Berbagi Cinta: Suamiku Menikahi Adik Ku Sendiri

Berbagi Cinta: Suamiku Menikahi Adik Ku Sendiri
SEDIH NGGAK AKAN MENGEMBALIKAN SEMUA


__ADS_3

Nabila langsung memeriksa kening Alfaro dan langsung kaget karena kening Alfaro sangat panas. "Mas kamu demam?". Tanya Nabila sudah tidak berbahasa kasar karena panik.


Sedangkan Alfaro tidak menjawab dia terus mengigil dibawah selimut tebalnya. "Bentar aku ambil obat demam dulu". Ucap Nabila langsung turun dari kasur dan berjalan keluar menuju kotak P3K yang disimpan dilaci dekat tv.


"Mana sih obatnya?". Tanya Nabila sambil terus mencari obat dalam keadaan gelap karena panik jadi Nabila sedikit beg*.


Sedangkan disisi lain karena kehausan Citra keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur, saat sedang minum tiba tiba terdengar suara kerasak kerusuk. "Itu maling apa hantu yah?". Gumam Citra takut itu maling apa lagi hantu.


Pikiran Citra mulai traveling kemana mana dalam pikirannya adalah hantu dan maling. Apalagi mengingat Salwa yang baru meninggal. Citra pun memberanikan diri menuju ruangan tv.


Citra sudah siap siap memegang sapu karena takut itu maling, kalau itu hantu Citra sudah mempersiapkan mental dan doa doa. "Siapa itu?". Tanya Citra tapi tidak dijawab.


Citra mencari saklar lampu ditembok dan memecetnya, saat akan memukul urang itu Citra langsung berhenti. "Nabila". Kaget Citra menurunkan sapunya.


Nabila langsung menoleh kearah Citra. "Mamah ngapain ada disini bukannya tadi tidur". Ucap Nabila sambil mencari obat demam kembali.


"Harusnya mamah yang nanya kenapa kamu ada disini kasak kusruk kan mamah jadi takut itu maling atau hantu". Ucap Citra kepada Nabila yang sedang sibuk dengan P3K.


"Nabila lagi cari obat mah, mas Alfaro demam tapi obatnya nggak ketemu ketemu dari tadi". Jelas Nabila yang masih fokus.


"Oh gitu mungkin karena tadi kehujanan kali yah, ya udah sini mamah bantu". Ucap Citra sambil duduk disamping Nabila.


"Nggak usah mah udah ketemu, ya udah Nabila balik lagi kekamarnya, mamah istirahat aja lagi". Ucap Nabila langsung berjalan menuju kamarnya tanpa membereskan kotak P3K nya.


"Gimana mau tidur kalau ini aja berantakan". Gumam Citra yang memasukan kembali barang yang ada dalam kotak P3K. Citra tidak khawatir saat mendengar Alfaro demam karena Citra yakin Nabila bisa mengurusnya.


***


Saat Nabila masuk kamar, dia langsung menyuruh Alfaro meminum obatnya. "Mas minum dulu nih obatnya, biar enakkan badannya". Ucap Nabila sambil membantu bangun dari tidurnya dan langsung memberikan obat dan satu gelas air putih.


"Tidur lagi mas". Ucap Nabila membantu Alfaro tidur dan menyelimuti Alfaro.


"Dingin...dingin...". Ucap Alfaro yang kedinginan karena meriang.


Nabila yang mengerti langsung mengambil selimut yang ada didalam lemarinya dan menyelimuti Alfaro, tapi Alfaro tetap kedinginan sedangkan selimutnya sudah tidak ada lagi. Nabila bingung harus bagaimana.

__ADS_1


Karena tidak ada cara lagi dengan terpaksa Nabila harus memeluk Alfaro agar tidak kedinginan lagi, Nabila memeluk Alfaro dengan sangat erat dan Alfaro pun sama memeluk Nabila dengan sangat erat karena merasa hangat saat memeluk Nabila.


Nabila yang dipeluk terlalu erat oleh Alfaro merasa tidak nyaman dan merasa sesak, tapi Nabila mencoba menyamankan dirinya saat dipeluk Alfaro.


Karena Nabila juga mungkin merasa sangat lelah dia tertidur didalam pelukkan Alfaro yang sudah tidak semengigil tadi.


***


Pagi harinya Nabila bangun dengan masih didalam pelukkan Alfaro, Nabila memegang kening Alfaro dan sudah tidak panas lagi. "Alhamdulilah panasnya udah reda". Ucap Nabila sambil melepaskan pelukkan Alfaro, tapi Alfaro malah memeluknya dengan sangat erat.


"Lepasin gue". Ucap Nabila berusaha melepaskan pelukkan Alfaro, tapi Alfaro malah semakin mengeratkan pelukkannya.


"Sebentar lagi aja". Ucap Alfaro yang masih memejamkan matanya, dan menduselkan kepalanya keleher Nabila.


Nabila yang geli karena nafas Alfaro mengelitik lehernya. "Jangan dileher geli". Ucap ketus Nabila sambil mendorong kepala Alfaro agar menjauh dari lehernya.


"Udah lepasin gue mau solat subuh nih". Ucap Nabila berusaha kembali melepaskan pelukkan Alfaro.


"Bisa nggak jangan ngomong loh gue". Ucap Alfaro tidak suka Nabila memanggilnya dengan sebutan loh gue, Alfaro lebih suka Nabila memanggilnya dengan sebutan mas.


20 menit kemudian Nabila selesai mandi dan wudhu dia langsung solat subuh. Setelah selesai solat Nabila melihat Alfaro yang masih tertidur.


Nabila keluar dari kamar dan melihat Citra sedang memasak bersama Riska. "Pagi mah, Ris". Sapa Nabila sambil mengambil air minum diteko.


"Pagi sayang, Pagi mbak". Ucap Citra dan Riska bersamaan.


"Alfaro udah mendingan Bil?". Tanya Citra sambil mencicipi masakannya dan menyuruh Riska menambahkan garam sedikit.


"Udah kok mah". Jawab Nabila yang habis selesai minum dan hendak keluar.


"Kamu mau kemana?, sarapan dulu baru keluar". Ucap Citra yang sedang menyiapkan piring dan lainnya sebagainya.


"Nggak usah mah, Nabila pengen keluar aja sendiri". Ucap Nabila langsung berjalan keluar rumah, karena tidak mau ditanya terus oleh Citra dan benar saja Citra akan bertanya lagi tapi tidak jadi karena Nabila keburu keluar.


Tapi belum lama Nabila keluar dia kembali lagi kedalam rumah. "Kok balik lagi, ada apa?". Tanya Citra saat Nabila masuk kembali.

__ADS_1


"Nabila mau bawa Adelia sekalian cari udara segar, dia masih tidur yah?". Tanya Nabila karena memang sedari tadi Nabila tidak melihat anaknya.


"Dia ada dirumah bu Ningsih, tadi Nina bawa dia kesana". Jelas Citra karena memang subuh tadi Adelia dibawa kerumah Ningsih karena rewel, tadinya Citra akan membangun kan Nabila tapi kasihan dan kebetulan Nina datang jadi Citra menyuruh Nina membawa Adelia kerumah Ningsih.


"Oh ya udah kalau gitu Nabila kerumah bu Ningsih dulu yah". Ucap Nabila berjalan kembali menuju rumah Ningsih yang ada disebelah rumahnya.


Nabila memang ingin keluar karena ingin melupakan kesedihannya dan mengisi dengan kebahagiaan bersama anaknya. "Assalamualaikum". Salam Nabila saat didepan rumah Ningsih.


"Wa'alaikumsalam, eh mbak Nabila masuk aja mbak". Ucap Nina saat melihat Nabila yang ada didepan pagar rumahnya. Nabila pun masuk kedalam rumah Ningsih dan melihat Adelia yang anteng bersama Nina.


"Dia anteng banget yah sama kamu, padahal sama orang yang baru dia kenal dia suka nangis kejer". Ucap Nabila menghampiri Adelia dan mengendongnya.


"Iya lah akrab orang Nina baik hati dan rajin menabung, jadi Adelia nyaman sama Nina". Ucap Nina menyombongkan dirinya sendiri.


"Huh dasar nggak berubah dari dulu, ya udah yah mbak pergi dulu bye". Ucap Nabila sambil berjalan keluar rumah Ningsih dan berhenti saat Nina bertanya.


"Mbak nggak papa kan?". Tanya Nina karena takut Nabila merasa sedih, karena Nina melihat Nabila sudah ceria padahal belum 24 jam Salwa meninggal.


Nabila tersenyum dan menjawab. "Sedih nggak akan mengembalikan nenek mbak, jadi lebih baik mbak ceria agar nenek senang disana". Jawab Nabila langsung membuat Nina menatap kagum.


"Mbak nggak sarapan dulu?". Teriak Nina dan hanya dapat dadahan tangan saja dari Nabila yang sedang berjalan entah mau kemana.


"Sayang kamu kangen nggak sama mamah?, maaf yah kemarin mamah mengabaikan kamu soalnya nenek buyut meninggal". Ucap Nabila merasa bersalah karena kesedihannya membuat Adelia terabaikan.


Karena terlalu sibuk mengobrol dengan Adelia, Nabila tidak sadar akan jatuh kepinggir sawah, karena memang rumahnya dekat sawah. Untung saja ada yang menangkap Nabila jadi Nabila tidak jatuh.


"Eh eh". Kaget Nabila karena anak yang menarik tangannya.


"Kalau jalan hati hati mbak". Ucap orang itu tanpa melihat wajah Nabila dan berjalan begitu saja tapi ditahan oleh Nabila.


"Tunggu". Ucap Nabila orang itu pun berhenti dan menatap wajah Nabila yang tidak asing dengannya.


"Kamu...".


MOHON KERITIK DAN SARANNYA YAH KAKAK-KAKAK, TAPI INGAT KERITIK DAN SARANNYA JANGAN MELUKAI HATI AUTHOR ATAU ORANG LAIN YAH MAKASIH😊❤

__ADS_1


__ADS_2