
Sania saat ini sudah menjelaskan kepada Citra bahwa Nabila pergi entah kemana. "Kita harus cari Nabila San, tante takut terjadi apa apa sama dia". Ucap Citra khawatir.
"Nabila pasti baik baik aja tan, didalam surat itu kan tertulis bahwa dia akan baik baik aja". Ucap Sania mengingatkan isi dalam surat yang ditulis oleh Nabila.
"Tapi belum tentu di bicara begitu dia akan baik baik aja kan?". Tanya Citra malah membuat Sania khawatir yang tadi nya sudah tidak agak khawatir.
"Kalau kita kita lapor polisi aja gimana tan?". Tanya Sania yang mulai berpikiran negatif.
"Nggak usah San, ini bukan kasus penculikan ataupun kehilangan, tapi Nabila pergi sendiri". Jawab Citra karena merasa tidak perlu melapor polisi.
"Katanya tadi suruh cari Nabila, yah cara yang efektif pakai polisi". Ucap Sania lagi merasa heran dengan Citra yang tidak mau melakukan caranya.
"Kita pakai bodyguard tante aja". Ucap Citra yang mengingat dirinya mempunyai bodyguard yang diberikan oleh suami nya.
"Ya udah terserah tante aja". Ucap Sania pasrah karena memang tidak ada cara lain selain cara yang disebutkan Citra.
Citra langsung menyuruh bodyguardnya untuk mencari Citra dimulai dari cctv rumah sakit, karena di cctv itu pasti ada jejak Nabila pergi kemana.
***
Ditempat lain saat ini ada seorang wanita cantik dan anaknya yang baru tiba dikampung halamannya, dia berjalan kaki menuju rumah neneknya karena tidak ada ojek, sedangkan mobilnya ditinggal karena jalannya yang sempit jadi mobil tidak muat, padahal rumah tujuan orang itu masih agak jauh.
"Eh itu bukannya Nabila yah, cucu nenek Salwa". Ucap salah satu ibu ibu yang sedang nongkrong bersama ibu ibu lainnya.
"Ah masa mana mungkin dia kesini, dia kan pasti sibuk ngurusin butiknya". Timpal salah satu ibu ibu dan di angguki oleh ibu ibu lainnya.
"Lihat aja tuh dia bawa anak". Ucap ibu ibu tadi dengan apa yang dilihat dan tak lama orang yang digosipkan pun menyapa.
"Assalamualaikum ibu ibu apa kabar?". Sapa orang itu kepada ibu ibu yang sedang nongkrong.
"Alhamdulilah kita sehat, kamu Nabila kan?". Tanya ibu ibu tadi masih penasaran jadi dia to the poin saja.
"Benar saya Nabila dan ini anak saya namanya Adelia". Jawab orang itu yang tak lain memang benar Nabila bersama Adelia. Nabila memang pergi kekampung halamannya atau rumah neneknya, karena dia bingung harus pergi kemana selain rumah neneknya.
__ADS_1
"Tuh kan benar kata saya kalau di-...". Ucap ibu ibu itu tidak diteruskan karena omongannya dikancangin, karena ibu ibu yang lain sedang asik mencoel coel pipi Adelia, walaupun tidak terlalu gembul.
"Kalau gitu saya permisi dulu yah ibu ibu, mau kerumah nenek dulu, dan ini saya bawa sedikit oleh oleh dari Jakarta". Ucap Nabila sambil memberikan beberapa paper bag berisi baju dari butiknya. Nabila membawa oleh oleh agar warga dikampungnya tidak ciriga bahwa dia kabur dari rumah.
"Wah makasih yah Nabila, kamu memang dari dulu baik banget". Ucap ibu ibu itu bahagia karena belum lebaran mereka sudah mempunyai baju baru yang mahal dan bermerek.
Nabila hanya mengangguk dan kembali berjalan menuju rumah neneknya, rumah masa kecil Nabila dan Nisa dulu sebelum mereka pergi ke Jakarta.
Tak lama Nabila sampai dirumah neneknya, rumah yang penuh kenangan antara Nabila dan neneknya, rumah yang membuat Nabila merasa selalu bahagia dan rumah yang membuat dirinya nyaman untuk istirahat walaupun kalau hujan selalu ada saja bocor, tapi itu dulu sekarang rumah ini sudah jauh lebih baik.
"Akhirnya kita sampai sayang dirumah nenek buyut". Ucap Nabila sambil membuka pintu pagar kecil yang ada dirumah itu.
"Assalamualaikum". Salam Nabila tapi tidak ada yang menyahuti.
"Kok nggak ada yang jawab". Gumam Nabila merasa heran karena biasanya rumahnya itu suka ramai dengan orang orang yang akan membeli sulaman buatan neneknya, memang nenek Nabila suka sekali menyulam dan itu dijadikan ladang bisnis sekali gus mengisi waktu luang.
Tok
Tok
"NENEK!!!". Teriak Nabila saat melihat neneknya tergeletak dilantai.
"Nek, nenek kenapa, bangun nek jangan buat Nabila khawatir". Ucap Nabila sambil mengoyang goyangkan tubuh neneknya.
"Tolong tolong". Teriak Nabila dan tak lama tetangga rumah pun datang.
"Astagfirulah nenek Salwa kenapa?". Tanya tetangga Nabila yang bernama Ningsih.
"Tolongin nenek saya bu". Ucap Nabila sudah mulai menangis karena takut terjadi apa apa sama neneknya.
"Iya iya sebentar saya panggil suami saya dulu". Ucap Ningsih sambil pergi keluar untuk memanggil suaminya yang ada diteras rumah.
"Hiks...hiks...Nek bangun". Tangis Nabila, sedangkan Adelia juga ikutan menangis entah karena berisik atau karena ibunya menangis dia juga ikutan sedih.
__ADS_1
"Tolong cepat Pak bantuin nenek Salwa". Ucap Ningsih yang baru masuk bersama suaminya dan tetangga yang lain karena tadi Ningsih berteriak saat memanggil suaminya, alhasil semua tetangga jadi kepo.
Suami Ningsih pun mengendong Salwa menuju motornya. "Ibu naik sama bapak baut pegangin nenek Salwa, kalau Nabila kamu pergi sama anak bapak aja". Ucap suami Ningsih karena tidak mungkin mereka naik berempat, bertiga pun susah apalagi berempat.
Nabila langsung kerumah Ningsih untuk memanggil anak Ningsih. "Nin, Nina". Panggil Nabila langsung masuk kedalam rumah karena dirinya sudah sangat khawatir kepada neneknya yang sedang dibawa kerumah sakit.
"Iya". Sahut Nina yang keluar dari kamar dan kaget melihat Nabila karena Nina sudah lama tidak ketemu Nabila.
"Mbak Nabila udah pulang, apa kabar?". Tanya Nina langsung memeluk Nabila karena dirinya sanhat rindu kepada Nabila, karena Nabila seperti kakaknya sendiri.
"Udah itu nggak penting, sekarang antar mbak kerumah sakit". Ucap Nabila membuat Nina bingung dengan ucapan Nabila.
"Siapa yang sakit mbak?". Tanya Nina karena dirinya tidak tahu siapa yang sakit.
"Udah ayo jangan banyak tanya". Ucap Nabila kesal karena Nina banyak bertanya dan itu malah membuat Nabila semakin pusing.
"Iya iya". Ucap Nina sambil mengambil kunci motor dikamarnya dan pergi keluar karena Nabila sudah berada diluar.
"Ayo mbak". Ucap Nina berjalan menuju motornya dan memberikan helm kepada Nabila.
"Pakai dulu mbak biar selamat dan otaknya tetap pinter soalnya kalau kena angin nanti otaknya begu dan bego deh". Ucap Nina malah bercanda.
"Udah ayo berangkat". Ucap Nabila yang sudah menaiki motor, Nina pun menyalakan motornya dan pergi menuju rumah sakit dengan kecepatan sangat tinggi.
"AWAS!!!". Teriak Nina saat melihat seseorang sedang menjual kerupuk, mungkin karena kerupuknya tidak di ikat dengan benar jadi kerupuk itu berhamburan kemana mana.
"WOY KALAU NGGAK BISA BAWA MOTOR JANGAN BAWA MOTOR, JALAN KAKI AJA!!!". Teriak penjual kerupuk emosi karena kerupuknya berhamburan kemana mana dan itu membuat dirinya rugi.
Sedangkan Nina tidak memperdulikan teriak penjual kerupuk, dia terus menancap gas dengan sangat cepat.
"Itu gimana penjual kerupuknya?". Tanya Nabila merasa kasihan saat melihat kebelakang kerupuknya berhamburan kemana mana.
"Udah nggak usah dipeduliin, kita ganti rugi aja nanti". Ucap Nina dirinya memang akan ganti rugi tapi nanti setelah mengantar Nabila.
__ADS_1
Nabila pun hanya mengangguk sambil memeluk Nina karena takut jadoh, sedangkan Adelia dia tadi dititipkan kepada salah satu tetangganya juga.
MOHON KERITIK DAN SARANNYA YAH KAKAK-KAKAK, TAPI INGAT KERITIK DAN SARANNYA JANGAN MELUKAI HATI AUTHOR ATAU ORANG LAIN YAH MAKASIH😊❤