Beri Aku Anak Suamiku.

Beri Aku Anak Suamiku.
Episode 66: Merindukan mu.


__ADS_3

...🍬 Soundtrack this part #diri-tulus🍬...


...💌Rasa sayang yang semakin tumbuh sekian berjalan nya waktu. Aku kamu dan harapan kita💌...


Lanang sudah menyelesaikan tugasnya dan kini hendak merapikan mejanya dengan cepat karena ia akan keruangan Yara untuk menjemput gadis itu.


"Aaa baru sehari saja kamu tidak bertemu aku sudah sangat merindukan nya,"ucap Lanang dengan cemberut.


Ia benar-benar merindukan Yara padahal mereka bahkan belum sehari tidak bersua. Terkesan lebay bukan? Namun itulah adanya bahwa Lanang sungguh sangat merindukan Yara.


Ia menutup ruangan nya dengan cepat dan melihat kearah kursi dimana Hana sering kali duduk disana. Kini kursi itu kosong dan sepertinya Hana sudah lebih dahulu pulang.


"Tidak biasanya ia pulang tanpa pamit,"ucap Lanang pelan lalu memilih untuk mengabaikan nya saja. Karena tidak semua harus ia tahu dan Hana memiliki ruang pribadi untuk dirinya sendiri.


"Apakah istri ku sudah selesai bekerja?" Gumam Lanang dengan pelan memasuki kantor.


Suasana kantor sudah mulai sepi karena sudah sore menjelang Maghrib kini. Lanang memang hampir selesai sebelum sore tadi tapi tiba-tiba saja pak Danu meminta untuk dibantu menyelesaikan beberapa proyek nya.


Lanang membuka pintu ruangan Yara karena gadis itu sudah memberitahu nya untuk tidak usah mengetuk saat ia tiba.


Lanang menatap sendu saat melihat Yara sudah ketiduran diatas meja karena menunggu Lanang. Jelas ada rasa bersalah dalam diri Lanang karena seharusnya ia berpesan kepada Yara kalau gadis itu sudah selesai ia boleh pulang lebih awal.


"Duhh istri ku pasti sangat kelelahan kini," gumam Lanang berjalan pelan menuju Yara yang masih terlelap itu.


Ia tersenyum pelan dan melihat wajah Yara lebih dekat lagi. Wajah gadis itu sungguh terlelap dan juga sangat damai.


"Sayang,"panggil Lanang dengan pelan mencoba untuk membangunkan Yara namun gadis itu tidak bergeming sama sekali.


Lanang jadi semakin tidak enak hati membangunkan Yara. Namun kalaupun ia mencoba untuk menggendong Yara gadis itu akan terbangun juga.


"Sayangku!" Bisik Lanang mendekat kearah telinga Yara hingga gadis itu bergerak gusar.


Yara perlahan terbangun dan mengucek matanya saat mendengar bisikan Lanang.


"Ha? Mas? Kapan mas sampai disini?" Tanya Yara pelan.

__ADS_1


Lanang tersenyum lalu mengelus pelan rambut Yara dan membantu gadis itu bangkit saat melihat Yara hendak bangkit.


"Baru saja sayang, maafkan mas yah karena terlalu lama sampai kamu tertidur." Lanang benar-benar merasa bersalah karena membuat Yara menunggu.


Yara menggeleng sambil tersenyum karena menunggu Lanang bahkan sebuah kebahagiaan tersendiri baginya. Rasa rindunya memang bertambah namun terasa sangat mendebarkan.


"Aduhh gapapa mas, aku juga emang sering kok tidur saat berkas ku tidak terlalu banyak."


"Ya sudah kalau begitu sebagai gantinya mas mau bawa kamu ke suatu tempat deh, yuk sayang!"


Lanang menarik pelan tangan Yara dan menautkan jari-jari mereka sambil tersenyum satu sama lain.


"Kita mau kemana mas?" Tanya Yara dengan senyuman semangat karena ia benar-benar sangat bahagia bisa memiliki banyak waktu berdua dengan Lanang.


"Kamu tunggu saja sayang, nanti kamu bakal tau kok." Lanang menyentuh pelan hidung Yara hingga gadis itu sedikit tersipu.


Lanang membukakan pintu mobil lalu mempersilahkan Yara masuk dengan sangat perhatian.


"Hati-hati sayang nanti kejedot," ucapnya pelan dan Yara tersenyum karena terharu.


Lanang benar-benar memperlakukan dia seperti seorang putri saja. Perhatian penuh ia berikan kepada Yara dan juga setiap harinya kini benar-benar sangat dipenuhi oleh tawa.


"Aaa sayang banget sama dia,"batin Yara kembali namun ia tahan dengan sikap cool.


"Lain kali kalau kamu kelamaan nunggu kabari mas saja sayang, tidak apa kalau kamu pulang lebih dulu mas jadi tidak enak hati saat membuatmu menunggu," ucap Lanang dengan pelan.


Yara dengan cepat menggeleng karena mendengar itu "Hmmm aku tidak mau pulang lebih dulu mas, aku mau pulang bareng pokoknya."


"Tapi mas kan gak enak sayang kalau kamu harus nunggu kayak tadi bahkan sampai ketiduran. Mas jadi merasa bersalah,"ucap Lanang dengan penuh pengertian.


"Bagaimana kalau pekerjaan ku sudah selesai aku datang saja ke studio mas? Janji gak bakal ganggu kok."


Lanang tersenyum dan mengangguk karena itu adalah ide yang bagus dibandingkan membiarkan Yara harus sendiri untuk kembali ke rumah.


"Baiklah sayang seperti nya itu lebih baik yah," ucap Lanang.

__ADS_1


Mereka berbincang-bincang sebelum sampai pada tempat yang sudah disiapkan oleh Lanang.


Yara tidak hentinya tersenyum menatap kearah Lanang yang sedang bercerita banyak hal dengan senyuman membahana.


Sementara Hana kini hanya bisa duduk di taman seorang diri, ia memang kembali lebih awal dari studio karena tidak ingin berpapasan dengan Lanang untuk sementara. Ia benar-benar harus menata kembali hatinya yang terlihat sangat samar dan berantakan itu.


Gadis muda itu benar-benar terlihat sangat awut-awutan karena dilanda masalah yang sangat rumit untuk ia hadapi itu.


"Kenapa semua ini harus terjadi padaku? Aku ingin bersama dengan laki-laki impian ku kenapa aku harus begini?" Kesal Hana sejak tadi tidak hentinya menangis dan juga mengeluhkan nasibnya itu.


Air matanya mengalir deras karena mengingat ucapan lanang tadi, ia tahu ia sudah tidak pantas untuk mengharapkan Lanang namun tetap saja ia benar-benar merasa sulit untuk melupakan dan melepaskan laki-laki itu.


Hatinya masih saja berdebar saat melihat Lanang. Namun secara bersamaan ia benar-benar merasa sangat kecewa karena merasa bodoh dengan masih tetap bertahan dengan perasaan yang sudah mustahil untuk ia tumbuhkan bersama dengan Lanang.


"Ternyata kamu disini!" Suara seseorang mengagetkan Hana.


Buru-buru saja Hana menghapus air matanya karena ia kenal betul suara itu. Itu adalah suara Lean yang terdengar sangat lelah dan juga terengah-engah.


"Aku sudah mencari dan menunggu mu sejak tadi, Kenapa kamu disini malam begini hmmm?" Tanya Lean hendak mendekat.


"Ku mohon mas jangan kesini!" Ucap Hana dengan suara yang terdengar seperti baru saja menangis.


Lean langsung menghentikan langkahnya dan melihat punggung Hana Yori terlihat sangat rapuh itu. Lagi-lagi rasa bersalah sungguh menghantui Lean.


Ia benar-benar tidak bisa tenang akhir-akhir ini karena memikirkan Hana Yori terus saja menolak untuk berbicara dengan nya. Saat ia bahkan mengatakan akan bertanggungjawab gadis itu benar-benar tidak bisa diajak untuk bermusyawarah.


"Ku mohon Hana kamu dengarkan aku! Aku akan menjelaskan semuanya dan ku mohon kita harus membicarakan ini dengan empat mata,"ucap Lean mencoba untuk membujuk Hana.


"Aku mohon mas jangan datang saat ini, aku sedang lelah dan aku benar-benar akan semakin menghindar saat mas nekat."


Mendengar itu Lean langsung mundur karena ia merasa itu sangat masuk akal. Hana benar-benar masih labil dan itu membuat gadis itu bisa melakukan apa saja apalagi saat ini hatinya sedang to baik-baik saja.


...🍄 Bersambung🍄...


Hana Hana kamu dengerin Lean aja dulu. Kalau gak mau aku mau kok sama Lean hahaha.

__ADS_1


Jangan lupa yah like komen dan votenya wan kawan.


See you guys 🧀


__ADS_2