
...🍬 Soundtrack this part #i still love you-Theovertunes🍬...
...💌 Banyak hal yang sudah kurasakan, dan baru kali ini aku benar-benar merasa bahwa aku memang hidup untuk bahagia💌...
Lanang dan Yara sampai dirumah setelah acara makan malam di tempat yang sangat indah tadi. Senyum tidak pernah luntur dari bibir gadis itu sejak tadi.
"Makasih mas eheheh,"ucap Yara cengengesan saat melihat Lanang datang kearah nya menuntun nya untuk turun dari mobil.
"Dengan senang hati sayang,"balas Lanang.
"Baru pulang mbak mas?" Tanya Azri yang baru saja keluar dari kamar.
Yara yang awalnya tersenyum sumringah itu langsung memasang wajah biasa saja. Sedangkan Lanang tersenyum kearah Azri.
"Iya nih, ini makanan yang dibungkus oleh mbak mu tadi untuk makan malam."
Azri dengan senang hati mendekat dan menerima pemberian itu apalagi saat mendengar bahwa itu adalah makanan dari Yara.
"Jangan kegeeran dulu itu bukan pesanan ku,"ucap Yara dengan pelan.
Lanang melihat kearah Yara dan memberikan kode bahwa Yara tidak seharusnya bersikap seperti itu kepada Azri.
Yara cemberut dan memilih untuk diam saja karena Lanang malah membela Azri dibandingkan dia.
"Aku ke kamar duluan mas,"ucap Yara dengan kesal meninggalkan Lanang.
"Maafkan mbak mu yah, ia mungkin sedang kelelahan saat ini mas harap kamu bisa memaklumi itu yah," ucap Lanang mencoba untuk menjaga perasaan Azri.
Walaupun ini bukanlah pertama kalinya Azri mendapatkan respon tidak ramah dari Yara ia masih tetap berpikir positif seperti yang Lanang katakan. Mungkin Yara hanya sedang kelelahan saja hingga ia bersikap seperti itu.
"Mas tenang saja hehe,"ucap Azri tersenyum pelan.
"Oh iya mamah dan papah dimana hmm?"
Lanang tidak melihat kehadiran mamah dan papah disana.
"Kami disini menantu, ada apa?" Tanya papah yang baru saja keluar begitu juga dengan mamah yang hanya menatap kearah Lanang dengan wajah datar.
Azri langsung berlari kearah papah dan mamah sembari memberikan sebuah bingkisan.
"Ini oleh-oleh dari mbak Yara pah. Katanya ini untuk makan malam hehehe," senang Azri.
Mamah terlihat sangat kaget dan baru pertama kalinya ia mendengar bahwa Yara mau membelikan sesuatu untuk mereka terutama Azri. Ia seringkali mendapati sikap Yara sang tidak bersahabat dengan Azri hingga ia pun melakukan hal yang sama dengan Yara.
Ia sebenarnya sangat ingin bersikap akur dengan Yara namun melihat Yara yang memberikan batasan ia merasa sangat tersinggung dan memilih untuk membuat citra menyebalkan agar Yara tidak semena-mena dengan nya. Hanya karena ia adalah seorang ibu pengganti dalam hidup Yara.
"Benarkah?" Papah juga ikut tersenyum.
Ia melihat kearah Lanang dengan sangat bangga. Semenjak kehadiran Lanang Yara benar-benar banyak berubah dan semakin terbuka serta memperlihatkan sisi nya yang sangat ia sembunyikan itu.
"Dianna istri mu?" Tanya papah pelan.
__ADS_1
"Sudah lebih dulu naik pah, kalau begitu Lanang juga naik yah pah belum mandi soalnya." Ucap Lanang dan dibalas anggukan oleh papah.
Lanang membuka pintu kamar dan tidak mendapati Yara disana namun setelah mendengar suara gemericik air ia langsung faham bahwa gadis itu sedang mandi di dalam kamar mandi.
"Apa dia marah yah?" Bingung Lanang melihat kearah pintu kamar mandi.
Ia benar-benar tidak bermaksud menyinggung Yara. Ia hanya ingin menyatukan hubungan Azri dan Yara agar tidak renggang seperti biasanya.
Pintu kamar mandi terbuka dan Lanang langsung tersenyum kearah Yara sedang gadis itu bahkan tidak melihat kearahnya sama sekali.
"Wahh istri ku sudah mandi yah? Mas mau coba cium ah siapa tau wangi hehehe,"ucap Lanang hendak mendekat namun ditahan oleh Yara.
"Mas mandi gihhh,bau soalnya."
Lanang langsung terhenti dan melihat kearah Yara, gadis itu sepertinya benar-benar sedang merajuk padanya.
"Kenapa hmmm?" Tanya Lanang pelan.
"Mas mandi gihh,"ucap Yara lagi.
Mau tidak mau Lanang pun akhirnya menurut dan memasuki kamar mandi dengan ekspresi wajah yang bertanya-tanya karena melihat Yara Benar-benar sedang merajuk saat ini.
"Wahhh seperti nya dia benar-benar sedang merajuk nih."
Yara sendiri melihat kearah kamar mandi dengan kesal.
"Kenapa memanggil ku istri kalau ia memihak Azri?"
"Kenapa dia lebih memihak Azri tadi? Ihh nyebelin banget jadi orang."
Yara tidak hentinya merutuk dan juga berdumal sendiri sembari membersihkan wajahnya serta memakai beberapa skincare untuk merawat kulit wajahnya.
"Akhh gara-gara anak itu aku harus merasa kesal malam-malam begini,"ucap Yara lagi dengan jengkel.
Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka memperlihatkan Lanang yang keluar dengan celana pendek dan juga kaos oblong nya. Ia tersenyum saat melihat Yara yang awalnya sedang memakai pelembab diwajahnya langsung memasang wajah bete.
Lanang menggantung handuk nya kemudian mendekat kearah Yara. Gadis itu semakin menekuk wajahnya seolah memberi tanda bahwa ia sedang merajuk saat ini.
"Wahh istri ku sedang perawatan yah? Mas ikut dong,"ucap Lanang mencoba untuk membujuk Yara.
Yara hanya diam saja dan melanjutkan aksi skincare an nya seolah tidak mendengar ucapan Lanang.
Lanang terus saja mencoba untuk mengajak Yara berbicara namun tetap saja gadis itu tidak mau menjawab nya.
"Sayang,, kenapa hmmm?" Tanya Lanang lagi.
Karena tidak ada Jawa sama sekali dari istrinya Lanang pun berinisiatif untuk memutar tubuh Yara hingga kini mereka saling bertatapan satu sama lain.
"Kenapa hmm? Kok kamu dari tadi gak jawab semua ucapan mas?" Tanya Lanang dengan lembut.
"Tau ah, kenapa gak ngajak Azri ngomong aja? Ngapain ngajakin aku ngomong?" Kesal Yara dengan wajah cemberut dan bibir yang mengerucut.
__ADS_1
Lanang hampir saja tertawa karena itu, ternyata benar sekali bahwa Yara merajuk hanya karena tadi Lanang melarang nya untuk bersikap judes terhadap Azri.
"Kamu marah sama mas?" Tanya Lanang dengan pelan.
Yara menggeleng dengan cepat dan masih memasang wajah kesal.
"Jadi kamu marah sama siapa?" Tanya Lanang lagi.
"Sama Azri, aku gak suka kalau dia merebut perhatian mas. Gara-gara tadi mas gitu sama aku."
Lanang Benar-benar dibuat gila karena sikap Yara benar-benar diluar dugaan nya. Gadis itu bahkan sampai cemburu dengan adiknya sendiri.
Cup,
Lanang mencium bibir Yara yang mengerucut tadi hingga kini gadis itu terlihat sangat malu.
"Bibirnya jangan digituin mas gak tahan liatnya,"ucap Lanang.
"Ihhh mas nakal banget deh,"ucap Yara malu.
"Sayang!"
"Hmmm,"
"Masih marah nih sama mas?"
"Aku gak marah ihh sama mas," ucap Yara mengkoreksi.
"Yaudah deh , masih marah nih sama Azri?" Tanya Lanang lagi.
"Aku kesel ihh pokoknya."
"Dengerin mas dulu yah sayang, mas mau minta sesuatu boleh gak?" Tanya Lanang pelan dan dibalas anggukan oleh Yara.
"Mas tuh pengen banget liat kamu sama Azri tuh deket, mas tuh kangen banget sama adik mas setiap liat Azri tuh mas langsung keinget sama bila. Jadi mas mau kamu tuh sayang sama Azri karena Azri juga sayang banget sama kamu tuh," ucap Lanang dengan pelan.
Yara hanya terdiam dan melihat kearah Lanang. Ia sebenarnya tidak tahu apakah ia membenci Azri atau tidak? Hanya saja setiap ia melihat Azri ia selalu saja ingin membatasi diri dan memberikan benteng agar ia tidak terlalu dekat dengan adiknya itu.
"Aku gak benci sama Azri,"ucap Yara pelan.
"Nahh gitu dong sayang. Kalau gak benci bisa kan mulai sekarang kalau ngomong sama Azri lebih lembut lagi dan juga Azri tuh butuh banget perhatian dari kamu sayang," ucap Lanang.
Yara mengangguk tersenyum dan mendengar apapun yang dikatakan oleh Lanang.
Lanang benar-benar membawa banyak perubahan dalam diri Yara. Gadis itu seolah menarik energi positif dari diri Lanang.
...🍄 Bersambung🍄...
Aaaa mau dong satu yang kayak Lanang. Mau bangetttt malahhh.
Jangan lupa yah like komen dan votenya wan kawan.
__ADS_1
See you guys 🧀