
...🍬 Soundtrack #Anymore-somi🍬...
...💌Tak apa kali ini jauh dulu, karena keindahan tidak harus mata bertemu mata💌...
Dengan susah payah Yara membatalkan janji untuk mereka berkunjung kerumahnya saat ini, Lean yang sangat sangat gila akan alasan itu sungguh tidak mudah untuk dilemahkan. Ia masih saja menolak sejak tadi hingga akhirnya ia pun menurut dan menukar janji bertamu ke rumahnya.
"Bagaimana bisa nyonya mengajak pak Lean kerumah? Huh jantung saya hampir tidak ditempatnya lagi nyonya." Lanang menyetir mengikuti mobil Lean yang sudah lebih dulu melaju menuju rumahnya.
"Sudahlah aku sedang malas berdebat saat ini,"ucap Yara pelan karena ia sudah terlanjur malu membuat kesalahan yang fatal seperti tadi.
"Loh? Kenapa kita berhenti disuper market nyonya?"
"Yahh belanja lah, bukankah kita akan memasak dirumah Lean."
Yara turun sendiri dari mobil dengan girang bahkan ia tak menunggu Lanang membukakan untuk nya lagi, dia segera menyusul Lean yang masuk dengan Hana.
"Ya tuhan, bagaimana ini? Aku tidak ingin nyonya malu dihadapan pak Lean." Batin Lanang merasa ini sungguh tidak seharusnya dilanjutkan.
"Nyonya! Bagaimana kalau kita pesan makanan saja, nyonya pasti baru saja mengerjakan banyak hal apa nyonya tidak lelah?" Tanya Lanang menyusul Yara.
Dengan cepat gadis itu menggeleng karena ia benar-benar tidak merasa lelah sama sekali, ia bahkan bersemangat sampai hatinya tak karuan.
"Sepertinya lelahku akan hilang dengan memasak, tanpa sebab aku semakin menyukai memasak."
Lanang langsung tidak bisa berkata-kata lagi, gadis itu sungguh sangat bahagia bukan main. Ia tak ingin merusak kebahagiaan Yara yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Belum pernah gadis itu tersenyum sesering ini dan juga selebar itu.
"Aku harus memantau nya nanti dan juga membantunya agar masakannya tidak seburuk tadi pagi,"ucap lanang pelan karena ia sungguh tidak ingin merusak kebahagiaan Yara.
Setelah semua bahan terkumpul mereka pun kembali melakukan perjalanan menuju rumah Lean.
"Baiklah kalian semua duduk saja , tunggu aku menyelesaikan masakan ini." Yara pun mulai mengeluarkan bahan-bahan makanan itu sendirian.
Lanang mendekat berniat membantunya namun langsung ditatap kesal oleh Yara.
"Kamu tidak dengar? Aku yang akan mengerjakannya sendiri."
"Tapi nyonya, biarkan saya membantu sedikit agar masakannya segera jadi."
"CK,,,kamu kenapa sih nakal sekali? Cepat duduk dan bergabung dengan Lean juga gadis itu, Jangan mengganggu ku!"
Lean sendiri menurut karena belum pernah ia melihat Yara begitu bersemangat seperti ini, ia tidak ingin mengabaikan momen itu hingga tak sadar sejak tadi ia hanya tersenyum memandang.
Hana sendiri sangat takut kepada Yara dan langsung menurut saat disuruh duduk, ia tak ingin memperkeruh keadaan dengan membuat Yara semakin kesal.
"Biarkan saya membantu nyonya, nyonya akan kelelahan jika mengerjakan ini sendiri."
"Lanang! Kamu duduk saja sebelum saya semakin jengkel, kenapa kamu keras kepala sekali sih?"
Melihat wajah Yara yang hampir saja kesal itu Lanang langsung ciut, namun ia kembali mengingat bahwa jika ia biarkan Yara akan benar-benar malu.
"Sudahlah Lanang, biarkan saja dia mengerjakannya sendiri. Belum pernah ia terlihat semangat seperti ini semenjak saya mengenalnya." Senyum Lean merasa bangga tanpa sebab.
Lanang pun akhirnya duduk dengan rasa terpaksa, mereka melihat kearah Yara yang sibuk dengan pekerjaannya itu.
"Apa pak Lean dan buk Yara sudah kenal lama?" Tanya Hana dengan pelan.
Lanang yang diam sejak tadi menjadi kepo dan bersemangat ingin mendengarkan jawaban dari Lean.
"Sudah hampir enam tahun lamanya kami saling mengenal, dia tidak pernah berubah sejak dahulu. Selalu saja kuat dan dingin seperti itu,"ucap Lean tersenyum dan Lanang mengetahui sesuatu dibalik senyuman itu.
"Pak Lean menyukai nyonya Yara!" Simpul Lanang dan melihat kearah Yara yang sibuk bekerja itu.
__ADS_1
"Wahh lumayan lama juga yah pak, apa kalian berteman sejak dahulu?" Tanya Hana lagi dan lagi.
Yara sendiri masih sibuk dengan dunianya sendiri. Tak mendengar dan menggubris mereka yang sejak tadi bercerita banyak hal.
"Aku sedikit curiga denganmu Yar," ucap Lean mendekat kearah Yara.
Yara kebingungan saat Lean mengatakan itu "Ha? Curiga kenapa dah?"
"Kenapa tiba-tiba kamu melarang kami datang ke rumah mu dan malah mengalihkannya ke rumah ku?"
"Biasanya aku memaksamu untuk ikut kesini saja kamu selalu menolak."
"Yahh aku hanya ingin bertamu kesini memangnya tidak boleh?"
Lean menyelidiki kearah Yara yang sedang sibuk mengaduk masakannya.
"Benarkah hanya karena itu? Apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan?" Selidik Lean kearah Yara.
"Mereka terlihat serasi yah mas? " Hana memecah keheningan diantara mereka berdua.
Lanang yang sejak tadi melamun bagaimana lagi ia harus menghentikan Lean dan Hana untuk tidak mencicipi masakan Yara.
"Mas," Hana sejak tadi memanggil Lanang namun tidak dihiraukan oleh Lanang.
"Mas!"
"Eh? Ada apa Han?"
"Mas melamunkan apa? Sampai tidak mendengar aku memanggil mas berkali-kali tadi."
"Ahh tidak ada," ucap Lanang tersenyum pelan.
Karena sudah menunggu sejak tadi akhirnya masakan Yara akhirnya matang juga, Lanang langsung mendekat dan menawarkan diri untuk membantu Yara menyiapkan nya.
"Jamur? Bukankah ini jamur?" Batin Lanang saat ia merasakan masakan Yara diam-diam.
Belum lagi rasanya sangat hancur bahkan lebih hancur dibandingkan masakan Yara tadi pagi.
"Kenapa ini bahkan lebih buruk dari pada sup buatannya pagi tadi?" Lanang sudah tidak tahan dengan rasa masakan Yara.
"Apa nyonya sudah mencobanya?"tanya Lanang dengan pelan.
"Belum, bagaimana kalau kamu coba saja dulu."
Lanang langsung berpikir keras, ia memiliki alergi jamur namun dari pada Yara yang mencobanya ia akan sangat kecewa.
"Baiklah nyonya, " ucap Lean mengambil sendok lalu mencobanya.
"Bagaimana? Bagaimana?" Tanya Yara pelan.
Lanang melihat kearah meja dimana Hana sudah menunggu disana dan Lean sendiri sedang ke kamar mandi tadi.
"Wahhh enak sekali semur buatan nyonya, saya ingin lagi."
Yara tersenyum pelan melihat Lanang yang langsung menyendok banyak kedalam mulutnya.
Untung saja Yara tidak memasak banyak hingga Lanang memiliki kesempatan menghabiskan seluruh masakan itu sebelum Lean dan Hana merasakannya.
"Loh? Kenapa kamu makan banyak sekali? Jangan habiskan seorang diri dan sisakan untuk Lean juga gadis itu,"ucap Yara kebingungan saat melihat Lanang yang buru-buru memakan masakannya.
"Walaupun begitu kamu tidak boleh menghabiskan seorang diri,"senyum Yara karena tidak menyangka masakannya seenak itu.
__ADS_1
Lanang hampir saja menghabiskan nya seorang diri.
"Loh? Kenapa dia memakannya sendirian?" Lean yang baru saja datang mendekat kearah Lanang yang masih sibuk memakan semur itu seorang diri begitu juga dengan Hana yang ikut kebingungan kenapa Lanang bersikap seperti itu.
"Maafkan saya pak, ini terlalu enak dan saya kebablasan hingga menghabiskan nya."
Dan benar saja semur itu ludes dimakan habis oleh Lanang hingga membuat mereka semua tercengang.
"Apa tidak ada lagi yang bisa dimakan?wahh aku tidak menyangka kamu sedikit tidak tahu malu,"ucap Lean pelan.
Lanang sudah menerima semua resiko malu dan sebagainya asalkan Yara tidak sampai malu.
"Kenapa kamu menghabiskan semuanya sendirian? Wahh aku tidak habis pikir apakah seenak itu?" Tanya Yara pelan dengan sedikit berbisik.
Lanang sudah mulai merasakan gelajanya, ia merasa tidak nyaman saat ini. Tubuhnya terasa panas dan ia merasa keringat semakin bercucuran dari tubuhnya.
"Maaf nyonya, saya tidak bisa menahan diri tadi."
Tiba-tiba saja panggilan masuk dan Yara harus segera ke kantor saat ini.
"Hmmm ini memang tidak sesuai dengan rencana, aku ada urusan Lean. Untuk makan siang ini kamu tolong bawa gadis ini ikut serta karena sejak tadi kalian belum memakan apapun."
Yara beranjak pergi begitu juga dengan Lanang yang merasa tidak enak kepada Lean yang sedikit kecewa itu "Maafkan saya pak, Hana. Saya permisi!"
Hana masih saja tercengang dengan tingkah Lanang yang belum pernah ia lihat itu, kini hanya tinggal mereka berdua di rumah Lean.
"Apa bapak ingin sendiri?"tanya Hana karena melihat wajah kecewa Lean.
"Ahh tidak tidak,aku akan semakin sedih jika ditinggalkan sendirian."
Mereka pun akhirnya memutuskan untuk makan bersama dengan Hana memasak sisa bahan makanan buatan Yara tadi.
Yara melihat kearah Lanang yang menyetir itu,ia juga tidak tahu kenapa Lanang sampai menghabiskan seluruh makanan itu. Dan itu membuat ia curiga, sekali pun itu enak tidak mungkin Lanang sampai tidak tahu malu seperti tadi.
"Lanang!"
"I,,iya nyonya!"
Lanang sudah mulai merasakan pandangan nya kabur dan tubuhnya semakin terasa panas.
"Kenapa kamu bersikap seperti tadi?" Selidik Yara pelan.
"Sa,,saya,,,"
"Akhh,,hey kamu hati-hatilah!"
Yara terkejut saat Lanang ngerem mendadak mobil itu dan hampir saja menabrak pengendara dihadapan mereka.
"Kenapa dengan mu? Apa kamu ingin membunuh ku?" Kesal Yara yang terkejut itu.
Namun melihat Lanang yang tidak bergerak itu Yara langsung terdiam dan memeriksa keadaan Lanang yang mulai tidak sadarkan diri itu.
"Kamu kenapa?"
Buru-buru Yara menukar posisi mereka dan membawa Lanang menuju rumah sakit terdekat.
"Kenapa dengan nya? Kenapa ia bisa seperti ini?" Khawatir Yara.
...🍄 Bersambung🍄...
Lean gak kebagian tuhh hahah, Lanang jago banget ngabisin makanan.
__ADS_1
Jangan lupa yah like komen dan votenya wan kawan.
See you guys 🧀