
...🍬 Soundtrack this part #Tentang perasaan ku -irwansyah🍬...
...💌Aku benar-benar akan menyerah karena aku sadar bahwa aku ternyata telah membuang waktu selama ini💌...
Dua bulan telah berlalu semenjak kejadian dimana Yara mendengarkan alasan Lanang menolak ajakannya, dua bulan telah berlalu semenjak kejadian dimana Yara harus secepatnya sadar dari harapan nya sendiri.
Ia benar-benar akan menyerah tentang memiliki anak dengan Lanang, ia benar-benar sudah tidak ingin berharap lebih lagi kepada laki-laki muda itu. Sadar akan posisinya memang perlu karena Yara benar-benar tidak pantas untuk bersama dengan Lanang. laki-laki muda itu jelas mencari yang lebih muda dibandingkan dirinya sendiri.
Yara benar-benar tidak pernah lagi membahas mengenai membuat anak dengan Lanang selama dua bulan terakhir ini, bahkan saat papah terus saja membicarakan cucunya yang tak kunjung ada tanda-tanda akan muncul Yara menahannya sendirian, ia sudah kehabisan akal untuk memberikan alasan kepada papah saat papah terus saja mendesaknya.
"Nyonya silahkan sarapan lebih dulu sebelum berangkat ke kantor,"ucap Lanang datang dengan nampan berisi makanan ke kamar.
Yara menggeleng dengan cepat karena pagi ini ia sedang tidak mood untuk makan.
"Aku tidak sempat untuk sarapan lagi, nanti saja aku sarapan saat sudah sempat di kantor."
Lanang menahan Yara yang hendak berangkat itu "Nyonya harus sarapan lebih dulu, bagaimana kalau sampai nyonya jatuh sakit?" Tanya Lanang pelan.
"Kamu saja yang makan yah, aku benar-benar sedang buru-buru saat ini."
Yara memang berbohong tentang buru-buru, ia benar-benar tidak mood makan saat ini.
Lanang tidak bisa lagi memaksakan kehendak nya karena biar bagaimanapun juga Yara adalah majikannya dan ia tidak bisa membantah.
"Baiklah nyonya, kita berangkat sekarang!"
Lanang pun membawa nampan itu kembali kebawah lengkap dengan tasnya yang ia sandang di punggung nya.
Yara mendengus pelan karena Lanang sungguh tidak peka sekali, ia ingin berangkat sendiri pagi itu namun Lanang bersikeras untuk berangkat bersama.
"Kenapa dia bisa bersikap biasa saja? Atau aku memang tidak pernah ada dihatinya?" Gumam Yara pelan lalu memilih untuk diam saja.
Sementara saat ini Lean masih saja sibuk menunggu Hana di depan rumahnya, sudah dua bulan lebih ia mengejar gadis itu. Mengharapkan maaf dan juga mengatakan akan bertanggungjawab kepada Hana.
Walaupun sudah dua bulan tidak ada tanda-tanda bahwa Hana hamil anaknya ia benar-benar berniat bertanggungjawab terhadap Hana karena ia tidak ingin menghancurkan masa depan gadis muda itu.
__ADS_1
Hana sendiri masih tidak percaya dengan situasi apa yang ia hadapi saat ini, banyak hal yang ia takutkan termasuk bagaimana jika orang tuanya Sampai tahu itu? Bagaimana jika Lanang tahu? Dan ia akan dipandang sangat hina oleh Emre karena tidak bisa menjaga martabatnya sendiri.
Ia lebih pendiam dari pada sikapnya yang biasa dan bahkan lebih sering libur kerja dan mengurung dirinya dirumah.
Lean tidak pernah sehari pun absen untuk membujuk Hana untuk mau berbicara dengan nya, gadis itu benar-benar membuat Lean tidak bisa tenang selama dua bulan terakhir ini.
Yara hendak memasuki kantor namun ia ditahan oleh suara Lean yang memanggilnya dengan suara seolah terburu-buru.
"Ada apa?"
"Ikut aku sebentar!"
Lean menarik Yara menuju cafe seberapa studio Lanang tempat mereka biasanya menyarap pagi dan juga istirahat siang.
"Ada apa?" Tanya Yara kembali dengan sedikit malas karena pagi ini ia benar-benar tidak mood lagi.
"Tunggu sebentar aku pesan dulu,"ucap Lean masih sempat-sempatnya memesan menu disaat seperti ini.
Yara duduk dikursi sembari menunggu Lean datang, ia benar-benar sangat lelah pagi ini entah apa alasannya ia hanya ingin istirahat saja.
"Hana, dia masih belum juga mau berbicara dengan ku!" Adu Lean dengan wajah memelas.
"Lagi? Masih saja masalah itu, aku lelah membahasnya dengan mu."
Sudah dua bulan lamanya setiap bertemu Lean selalu saja membahas Hana , Hana dan Hana. Yara benar-benar enggan mendengar nya lagi.
"Kenapa reaksimu begitu sih? Aku benar-benar sedang kalut saat ini karena Hana benar-benar tidak memberikan ku kesempatan untuk menjelaskan niat baik ku untuk bertanggungjawab,"ucap Lean dengan lesu.
"Yasudah tidak usah bertanggungjawab. Kamu lupakan saja masalah itu,"ucap Yara dengan entengnya karena ia benar-benar sangat kesal tidak Lanang dan tidak Lean mereka sama-sama terlihat sangat perduli dengan Hana.
"Kamu kenapa sih? Bukankah kamu yang mendesak ku untuk bertanggungjawab kenapa sekarang malah menyuruh ku untuk tidak bertanggungjawab?" Kesal Lean karena Yara sungguh tidak bisa diajak berkompromi hari ini.
Yara kembali teringat saat dimana ia mempunyai rencana bodoh untuk memisahkan Lanang dengan Hana yaitu dengan menyatakan Lean bersama Hana. Namun, sekarang ia benar-benar sadar bahwa bukan Hana yang menjadi masalah dalam hubungan nya dengan Lanang melainkan Lanang sendiri yang tidak akan pernah menganggap nya sebagai seorang perempuan yang layak untuk dicintai.
Yara sudah menyerah dengan semua rencana itu, ia akan mencoba untuk melupakan semua keinginan nya secara perlahan. Ia sudah tidak perduli lagi baik Lanang yang bersama dengan Hana atau apapun yang akan terjadi kedepannya Yara sudah pasrah.
__ADS_1
"Bukankah kamu bilang kalau gadis itu tidak ingin kamu bertanggungjawab? Yasudah lupakan saja. Jangan mempersulit keadaan Lean,"ucap Yara dengan pelan.
Lean cemberut karena Yara tidak mengerti dengan perasaannya, ia benar-benar sudah mulai menginginkan Hana. Tanpa sadar ia menyadari perasaannya yang mulai tumbuh terhadap gadis muda itu, berawal dari rasa bersalah Lean terus saja memikirkan Hana dan tumbuh lah rasa cinta terhadap gadis itu.
"Tapi aku tidak akan bisa tenang jika tidak menyelesaikan masalah ini, cobalah berikan aku masukan untuk memperbaiki semua ini,"ucap Lean dengan pelan.
Yara mendengus pelan karena bagaimana ia akan memberikan masukan terhadap hubungan Lean dan Hana sedangkan hubungan nya saja kini sudah hancur lebur dan tidak ada harapan sama sekali.
"Hei, kamu mendengarkan ku?" Tanya Lean membuyarkan lamunan Yara.
"Aku sedang tidak mood hari ini Lean, maafkan aku. Aku benar-benar tidak bisa berpikir jernih saat ini,"ucap Yara dengan sendu.
"Kenapa dengan mu? Apa kamu memiliki masalah?" Tanya Lean dengan pelan.
Yara menggeleng dengan cepat karena bukan hanya masalah namun hidupnya benar-benar tidak bisa dikatakan baik-baik saja.
"Kenapa hmm? Maafkan aku yah karena terlalu memikirkan masalah ku sampai lupa menanyakan bagaimana keadaan mu,"ucap Lean dengan pelan.
"Sudahlah tidak masalah, aku baik-baik saja."
"Kenapa kamu terlihat sangat kurusan? Apa kamu benar-benar baik-baik saja?" Tanya Lean khawatir melihat kearah Yara yang benar-benar terlihat sedikit lebih kurus dari biasanya.
"Aku baik-baik saja Lean, kamu cobalah untuk berjuang lebih lama lagi kalau sudah tidak sanggup maka menyerahlah. Mungkin Hana tidak ditakdirkan untuk mu,"ucap Yara pelan dan Lean sangat kaget seorang Yara berbicara seperti itu seolah ia sudah berpengalaman saja.
"Aku permisi karena masih banyak hal yang harus ku urus, kamu jangan lupa makan yah. Tetap semangat,"senyuman paksa dari Yara dan ia berlalu meninggalkan Lean yang masih tidak percaya itu adalah Yara.
"Kenapa dengan nya? Kenapa aku tiba-tiba merinding?"
...🍄 Bersambung🍄...
Kasiann banget yah si Yara udah patah semangat gitu, kapan yah Lanang dan Yara bersatu?.
Jangan lupa yah like komen dan votenya wan kawan.
See you guys 🧀
__ADS_1