
...🍬 Soundtrack this part #cheating on you-charlie puth🍬...
...💌Aku memang terlihat ceria,sering tersenyum dan bahkan terlihat seperti tidak memiliki kekhawatiran. Padahal banyak kata yang sangat ingin kusampaikan💌...
Pagi-pagi sekali Yara sudah bangun,gadis itu benar-benar sangat berusaha untuk menghindari Lanang dengan bangun pagi sekali dan berangkat ke kantor tanpa Lanang.
Perlahan ia berjalan melewati Lanang yang masih saja terlelap disofa dengan selimut yang jatuh ke lantai. Melihat itu Yara yang sudah mulai masuk ke kamar mandi langsung mundur untuk memperbaiki posisi selimut Lanang.
"Jangan salah faham, aku hanya merasa perlu menolongnya sebagai sesama manusia." Gumam Yara pelan berbicara sendiri.
Setelah memperbaiki posisi selimut Lanang Yara langsung berjalan pelan menuju kamar mandi untuk segera membersihkan dirinya dan ia memang sudah berniat berangkat kerja lebih awal agar ia bisa menghindari Lanang. Seperti malam itu setelah Lean mengantarnya hanya sampai gerbang saja tanpa menawarkan Lean masuk kedalam ,ia langsung saja memasuki kamar mandi tanpa menghiraukan Lanang yang berbicara dengan nya. Ia beralasan ngantuk dan lelah hingga Lanang terdiam dan tidak mengajaknya berbicara lagi.
"Bagaimana pun aku akan berangkat lebih pagi hari ini, aku sungguh tidak ingin berangkat bersama dengan nya. Bayangkan suasana canggung di dalam mobil? Akhh aku tidak sanggup."
Yara buru-buru mandi dan mengambil handuk setelah selesai mandi.
"Bodoh! Kenapa aku lupa membawa baju ganti segala?" Yara merutuki kebodohan nya. Karena sejak sekamar dengan Lanang setiap mandi ia akan selalu membawa baju ganti ke dalam kamar mandi dan begitu juga dengan Lanang.
"Tidak apa, Lanang masih tidur aku hanya perlu berlari menuju ruang ganti saja."
Yara merapikan handuknya dan membuka pintu kamar mandi dengan cepat.
"Akhhh,,"
"Akhh,,"
Karena mendengar Yara berteriak Lanang yang hendak menuju pintu kamar mandi ikut berteriak kaget.
Yara langsung kembali masuk kedalam kamar mandi karena kaget melihat Lanang yang berdiri dihadapannya belum lagi ia hanya mengenakan handuk yang melilit ditubuh polosnya itu.
Lanang sendiri langsung berpaling karena sadar bahwa saat ini Yara tidak memakai pakaian dan hanya mengenakan handuk saja.
"Ya tuhan, apa yang kulihat pagi-pagi buta begini?" Lanang terjatuh kelantai lemas tiba-tiba.
Yara sendiri memegangi dadanya yang berdetak dengan kencang, bisa-bisanya laki-laki itu melihat nya dalam keadaan seperti itu.
"Akhh,,, aku semakin merasa canggung dengan nya. Suasana apa ini?" Kesal Yara.
"Nyonya!" Panggil Lanang dengan pelan sembari mengetuk pintu kamar mandi.
Yara masih saja mencoba untuk menenangkan diri dikagetkan oleh suara Lanang "kenapa lagi dengan nya? Kenapa tadi dia tiba-tiba bangun?"
"Nyonya!"
"Ada apa?" Ketus Yara kesal.
__ADS_1
"Saya akan keluar kebawah, nyonya bisa keluar dengan tenang."
"Sial, dia sedang mengejekku?" Kesal Yara.
Lanang langsung keluar dari kamar sembari memegangi jantungnya yang berdetak sama kencang dengan Yara.
"Tiba-tiba aku merasa lapar,"ucapnya pelan menuruni anak tangga.
Yara sendiri langsung keluar dari kamar mandi dengan was-was setelah itu ia memasuki ruang ganti untuk mengenakan pakaian nya.
"Aku harus buru-buru, aku tidak ingin berpapasan dengan laki-laki sialan itu. Masih pagi ia sudah membuat ku jantungan!"
Dengan cepat ia mengenakan pakaian nya kemudian merapikan penampilan nya, setelah itu ia langsung meraih ponsel dari nakas untuk menekan nomor ponsel seseorang.
"Halo,"ucap Yara menunggu respon dari orang yang ia telpon.
"Halo cantik! Kenapa nelpon pagi-pagi buta begini?"
"Kamu sudah siap-siap ke kantor belum?" Tanya Yara dengan pelan.
"Si ganteng baru bangun nih,"ucap Lean dengan nada manjah mania.
Yara berdecak sebal karena satu-satunya harapan dia untuk bisa berangkat lebih awal sudah pupus karena simalas itu belum juga siap-siap.
"Kenapa kamu berdecak seperti itu?"
Lean yang mendengar amukan Yara yang tiba-tiba itu langsung menjauhkan ponselnya dari telinga.
"Kenapa kamu marah-marah kepada ku? Selebihnya lagi ini masih pagi sekali."
"Aku tidak suka dengan orang pemalas seperti mu, mau jadi apa kamu kalau jam segini masih belum siap-siap?" Kesal Yara.
"Yahh mau jadi CEO dan itu sudah tercapai,"jawab Lean polos .
"Akhh sudahlah aku matikan sambungan, lain kali kamu hiduplah lebih rajin."
Tuk,
Sambungan langsung dimatikan oleh Yara dan dengan kesal ia mengambil tas miliknya.
Pintu tiba-tiba terbuka saat Lanang datang dari bawah membawa nampan berisi makanan juga minuman untuk ia berikan kepada Yara.
Yara yang hendak berjalan keluar itu langsung berjalan kikuk mencoba untuk melewati Lanang yang baru saja datang.
"Nyonya hendak ke kantor?" Tanya Lanang mencoba untuk tetap bersikap tenang. Ia harus tetap profesional karena ia adalah seorang yang bekerja dengan Yara.
__ADS_1
Karena melihat tak ada balasan dari Yara Lanang kembali bersuara "Sebelum berangkat nyonya makan dahulu, bagaimana jika nyonya jatuh sakit jika tidak sarapan dahulu?"
"Aku tidak lapar. Dan aku buru-buru karena ada urusan tiba-tiba."
Yara berjalan tanpa melihat kearah Lanang namun tangannya tiba-tiba titahan oleh Lanang dengan ragu laki-laki itu menahan Yara agar tidak berangkat lebih dulu.
Yara yang tangannya ditahan oleh Lanang langsung merasakan getaran aneh yang menjalar di sekujur tubuhnya. Ia langsung kaget dan refleks menepis tangan Lanang.
"Ka,kamu, Jangan berani menyentuh ku! Jangan macam-macam dengan ku!" Ucap Yara dengan sedikit gelagapan.
Lanang kaget dan menunduk pelan "Ma,, maafkan saya nyonya, saya tidak bermaksud lain. Saya hanya ingin mengatakan kalau saya akan mengantarkan nyonya."
Yara langsung merasa malu karena mengatakan hal seperti itu, padahal sedari awal ialah yang sudah melakukan hal-hal tidak baik kepada Lanang. Dengan berniat menggoda nya dan bahkan ia juga sudah mencium bibir laki-laki itu, dan dengan tidak tahu malunya ia bersikap seolah ia korban.
"Ti,, tidak usah, biar aku sendiri yang berangkat dengan mobil papah . Kamu berangkat nanti saja pakai mobil yang biasa kamu pakai,"ucap Yara dengan pelan tanpa melihat kearah Lanang.
"Bagaimana bisa saya membiarkan nyonya berangkat sendiri, saya kan memang bertugas menjadi sopir nyonya."
Yara kesal karena Lanang sungguh tidak pernah menurut dengan cepat selalu saja membantah . Padahal kali ini ia benar-benar ingin berangkat sendiri, ia tidak nyaman jika harus berdua dengan Lanang didalam mobil.
"Sudahlah kamu mandi saja lalu berangkat kerja nanti. "
"Ta, tapi nyonya sa,,"
"Akhh sudahlah aku sibuk tidak ada waktu lagi, " ucap Yara berjalan pelan dan Lanang kembali menahan tangannya.
"Apa saya berbuat sesuatu yang salah nyonya?" Tanya Lanang pelan.
"Ha? " Yara bingung kenapa tiba-tiba Lanang menanyakan itu.
"Apa saya menyinggung perasaan nyonya atau semacamnya? Maafkan saya nyonya saya memang sangat berpikiran sempit hingga kadang tidak bertingkah sesuai apa yang nyonya inginkan."
"Ke,,kenapa kamu bertanya seperti itu?"
"Saya merasa nyonya sedang marah kepada saya, nyonya terus saja menghindar dari saya bahkan tidak ingin melihat saya."
Yara mendengus pelan lalu melepaskan tangannya dari genggaman Lanang namun kali ini begitu lembut dan pelan.
"Aku sudah terlambat, aku akan berangkat lebih dulu."
Yara keluar dari kamar dan menutup pintu depan pelan. Lanang sendiri masih saja terdiam tidak mengerti dengan situasi saat ini. Melihat reaksi Yara Lanang semakin yakin kalau ia memang melakukan kesalahan.
...🍄 Bersambung🍄...
Neng Yara tuh lagi salting apa gimana? Lanang udah overthingking aja wkwkw.
__ADS_1
Jangan lupa yah like komen dan votenya wan kawan.
See you guys 🧀