Berbagi Cinta: Suamiku Menikahi Adik Ku Sendiri

Berbagi Cinta: Suamiku Menikahi Adik Ku Sendiri
NISA DITAMPAR CITRA


__ADS_3

Sania saat ini sudah sampai dirumah Citra, Sania langsung membawa Nisa masuk. "Assalamualaikum". Salam Sania berjalan keruang tamu, karena Nabila ada disana.


"Wa'alaikumsalam, kok loh balik lagi San, dan kenapa Nisa kesini?". Tanya Nabila heran kenapa Sania balik lagi dan membawa Nisa.


"Gue bawa dia buat menyelesaikan masalah". Jawab Sania sambil duduk disamping Nabila.


"Emang ad-...". Ucap Nabila terpotong karena melihat seseorang yang ditunggu tunggu oleh Nabila.


"Mas Alfaro". Panggil Nabila menghampiri Alfaro tapi Alfaro langsung menaiki tangga menuju ruang kerja papahnya.


Nabila terdiam. "Bil sini dulu gue mau loh dengar penjelasan adik loh ini". Ucap Sania, Nabila pun kembali duduk.


"Mau jelasin apa sih?". Tanya Nabila.


"Panggil dulu, tante, om sama Alfaro". Ucap Sania. Sedangkan Nabila bingung kenapa Sania ingin mengumpulkan keluarganya apa masalahnya sepenting itu, pikir Nabila. Nabila tidak banyak tanya, dia langsung memanggil Citra, sedangkan William dan Alfaro dipanggil oleh Citra.


"Ada apa ini kenapa kamu ngumpulin semua orang?". Tanya Citra kepada Sania.


"Biar Nisa aja yang jelasin tan". Ucap Sania duduk santai sambil memperhatikan Nisa yang hanya menunduk.


"Cepat jelasin". Ucap Sania lagi.


Nisa menatap Sania dengan kesal. "Jadi yang mitnah mbak Nabila, aku". Jelas Nisa. Semua orang yang ada disitu langsung kaget termasuk Nabila, dirinya tidak menyangka adiknya sekejam itu.


Plak


Tamparan itu berasal dari tangan Citra. "Kamu benar benar bukan manusia, bisa bisa kamu fitnah kakak kamu sendiri, dimana hati nurani kamu hah". Marah Citra karena tidak habis pikir dengan tindakan Nisa.


"Kamu itu sedang hamil dan fitnah orang lain, gimana kalau anak kamu kenapa napa karena tingkah kamu, saya makin BENCI sama kamu". Ucap Citra menekankan kata benci.


"Udah mah". Ucap William menahan Citra akan tidak marah marah lagi.


"Diam pah mamah belum selesai bicara sama orang ini". Ucap Citra yang masih ingin meluapkan emosinya.

__ADS_1


Sedangkan Nisa hanya diam dan menatap sinis kepada Citra. "Masih berani kamu lihat saya dengan tatap itu?, saya tidak akan pernah memaafkan kamu seumur hidup saya". Marah Citra lagi.


Nabila yang mendengar ibu mertuanya marah marah kepada adiknya, dia hanya bisa diam karena dirinya juga merasa sangat kecewa kepada Nisa.


"Saya tidak memohon permintaan maaf dari anda". Bentak Nisa yang mulai kebawa emosi.


"Berani beraninya kamu bentak saya, kamu memang bukan manusia melainkan jelmaan iblis". Ucap Citra.


Nabila yang mulai pusing dengan perdebatan itu memilih pergi dari menuju kamarnya, tapi sebelum itu Nabila berbicara dulu kepada Nisa. "Udah puas kamu lakuin ini sama mbak?". Tanya Nabila langsung pergi tanpa menunggu jawaban Nisa.


"Alfaro bawa istri KESAYANGAN kamu ini pergi". Ucap Citra yang juga sudah mulai pusing dengan berdebatan dirinya dan Nisa.


Alfaro langsung membawa Nisa pergi, lebih tepatnya Alfaro menyeret Nisa.


"Hmm...tante maafin Sania yah, harusnya Sania nggak bawa Nisa kesini". Ucap Sania merasa bersalah.


"Nggak papa kok San, justru tante mau bilang terima kasih sama kamu karena sudah bilang ini semua sama tante". Ucap Citra berterima kasih.


Asti yang baru turun dari atas merasa aneh karena tadi dirinya melihat semua keluarga kumpul, dan lebih aneh lagi kenapa Nabila menangis. "Tan ada apa ini?". Tanya Asti kepada Citra yang sedang berjalan ditangga bersama William. Citra tidak menjawab pertanyaan Asti dia terus berjalan.


Asti langsung berjalan menuju ruang tamu karena kebetulan masih ada Sania. "Ini ada apa sih?". Tanya Asti yang masih penasaran karena tadi dirinya tidak mengdengar apa pun karena Asti sedang mendengarkan musik menggunakan heas set.


"Au ah gue males jelasin, ayo Bil pulang". Ucap Sania mengajak Bilqis yang sedang makan sesuatu didapur. Sania pun pulang bersama Bilqis.


"Lah semua orang kenapa sih, kok nggak mau jawab pertanyaan gue, dan kenapa mukanya pada sedih semua". Gumam Asti bingung.


***


Dirumah Alfaro


Saat sudah sampai Alfaro langsung menampar Nisa karena dirinya sudah menahan dari tadi untuk tidak menampar Nisa.


Plak

__ADS_1


"Kenapa kamu melakukan itu hah?". Bentak Alfaro kepada Nisa yang menunduk dan tidak menjawab pertanyaan Alfaro, karena dirinya sedang putar otak untuk membohongi Alfaro.


"Jawab NISA". Ucap Alfaro sambil mengcekik leher Nisa.


"Ma..s le..pa..s du..lu..". Ucap Nisa terbata karena sesak nafas. Alfaro melepaskan pelukannya.


"Biar aku jelasin mas". Ucap Nisa mengatur nafasnya yang tadi sempat hilang karena dicekik.


"Ini semua salah paham, aku berkata seperti itu karena di ancam oleh Sania, kalau aku tidak berkata seperti itu, Sania akan berusaha membuat aku celaka, bahkan dia mengancam akan mencelakai kandungan aku". Jelas Nisa sambil akting menangis.


"Yang kamu katakan benar kan?, kalau gitu ayo sekarang kerumah Sania". Ucap Alfaro berjalan menuju keluar rumah, sedangkan Nisa langsung panik.


"Mas tunggu, kita nggak usah kesana, biarin aja aku difitnah sama dia, biar dia dapat balasan dari tuhan". Ucap Nisa menahan Alfaro untuk tidak pergi.


"Oke kalau gitu terserah kamu". Ucap datar Alfaro berjalan menuju kamar.


"Haha, ternyata mudah banget buat mas Alfaro percaya, dasar gampang banget dibohongin". Batin Nisa karena berhasil membuat Alfaro percaya dan itu akan membuat Alfaro percaya kalau anak dalam kandungan Nabila adalah anak pria lain.


***


Nabila saat ini sedang menangis karena kelakuin adiknya. "Hiks...Ayah ibu kenapa Nisa berbuat seperti itu sama Nabila". Tangis Nabila sambil memegang satu buah foto kecil yang selalu Nabila bawa dalam dompetnya.


"Nabila salah apa sama Nisa, Ayah ibu, kenapa Nisa sebenci itu sama Nabila, padahal waktu kecil kami baik baik saja, tapi setelah kepergian kalian sikap Nisa jadi berubah". Lirih Nabila, memang benar saat masih kecil Nabila dan Nisa sangat akrab sekali seperti kakak adik pada umumnya. Tapi, setelah kepergian Ayah dan Ibunya sikap Nisa berubah 180 derajat.


"Nabila capek hidup seperti ini terus, kenapa cuman Nabila yang merasakan penderitaan ini, apa salah Nabila". Ucap Nabila sambil terus menangis.


Sedangkan diluar pintu, Citra mendengar semua ucapan ucapan Nabila, dirinya merasa amat sangat kasihan kepada Nabila. Tapi dirinya tidak bisa berbuat apa apa.


Sebenarnya tadi Citra ingin melihat keadaan Nabila, tapi dirinya urungkan karena melihat Nabila yang sedang menangis dan sepertinya membutuhkan waktu sendiri.


Citra pergi dari depan pintu kamar Nabila dan berjalan menuju dapur untuk menyiapkan makan malam, sebenarnya ada pembantu, tapi William lebih suka masakan Citra dari pada pembantunya.


MOHON KERITIK DAN SARANNYA YAH KAKAK-KAKAK, TAPI INGAT KERITIK DAN SARANNYA JANGAN MELUKAI HATI AUTHOR ATAU ORANG LAIN YAH MAKASIH😊❤

__ADS_1


__ADS_2