
...🍬 Soundtrack this part #lightswitch- Charlie puth🍬...
...💌 Kebersamaan dengan mu adalah salah satu kebahagiaan yang tidak pernah aku bayangkan namun benar terjadi padaku💌...
Yara terbangun di pagi hari sembari melihat kearah samping disana Lanang sedang terlelap karena aktivitas mereka semalam. Tubuh laki-laki itu hanya dibalut dengan sebuah celana pendek saja sedangkan bajunya sudah dikenakan oleh Yara.
"Ahh ganteng banget suamiku!" Senyum Yara saat melihat Lanang yang masih terlelap itu.
Ia kecup pelan bibir Lanang kemudian bangkit dari tempat tidur. Ia memakai kembali baju tidurnya kemudian menuruni tangga menuju dapur.
"Pagi tun, Sinen."
Atun dan Sinen yang baru saja selesai menyiapkan makanan diatas meja langsung kaget karena tiba-tiba saja Yara menyapa mereka berdua.
"I,,iya Nona pagi juga hehehe," ucap mereka berdua secara bersamaan dan terdengar sang canggung sekali.
"Masak apa hari ini?" Tanya Yara dengan cepat.
"Masak omelette,semur sama ayam goreng Nona."
"Wahh mantap tuh kayaknya, lain kali ajarin aku masak gimana?" Tanya Yara dengan nada yang sangat ramah.
Atun dan Sinen saling memandang karena Yara Benar-benar terlihat sangat berbeda. Auranya memancarkan cahaya yang sangat ramah dan juga ia terlihat sangat bersahabat.
"I,,iya Nyonya. Dengan senang hati,"ucap Sinen dengan tersenyum.
"Ahh kalau begitu tolong buatkan susu satu yah,"ucap Yara dengan pelan.
"Siap nona,"ucap Atun segera menyiapkan nya.
"Mah,,Azri gak bisa ngiket dasi nih." Teriak Azri saat berjalan menuju meja makan.
Yara melirik kearah asal suara dan Azri yang terus berjalan langsung kaget saat melihat Yara kini sudah ada di depannya.
"Mbak, selamat pagi mbak." Sapa Azri dengan ragu.
"Pagi Azri," ucap Yara dengan canggung dan juga kikuk karena mereka memang tidak biasa saling menyapa satu sama lain.
Azri kaget bahkan sampai menjatuhkan dasinya karena baru kali ini Yara membalas sapaannya.
Yara mengambil dasi Azri yang jatuh itu kemudian mendekat kearah Azri dan menautkan dasi itu ke leher Azri.
"A,,aku bisa sendiri mbak,"ucap Azri pelan karena takut akan merepotkan Yara dan gadis itu akan semakin membenci nya.
"Sudah jelas mbak mendengar kamu mengatakan tidak bisa mengikatnya,"ucap Yara dengan wajah datar.
Azri tersenyum kikuk karena ia benar-benar lupa kalau ia sempat berteriak tidak bisa mengikat dasi tadi.
__ADS_1
"Dimana mas Lanang mbak?" Tanya Azri dengan pelan mencoba untuk mencari topik pembicaraan karena ia benar-benar sangat senang bisa sedekat ini dengan Yara.
"Masih tidur,"jawab Yara dengan pelan.
"Kamu seharusnya belajar mengikat dasi mu sendiri! Sudah besar kok gak bisa ngiket dasi sendiri," ucap Yara dengan nada mencibir.
Azri senang walaupun Yara sedang menyindirnya. Baginya itu adalah candaan yang Yara tunjukkan dengan cara yang berbeda.
"Sudah selesai, makanlah nanti kamu terlambat sekolah sudah pukul 07.28."
"Kenapa mbak bisa tahu kalau Azri masuk jam 07 lewat?" Tanya Azri kaget karena Yara seolah benar-benar memperhatikan segala nya hingga tahu akan hal itu.
"Banyak nanya ah, cepat makan!"
Yara berlalu meninggalkan Azri dan meraih susu pesanan nya kemudian berjalan menuju kamar.
Azri sendiri tidak hentinya tersenyum dan merasa sangat berselera makan hanya karena perlakuan Yara yang semakin hangat kepada nya.
"Aah mbak Yara Benar-benar memperhatikan ku selama ini." Senyum Azri.
16.32pm.
Yara sudah menyelesaikan tugasnya dan menyusun mejanya. Dengan sedikit senandung ia meraih tasnya dengan semangat.
"Akhirnya selesai juga huu aku tidak sabar ingin bertemu dengan mas Lanang." Yara dengan semangat menutup ruangannya dan berjalan menuju lift.
Tiba-tiba saja panggilan masuk di ponselnya. Dimana itu adalah panggilan dari Lean.
"Yar, kamu ada waktu gak nanti malam?" Tanya Lean dengan pelan.
"Ada masalah apa hmm?" Tanya Yara sembari menekan lantai satu.
"Biasalah Yar, aku butuh saran kamu." Terdengar nada bicara Lean benar-benar frustasi.
"Nanti aku konfirmasi yah. Soalnya aku juga mau nyampein sesuatu sama kamu!"
Lean pun mengiyakan dan memutuskan sambungan setelah selesai.
Yara berjalan dengan semangat menuju studio tempat Lanang bekerja, ia melihat wajah lanang dari balik kaca . Memang dinding studio dan tepat di ruangan Lanang memang terbuat dari kaca.
Yara menelpon ke nomor Lanang dan ia melihat dengan jelas Lanang buru-buru melihat ponselnya dan tersenyum karena nama Yara yang terlihat di layar.
"Halo sayang,"ucap Lanang dengan senyuman yang sangat lebar.
Yara bisa melihat dengan jelas wajah Lanang yang berseri itu, laki-laki itu benar-benar seolah sedang menunggu panggilan darinya.
"Mas bisa lihat keluar gak? " Tanya Yara dengan pelan.
__ADS_1
"Ha? Kelu?" Bingung Lanang dan melihat kearah luar hingga ia kaget saat melihat Yara sudah berdiri disana.
Yara melambaikan tangan dengan semangat dan juga tersenyum. Lanang langsung bangkit dan berjalan keluar untuk menjemput Yara.
"Sudah selesai hmm?" Tanya Lanang meraih Yara dan memeluknya.
Yara tersenyum dan mengangguk sembari memeluk erat Lanang. Mereka seolah sedang melepaskan rindu satu sama lain padahal hanya berpisah beberapa jam saja.
Lanang membawa Yara memasuki studio. Dan Yara memang bukan pertama kalinya masuk ke studio tersebut namun hari itu ia hanya datang sebentar tanpa sempat untuk melihat lihat.
"Kita gak ada rencana gitu buat foto studio mas?" Tanya Yara dengan pelan.
Lanang melihat kearah Yara dengan tersenyum "Memangnya istriku ini pengen foto studio yah?" Tanya Lanang menyentuh pelan hidung Yara.
Yara dengan cepat mengangguk dan melihat kearah Lanang "Memangnya mas gak pengen yah? Ahh gak asik di kamar kita cuma ada foto nikahan doang. Aku mau nambahin foto kita sebanyak-banyaknya,"ucap Yara dengan pelan.
Lanang tertawa pelan saat mendengar itu dari Yara, memang sih mereka belum pernah melakukan foto studio dan hanya ada foto pernikahan mereka dirumah itupun diambil saat mereka tidak memiliki perasaan satu sama lain saat itu.
"Baiklah Sayang, kita foto studio yah secepatnya. Mari ikut mas ke dalam masih ada beberapa proyek yang belum mas selesaikan," ucap Lanang menarik pelan tangan Yara.
Tuk,
Tiba-tiba saja suara gelas jatuh dan pecah jatuh dari arah belakang. Hingga Lanang dan Yara yang hendak masuk kedalam ruangan Lanang langsung kaget dan melirik.
"Su,,suami!"
Hana terlihat sangat kaget dan berdiri mematung disana. Gelas itu jatuh dan berserakan didepan nya. Hana melihat kearah Lanang dengan tatapan tidak percaya seolah ia sedang salah mendengar nya.
"Mas? Aku hanya salah dengar kan? Sayang? Mas? Istri? A,,aku tidak mengerti!"
Yara melirik kearah Hana dengan sedikit ekspresi kesal, kenapa ekspresi nya begitu kaget? Apa salah jika Lanang dan Yara adalah sepasang suami istri? Toh mereka bukan berhubungan larang.
"Hana? Hati-hati!" Lanang melihat kearah gelas yang sudah berubah jadi beberapa pecahan beling itu.
"Mas! Tolong jawab aku! Apa aku salah dengar?" Tanya Hana kembali.
"Kamu tidak salah dengar Hana, mas terlambat untuk memberi tahuku tentang pernikahan kami. Aku dan Yara adalah sepasang suami istri," ucap Lanang dengan cepat dan terkesan sangat jelas.
Lagi-lagi Hana dapat menangkap ekspresi dan juga tatapan seolah Lanang tidak pernah perduli dengan perasaan nya yang akan sakit saat mengetahui fakta tersebut.
Air mata Hana jatuh seketika saat mendengar itu, belum juga selesai memikirkan ucapan Lanang yang semalam kini ia bahkan mendapatkan fakta yang lebih menyakitkan.
Ia langsung berlari meninggalkan Lanang dan Yara. Ia sungguh ingin menjauh saat ini.
...🍄 Bersambung🍄...
Hana kasian banget sih kamuuu, udahh ahh terima aja tuh si Lean.
__ADS_1
Jangan lupa yah like komen dan votenya wan kawan.
See you guys 🧀