
Saat ini Nabila dan yang lainnya baru saja selesai menyaksikan pemakaman Nisa. Nisa dimakamkan di Jakarta karena dia yang meminta jadi dilaksanakan oleh keluarga. Sedangkan Alfaro tidak datang kepemakan Nisa karena dia sedang berada diluar negeri dan belum dikasih tahu oleh yang lain bahwa Nisa sudah tidak ada.
"Kamu yang tenang yah disana Nis, mbak akan selalu mendo'akan kamu". Ucap Nabila sambil mengusap nisan yang bertuliskan nama Nisa.
"Sayang ayo kita pulang dan jangan sedih terus ikhlas Nisa dia pasti sedih melihat mbaknya menangis". Ucap Citra merasa kasihan kepada Nabila dan ini semua karena dirinya.
"Sebentar lagi mah". Ucap Nabila yang masih mengusap nisan Nisa dan sesekali mengecupnya, Nabila terus meneteskan air mata.
Citra menunggu Nabila dengan sabar dan mengusap punggung Nabila agar lebih tenang. "Sudah jangan nangis terus". Ucap Citra yang masih mengusap punggung Nabila.
Cukup lama Nabila dipemakaman dan tak lama dia mengajak Citra untuk pulang, memang yang menemani sedari tadi hanya Citra, soalnya Sania mengurus Adelia kalau William dia ada pekerjaan mendadak. "Kita pulang mah". Ucap Nabila bangkit dari jongkoknya dan berjalan bersama Citra menuju mobil yang berada diparkiran.
"Kenapa hidup gue jadi gini?". Batin Nabila saat sudah berada didalam mobil dan dia terus menatap keluar jendela tanpa mendengarkan Citra yang sedari tadi mengajak ngobrol.
***
Tak berselang lama Nabila sampai diapartemennya karena memang tadi dia menyuruh Citra untuk mengantar ke apartemennya saja. "Makasih mah udah nganterin aku". Ucap Nabila yang sudah turun dari mobil.
"Iya sama sama sayang, kalau gitu mamah duluan yah". Ucap Citra sambil menyuruh supir untuk melajukan mobilnya, Citra pun tak lupa dadah kepada Nabila.
Setelah melihat kepergian Citra, Nabila langsung berjalan menuju apartemennya dan saat sudah sampai didalam apartemennya Nabila langsung melihat Sania dan Adelia yang sedang tidur.
Nabila menghampiri Adelia dan melihat anaknya tidur dengan begitu nyenyak. "Sania benar gue masih punya Adelia yang harus gue bahagiain". Batin Nabila sambil mengelus pipi cabi Adelia
"Eh loh udah pulang?". Tanya Sania yang baru saja bangun dari tidurnya dan melihat Nabila yang sedang menatap Adelia.
"Gimana pemakamannya lancar?". Tanya Sania lagi sambil membenarkan duduknya karena tadi dia setengan berbaring disopa. Nabila hanya mengangguk sebagai jawaban.
__ADS_1
Sania yang melihat Nabila sangat sedih merasa iba tapi dia tidak tahu harus melakukan apa untuk menghibur Nabila. "Udahlah jangan sedih mulu, oh iya gue akan nginep diapartemen loh untuk beberapa hari". Ucap Sania dia menginap di apartemen Nabila untuk membantu Nabila kalau ada masalah nanti.
Nabila hanya diam saja dan setelah itu dia berjalan menuju kamarnya mungkin untuk istirahat atau melakukan hal lain. Sedangkan Sania hanya menatap kepergian Nabila.
"Gue tahu loh kuat kok Bil, cuman saat ini loh mungkin sedih tapi gue yakin Allah akan memberikan kebahagian untuk loh". Batin Sania.
Saat sedang melamun tiba tiba ada yang memencet bel apartemen. "Siapa sih yang namu, nggak tahu emang kalau orangnya lagi sedih". Kesal Sania sambil berjalan menuju pintu.
Dan saat membuka pintu Sania kaget. "Loh kok tahu Nabila tinggal diapartemen ini?". Tanya Sania kepada orang itu.
"Apa sih yang gak gue tahu dan kenapa loh nggak hubungin gue malah ninggalin gue sendiri di butik". Ucap orang itu yang tak lain adalah Ridwan, Ridwan sudah lama menunggu dibutik karena siapa tahu ada yang menjemputnya ternyata tidak ada yang menjemputnya sama sekali.
"Oh iya gue lupa, soalnya tadi Nisa meninggal jadi lupa deh soal loh, ya udah sekarang loh masuk aja". Ucap Sania menyuruh Ridwan masuk kedalam apartemen.
Sedangkan Ridwan yang mendengar Nisa meninggal langsung kaget dan tidak percaya. "Nisa adiknya Nabila meninggal?, kenapa bisa meninggal?". Tanya Ridwan sambil masuk kedalam apartemen dan duduk disopa.
"Iya Nisa adiknya Nabila, yah meninggal karena dicabut nyawanya". Ucap Sania membuat Ridwan jengkel karena ditanya serius malah bercanda.
"Dia punya penyakit diabetes dan HIV". Jawab Sania sambil merebut paper bag yang ada ditangan Ridwan dan Sania langsung membukanya.
"Wah burger". Ucap Sania langsung memakan burger itu dengan rakus tanpa izin dulu kesipemilik bahwa makanan itu untuk siapa.
"Nggak ada sopan sopannya loh main ambil aja". Cibir Ridwan langsung menoyor kepala Sania, sedangkan yang ditoyor hanya mengerucutkan bibinya sambil makan.
"Kenapa Nisa bisa terkena HIV?, padahal dia anak baik loh". Ucap Ridwan lagi tidak percaya bahwa Nisa bisa terkena penyakit HIV.
"Mana gue tahu, orang yang punya penyakit aja nggak tahu kalau dia terkena HIV". Ucap Sania sambil mengangkat bahunya tidak tahu.
__ADS_1
"Loh nggak tahu aja kelakuan Nisa kayak apa Rid". Batin Sania tersenyum miris.
"Lah kenapa Nisa bisa nggak tahu?, terus sampai dia meninggal dia nggak tahu kalau dia punya penyakit HIV?". Tanya Ridwan mulai dalam mode kepo.
"Auh ah loh banyak tanya gue pusing jadinya, dasar BOKEP". Ucap Sania kesal karena Ridwan terus menanyakan soal Nisa padahal dia sedang makan, bila Sania sedang makan jangan diajak bicara karena itu akan membuatnya emosi.
Ridwan yang mendengar bokep otaknya langsung traveling. "Loh jotok pakai ngomong bokep segala". Ucap Ridwan mulai curiga kepada Sania.
"Eh otak loh nggak usah mikitin kotor gitu, bokep itu singkatan dari bocah kepo, huh dasar otak udang". Ucap Sania sambil menoyor kepala Ridwan dan setelah itu Sania langsung lari kedapur.
"Kok otak gue jadi gini sih". Gumam Ridwan sambil memukul mukul kepalanya karena otaknya jadi eror dan kotor entah kenapa jadi kotor begitu.
Sedangkan Sania langsung tertawa terbahak bahak didapur karena berhasil mengerjai Ridwan dengan kata katanya. "Haha dasar otak udang jadi begitu otaknya". Ucap Sania mengusap air matanya karena terlalu banyak tertawa.
Setelah puas tertawa Sania langsung mengambil piring untuk menaruh burger yang tadi dibawa oleh Ridwan, dan membawa satu burger untuk diberikan kepada Nabila.
"Tolong jagain Adelia bentar gue mau kasih makan ibunya dulu". Ucap Sania kepada Ridwan yang sedang melamun entah memikirkan apa. Sania berjalan menuju kamar Nabila.
Tok
Tok
"Bil gue masuk yah". Ucap Sania langsung membuka pintu kamar Nabila dan masuk. Saat masuk Sania melihat Nabila yang sedang menatap keluar jendela.
"Makan dulu nih, agar loh ada tenaga buat ngelamunnya". Ucap Sania sambil memberikan piring berisi burger, tapi Nabila tidak merespon Sania.
"Makan dulu Bil nanti loh sakit". Ucap Sania menyuapi Nabila agar mau makan, tapi bukannya menjawab tentang makanannya Nabila malah bertanya kepada Sania.
__ADS_1
"San..."
MOHON KERITIK DAN SARANNYA YAH KAKAK-KAKAK, TAPI INGAT KERITIK DAN SARANNYA JANGAN MELUKAI HATI AUTHOR ATAU ORANG LAIN YAH MAKASIH😊❤