Berbagi Cinta: Suamiku Menikahi Adik Ku Sendiri

Berbagi Cinta: Suamiku Menikahi Adik Ku Sendiri
HARI PERNIKAHAN SUAMI DAN ADIK KU 1


__ADS_3

Tak terasa satu minggu pun berlalu dan ini saatnya pernikahan Alfaro dan Nisa, ini mungkin hari bahagia bagi mereka, tapi tidak dengan Nabila. Sedari malam Nabila terus menangis meratapi pernikahannya yang kacau karena adiknya sendiri.


"Loh nggak papa kan Bil?". Tanya Sania yang melihat Nabila terus melamun dikursi tamu undangan. Sania syok awalnya mendengar kalau suami Nabila akan menikah lagi.


Flashback on


"Mbak bikin gaun pengantin buat siapa?, orang nggak ada yang pesan baju pengantin juga". Ucap Sania karena tiga hari yang lalu Nabila menyuruh karyawan untuk membuat gaun pengantin yang beda. Dan sekarang gaun pengantin itu sudah jadi.


"Buat Nisa, dia akan nikah besok". Ucap Nabila menahan sedih.


"Hah, Nisa akan nikah, kok mendadak apa jangan jangan dia hamil duluan yah mbak". Ucap Sania sedikit berteriak dan itu berhasil membuat karyawan yang lain kepo.


"Sttt, jangan kencang kencang ngomongnya, udah ayo keruangan gue aja". Ucap Nabila karena dirinya tidak mau karyawan lain tahu tentang hidupnya. Sania pun mengikuti Nabila.


"Jadi apa benar Nisa nikah karena hamil duluan". Ucap Sania saat sudah diruangan Nabila. Nabila pun menghembuskan nafas kasar dan mengangguk sebagai jawabannya.


"Hah, jadi beneran dia hamil duluan, ckck gue bilang apa adik loh itu nggak benar kelakuannya". Ucap Sania emosi mendengarkan ucapan Nabila karena sikap Nisa berbanding terbalik dengan sikap Nabila yang baik.


"Dia nikah sama siapa?". Tanya Sania lagi.


"Sama suami gue". Jawab Nabila mulai meneteskan kembali air matanya karena teringat kelakuan suami dan adiknya.


"APA!!!, gue nggak salah dengarkan?". Ucap Sania karena dirinya kaget mendengar jawaban dari Nabila. Nabila hanya mengangguk sambil menahan airnya agar tidak keluar lagi.


"Dasar wanita ular, dia nggak berubah yah dari dulu, suka rebut cowok orang dan yang lebih parah suami loh aja direbut sama dia". Kesal Sania mendengar ulah adik sahabatnya karena Sania pernah punya pacar dan pacarnya direbut oleh Nisa.


"Gue harus samperin dia". Ucap Sania hendak keluar dari ruangan Nabila tapi ditahan oleh Nabila.


"Jangan, udah biarin aja, gue ikhlas kok dimadu sama adik gue sendiri". Ucap Nabila sudah ikhlas dan pasrah. Nabila tidak mau orang lain mengurusi masalah rumah tangganya siapa pun itu termasuk sahabat dan keluarganya.


"Tapi-...". Ucap Sania tapi dipotong ucapannya oleh Nabila.

__ADS_1


"Udah lah San, gue juga nggak papa kok, udah urus aja urusan asmara loh sana". Ucap Nabila sambil bercanda. Sania pun tidak jadi keluar dan menatap Nabila dengan kasihan.


"Oke lah, tapi kalau loh kenapa napa kasih tahu gue". Ucap Sania menghargai keputusan Nabila. Karena sebagai sahabat Sania hanya bisa menghargai keputusan sahabatnya dan Sania hanya bisa berdoa semoga Nabila baik baik saja.


Sania pun langsung memeluk Nabila dan berkata, "Yang sabar yah, loh pasti gue jalanin cobaan ini". Ucap Sania sambil menenangkan Nabila yang menangis.


"Jangan nangis dong, gue jadi ikutan nangis nih, bahaya kalau gue nangis nanti keluar mutiara dari mata gue". Ucap Sania sambil bercanda, dan itu berhasil membuat Nabila tertawa walaupun masih ada sedikit air mata yang keluar.


"Emangnya loh putri duyung, kalau nangis keluar mutiara". Ucap Nabila, walaupun Nabila sedih tapi dia bersyukur mempunyai sahabat seperti Sania, Sania bisa menghiburnya ketika senang maupun sedih.


"Gue lebih dari sekedar putri duyung, gue putri putri putri put-...". Ucap Sania kepotong oleh suara ketukan pintu.


"Siapa sih nganggu orang lagi ngehalu aja". Ucap Sania sambil melepaskan pelukannya dari Nabila dan berjalan untuk membuka pintu.


Clek...


"Ada apa Din?". Tanya Sania saat sudah membuka pintu dan yang ada dihadapannya adalah Dinda, karyawan dibutik Nabila.


"Siapa yang ngetuk pintu San?". Tanya Nabila yang mengelap sisa sisa air matanya yang nakal.


"Hmm...itu...itu". Ucap Sania bingung harus menjawab apa.


"Itu...itu apa?". Tanya Nabila.


"Itu...ada..". Jawab Sania kayak azis gagap bicaranya.


"Ada apa sih, awas coba gue mau lihat kedepan". Ucap Nabila berjalan menuju ruangan yang biasa ditempati oleh para tamunya. Sania langsung menyusul Nabila.


"Mending gue aja deh yang nemuin tamunya yah Bil". Ucap Sania berusaha memberhentikan Nabila.


"Emang siapa sih tamunya, biasanya juga gue yang nemuin tamunya". Ucap Nabila merasa heran dengan Sania yang terus menghalanginya untuk bertemu tamu yang satu ini.

__ADS_1


"Aissh ngeyel nih". Ucap Sania mulai kesal, Sania pun pasrah membiarkan Nabila bertemu tamu itu.


Dan saat Nabila melihat tamu itu dia langsung terkejut, Nabila mulai mengeluarkan air matanya lagi, tapi dia mencoba untuk menahannya, dan menyapa tamu itu dengan ramah, walaupun dihatinya merasakan sakit yang teramat.


"Ayo Nabila loh pasti kuat". Batin Nabila menyemangati dirinya sendiri.


"Gimana gaunnya udah jadi belum?". Tanya orang itu jutek.


"Udah Nis". Jawab Nabila. Ya, orang itu adalah Nisa atau si ular keket. Nabila pun menyuruh karyawannya untuk mengambil gaun Nisa.


"Ini gimana?, ini persis sama yang kamu inginkan". Ucap Nabila tersenyum, padahal dihatinya dia sedang menahan sedih.



Seperti ini lah gaun pengantin milik Nisa.


"Kenapa gini, bikin baju aja nggak becus". Ucap Nisa karena gaun pengantinya tidak seperti ekspetasinya, padahal gaun itu persis seperti yang di inginkan Nisa.


"Tapi ini persis yang kamu inginkan Nis". Ucap Nabila karena Nisa mengirim foto gaun seperti itu, dan Nabila pun membuatnya persis seperti yang ada digambar.


"Tapi ini bukan selera gue, itu bukan seperti gaun tapi seperti karung". Ucap Nisa sinis sambil bergaya angkuh.


Sedangkan Sania yang sedari tadi diam saja mulai emosi dengan ucapan Nisa. "Eh kalau loh nggak suka sana beli aja ditempat lain, kita nggak butuh pelanggan kayak loh". Ucap Sania kesal, kalau Nisa bukan adiknya Nabila, udah dijambak kali sama Sania, tapi karena Nisa adik Nabila jadi dia harus menghargai Nabila.


"Ngapain loh ikut campur, siapa loh?". Tanya Nisa dengan suara lantang, dan semua orang yang ada dibutik itu pun langsung berkumpul karena penasaran.


"Gue sahabat kakak loh, eh loh nggak pantes deh sebut Nabila kakak, mana ada adik yang ngerebut suami kakaknya sendiri, upss". Ucap Sania sambil tersenyum mengejek, karena itu berhasil membuat Nisa malu, karena orang orang sedang membicarakan Nisa. Saat mereka sedang ribut tiba tiba ada yang datang.


"Kalian lagi pada ngapain hah?". Tanya orang itu.


MOHON KERITIK DAN SARANNYA YAH KAKAK-KAKAK, TAPI INGAT KERITIK DAN SARANNYA JANGAN MELUKAI HATI AUTHOR ATAU ORANG LAIN YAH MAKASIH😊❤

__ADS_1


__ADS_2