udah gede padahal bahkan sudah menikah dan punya anak tapi mamah selalu ngancem nya hal kayak gitu". Kesal Alfaro karena mamah nya selalu saja mengancam hal yang seperti itu. Alfaro pun terpaksa pulang kerumah mamah nya.
***
Saat ini Nabila sudah selesai acara mandi mandiannya dan setelah mandi otaknya dan badan nya menjadi rileks, Nabila pun keluar kamar dan berjalan menuju dapur karena haus, tapi saat melihat ke arah sopa Nabila langsung kaget melihat Sania tertidur didalam pelukkan Ridwan.
"Apa mereka jadian atau gimana?". Gumam Nabila sambil menghampiri Sania dan Ridwan.
"Ekhem...kalau mau mesra mesraan jangan di apartemen gue". Ucap Nabila tapi tidak ada sahutan dari Sania dan Ridwan, saat maju kedepan Nabila menghembuskan nafas kasar, karena ternyata Ridwan nya juga ikutan tidur bersama Sania.
"Ternyata pada tidur, maafin gue yah pasti kalian capek gara gara gue". Ucap Nabila merasa bersalah telah membuat Sania dan Ridwan capek.
__ADS_1
Nabila berjalan menuju Adelia yang sedang tidur. "Anak mamah masih tidur, mamah tinggal sebentar yah, mamah mau cari udara segar". Ucap Nabila sambil mengelus pipi Adelia.
Sebelum Nabila pergi dia menuliskan sesuatu pada surat kecil dan menaruhnya dibox bayi Adelia, setelah itu Nabila pergi keluar apartemen nya untuk mencari udara segar.
Nabila tidak pergi terlalu jauh dia hanya berjalan jalan disekitaran taman apartemen. "Huh udaranya dingin banget, harusnya tadi gue bawa hoodie". Gumam Nabila sambil mengesek gesekan tangan kanan nya ke tangan kiri nya agar hangat.
Saat sedang duduk ditaman itu yang kebetulan banyak cahaya cahaya jadi tidak menakutkan dan biasanya juga di taman itu banyak orang tapi malam ini hanya beberapa saja.
Karena terlalu dingin Nabila ingin kembali ke apartemennya tapi baru saja dia berdiri tiba tiba ada yang membengkap mulutnya dan tak lama Nabila pingsan karena saat dibekap ada obat bius nya.
"Bawa dia cepetan". Ucap bos dari orang yang baru saja membekap Nabila yang pingsan saat ini. Dan mereka pun membawa Nabila entah kemana.
***
Pagi hari nya Sania baru saja bangun dan kaget melihat dirinya berada dalam pelukkan Ridwan, Sania langsung mendorong Ridwan. "Loh jangan modus dong main peluk peluk gue aja". Kesal Sania sambil merapikan rambut nya yang berantakan sehabis tidur.
Sedangkan Ridwan yang didorong dan disalahkan langsung emosi. "Siapa suruh loh nerima pelukkan gue semalem?". Tanya Ridwan dengan raut wajah yang kesal.
Sania tidak menjawab pertanyaan Ridwan, dia berjalan menuju kamar mandi untuk cuci muka dan gosok gigi, setelah melakukan itu Sania langsung berjalan menuju kamar Nabila untuk membangunkan Nabila.
"Bil gue masuk". Ucap Sania sambil membuka pintu kamar Nabila, tapi saat dibuka Sania tidak melihat Nabila, dia mencari kekamar mandi tapi tetap tidak ada, Sania langsung berlari menuju Ridwan.
"Rid, Nabila nggak ada dikamar nya". Ucap Sania yang panik.
"Masa?, lagi keluar kali". Ucap Ridwan sambil mengendong Adelia karena dia terus menangis.
"Eh ini apaan?". Tanya Ridwan lagi sambil mengambil kertas itu dan membaca nya.
MOHON KERITIK DAN SARANNYA YAH KAKAK-KAKAK, TAPI INGAT KERITIK DAN SARANNYA JANGAN MELUKAI HATI AUTHOR ATAU ORANG LAIN YAH MAKASIH😊❤
__ADS_1