
Citra dan yang lainnya masih diruangan yang ditempati Nabila, mereka masih saja menangisi Nabila yang sudah tidak ada. "Hiks...Bangun Bil, kalau loh nggak bangun gue bakal benci sama loh hiks...". Tangis Sania yang tidak terima Nabila meninggalkan dunia ini.
"Bangun sayang, anak kamu nunggu kamu, kamu nggak kasihan sama anak kamu dia butuh seorang ibu yang baik, jadi tolong bangun". Ucap Citra yang juga tidak bisa kehilangan Nabila.
"Maaf ibu bapak pasien akan dibawa pulang sekarang atau tidak, soalnya pasien harus segera dikubur agar pasien bisa hidup tenang didunia sana". Jelas dokter karena sudah hampir satu jam Nabila dirumah sakit setelah peninggalannya.
"Saya boleh bawa anaknya Nabila untuk ketemu Nabila sebentar dok?, karena ini pertemuan terakhir mereka". Ucap Citra yang masih nangis.
"Tapi bayinya masih belum bisa digendong begitu saja karena bayinya masih belum bisa beradaptasi dengan lingkungan rumah sakit dan lainnya". Jelas dokter tidak mau nanti terjadi apa apa.
"Tapi boleh kan dok kalau bawanya pakai inkubator saja, tolong dok bantu saya". Ucap Citra memohon sambil sujud dikaki dokternya, dan itu membuat dokternya merasa tidak enak.
"Kalau gitu saya akan laksanakan kemauan ibu". Ucap dokter itu akhirnya menyetujui.
"Suster bawa anak dari alm. Nabila". Ucap dokter lagi kepada susternya, suster pun langsung melaksanakan perintah dari dokternya.
Tak lama suster pun datang dengan bayi yang dibawa menggunakan inkubator.
"Sayang lihat tuh anak kamu cantik kan, dia sehat, nggak ada yang cacat sama sekali, jadi kamu harus bangun sayang". Lirih Citra sambil menatap cucu keduanya yang berjenis kelamin perempuan.
Tiba tiba saja bayi itu nangis. "Tuh kamu bisa dengarkan tangisannya, mungkin dia mau ketemu mamahnya makannya nangis, jadi sekarang kamu harus bangun". Ucap Citra lagi.
Sedangkan William yang melihat istrinya terus menangis merasa kasihan dan marah, kasihan karena terus menangisi Nabila dan marah karena Citra tidak bisa menerima kehilangan Nabila.
"Mah udah jangan nangis lagi, mamah harus ikhlas kehilangan Nabila, jangan seperti ini nanti Nabila juga ikut sedih karena mamah nangis terus". Ucap William sambil merangkul pundak Citra.
"Papah diam aja, papah nggak tahu kehilangan orang yang disayang". Bentak Citra kepada William yang langsung memerah menahan amarah dengan ucapan Citra.
"Papah emang nggak tahu kehilangan orang yang disayang karena papah lupa kapan kehilangan orang yang disayang, tapi mamah jangan seperti ini terus, papah nggak suka mamah ngeluarin air mata hanya untuk Nabila". Ucap William akhirnya marah kepada Citra.
__ADS_1
"Maksud papah apa, Nabila itu menantu mamah yang baik, jadi papah nggak usah ngomong gitu, mamah juga nggak minjam air mata sama papah". Ucap Citra semakin nangis karena pusing dengan semua kejadian ini seakan mimpi.
"Bapak ibu mohon jangan bertengkar, karena ini semua tidak akan menyelesaikan masalah". Ucap dokter menengahi pertengkaran itu.
Sedangkan Sania tidak memperdulikan pertengkaran itu, karena dirinya masih tidak percaya bahwa Nabila meninggalkan dirinya begitu saja, menurut Sania ini semua seakan mimpi.
Saat Sania memegang tangan Nabila, dia merasa jari jari Nabila bergerak perlahan. "Dok kenapa tangan Nabila gerak gerak?, apa jangan jangan dia masih hidup dok?". Tanya Sania kaget.
"Semua boleh keluar, saya akan periksa pasien kembali dan suster bawa bayinya keruangan NICU kembali". Ucap dokter itu langsung memeriksa Nabila, sedangkan semua orang keluar dari ruangan Nabila dan suster membawa anak Nabila keruangan NICU.
"Maksud kamu apa tadi San?". Tanya Citra yang tidak mendengar ucapan Sania.
"Tangan Nabila gerak gerak tan". Jawab Sania langsung memeluk Citra.
"Kamu nggak bohongkan San?". Tanya Citra melepaskan pelukan Sania. Sania mengangguk dan langsung dipeluk kembali oleh Citra.
Sedangkan dalam pikiran Nabila atau dialam bawah sadarnya saat ini dirinya sedang ditaman yang sangat indah dan Nabila memakai baju putih bersih.
Nabila bingung dirinya ada dimana dan ditaman yang indah itu tidak ada orang sama sekali. "Aku dimana?". Tanya Nabila sambil berkeliling tapi tetap tidak ada orang satu pun.
Nabila melihat pohon yang sangat besar dan menghampirinya, karena Nabila cape berkeliling, dirinya langsung bersender dipohon dan memejamkan matanya dan menikmati angin yang sangat menyejukan hati dan pikiran.
Saat sedang menikmati angin yang sejuk itu, tiba tiba dirinya mendengar tangisan bayi, dirinya langsung membuka mata dan melihat kesekeliling. "Suara tangisan bayi siapa itu?". Tanya Nabila mencari suara tangisan bayi itu. Dan menemukannya dibelakang pohon yang dia senderi tadi.
Nabila langsung mengendong bayi itu dan dia kaget karena bayi itu mirip dengannya dan yang paling membuat membuat Nabila kaget adalah, bayi itu bisa bicara. "Mamah kembali lah, semua orang menunggu mamah". Ucap bayi itu.
Nabila coba berpikir sekuat tenaga dan sekilas dirinya melihat wajah Sania dan Citra. Nabila terus mengingatnya dan tiba tiba ingatan itu kembali.
"Jadi saya sudah meninggal, dan bayi ini anak saya". Ucap Nabila sambil melihat bayi itu kembali dan bayi itu terus berbicara'mamah kembali lah, semua orang menunggu mamah'.
__ADS_1
Tiba tiba bayi itu mengandeng tangan Nabila dan membawa Nabila ke lubang yang bercahaya, Nabila dan bayi itu masuk kedalam lubang itu.
***
Saat Sania dan Citra sedang menunggu kabar dari dokter, tiba tiba Alfaro datang bersama Asti. "Mau apa kamu kesini hah?, sana pergi jangan lihat Nabila lagi". Teriak emosi Citra saat melihat Alfaro.
Sedangkan Alfaro hanya diam tidak menanggapi ucapan Citra. "Tante udah jangan marah marah mulu, nanti darah tingginya naik loh". Ucap Asti yang melihat Citra marah kepada Alfaro
"Nggak usah ikut campur Asti, kalau bukan karena dia Nabila nggak akan seperti ini". Ucap Citra tidak suka Asti membela Alfaro.
"Mamah bukan mamah kandung Alfaro jadi jangan terus marahin Alfaro, mamah nggak berhak marahin Alfaro". Ucap Alfaro yang akhirnya kebawa emosi.
Plak
Bukan William yang menampar Alfaro melainkan Citra, baru kali ini Citra menampar Alfaro karena Alfaro kurang ajar kepadanya. "Mamah memang bukan mamah kandung kamu, tapi tolong hargai mamah sebagai ibu sambung kamu". Ucap Citra sambil terduduk dikursi tunggu dan memegang kepalanya yang pusing.
Alfaro langsung pergi kembali dari rumah sakit, Asti pun mengikutinya karena Alfaro takut melakukan hal hal aneh.
Sania yang mendengar kalau Alfaro bukan anak kandung Citra langsung kaget, dirinya ingin bertanya, tapi ini bukan waktu yang tepat untuk membahas soal itu.
Saat mereka sedang menunggu kabar Nabila, dokter pun keluar dari ruangan Nabila. Citra langsung menghampiri dokter itu. "Gimana dok apa Nabila masih hidup?". Tanya Citra.
Dokter itu menarik nafas dalam dalam dan menghembuskannya dengan kasar dan itu membuat semua orang menatap khawatir.
"Pasien..."
HARI SENIN NIH KAKAK, BOLEH KASIH VOTENYA YAH😁😊
MOHON KERITIK DAN SARANNYA YAH KAKAK-KAKAK, TAPI INGAT KERITIK DAN SARANNYA JANGAN MELUKAI HATI AUTHOR ATAU ORANG LAIN YAH MAKASIH😊❤
__ADS_1