Beri Aku Anak Suamiku.

Beri Aku Anak Suamiku.
Episode 41: Aku memaksa.


__ADS_3

...🍬 Soundtrack #Rough-gfriend🍬...


...💌 Tidak hanya patah hati yang menyakitkan, ternyata hati yang selalu berharap tanpa kepastian jauh lebih menyakitkan💌...


      Yara Benar-benar kesal karena melihat dan mengingat kejadian tadi, jelas sekali kalau Hana benar-benar menyukai posisi tadi.wajahnya memerah padam dan ia juga tersenyum malu-malu.


"Gadis sialan itu, berani sekali dia menggoda suami orang lain,"ucap Yara dengan kesal tanpa sadar dengan ucapannya sendiri.


Ia benar-benar tidak mood untuk bekerja lagi karena hal tadi, padahal pagi tadi hatinya sempat berseri dan juga bersemangat karena syal pemberian Lanang.


"Khem,"ucap seseorang berdehem mendekat kearah Yara yang duduk di kursi taman.


Yara dengan pelan melirik kearah suara itu dan itu ternyata Lanang yang datang dan mendekat kearah Yara sembari mengambil syal yang sempat dibuang oleh Yara itu.


Yara membuang pandangannya dari Lanang dan berniat untuk bangkit namun ditahan oleh Lanang.


Dengan pelan dan lembut Lanang mendudukkan Yara kembali ke kursi dan memberikan syal itu kearah Yara namun gadis itu sudah terlanjur kesal dan tidak berniat untuk mengambilnya sama sekali.


"Apa nyonya tidak menyukai syal nya?" Tanya Lanang dengan pelan.


"Ha? Dia datang kesini hanya untuk menanyakan itu? Seharusnya ia menjelaskan situasi tadi!" Batin Yara kesal.


Ia melirik kearah Lanang dengan tatapan kesal dan mendorong tangan Lanang yang menyodorkan syal itu kearah nya.


"Aku tidak butuh syal murahan mu itu, berikan saja itu pada Hana!" Kesal Yara.


Lanang tiba-tiba tersenyum dan tertawa secara bersamaan namun terkesan lemah karena ia masih sangat kurang enak badan.


Yara melirik kearah Lanang yang tertawa dengan bibir pucat itu, apa yang lucu dari ucapan Yara? Gadis itu terlihat sedang kesal loh kenapa malah ditertawakan?.


"Ha? Apa yang kamu tertawakan? Aku sedang tidak melucu,"ucap Yara dengan kesal.


"Apa nyonya cemburu kepada Hana?" Selidik Lanang tersenyum menggoda Yara.


Yara dengan cepat menggeleng "Enak saja, terlalu pede itu juga tidak baik . Ubahlah pola pikir mu itu,"koreksi Yara.


"Hmmm benarkah? Lalu kenapa nyonya begitu kaget saat melihat kami tadi? Sampai menjatuhkan kantongan nyonya tuh belum lagi nyonya pergi seolah sangat kecewa sekali tadi,"tebak Lanang dengan penuh kecurigaan kearah Yara.


"Eugh,,,enak aja , Jang kepedean yah jadi orang."


"Hmm benarkah nyonya, beneran gak mau ngaku nih?"


"Kamu kenapa sih? Semakin lama semakin kurang ajar jadi orang,"ucap Yara dengan kesal.


Lanang bisa melihat pipi Yara yang sedikit memerah dan juga ia tidak seperti biasanya, kali ini pandangan nya sedikit gugup dan tidak terkesan tegas .


"Kalau tidak kenapa nyonya membuangnya?" Tanya Lanang menyodorkan kembali syal ditangannya kearah Yara.


"Yahh karena aku tidak menyukainya!"


"Tadi pagi nyonya terlihat senang kok saat saya berikan,"ucap Lanang pelan.


"Terserah aku dong, aku kan bisa tiba-tiba berubah pikiran!"

__ADS_1


"Sudahlah, kamu pergi dari sini aku sedang tidak ingin digang..."


Yara kaget saat Lanang mendekat kearah nya hingga ia tidak bisa melanjutkan kata-katanya lagi .


Jantungnya berdetak sangat kencang seolah akan berpindah posisi dari tempatnya karena Lanang yang kini sudah berjarak sangat dekat dengan nya  dan mencoba memasangkan kembali syal itu dileher Yara untuk menutupi beberapa tanda kemerahan yang dibuat oleh nya sendiri.


Yara merasa seolah dunia terhenti saat ini, debaran yang kian melaju membuat Yara begitu gugup dan seperti orang linglung saja.


Bugh,


Lanang terjatuh dari kursi keatas rerumputan taman itu, Yara Benar-benar takut Lanang akan mendengar debaran jantung nya .


"Kenapa dengan ku? A,,aku tidak sedang gugup karena dia kan?" Batin Yara memegangi dadanya yang masih saja berdetak itu.


"Akhh,,,"


Lanang meringis saat melihat sikunya sedikit berdarah karena bergesekan dengan kursi akibat dorongan Yara.


"Bisa-bisanya nyonya menganiaya seseorang yang sedang sakit? " Lanang bangkit dan mencoba untuk terlihat kesakitan.


Yara yang awalnya hendak marah itu langsung khawatir karena siku Lanang berdarah belum lagi ia sedang demam saat ini.


"Ba,, bagaimana? Kenapa bisa berdarah seperti ini? Apakah terasa perih?" Tanya Yara dengan pelan.


Lanang yang awalnya hendak berpura-pura kesakitan langsung mengurungkan niatnya karena melihat reaksi Yara.


"Hahahah nyonya kenapa Langsung percaya begitu? Hanya tergores sedikit kok,"ucap Lanang tertawa pelan.


Plak,


"Kita kerumah sakit saja!" Yara bangkit dan langsung ditahan oleh Lanang.


"Nyonya sakit? "


Plak,


"Akh,, kenapa nyonya sangat suka menganiaya saya?" Lanang sedikit cemberut.


"Kamu yang butuh pengobatan saat ini, ayo kerumah sakit sekarang juga!"


Lanang lagi-lagi menahan tangan Yara yang hendak pergi itu.


"Saya baik-baik saja nyonya, hanya luka goresan sedikit masa langsung kerumah sakit sih?"


"Kamu membantah ku?" Kesal Yara.


"Yap! Saya kan juga punya hak untuk membantah nyonya, bagaimana mungkin saya mau dibawa kerumah sakit hanya karena luka ringan begini ,"ucap Lanang dengan pelan.


Yara menggeleng pelan dan ia benar-benar mencoba untuk bersabar menghadapi Lanang.


"Kamu sangat penurut dan juga lembut kepada Hana, kenapa kepada ku kamu begitu pembangkang?" Kesal Yara Benar-benar benci dengan sikap Lanang yang selalu saja membantah nya.


Lanang mengeryit pelan karena merasa bingung kenapa tiba-tiba Yara membawa-bawa Hana dalam pembicaraan itu.

__ADS_1


"Kenapa nyonya malah membawa Hana? Saya benar-benar tidak perlu dibawa kerumah sakit nyonya. Terima kasih sebelumnya atas perhatiannya,"ucap Lanang pelan.


"AKU MEMAKSA!" kecam Yara dengan tatapan sungguh tidak ingin dibantah.


Lanang Benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Yara, siapapun pasti akan menolak dibawa ke rumah sakit hanya karena luka kecil saja.


"Tap,,"


"Ck, menurut lah padaku!"


Yara menarik paksa Lanang yang benar-benar enggan untuk ikut serta dengan nya. Bagaimana pun Yara benar-benar tidak bisa membiarkan Lanang terlihat sangat pucat itu.


Bahkan sampai di dalam mobil Yara benar-benar pusing karena Lanang yang terus saja menolak untuk diperiksakan ke dokter.


"Akhh diamlah! Kamu tidak usah banyak protes gitu,"ucap Yara melanjutkan menyetir.


"Kalau begitu saya saja yang menyetir menggantikan nyonya,"ucap Lanang merasa tidak enak .


"Kamu diamlah disitu, pakai sabuk pengaman mu dengan baik!"


Hana sendiri melihat sekilas apa yang terjadi sejak tadi, ia sedikit curiga saat Yara datang dan pergi dengan wajah yang sangat tidak bisa ia gambarkan.


Saat melihat Yara dan Lanang yang pergi berdua meninggalkan taman menuju lobi dan keluar dari lobi dengan mobil Yara.


"Kemana mereka? Kenapa aku merasa ada sesuatu yang aneh dengan mereka?"Bingung Hana pelan.


"Hai Han!" Sapa Lean yang baru saja datang.


Hana sedikit kaget karena tiba-tiba melihat kehadiran Lean disana, ia langsung tersenyum dan menunduk memberikan hormat.


"Hai pak,"ucap Hana dengan kaku.


"Hmm jangan manggil pak lagi dong, kurang nyaman dengernya."


"Ha? Ja,,jadi bapak mau dipanggil apa?"


"Apa yah? Bagaimana kalau kamu memanggilku seperti kamu memanggil Lanang saja?"


Hana sedikit berpikir namun tersenyum mengangguk.


"Ba,, baiklah mas."


"Nah, gini kan terdengar akrab."


"Apa kamu melihat Yara hari ini? Aku datang ke kantornya saat ini tidak menemukan nya,"ucap Lean.


"Sedang pergi dengan mas Lanang mas, mungkin ada urusan yah."


Mereka pun akhirnya berbincang-bincang dikursi tepat di depan studio.


...🍄 Bersambung🍄 ...


Cieee beneran cemburu ini mah, ngaku aja kamu Yar kalau beneran udah suka.

__ADS_1


Jangan lupa yah like komen dan votenya wan kawan.


See you guys 🧀


__ADS_2