Beri Aku Anak Suamiku.

Beri Aku Anak Suamiku.
Episode 27: Tak apa tak baik-baik saja.


__ADS_3

...🍬 Soundtrack #future ghost-weird jenius feat Violette wautier🍬...


...💌Tak ada yang benar-benar sempurna di Dunia ini, sebab itu penghapus ada untuk menemani pensil karena tak selamanya kita selalu benar dalam menulis💌...


      Yara memandangi bubur diatas meja dan juga sup dalam mangkuk itu, ia tak habis pikir bagaimana rasanya bisa seburuk itu. Ia benar-benar kecewa dengan kemampuan memasaknya yang benar-benar buruk sekali.


"Hmmm bagaimana bisa rasanya seburuk ini?" Yara mendengus pelan dan meletakkan mangkuk mangkuk itu keatas pantry.


Yara langsung terhenti karena mengingat bagaimana Lanang menghabiskan seluruh sup dalam mangkuk itu, belum lagi mangkuk nya sangat penuh.


Ia ingat betul kalau sup itu benar-benar habis dimakan oleh Lanang didepan matanya langsung.


"Tunggu!"


Yara kembali mengingat dengan jelas bahwa sup itu adalah sup yang sama dengan yang di mangkuk. Ia sendiri sangat tidak sanggup memakannya bagaimana mungkin Lanang menghabiskan nya tanpa tersisa sama sekali?.


"Kenapa dia menghabiskan nya? Tidak mungkin dia benar-benar menganggap itu enak. Orang gila saja tak akan sanggup untuk memakannya." Gumam Yara pelan .


Ia benar-benar tidak habis pikir bagaimana jalan pikiran Lanang hingga sanggup menghabiskan sup yang rasanya benar-benar seperti sampah itu.


"Ha?"


Yara menutup mulutnya kaget karena mengingat ia bahkan tidak tahu diri menawarkan diri  memasakkan makan siang untuk Lean.


"Kenapa aku sebodoh ini sampai tidak sadar akan kemampuan ku," ucap Yara merasa bodoh dengan dirinya.


Ia ingat dengan jelas Lanang menghabiskan semua semur jamur masakannya hingga masuk rumah sakit, barulah ia sadar bahwa Lanang benar-benar menjaga perasaan nya mulai dari memakan habis sup buatannya padahal tidak enak dan bahkan laki-laki muda itu nekat memakan semur jamur yang ia sendiri tahu kalau itu berbahaya untuk kesehatan nya.


Dengan cepat Yara berjalan menaiki tangga menuju kamar dimana saat ini Lanang sedang berbaring diatas tempat tidur.


Sejak tadi Lanang merasakan gejala lainnya termasuk beberapa ruam yang mulai muncul ditubuhnya.


"Waduhh nona Yara keliatan marah besar tuh,"ucap Atun yang sejak tadi mengintip Yara.


"Iya tun, keliatan banget nona Yara jalannya cepet banget. Gimana dong? Nona pasti marah karena kita sempat berbohong padanya."


Sinen dan Atun sudah diliputi rasa cemas, bagi mereka Yara adalah sosok yang paling sulit untuk didekati dan saat gadis itu sudah mulai terbuka mereka malah membuat kesalahan.


Pintu terbuka kemudian ditutup kembali oleh Yara, Lanang yang sedang bersandar ditempat tidur langsung kaget karena Yara terlihat sangat buru-buru menghampirinya.


"Loh,, nyonya Ken,,,mphh."


Lanang membelalakkan matanya kaget karena Yara yang tiba-tiba datang dari bawah dan langsung mencium bibirnya.


"Mphh," Lanang mendorong Yara dengan cepat karena ia benar-benar merasa ini tidak benar.


Yara benar-benar hilang akal akhir-akhir ini,tadi sore ia memeluk Lanang dan sekarang ia bahkan mencium laki-laki itu secara tiba-tiba.


Yara yang didorong oleh Lanang langsung terduduk ditepi ranjang terdiam dan menundukkan kepalanya.


Ia benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikirannya sampai berbuat sejauh itu, ia lupa dengan harga dirinya sejenak.


Lanang sendiri masih kaget dan memegangi bibirnya, perlakuan Yara benar-benar berhasil membuat jantungnya hampir saja copot.


Ia melirik sekilas kearah Yara yang masih saja menunduk, ia tidak tahu apa alasan Yara sampai nekat menciumnya namun yang pasti saat ini Yara tengah malu.

__ADS_1


"Nyonya,.."


Yara mengangkat tangan seolah mengisyaratkan untuk Lanang diam.


Lanang menurut dan melihat kearah Yara lagi dan lagi.


Beberapa menit berlalu mereka saling mendiamkan satu sama lain, Yara masih dalam posisi menunduk dan Lanang terdiam menunggu apa yang akan Yara katakan.


"Kenapa kamu menghabiskan sup buatan ku pagi tadi?"


"Ha?"


Lanang bingung kenapa tiba-tiba membahas sup situasi seperti ini? Mereka seharusnya membahas kenapa tiba-tiba Yara mencium bibirnya.


"Kenapa kamu menghabiskan sup buatan ku pagi tadi?"ulang Yara dan kini ia benar-benar melihat wajah Lanang.


Jantungnya berdetak sangat kencang melihat wajah Lanang apalagi mengingat perbuatan nya tadi. Namun, ia mencoba untuk bersikap tidak tahu malu.


"Masakan nyonya sangat e,,enak hingga saya tidak sadar menghabiskan nya ."


Senyum Yara tipis karena ia benar-benar tahu alasannya, laki-laki itu berbohong demi menjaga perasaannya.


"Yakin?"


"I,,iya nyonya, "


Yara tertawa pelan karena Lanang benar-benar sesuatu, bagaimana bisa dia sanggup menghabiskan makanan itu hanya karena menjaga perasaan Yara? Dan apa alasannya menjaga perasaan Yara?.


"Apa itu juga alasan mu memakan semur jamur dirumah Lean?"


Lanang mengangguk dengan cepat " Masakan nyonya benar-benar enak heheh,"ucap Lanang tertawa hambar.


Lanang dengan cepat mengangguk "Saya Paling tidak tahan dengan masakan enak nyonya, jadi saya bahkan lupa kalau saya alergi jamur heheh."


"Mau sampai kapan kamu akan mengorbankan dirimu hanya karena menjaga perasaan ku?"


Lanang yang awalnya tertawa pelan itu seketika terdiam mendengar pertanyaan Yara.


"Ma,, maksud nyonya apa?"


"Jujur saja Lanang, kalau masakan ku tidak enak seharusnya kamu langsung jujur, tidak perlu menghabiskan makanan yang tidak nyaman di lidahmu. Tidak perlu memakan makanan yang membuat mu sakit hanya karena menjaga perasaan ku, perdulikan dahulu dirimu baru perdulikan orang lain."


Lanang langsung terdiam, dari mana Yara tahu kebenarannya? Apa Atun dan Sinen yang memberitahu nya?.


"Aku tidak akan marah jika kamu jujur, lihatlah kamu hampir saja celaka hanya karena menjaga perasaan ku. Aku tidak melarang mu untuk bersikap bijak begitu tapi kamu akan terlihat lebih jahat karena mendzolimi dirimu sendiri demi melindungi orang lain."


"Maafkan saya nyonya. Saya hanya tidak sanggup untuk mengatakannya saat melihat wajah nyonya yang berseri saat memberikan nya kepada saya,"ucap Lanang pelan.


Yara tertawa pelan, ia merasa bodoh yang langsung senang hanya karena pujian dari Atun juga Sinen sampai tidak sadar mempermalukan diri sendiri.


"Setidaknya saya merasa senang karena menjadi orang pertama yang merasakan masakan nyonya hehehe." Tawa Lanang pelan mencoba untuk menghibur Yara.


"Tidak apa kalau nyonya tidak bisa memasak, karena nyonya bahkan lebih berbakat dalam segala hal ."


Yara melihat kearah Lanang dengan seksama, laki-laki itu selalu saja membuat perhatian Yara hanya tertuju padanya. Ia hanya berbicara apa adanya tapi Yara malah merasakan detakan jantung yang sangat hebat.

__ADS_1


"Kalau boleh tau kenapa tiba-tiba nyonya mencium saya?"


"Khem," Yara mencari alasan seolah ia sedang batuk saja.


Ia benar-benar sudah kehabisan kata-kata dan alasan untuk menjawab pertanyaan Lanang. Ia juga tidak tahu apa alasannya ia melakukan hal itu kepada Lanang.


"Bagaimana nyonya?"


"Ha? Kamu ngomong apa?" Tanya Yara berpura-pura tidak mendengar nya.


"Kenapa tiba-tiba nyonya mencium bibir saya?" Jelas Lanang bahkan lebih detail.


"Eumbb,,, yahh hanya ,, yahh aku,,,"


Lanang menunggu jawaban Yara dengan seksama ,gadis itu terlihat sedang memikirkan alasan.


"Hanya apa nyonya? "


"Tidak ada, tidak ada alasan. Kenapa,, kenapa kamu malah bertanya?"


Greb,


Yara membelalakkan matanya kaget saat Lanang menariknya mendekat dan kini pinggang nya sudah dipeluk seutuhnya oleh Lanang.


"Tidak ada alasan yah nyonya?" Tanya Lanang dengan suaranya yang kian berat.


Wajah mereka sudah sangat dekat, Yara mulai merasakan jantungnya semakin berpacu kencang.


"Se,, sedang apa kamu?"


Lanang tersenyum karena melihat Yara ternyata bisa gugup juga? Gadis itu terlihat sangat panik.


"Ma,,mau apa kamu? Jangan berani macam-macam dengan ku!"


"Bodoh, bodoh kamu Yara . Seharusnya kamu senang karena ini adalah kesempatan mu untuk memikat Lanang, kenapa malah melarangnya seperti itu?" Batin Yara.


Hatinya terus saja memaksanya untuk tetap tenang namun tubuhnya seolah takut tanpa alasan.


"Bukankah tadi nyonya yang macam-macam dengan saya?"goda Lanang.


"A,,aku Hanya tidak sengaja, kenapa kamu malah memperbesar besar masalah ini hah?"


Lanang tertawa pelan lalu melepaskan pelukannya dipinggang Yara karena tidak ingin membuat gadis itu malah badmood tanpa alasan.


"Kamu menggodaku?" Pukul Yara dibahu Lanang hingga Lanang memekik kesakitan.


"Akhh teganya nyonya memukul orang yang sedang sakit,"ucap Lanang pelan.


Yara hanya diam saja, ia jengkel dengan sikap Lanang yang menggodanya tapi ada sedikit kebahagiaan yang tiba-tiba muncul dalam benaknya.


"Apa aku mulai menerima kehadirannya?" Batin Yara sedikit berpikir.


...🍄 Bersambung🍄...


Maenn nyosor ae dah, giliran mau disosor malah takut.

__ADS_1


Jangan lupa yah like komen dan votenya wan kawan.


See you guys 🧀


__ADS_2