
...🍬Soundtrack #now i know-Khaleb j 🍬...
...💌kamu adalah oasis yang kuciptakan dalam fatamorgana, sehingga sangat sulit untuk diwujudkan💌...
Sudah beberapa bulan telah berlalu sejak hari dimana kedua manusia yang tak saling mengasihi itu terikat akan sebuah hubungan yang disebut dengan sebuah pernikahan. Atau apakah itu pantas untuk disebut sebagai pernikahan?.
Lanang dan Yara sama sekali tidak mendapatkan peningkatan dalam hubungan itu, ibarat kata mereka sangat konsisten dengan niat awal mereka melakukan pernikahan hanya untuk memenuhi kebutuhan masing-masing dan mengatasnamakan pernikahan itu sebagai jalan keluar. Yara merasa aman dari paksaan sang ayah dan Lanang bisa membantu keluarga nya di kampung.
Setiap hari mereka melewati nya dengan beberapa kebohongan. Saat sedang berdua mereka bersikap layaknya seorang majikan dengan seorang bawahan dan saat dihadapan keluarga mereka akan melakukan segala jenis sandiwara untuk menutupi nya.
Ayahnya sudah mulai merasa ada yang janggal dengan pernikahan itu, melihat sikap mereka yang kadang mencurigakan dan bahkan sampai kini Yara tidak juga memberikan tanda-tanda akan hamil.
"Euh,, "
Yara membuka mata pelan dan melihat sekeliling kamar. Sesaat kemudian ia masih mengumpulkan nyawa dan kini sudah mulai sadar sepenuhnya.
"Loh! Kemana dia? "
Yara. Bangkit dari tempat tidur dan tak menemukan Lanang diatas sofa, ia melihat kearah jam sudah menunjukkan pukul 08.45 Am.
"Kemana dia pagi-pagi begini? Apa dibawah yah? "
Namun, matanya tak sengaja melihat sebuah note ditepi ranjang nya dan ia pun meraih note itu lalu membacanya.
"Maaf nyonya karena saya lancang pergi tanpa pamit pada nyonya, saya sedang ada pemotretan tiba-tiba dan tidak bisa dipindahkan lebih jadwal lain. Nyonya istirahat saja seharian dan maaf karena lancang pergi tanpa izin nyonya. " Begitulah kira-kira isi dari note yang ditulis oleh Lanang diatas note itu.
Yara kemudian meletakkan kembali note itu lalu berjalan pelan menuju kamar mandi untuk mandi. Walaupun hari ini ia libur dari kantor ia tidak pernah sekalipun melewatkan mandi pagi.
"Hmmm kenapa semua sudah disiapkan begini? "
Yara kebingungan saat melihat kamar mandi sudah tersedia semuanya baik itu air dan juga beberapa hal lainnya.
__ADS_1
"Apa ini dikerjakan oleh Lanang? Tidak mungkin. "
Yara memang selaku atasan bagi Lanang tapi bukan berarti ia memperlakukan Lanang sebagai bawahan yang harus mengerjakan semua nya bahkan untuk menyiapkan air sekalipun. Karena ia masih bisa melakukan semua itu sendiri dan Lanang hanya perlu bersikap dan ber-akting sebagai seorang suami untuk nya. Itu sudah cukup!.
"Hmm yasudahlah, aku tidak perduli terserah nya saja. "
Yara mandi dan mencoba untuk tidak memikirkan laki-laki muda yang sudah menghilang sejak pagi tadi.
Langkah kaki terdengar dari arah anak tangga hingga membuyarkan lamunan ayah yang sedang duduk dikursi ruang tamu, matanya melirik kearah Yara yang sedang menuruni anak tangga sembari tersenyum kearah putrinya.
"Kamu sudah sarapan? " Tanya Ayah dan Yara buru-buru menganggukkan kepalanya.
"Mas lanang menyiapkan sarapan untuk ku sebelum pergi pah, " Ucap Yara sembari tersenyum dan itu jelas sebagian dari aktingnya.
Ayahnya menepuk sofa yang ada disebelahnya meminta agar Yara datang dan duduk disana. Melihat itu Yara menurut lalu duduk disamping ayahnya.
"Papah sangat senang karena kamu sudah mulai memutuskan untuk menikah lalu menerima kehadiran sosok yang baru dalam hidupmu. Namun, papah sangat bingung dengan hubungan kalian. Papah tidak tahu apa alasannya kenapa papah sampai begitu sangsi dengan pernikahan ini. "
Yara yang mendengar itu sudah menelan saling berkali-kali karena takut sang Ayah akan tau fakta dibalik pernikahan itu.
"Bagaimana papah tidak bingung sudah berbulan-bulan berlalu kamu belum juga memberikan tanda-tanda akan memberikan papah cucu yang lucu, apa jangan-jangan kalian hanya menikah pura-pura untuk menyelamatkan kamu dari ancaman papah? "
Plank,
Langsung saja jantung Yara berdetak tak karuan karena mendengar itu dari sang ayah, bagaimana jika semunya terbongkar saat ini, ayahnya pasti akan kecewa dan semua perjuangan nya akan sia-sia.
"Kamu ngomong apa sih mas? Tidak mungkin Yara melakukan hal sebodoh itu. Kamu tidak lupa kan mas kalau Yara adalah gadis cerdas? " Tiba-tiba saja Yuna yang berstatus sebagai ibu tirinya itu datang dan berbicara seolah sedang menyindir Yara.
Gadis itu langsung menatap sinis kearah ibu tirinya itu, sejak awal pertemuan mereka sudah tidak bisa akrab bahkan kini hingga belasan tahun berlalu tetap saja tak ada persatuan antara mereka.
"Papah ngomong apa sih heehh, mana mungkin aku dan mas lanang melakukan hal seperti itu? Aku dan mas Lanang menikah karena saling mencintai pah. " Yara tersenyum Kikuk menutupi rasa tak karuan dalam hatinya.
Belum lagi melihat tatapan meledak dari ibu tirinya membuat hatinya semakin panas saja.
__ADS_1
"Kalau begitu buktikan pada papah kalau kalian memang saling mencintai, berikan papah cucu secepatnya! "
"Iya sayang, sudah lama sekali kami menunggu kehadiran cucu dirumah ini. Kapan kamu bisa memberikan kami cucu? Atau jangan-jangan kalian belum pernah mencoba untuk memberikan kami cucu? "
Mata yara semakin melirik tajam kearah Yuna yang selalu saja bersikap menjadi seorang yang membawa kompor dalam keluarga itu, mencari cara agar Yara tersudutkan.
"Papah sabar saja, kami sudah berusaha semaksimal mungkin pah. Yang namanya belum rezeki kami bisa apa? " Yara ber-akting seolah kecewa karena sampai kini belum juga dikaruniai anak.
"Ancaman papah berubah, kalau kamu belum juga punya anak ancaman papah masih berlaku! "
Papah bangkit dan berjalan kearah kamar dan diikuti oleh Yuna yang langsung ditatap tajam oleh Yara.
"Gadis sialan itu! " Umpat Yara kesal setiap kali melihat Yuna.
Berapa kalipun ia mencoba untuk menerima kehadiran ibu tirinya tetap saja ia tidak bisa karena melihat sikap dan tingkah nya membuat Yara tidak bisa menyukainya.
"Kenapa sih dengan nya? Sehari saja tidak membuat ku kesal tidak bisa rupanya? Kenapa papah bisa menikah dengan garis serigala itu? " Kesal Yara Karena mengingat mulut Yuna yang seolah menambah kecurigaan ayahnya.
"Kak, bisa tolong ajarin Azri mengerjakan tugas sekolah Azri? " Tiba-tiba saja Azri datang dengan sebuah buku ditangan nya menghampiri Yara.
Yara langsung melirik tajam kearah adik tirinya itu, karena sudah terlanjur membenci ibunya yara juga tak bisa menyukai adik tirinya itu. Walaupun sebenarnya ia sadar bahwa anak itu tidak punya salah apapun.
"Kerjakan saja sendiri! Aku sedang sibuk tidak bisa diganggu. " Yara berlalu meninggalkan Azri yang berdiri mematung.
Ia tahu akan seperti itu reaksi dari Yara tapi tetap saja ia mencoba untuk mengambil hati kakaknya itu, sudah lama sekali ia ingin dianggap adik oleh Yara, sejak kehadirannya gadis itu sungguh tidak pernah sekali pun bersikap manis padanya.
"Hmmm mungkin mbak Yara masih sibuk, " Ucapnya berpikir secara positif.
...🍒Bersambung 🍒...
Wkwkwkw awas ketahuan yar. Mana mamah tirinya malah ngompor lagi jadi orang.
Jangan lupa yah like, komen dan votenya wan kawan.
__ADS_1
See you guys🧀