Berbagi Cinta: Suamiku Menikahi Adik Ku Sendiri

Berbagi Cinta: Suamiku Menikahi Adik Ku Sendiri
DITURUNIN


__ADS_3

"Bang Ridwan ngapain kesini pagi pagi?". Tanya Nina kepada orang itu yang ternyata Ridwan, entah mau apa dia kerumah Nabila sambil membawa tas agak besar.


Bukannya menjawab pertanyaan Nina, Ridwan malah balik nanya kepada Nina. "Nabilanya ada Nin?". Tanya Ridwan sambil celingak celinguk kedalam.


"Hmm...aroma aromanya abang suka yah sama mbak Nabila?". Tanya Nina curiga karena Ridwan kemarin juga saat Nina sedang mengisi bensin menanyakan Nabila sudah cerai apa belum.


Ridwan yang ditanya seperti itu langsung mengaruk kepalanya yang tidak gatal seperti orang bodoh. "Issh apaan sih, udah ah Nabilanya ada nggak?". Tanya Ridwan lagi sambil mengalihkan penglihatannya kesamping karena tidak mau Nina melihat bahwa dirinya sedang malu.


"Cie cie bilang aja suka gitu, pake acara ngeles segala, cepetan jadiin istri mbak Nabilanya nanti diambil orang loh kan sayang". Ucap Nina sengaja ingin menggoda Ridwan, sedangkan yang digoda langsung malu sekali.


"Haha pipi bang Ridwan merona, kayak ada tomatnya gitu atau bang Ridwan pakai buat pipi itu yang warna pink apa yang lupa lagi namanya". Ucap Nina kembali menggoda Ridwan. Saat Nina akan menggoda Ridwan lagi, Nabila datang menghampiri.


"Siapa Nin, pagi pagi begitu bertamu?". Tanya Nabila kepada Nina tanpa menoleh kearah Ridwan.


"Itu tuh bang Ridwan katanya ma...". Ucapan Nina terpotong oleh tangan Ridwan, karena Ridwan membekap mulut Nina takut Nina bicara aneh aneh.


"Ma ma apa Nin?". Tanya Nabila penasaran.


"Ini gue mau ikut loh ke Jakarta, soalnya dirumah gue nggak ada siapa siapa mereka udah pada pergi keacara yang gue bilang kemaren". Ucap Ridwan yang masih membekap mulut Nina dan karena Nina kesal dia mengigit tangan Ridwan dengan sangat keras.


"Aahkk aahhkk". Teriak Ridwan kesakitan dan langsung melepaskan tangannya dari mulut Nina.


"Makannya jangan bekap mulut orang sembarangan bang". Ucap Nina kesal dan berjalan masuk kedalam untuk melanjutkan sarapannya yang tadi tertunda.


Nabila yang melihat itu hanya geleng geleng kepala. "Tangan loh nggak papa kan Rid?". Tanya Nabila yang melihat tangan Ridwan merah dan ada bekas gigitan Nina.


"Tadinya sih nggak papa tapi karena digigit sama Nina jadi kenapa napa". Jawab Ridwan yang sedang memegang tangannya karena merasa sakit plus perih.


"Maafin Nina yah, dia emang kayak vampir untung nggak ngambil darah orang". Ucap Nabila membuat Nina yang sedang sarapan langsung berteriak karena mendengar ucapan Nina.

__ADS_1


"MBAAAAAK". Teriak Nina membuat Adelia yang masih tidur langsung terbangun dan menangis.


Nabila yang mendengar itu langsung berlari dan tidak lupa menyuruh Ridwan masuk kedalam rumah.


"Eh loh lagi, ngapain loh kesini lagi hah?". Tanya Sania tidak suka dengan Ridwan setelah kejadian kemarin.


"Serah gue dong, Nabila aja nggak protes gue kesini". Ucap Ridwan membuat Sania makin kesal.


"Bisa nggak sih kalian nggak berantem, gue pusing tahu nggak lihat". Kesal Nabila karena dirinya sedang pusing memikirkan ini itu dan ditambah Ridwan dan Sania berantem.


"Udah cepetan makannya Sania, dan loh Ridwan ngapain juga ikut ke Jakarta, gue ke Jakarta ada urusan penting bukan mau jalan jalan". Ucap Nabila sambil duduk dikursi dan memberi Adelia susu.


"Nggak papa dia ikut Bil, biar dia aja yang bawa mobil dan kita tinggal tiduran aja". Ucap Sania sambil menyuapkan satu sendok terakhir nasi kuning.


Nabila tampak berpikir dan akhirnya menyetujui kalau Ridwan boleh ikut bersama dengannya. "Ya udah galau gitu loh boleh ikut". Ucap Nabila.


Ridwan tampak tersenyum kepada Sania dan mengacungkan jempolnya menandakan bahwa dia berterima kasih kepada Sania, sedangkan Sania hanya tersenyum kecut.


Sedangkan Nabila langsung kemeja makan untuk sarapan. "Loh udah sarapan belum Rid?". Tanya Nabila sambil membuka satu bungkus nasi kuning.


"Udah kok tadi". Jawab Ridwan karena memang tadi dia sudah sarapan dirumah.


"Oh gue kirain belum, kalau belum tadinya gue mau bagi dua nasi kuningnya, soalnya pasti gue nggak akan habis makan semuanya". Ucap Nabila lagi membuat Ridwan menyesal telah berkata bahwa dirinya sudah sarapan.


Skip


Setelah selesai sarapan dan merapikan barang barang yang akan dibawa ke Jakarta, Nabila pun siap berangkat. "Nggak ada yang ketinggalan kan?". Tanya Nabila sambil melirik Sania, Sania pun mengecek barang barangnya.


"Nggak ada, semua udah sip pokoknya". Jawab Sania mengacungkan kedua jempolnya kepada Sania.

__ADS_1


"Kalau gitu kita berangkat sekarang, tukang ojeknya udah nunggu didepan". Ucap Nabila lagi, karena memang tadi dia memesan ojek untuk mengantar sampai kepenitipan mobil.


Mereka pun berjalan keluar menuju tukang ojek. "Gue naik sama Nina yah, kalian naik pakai ojek aja, kalau soal bayarnya tenang aja gue yang bayar". Ucap Nabila sambil keluar dari pagar rumah dan menaiki motor Nina.


"Ayo Nin berangkat, pelan pelan aja bawa motornya, kasihan nanti Adelia takut masuk angin walaupun sudah pakai jaket tapi mbak tetap takut aja". Ucap Nabila lagi sambil menyuruh Nina berangkat menuju penitipan mobil.


"Siap mbak tenang aja, sekarang kita berangkat". Ucap Nina langsung menyalahkan mesin motornya dan melaju dengan kecepatan sedang, sedangkan Sania dan Ridwan satu motor karena memang tadi Nabila hanya memesan satu ojek saja.


"Jangan terlalu nempel dong loh duduknya sama gue dan jangan modus pakai pegang pundak gue segala". Ucap Sania perotes karena Ridwan terlalu nempel duduknya.


"Lah loh kira ini mobil yang bisa leha leha, ini motor beg* jadi wajar kalau gue nempel sama loh dan untuk pegang pundak loh karena gue takut jatuh, mau pegang pundak abangnya kejauhan". Ucap Ridwan tidak terima dengan ucapan Sania yang bilang kalau dirinya modus.


"Mbak mas bisa diam nggak?, saya lagi fokus bawa motor, kalau nanti jatuh kesawah gimana?, kalian mau tanggung jawab?". Ucap tukang ojek itu juga merasa kesal karena penumpangnya tidak bisa diam.


"Nih bang dia yang nggak bisa diam, salahin dia aja bang, kalau perlu turunin dia dari motor ini". Ucap Sania menyalahkan Ridwan sedangkan Ridwan yang disalahkan tidak tinggal diam saja dan terjadi lah percekcokan kedua anak manusia ini yang membuat tukang ojek langsung memberhentikan motornya karena kesal.


"Mending kalian jalan kaki saja sana, saya nggak mau jatuh kesawah karena kalian". Ucap tukang ojek itu menyuruh Sania dan Ridwan turun dari motornya.


"Eh enak aja abang kan udah dibayar sama teman saya, jadi abang harus antar kita sampai tujuan". Ucap Sania tidak terima diturunkan dipinggir jalan.


"Nih saya balikin". Ucap tukang ojek dan melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan Sania dan Ridwan.


"Ini gara gara loh sih". Ucap Sania menyalahkan Ridwan kembali dan kembali terjadi percekcokan sepanjang perjalanan, ya mereka berjalan kaki karena sebentar lagi sampai ditempat penitipan mobil.


Sedangkan Nina dan Nabila heran melihat tukang ojek yang membawa Sania dan Ridwan melaju dengan kecepatan tinggi dan tidak membawa orang satu pun.


"Kok abang ojeknya nggak bawa mbak Sania sama bang Ridwan?". Tanya Nina merasa heran.


"Udah lah biarin aja paling Sania sama Ridwan berantem pas naik ojek jadi diturunin dijalanan". Ucap Nabila mengerti kenapa tukang ojek itu tidak membawa Sania dan Ridwan.

__ADS_1


MOHON KERITIK DAN SARANNYA YAH KAKAK-KAKAK, TAPI INGAT KERITIK DAN SARANNYA JANGAN MELUKAI HATI AUTHOR ATAU ORANG LAIN YAH MAKASIH😊❤


__ADS_2