
Saat ini Nabila baru saja sampai dialamat yang dia tuju, Nabila datang sendiri karena tidak mau ada orang yang tahu dulu. Sania dan Ridwan disuruh ke butik oleh Nabila bersama dengan Adelia. Memang Nabila tidak membawa Adelia.
"Semoga ini beneran alamatnya dan semoga mereka masih tinggal di rumah ini". Batin Nabila berharap kedatangannya tidak sia sia.
Nabila langsung memencet bel rumah itu dan tak lama keluar lah seorang pembantu. "Mau ketemu sama siapa yah mbaknya?". Tanya pembantu itu sambil membuka pagar rumahnya.
"Hmm apa benar ini rumah keluarga Wiratmaja?". Tanya Nabila kepada pembantu itu yang tampak berpikir.
"Oh saya pernah dengar, katanya memang mereka pernah tinggal disini tapi setelah bapak Wiratmaja meninggal istrinya pindah dan sekarang katanya saya mendengar kabar bahwa dia sudah menikah lagi". Jelas pembantu itu yang memang pernah mendengar dari pembantu lama rumah ini.
"Sudah meninggal?". Tanya Nabila memastikan karena dia takut salah dengar jadi menanyakan kembali.
"Iya bapak Wiratmaja sudah meninggal, kalau tidak percaya saya panggil pembantu lama yang sudah berada dirumah ini". Ucap pembantu itu sambil berjalan kedalam untuk memanggil pembantu yang satunya lagi.
Tak berselang lama pembantu tadi pun kembali dengan membawa seorang wanita paruh baya. "Ini namanya mbok siyem, dia sudah jadi pembantu disini selama 39 tahun". Jelas pembantu tadi memperkenalkan wanita paruh baya itu.
"Oh iya, kalau nama saya Nabila". Ucap Nabila sambil menjabat tangan mbok siyem.
"Kamu mirip sekali dengan istri almarhum bapak Wiratmaja, apa mungkin kamu anaknya?, tapi waktu itu anak bapak Wiratmaja sudah meninggal dunia". Ucap mbok siyem yang terus memandangi wajah Nabila.
"Ah benar kah?, apakah mbok siyem bisa ikut saya sebentar, cuman sebentar kok tidak sampai 10 menit". Ucap Nabila ingin berbicara empat mata dengan mbok siyem.
"Kalau gitu ayo kita ngobrol diwarung yang ada didekat sini". Ucap mbok siyem setuju sambil berjalan duluan menuju warung itu disusul oleh Nabila.
"Hmm mbok saya mau tanya anak bapak Wiratmaja itu perempuan apa laki laki mbok dan kalau dihitung umurnya berapa tahun sekarang mbok?". Tanya Nabila sambil berjalan karena untuk mempersingkat waktu.
"Memang kamu siapanya keluarga Wiratmaja?". Tanya mbok siyem tidak mau memberi informasi kesembarangan orang.
__ADS_1
"Saya sodaranya istri dari bapak Wiratmaja". Bohong Nabila karena tidak bisa menjawab apapun selain menjawab sodara, karena kalau dibilang anaknya nanti pasti tidak akan percaya.
"Oh kamu sodarannya yang ada dikampung yah?, kalau nggak salah namanya Nuraeni". Ucap mbok siyem yang masih mengingat sodara dari majikannya dulu. Sedangkan Nabila hanya mengangguk saja sebagai jawaban.
"Kalau begitu kamu mau bertanya apa?". Tanya mbok siyem tidak mau basa basi lagi karena dia tidak suka orang basa basi karena itu membuat waktunya terbuang sia sia.
"Mbok jawab saja pertanyaan saya yang tadi". Ucap Nabila sambil memperhatikan mbok siyem.
"Beliau mempunyai anak perempuan yang sudah meninggal dan umurnya sepertinya seumur dengan kamu". Jelas mbok siyem tidak akan pernah melupakan majikannya yang dulu sangat baik.
"Oh gitu, apa mbok tahu sekarang istrinya tinggal dimana?, dan apakah benar beliau sudah punya suami lagi?". Tanya Nabila sambil mencatat jawaban mbok siyem tadi.
"Kalau nggak salah tinggal di daerah Bintaro sekarang sama suaminya, coba aja dulu kamu datang kesana dan alamatnya kamu catat, daerah Bintaro nomor xxx". Jelas mbok siyem kepada Nabila yang sedang mencatat alamatnya.
"Makasih yah mbok udah kasih tahu dan untuk gantinya saya kasih mbok hadiah memang nggak seberapa tapi semoga berguna". Ucap Nabila sambil memberikan sebuah paper bag.
"Eh iya sama sama neng, tapi kalau boleh tahu memang kamu tidak tahu sodara kamu sendiri tinggal dimana?, atau kalian sudah terpisah lama?". Tanya mbok siyem kepada Nabila.
"Kalau gitu saya pergi ke alamat yang mbok siyem bilang yah, soalnya udah nggak sabar pengen ketemu". Ucap Nabila lagi sambil salim kepada mbok siyem dan pergi dari sana menggunakan mobil. Ya, akhirnya Nabila berbicara dijalan bukan diwarung.
Sedangkan mbok siyem hanya tersenyum menatap kepergian Nabila. "Saya tahu pasti kamu bukan hanya sekedar sodara dari istri bapak Wiratmaja". Gumam mbok siyem.
Saat Nabila akan pergi menuju Bintaro dia mendapat telepon dari Citra. "Mamah Citra ada apa nelepon gue?". Gumam Nabila sambil mengambil ponselnya dan mengangkatnya.
..."Halo mah ada apa telepon Nabila?". Tanya Nabila sambil fokus menyetir....
..."....". Jelas Citra membuat Nabila langsung memberhentikan mobilnya mendadak. Karena ngerem mendadak membuat mobil dibelakangnya hampir saja menabrak mobil Nabila....
__ADS_1
..."Kalau mau ngerem lihat lihat dong punya mata kan". Marah orang itu sambil melajukan mobilnya, sedangkan Nabila masih diam membeku mendengar kabar dari Citra....
..."Mamah nggak bohongkan?, jangan bercanda soal nyawa deh mah, Nabila nggak suka". Ucap Nabila tidak percaya dengan perkataan Citra....
..."Udah sekarang kamu kesini sekarang kalau kamu nggak percaya, sekarang kamu ada di Jakarta kan?, cepetan kesini jangan lama lama dia pengen ketemu sama kamu". Ucap panik Citra dibalik telepon....
..."Oke Nabila kesana sekarang". Ucap Nabila langsung mematikan sambungan teleponnya sepihak....
"Kalau terjadi apa apa sama loh gue nggak akan pernah maafin diri gue sendiri, gue mau loh bertahan". Batin Nabila sambil meremas setir mobil dan meneteskan air mata sesekali. Nabila membawa mobilnya seperti orang kesetanan sangat cepat.
Sambil menyetir mobil Nabila menghubungi Sania.
..."Halo San sekarang loh datang kerumah sakit yang dekat rumah Alfaro". Ucap Nabila sambil menyalip mobil mobil yang menghalangi jalannya....
..."Lah ngapain gue harus kesana?, emang ada yang sakit". Ucap Sania heran kenapa Nabila menyuruhnya kerumah sakit....
..."Pokoknya loh datang aja, jangan lupa bawa Adelia, gue mohon loh datangnya agak cepat yah, sekarang gue juga menuju rumah itu". Jelas Nabila kepada Sania....
..."Iya gue kesana sekarang dan loh hati hati bawa mobilnya jangan ngebut ngebut yang ada kalau nanti ngebut lo-...". Ucapan Sania terpotong karena Nabila mematikan sambungan teleponnya....
Ditempat Sania
"Lah nih anak gue belum selesai ngomong udah dimatiin aja". Ucap Sania sedikit kesal kepada Nabila.
"Emang dia kenapa nelepon loh?". Tanya Ridwan kepo.
"Nggak tahu katanya gue disuruh kerumah sakit dan bawa Adelia, gue kerumah sakit dulu yah, loh tenang tenang aja dibutik ini kalau mau apa apa bilang aja sama karyawan disini, bye gue duluan". Ucap Sania berjalan keluar untuk memberhentikan taksi dan setelah dapat Sania langsung meluncur menuju rumah sakit.
__ADS_1
Sedangkan Ridwan sebenarnya ingin ikut tapi tidak jadi karena mungkin ini urusan pribadi Nabila jadi dia tidak mau terlibat.
MOHON KERITIK DAN SARANNYA YAH KAKAK-KAKAK, TAPI INGAT KERITIK DAN SARANNYA JANGAN MELUKAI HATI AUTHOR ATAU ORANG LAIN YAH MAKASIH😊❤