Beri Aku Anak Suamiku.

Beri Aku Anak Suamiku.
Episode 11: Aku harus apa?


__ADS_3

...🍬 Soundtrack #like water -Wendy🍬...


...💌 Banyak yang mengira dirinya baik-baik saja, padahal ia sangat ingin membuang dirinya sendiri 💌...


       Banyak hal di dunia ini yang tidak bisa berjalan sesuai dengan keinginan kita sendiri, bahkan hampir semua hal tidak pernah bisa kita kendalikan. Kita tidak bisa berbuat banyak dan hanya bisa mengikuti alur dan seolah kita dipaksa untuk tetap mengerti.


Saat ini Yara sungguh merasa segala rencana yang sudah ia usahakan akan berujung sia-sia, gadis itu sungguh dilanda frustasi yang membingungkan hatinya. Ia sangat gundah gulana harus mengambil jalan yang mana? Apakah ia harus bertindak sejauh itu? Namun,jika ia diam saja maka semua akan benar-benar berantakan.


"Sial, kenapa akhir-akhir ini hidupku sangat berantakan?"


Yara mengemudi dengan kecepatan tinggi dengan perasaan yang tak karuan, setelah bertemu dengan Lean ia sungguh sangat kalang kabut. Laki-laki itu menjelaskan dengan detail semua pertanyaan Yara dan itu sungguh membuat Yara bingung apakah ia harus tetap melanjutkan rencananya atau berhenti sampai disini untuk mempertahankan harga dirinya.


Bum,


Tiba-tiba saja Yara menghentikan mobil tepat disebuah pusat perbelanjaan yang jelas itu bukanlah pusat perbelanjaan miliknya sendiri. Ia memang memiliki kebiasaan suka berbelanja diberbagai pusat perbelanjaan lain untuk sekedar melihat kualitas mereka dan tidak jarang ia sangat puas dengan pelayanan mereka. Dari itu ia banyak belajar dan jelas itu akan meningkatkan kualitas kinerjanya sendiri.


Tidak lupa ia memakai kacamata juga masker, ia memang sering melakukan hal tersebut untuk menutupi identitasnya sendiri. Walaupun ia bukanlah seorang artis atau selebriti tetap saja ia adalah seorang pesohor yang sering disorot oleh awak media karena kesuksesannya diusia muda dan merupakan seorang pemimpin dari sebuah pusat perbelanjaan tersebar saat ini.


Tak jarang ia diikuti oleh beberapa wartawan untuk sekedar menguak informasi tentangnya. Beruntung Yara adalah gadis cerdas yang selalu bisa menghindari mereka dan memang wartawan sangat kesulitan untuk mengetahui berita tentang nya. Hingga kini pernikahan mereka yang sudah berusia beberapa bulan itu masih belum diketahui oleh orang-orang dan hanya diketahui oleh orang-orang tertentu saja.


Mulut Yara menganga lebar di dalam masker yang ia kenakan dengan mata melotot dibalik kaca mata hitamnya karena melihat beberapa jenis lingerie yang ditunjukkan oleh beberapa pelayan disana.


Banyak sekali jenisnya dan tentunya membuat mata Yara panas dan tidak nyaman. Selama ini ia juga memproduksi berbagai macam lingerie namun saat ini adalah seorang konsumen dan rasanya sangat tidak nyaman.


"Bagaimana dengan ini nona?"


Tunjuk seorang pelayan itu pada sebuah lingerie yang merupakan jenis teddy dan merupakan gabungan antara camisole dan panty dalam ‘kemasan’ one piece yang terbuat dari bahan sutra dan tekstur kainnya terlihat sangat lembut.


Yara sungguh tidak menyukai lingerie itu, membayangkan ia mengenakan pakaian tersebut membuat ia bergidik ngeri.


"Ya Tuhan, benar-benar menyeramkan jika aku sampai memakai itu."


Yara melihat model lingerie yang lain namun tak satupun yang benar-benar bisa ia pakai. Semuanya terlihat sangat buruk dan tak pantas untuk ia kenakan apalagi dengan hadapan Lanang nantinya.


"Dia akan mengira aku adalah wanita gampangan jika aku memakai ini dihadapannya."


"Kenapa semuanya terlihat sangat buruk?"keluh Yara dan beberapa pelayan melihat bingung kearahnya.


"Mohon maaf nona, lingerie memang didedikasikan dengan bentuk yang seperti ini." Jelas seorang pelayan dengan sopan juga santun.


Bukan bersikap lancang hanya saja mereka ingin meyakinkan Yara apakah ia benar-benar sedang mencoba untuk mencari lingerie atau bukan? Dan Yara tahu akan hal itu,ia hanya merasa bodoh dengan dirinya yang bersikap seolah tidak faham dengan hal-hal seperti itu padahal ia juga sering meluncurkan beberapa barang seperti yang dihadapannya saat ini.


Dengan asal ia menarik sebuah lingerie dan memberikan nya kepada pelayan tersebut.

__ADS_1


Bugh,


Tote bag berisi lingerie itu ia lempar asal kedalam mobil dan langsung duduk disana.


Sampai di dalam mobil ia sungguh merasa bodoh dengan dirinya sendiri belum lagi ia sungguh merasa bingung harus bagaimana dengan pakaian tersebut.


Dengan penuh rasa frustasi Yara menjalankan mobilnya menuju rumah namun ditengah jalan ia melihat sosok yang familiar dengan seorang anak kecil yang sedang menangis.


"Lanang?"


Yara melihat dengan seksama apa yang sedang dilakukan oleh pemuda itu disana,ia terlihat sedang mencoba untuk menghibur anak tersebut dengan beberapa macam ekspresi dan anehnya anak tersebut langsung terhibur oleh tingkah nya.


"Sedang apa bocah itu?"bingung Yara terus saja memperhatikan Lanang.


Dan tidak lama seorang gadis muda datang kearah Lanang sembari membawa sebuah botol minuman.


"Loh? gadis di studio? Kenapa mereka bersama?"bingung Yara.


Dengan cepat Yara mendekatkan mobil kearah mereka tanpa sepengetahuan mereka berdua.


"Mas minum dulu, "Ucap gadis itu sembari menyodorkan botol minuman tersebut kearah Lanang.


"Tidak usah repot-repot memberikan saya minuman han, sejak tadi kamu tidak hentinya memberikan saya berbagai macam makanan dan minuman."tegur Lanang dengan lembut.


Gadis bernama Hana itu tersenyum mengangguk,ia tahu kalau Lanang mengatakan itu demi kebaikan nya.


"Hari ini cukup sampai disini saja, jangan lupa untuk membawa beberapa foto yang sudah saya kliping tadi!"


"Siap mas heheh."


"Cih, Kenapa dia terlihat sangat genit sih? Apa perasaan ku saja yah?"Yara sedikit risih melihat gadis muda yang saat ini berada di dekat Lanang.


"Baiklah sudah saatnya pulang, Mari mas antar."


Wajah gadis muda itu bersemu merah karena mendengar itu dari Lanang, memang bukan pertama kalinya laki-laki itu mengantarnya pulang namun tetap saja rasa debaran itu masih sama kencangnya.


Tin,


Saat Lanang dan Hana hendak melengkang pergi Yara mendekat sembari membunyikan klakson mobilnya hingga mereka berhenti dan menoleh kearah Yara.


"Naiklah!"


"Loh?" Lanang kaget saat melihat Yara lah yang membunyikan klakson kearah mereka.

__ADS_1


"Naiklah!"


"Dia siapa mas?"tanya gadis itu sembari melihat kearah Yara dengan bingung.


"Saya,,,"belum juga selesai Yara berbicara Lanang sudah memotongnya lebih dulu.


"Ooh dia adalah bos baru saya Han, terkadang saya juga mengambil kerja sampingan sebagai supir pribadi."


Hana mengangguk dengan pelan sedang Yara melihat nyalak kearah Lanang karena sudah berani memotong ucapannya tadi. Lelaki muda itu terlihat sangat tidak ingin Hana mengetahui pernikahan mereka.


"Naiklah!"


"Apa tidak apa buk?"tanya Hana dengan pelan dan itu sungguh membuat hati Yara semakin panas.


"Sial! Dia pikir aku ibu-ibu? Lancang sekali bibir hina itu."kesal Yara dan mencoba untuk menahan rasa kesalnya.


Tanpa pikir panjang Lanang naik dan diikuti oleh Hana yang hendak duduk di kursi belakang  disamping Lanang.


"Kamu duduk di depan saja, saya bukan supir pribadi kalian!"


Hana langsung ciut dan menurut untuk duduk di depan tepat disamping Yara yang menatap lurus ke depan.


Gadis bernama Hana itu merasa tidak nyaman saat berada di samping Yara, dan itu terlihat dari gelagatnya yang sejak tadi tak bisa tenang seolah ia sedang di intimidasi saja. Mungkin karena Yara yang sesekali melirik kearahnya.


"Gadis ini masih sangat muda, wajahnya masih sangat kekanakan dan ia benar-benar sangat belia."batin Yara sesekali melirik kearah Hana.


"A,, apakah ada sesuatu di wajah saya buk?"tanya Hana dengan pelan meskipun terkesan sangat getir.


Lanang melihat kearah Yara dan Hana ia tahu saat ini gadis muda itu merasa sangat tidak nyaman.


"Ooh tidak ada, kenapa kamu berkata seperti itu?"tanya balik Yara dengan pelan namun terkesan tidak ramah.


"I,,ibu melirik kearah saya beberapa kali. Sa,,saya sungguh heran buk."


"Oihh sepertinya kamu salah faham , saya hanya melihat kesana mencari apakah tempat makan kesukaan saya buka hari ini." Tunjuk Yara kearah jalan yang kini dipenuhi dengan beberapa pedagang kaki lima.


Lanang hanya diam saja melihat kearah keduanya secara bergantian, Yara memang sering membuat orang disekitarnya merasa tidak nyaman dan Lanang bisa faham bagaimana perasaan Hana saat ini.


Yara sendiri merasa sangat jengkel karena gadis disampingnya terus saja memanggilnya dengan panggilan ibu, ia benar-benar tersinggung.


...🍄 Bersambung🍄...


Duhhh saingan nih yar saingan wkwkw.

__ADS_1


Jangan lupa yah like,komen dan votenya wan kawan.


See you guys🧀


__ADS_2