
Satu setengah jam sudah Nabila berada diruangan caesar tapi dokter yang menangani Nabila masih belum keluar keluar. "Kok lama banget yah pah, apa jangan jangan terjadi sesuatu". Ucap Citra mulai khawatir, keadaan Citra sekarang jauh lebih baik setelah menangis tadi.
"Sabar aja mah". Ucap William yang selalu menemani Citra.
"Mamah udah sabar dari tadi pah". Ucap Citra karena suaminya dari tadi hanya ngomong sabar sabar saja.
Saat mereka berdua sedang menunggu datanglah Sania. "Tante gimana keadaan Nabila?". Tanya Sania takut terjadi apa apa sama Nabila.
"Masih didalam". Jawab lirih Citra.
"Nabila baik baik aja kan tan?, bayi nya juga nanti selamat kan tan?, Nabila nggak bakalan ninggalin kita kan tan?". Tanya Sania yang mulai mengeluarkan air mata karena takut kehilangan sahabat tercinta nya.
Citra yang melihat Sania menangis langsung menghampiri nya. "Bayi Nabila akan baik baik aja kok, kamu tenang aja". Ucap Citra menangkan Sania walaupun dirinya juga sangat sedih.
"Terus Nabila nya gimana tan?, apa dia akan baik baik aja?". Tanya Sania menatap Citra yang hanya diam saja.
"Jawab tan jawab". Ucap histeris Sania sambil menguncang guncangkan badan Citra yang mulai menangis kembali.
William yang melihat istri nya kembali nangis langsung membawanya lagi kedalam dekapan nya."Udah mah jangan nangis lagi, mamah mending berdoa aja". Ucap William menenangkan istri nya kembali.
Pintu ruangan caesar pun terbuka dan muncullah suster yang membawa anak Nabila menggunakan inkubator dan langsung berjalan cepat menuju ruangan NICU karena anak Nabila lahir prematur jadi perlu perawatan intensif.
Citra yang melihat suster membawa anak Nabila ingin mengikutinya tapi tidak jadi karena dokter yang menangani Nabila sudah keluar.
"Gimana keadaan Nabila dok?, apa dia baik baik aja?". Tanya Citra kepada dokter itu.
Sedangkan dokter menatap Citra, William dan Sania dengan tatapan yang sulit diartikan. "Jawab dong jangan diam aja". Marah Citra karena dokternya hanya diam saja.
"Pasien sudah tidak bisa kami selamatkan". Ucap dokter itu yang sebenarnya berat untuk mengungkapkan ini.
__ADS_1
Bagaikan disambar petir, Citra langsung terhuyung lemah dan langsung ditahan oleh William. "Dokter pasti bohong, Nabila pasti baik baik aja kan dok?, jawab dong jangan diam aja". Bentak Sania tidak percaya dengan kenyataan ini.
"Kami turut berduka cita". Ucap dokter itu menunduk hormat.
"Dokter jangan bercanda sama saya yah, cepat pasti Nabila baik baik aja kan?, ini pasti prank iya kan jangan bohong dok hiks..hiks..". Ucap Sania langsung terjatuh kelantai.
"Hiks..Nabila". Lirih Citra dan mulai jatuh pingsan.
"Mamah, mamah kenapa?, bangun mah". Ucap William sambil mengendong Citra.
"Suster tolong bawa ibu ini keruang perawatan, mungkin dia syok dan pingsan". Ucap dokter itu memanggil suster. Suster pun langsung mengajak William untuk keruang perawatan.
"Mbak tolong bangun, kalau mbak mau lihat silahkan masuk kedalam". Ucap dokter itu sambil membantu Sania, tapi Sania langsung melepaskan tangan dokter itu dan berjalan menuju ruangan Nabila.
Sania melihat Nabila yang sedang ditutup kain oleh suster. "Hiks..Bil bangun loh harus bangun, loh nggak kasihan sama anak loh yang baru aja lahir hah?, loh kan katanya mau punya anak dan itu udah terkabul, jadi gue mohon loh bangun sekarang Bil". Teriak Sania sambil membuka kain penutup Nabila dan terlihat muka pucat Nabila.
"NABILA BANGUN hiks...". Teriak Sania sambil menguncang guncangkan badan Nabila yang pucat pasih.
***
Alfaro yang mendapat kabar bahwa Nabila sudah meninggal langsung pergi menuju rumah sakit, tanpa memperdulikan Nisa dan anak nya.
Saat sudah sampai rumah sakit Alfaro langsung menuju ruangan yang Nabila tempati. Alfaro tidak langsung masuk karena melihat Sania yang histeris kehilangan Nabila.
"Apa benar dia meninggal?". Tanya Alfaro yang masih belum percaya dan saat Alfaro akan masuk kedalam ruangan, tiba tiba ada yang memukul punggung nya.
"Ini semua karena kamu Alfaro". Marah Citra memukul mukul Alfaro yang hanya diam. Citra memang sudah sadar karena dia hanya syok saja.
"Udah mah jangan kayak gini". Ucap William yang merasa sangat kasihan kepada istrinya yang sangat sedih kehilangan Nabila.
__ADS_1
"Alfaro juga nggak mau ini semua terjadi mah, tapi ini memang sudah takdir". Ucap Alfaro menghentikan Citra yang terus memukul badan nya.
"Takdir kamu bilang takdir, kalau bukan karena kamu dan Nisa mungkin semua nggak akan terjadi, ini semua karena kamu Alfaro". Ucap Citra yang terus menyalahkan Alfaro.
"MAH CUKUP ALFARO PUSING". Bentak Alfaro dan itu membuat William emosi karena berani berani nya anak nya membentak Citra.
"Alfaro berani beraninya kamu bentak ibu kamu, minta maaf sekarang". Marah William, sedangkan Alfaro bukan nya meminta maaf malah pergi entah kemana.
"Alfaro". Panggil William tapi tidak dihiraukan oleh Alfaro.
"Hiks...hiks...kenapa kamu jadi begini Alfaro". Lirih Citra yang melihat Alfaro pergi begitu saja tanpa melihat istri nya sedetik pun.
"Udah mah ayo masuk". Ucap William mengelus punggung Citra dengan lembut. Mereka berdua pun masuk kedalam ruangan Nabila.
"Tan ini semua mimpi kan?". Tanya Sania melihat Citra yang baru saja masuk. Citra tidak menjawab pertanyaan Sania dirinya menatap Nabila yang begitu pucat dan menghampiri nya.
"Sayang bangun yuk, kamu udah punya baby lucu, dia pasti bangga sama kamu karena kamu ibu yang kuat dan juga cantik, ayo dong bangun sayang, kamu mau apa mamah pasti akan kabulin semua permintaan kamu asal kamu bangun sayang". Lirih Citra meneteskan air mata nya sambil mengusap wajah Nabila yang dingin.
William yang melihat itu hanya diam tidak tahu harus berbuat apa karena ini soal nyawa, dirinya tidak dapat membalikan nyawa, mungkin kalau ada yang menjual nyawa William akan beli berapa pun harga nya yang penting Nabila bisa kembali hidup dan membuat Citra kembali ceria. Tapi itu semua tidak mungkin.
***
Sedangkan Alfaro dirinya pergi ketaman rumah sakit itu. "Aaaaakhh". Teriak Alfaro tanpa memperdulikan orang yang disekitar nya.
Alfaro mengusap wajahnya kasar dan langsung terduduk lemas ditaman rumput itu dan mengeluarkan air matanya, seseorang yang melihat Alfaro hanya mampu diam tidak mau mendekati Alfaro.
"Itu salah loh sendiri bang, harusnya loh lebih peduli sama Nabila". Batin orang itu dan pergi begitu saja meninggalkan Alfaro yang sedang meratapi pikiran nya.
MOHON KERITIK DAN SARANNYA YAH KAKAK-KAKAK, TAPI INGAT KERITIK DAN SARANNYA JANGAN MELUKAI HATI AUTHOR ATAU ORANG LAIN YAH MAKASIH😊❤
__ADS_1