
Nabila saat ini sudah diperbolehkan pulang kata dokter karena kondisi Nabila jauh lebih baik. "Oh iya mamah kemana kok nggak ada?". Tanya Nabila yang sedari tadi tidak melihat mertuanya.
"Tante Citra tadi katanya ambil baju, soalnya dia nggak tahu kalau loh boleh pulang". Jawab Sania yang sedang memasukan barang barang Nabila kedalam tas miliknya.
Dan yang dibicarakan pun datang membawa tas besar siapa lagi kalau bukan Citra. "Loh kenapa kamu duduk disopa sayang, sana baring lagi". Ucap Citra saat melihat Nabila sedang duduk disopa dan tidak menggunakan baju rumah sakit lagi.
"Nabila udah boleh pulang mah". Ucap Nabila.
"Oalah kalau tahu gitu mamah nggak usah ambil baju tadi". Ucap Citra yang langsung duduk disamping Nabila.
"Maaf tan, tadi soalnya tante ditelepon nggak aktif". Ucap Sania karena memang tadi dirinya sudah menelepon Citra tapi tidak aktif.
"Masa, perasaan ponsel tante aktif". Ucap Citra sambil mengambil ponselnya yang berada ditas.
"Eh iya deh nggak aktif, soalnya ponselnya aja mati". Ucap Citra sambil menunjukan ponselnya yang mati akibat kehabisan batrai.
"Huh dasar nenek pikun". Gumam Sania tapi masih kedengaran oleh Citra.
"Kamu bilang apa tadi?". Tanya Citra yang sudah memasang wajah garangnya.
"Yang mana tan?". Tanya Sania pura pura tidak mengingat.
"Yang tadi".
"Yang mana?".
"Yang tadi".
"Aduh udah dong Nabila jadi pusing nih karena mamah sama Sania malah berantem". Ucap Nabila pura pura pusing agar Citra dan Sania berhenti adu mulut.
"Kamu pusing sayang, kalau gitu perlu mamah panggil dokter?". Tanya Citra panik segali gus merasa bersalah.
Nabila tersenyum. "Nabila nggak papa mah nggak usah panggil dokter". Ucap Nabila karena memang dirinya baik baik saja.
"Huhh..syukur deh kalau gitu". Ucap Citra bernafas lega.
"Kalau gitu kita pulang sekarang, atau loh mau mampir kemana dulu gitu?". Tanya Sania menatap Nabila.
"Kita langsung pulang aja, dan oh iya mah, Nabila tinggal di apartemen Nabila aja yah, nggak enak kalau nanti papah udah pulang". Ucap Nabila karena dirinya tidak mau melihat kedua mertaunya nanti bertengkar karena dirinya.
"Nggak boleh, kamu harus tinggal sama mamah, lagian papah ngizinin kamu buat tinggal dirumahnya kok". Ucap Citra memang dirinya tadi sudah meminta izin kepada suaminya, lebih tepatnya memaksa.
__ADS_1
"Emang papah udah pulang mah?". Tanya Nabila.
"Udah kok tadi pas mamah dirumah". Jawab Citra bohong karena tidak mau membuat Nabila merasa sedih kembali.
"Oh gitu, kalau gitu ayo pulang, Nabila udah bosen tinggal dirumah sakit". Ucap Nabila berdiri dari duduknya.
"Ayo". Ucap Sania. Mereka bertiga pun pulang kerumah Citra, lebih tepatnya rumah William.
***
Dalam perjalanan tiba tiba ada yang menelepon Citra.
"Ngapain Asti nelpon, biasanya juga nggak pernah nelepon kecuali urusan penting". Gumam Citra karena tidak biasanya Asti atau sepupu Alfaro menelepon Citra.
..."Halo ada apa As?". Tanya Citra to the point....
..."Ini tan apa benar mbak Nabila masuk rumah sakit?". Tanya balik Asti....
..."Iya, baru aja pulang, ini dalam perjalanan mau pulang kerumah tante". Jawab Citra....
..."Oh kalau gitu Asti nanti kerumah tante yah, sekalian main". Ucap Asti yang cengegesan dibalik telepon....
..."Ya udah tante tunggu, dan jangan lupa bawa makanan yang banyak kalau nengokin orang sakit". Canda Citra....
..."Haha, kalau gitu tante tutup yah teleponnya". Ucap Citra sambil mematikan sambungan teleponnya....
"Siapa tan?". Tanya Sania yang kepo.
"Asti, sepupu Alfaro". Jawab Citra. Sania hanya mangut mangut.
"Mah apa mas Alfaro akan nyusul Nabila?". Tanya lirih Nabila yang sedang memandang keluar jendela mobil. Citra diam sambil melirik Nabila.
"Gue yakin suami loh pasti akan nyusul loh, percaya sama gue". Sania yang menjawab pertanyaan Nabila karena Citra hanya diam mungkin bingung harus jawab apa.
"Loh nggak bohongin gue kan?". Tanya Nabila yang masih memandang keluar jendela mobil.
"Nggak". Jawab yakin Sania, walaupun dirinya tidak tahu Alfaro akan datang apa tidak. Nabila pun diam tidak pertanya lagi.
Sedangkan Sania dan Citra saling lirik karena merasa kasihan sekali dengan Nabila.
***
__ADS_1
Perusahaan Mahesa
"Mas kamu dari mana aja?, tadi itu ada meeting dan kita harus membatalkannya karena mas nggak ada". Ucap Nisa yang melihat Alfaro baru nongol lagi dikantor.
Sedangkan Alfaro tidak menjawab pertanyaan Nisa, dia terus berjalan menuju ruangannya dan diikuti oleh Nisa yang selalu bertanya ini itu kepada Alfaro, yang membuat Alfaro tambah pusing.
"Bisa nggak usah ngoceh". Bentak Alfaro masuk kedalam ruangannya sambil menutup pintu ruangannya dengan sangat keras.
Brak
Nisa langsung kaget dengan kebrakan pintu tersebut. "Huh untung gue nggak jantungan". Ucap Nisa mengusap dadanya karena kaget.
***
Saat ini Nabila baru sampai dirumah Citra. "Hati hati sayang turunnya nanti jatuh". Ucap Citra sambil membantu Nabila turun dari mobil.
"Kalau gitu Sania langsung kebutik dulu yah tan, soalnya masih banyak kerjaan dibutik karena bos nya sakit". Ucap Sania karena memang masih banyak pekerjaan saat dirinya menjenguk Nabila.
"Maaf deh maaf". Ucap Nabila merasa bersalah karena dirinya, Sania jadi banyak pekerjaan.
"Iya gue maafin karena gue orangnya pemaaf, tapi inget kalau loh masuk rumah sakit lagi, gue bakal nyundurin diri dari butik loh". Ancam Sania agar Nabila bisa menjaga kesehatan dan pikirannya.
"Iya iya, udah sana pergi". Ucap Nabila mengusir Sania.
"Kalau gitu Sania duluan tan". Pamit Sania salim kepada Citra dan pergi menggunakan taksi yang sudah dipesan oleh Sania saat berada di mobil Citra.
"Kalau gitu kamu istirahat yah sayang". Ucap Citra setelah kepergian Sania.
"Nabila pengen diam dulu ditaman mah". Ucap Nabila karena butuh udara segar, setelah hampir satu hari Nabila diam dirumah sakit.
"Ya udah, perlu mamah antar nggak?". Tanya Citra.
"Nggak perlu mah Nabila bisa sendiri kok". Jawab Nabila berjalan menuju taman yang berada disamping rumah Citra. Setelah melihat Nabila sudah duduk ditaman, Citra masuk kedalam rumah.
"Huuuuh". Hembus nafas Nabila.
Tak jauh dari Nabila terlihat seorang pria yang sedang melihat Nabila duduk kursi taman, sebenarnya dirinya merasa kasihan terhadap Nabila tapi karena dendam yang begitu besar, perasaan kasihan itu hilang.
"Saya memang kasihan sama kamu, tapi dendam saya lebih besar dari pada rasa kasihan saya". Batin orang itu terus menatap Nabila. Tapi saat Nabila melirik kearahnya, dirinya langsung bersembunyi karena takut ketahuan.
"Kok kayak ada yang merhatiin gue yah". Gumam Nabila merasa ada yang memperhatikannya.
__ADS_1
"Cuman perasaan gue aja kali, mending gue masuk kerumah aja sambil nunggu mas Alfaro". Ucap Nabila berjalan masuk kerumah Citra untuk menunggu Alfaro, padahal Alfaro saja datang atau tidak, Nabila tidak tahu.
MOHON KERITIK DAN SARANNYA YAH KAKAK-KAKAK, TAPI INGAT KERITIK DAN SARANNYA JANGAN MELUKAI HATI AUTHOR ATAU ORANG LAIN YAH MAKASIH😊❤