
"Kamu Nabila kan?". Tanya orang itu sambil menghampiri Nabila kembali dan langsung memeluk Nabila.
Nabila langsung melepaskan pelukkan orang itu karena dirinya merasa tidak kenal dengan orang itu. "Anda siapa main peluk peluk saya sembarangan". Ucap Nabila marah karena orang asing ini bertindak tidak sopan.
"Loh nggak inget sama gue?". Tanya orang itu merasa kesal karena Nabila tidak mengenalinya padahal mereka dulu suka main bersama. Nabila mengelengkan kepalanya sebagai jawaban kalau dirinya tidak mengenal orang asing itu.
"Ya ampun parah banget loh lupa sama gue, gue sahabat loh waktu kecil". Ucap orang itu mencoba membantu Nabila mengingat siapa dirinya.
Nabila mengingat gingat wajah orang itu dan langsung menutup mulutnya karena kaget. "Ya ampun loh Ridwan kan?". Tanya Nabila dan orang itu mengangguk.
"Loh apa kabar?, dan kenapa loh ada dikampung?, bukannya loh kerja diluar negeri?". Tanya Nabila merasa aneh karena sahabat lelakinya ini harusnya berada diluar negeri.
"Gue baik kok dan gue disini cuman liburan aja sama nengokin keluarga gue". Jawab Ridwan hanya berlibur saja dikampungnya.
"Oh gitu, udah lama banget yah kita nggak ketemu". Ucap Nabila mengingat ingat kapan dirinya bertemu dengan Ridwan sahabat yang paling baik menurut Nabila setelah Sania.
"Iya udah lama, eh gue turut berduka cita yah atas meninggalnya nenek loh, maaf gue nggak bisa berkunjung kemarin soalnya ada kerjaan mendadak dikantor cabang disini". Jelas Ridwan kepada Nabila.
"Iya nggak papa kok, hebat yah loh sekarang pakai ada cabang segala disini dan penampilan loh udah keren nggak kayak dulu kucel dan ingusan". Ucap Nabila mengingat bagaimana tingkah Ridwan saat dulu.
"Apaan sih loh pakai bahas soal yang itu, ngomong ngomong ini keponakan loh?". Tanya Ridwan saat melihat Nabila mengendong seorang bayi.
"Bukan dia anak gue cantikan, siapa dulu mamahnya". Jawab Nabila sambil melihat anaknya yang sedang menatap dirinya sambil tersenyum.
Ridwan yang mendengar jawaban Nabila langsung membeku. "Anak loh?, kapan loh nikahnya kok gue nggak tahu dan kenapa loh nggak ngundang gue". Ucap Ridwan pura pura marah padahal didalam hatinya menyembunyikan kesedihannya.
Saat Nabila akan menjawab pertanyaan tiba tiba ada yang memanggilnya. "NABILA!!!". Teriak orang itu sambil menghampiri Nabila dan tanpa aba aba dia langsung memukul muka Ridwan.
"Mas apa apaan sih". Ucap Nabila menganti panggilannya karena tidak mau orang orang berpikiran macam macam tentang keluarganya. Nabila menolong Ridwan yang tersungkur ke tanah.
__ADS_1
"Loh nggak papa kan Rid?". Tanya Nabila dan Ridwan hanya mengangguk saja.
"Kamu ngapain tolongin dia?". Tanya Alfaro yang emosi karena Nabila malah menolong orang kurang ajar ini yang berani memeluk istrinya, memang tadi Alfaro melihat saat Ridwan memeluk Nabila karena Alfaro berniat menyusul Nabila yang ingin keliling keliling.
"Kamu yang apa apaan kayak anak kecil aja apa apa pakai kekerasan". Ucap Nabila balik memarahi Alfaro.
"Gue obatin luka loh yah dirumah gue". Ucap Nabila mengajak Ridwan kerumahnya karena ingin mengobati luka disudut bibir Ridwan yang berdarah.
"Nggak udah Bil gue nggak papa kok, gue pulang aja". Ucap Ridwan tidak mau membuat pria yang menatapnya dengan tatapan tajam itu salah paham.
"Ya udah kalau gitu loh hati hati yah, oh iya mana ponsel loh". Ucap Nabila meminta ponsel Ridwan untuk memasukan nomor teleponnya dan setelah selesai Nabila memberikannya lagi kepada Ridwan.
"Nanti loh hubungin gue aja yah, nomor gue udah ada diponsel loh". Ucap Nabila dan Ridwan hanya mengangguk dan melihat suami Nabila seperti akan meledak. Ridwan pun langsung berjalan pulang menuju rumahnya.
Nabila yang malas menanggapi Alfaro memilih pergi tapi ditahan oleh Alfaro. "Mau kemana lagi kamu?". Tanya Alfaro sambil mencekal tangan Nabila.
"Bukan urusan mas". Ucap Nabila sambil menghempaskan tangan Alfaro dari tangannya.
"Anak kamu?, ini anak aku bukan anak kamu dan oh iya nanti siang tanda tangan surat cerai yang akan dibawa oleh pengacara aku". Ucap Nabila memang sudah membulatkan tekadnya untuk bercerai dengan Alfaro.
"Saya bilang saya tidak akan menceraikan kamu". Bentak Alfaro yang tidak mau bercerai dengan Nabila mau bagaimana pun.
"Terserah kamu, aku akan tetap ingin bercerai dengan kamu". Ucap Nabila sambil berjalan meninggalkan Alfaro, karena sudah banyak orang yang melihat pertingkaian Nabila dan Alfaro.
Karena sudah tidak mood lagi untuk keliling kamu, Nabila pun akhirnya memutuskan pulang lewat jalan pintas karena tidak mau nanti berpapasan lagi dengan Alfaro.
Saat lewat jalan pintas Nabila melihat tukang nasi kuning langganannya dulu, Nabila pun langsung menghampiri tukang nasi kuning itu. "Bu pesan nasi kuningnya sepuluh bungkus yah". Ucap Nabila sambil duduk dikursi panjang yang ada disitu.
"Eh Nabila apa kabar?". Tanya ibu tukang nasi kuning itu sambil membuat pesanan Nabila.
__ADS_1
"Baik bu, ibu apa kabar?, nasi kuning ibu dari dulu selalu ramai yah". Ucap Nabila saat melihat banyak orang yang memesan nasi kuningnya.
"Alhamdulilah ibu baik, iya alhamdulilah masih ada yang mau makan nasi kuning ibu ini yang tidak seberapa". Ucap ibu itu yang tak lainnya namanya Susi.
"Ah ibu suka merendah gitu, nasi kuning ibu itu paling top di dunia ini, di Jakarta aja banyak yang jualan nasi kuning tapi nggak se enak nasi kuning ibu". Ucap Nabila memuji nasi kuning Susi.
"Haha kamu bisa aja, itu anak kamu yah?". Tanya Susi saat melihat Nabila membawa anak.
"Iya bu ini anak saya". Jawab Nabila sambil menyomot gorengan yang ada didepan dirinya.
"Eh ibu dengar Nisa juga punya anak, terus suaminya kemana?". Tanya Susi mendengar gosip dari pelanggannya kalau Nisa juga mempunyai anak yang seumuran dengan anak Nabila.
Nabila bingung harus jawab apa karena memang warga kampung tidak tahu kalau Nisa menikah dengan Alfaro. "Hmm...suami Nisa lagi kerja diluar negeri bu, jadi tidak ikut kesini". Bohong Nabila karena tidak ada cara lain selain bohong.
"Oh gitu, ibu turut berduka cita yah atas kepergian nenek kamu". Ucap Susi sambil menyerahkan kantong plastik yang berisi sepuluh bungkus nasi kuning.
"Iya bu makasih yah, jadi berapa bu semuanya?". Tanya Nabila tidak mau membahas tentang neneknya bukan karena tidak suka karena Nabila takut menangis lagi.
"Semuanya jadi 110.000 sama gorengan". Jawab Susi.
"Ini bu kembaliannya ambil aja yah, saya pulang dulu bu". Ucap Nabila sambil berjalan pulang kerumah. Saat kepergian Nabila ibu ibu yang sedang memesan nasi kuning pun mulai bergosip.
"Dia kok nggak sedih sih, kan neneknya meninggal". Ucap salah satu ibu ibu itu yang hobi ngegosip, dia seakan harus hidup dengan gosip kalau tidak bisa mati.
"Mungkin dia sedih tapi tidak diperlihatkan bu, berpikir positif aja bu". Ucap Susi sambil memberikan nasi kuning ibu itu.
"Saya ngutang lagi yah bu minggu depan dibayar". Ucap ibu itu sambil pergi dari situ.
"Udah hobi gosip, hobi ngutang pula". Ucap salah satu ibu ibu karena dirinya tidak suka melihat orang yang bergosip, apa lagi kalau yang ngegosip itu suka mengorek keburukan orang lain dan tidak memikirkan keburukannya sendiri.
__ADS_1
MOHON KERITIK DAN SARANNYA YAH KAKAK-KAKAK, TAPI INGAT KERITIK DAN SARANNYA JANGAN MELUKAI HATI AUTHOR ATAU ORANG LAIN YAH MAKASIH😊❤